
Dika memilih mengelayut di pangkuan bundanya yang masih betah dalam posisi duduk di gelaran sajadah. Ia memainkan ujung mukena sang bunda dengan memilin-milinnya, menggulung ke atas lalu dijatuhkan dan diulang lagi seperti itu.
Sementara Rahma mulai membuka kertas putih yang terlipat itu. Perlahan, dengan jantung yang tiba-tiba berdegup kencang. Mendadak nervous.
...Untukmu yang jauh di mata dekat di do'a,...
...Bukan tanpa alasan aku mengharapkanmu....
...Itu karena Allah memberiku cinta yang ditujukan kepadamu....
...Miss to meet you...
...Mizyan Abdillah...
"Mas---" Suara Rahma tercekat di tenggorokan. Tetiba keharuan menyeruak dan mendesak air mata jatuh menetes membasahi pipi.
Dika mendongak sebab mendengar isakan kecil bundanya. "Nda, napa nangis?" Bahkan tangan mungilnya terulur menghapus pipi Bunda Rahma yang basah. Membuat Rahma terkekeh diiringi mata yang berkaca. Lagi-lagi terharu.
"Dika sayang sama Bunda nggak?" Rahma merapihkan rambut depan sang anak yang berantakan menutupi kening.
"Atu cayang Nda--"
"Kalau sama Om Buye sayang juga nggak?"
"Atu cayang Om Buye. Om Buye juja cayang Nda. Catu, dua, tija...cayang cemuanya---" Dika bertepuk tangan dimana kalimat terakhirnya diucapkan dengan nada bernyanyi riang.
"Anak pinter--" Rahma mendekap Dika dengan gemas dan penuh perasaan sayang.
"Rahma, ada tamu." Uma melongok dari ambang pintu kamar yang terbuka lebar.
"Siapa, Uma?" Rahma menaikkan kedua alisnya. Perasaan hari ini tidak ada janji dengan siapapun.
"Katanya Dimas."
Rahma duduk berhadapan dengan Dimas di ruang tamu. Sang kepala cabang itu tampak pangling dengan pakaian casual yang dikenakanya. Tampak 10 tahun lebih muda dari usia aslinya.
"Maaf aku nggak ngasih kabar dulu kalau mau datang. Barusan lewat jalur sini sekalian aja deh mampir." Dimas tersenyum lebar. Pembawaannya yang tenang mungkin karena terbiasa berhadapan dengan berbagai karakter klien dan nasabah setiap harinya.
"Apa aku ganggu waktumu?! Lanjutnya kala melihat Rahma yang hanya mengangguk diiringi senyum tipis.
"Oh nggak, Kang. Kalau minggu santai kan toko tutup." Rahma kemudian memperkenalkan Dimas kepada Ayah dan Uma yang baru masuk ke dalam usai mengobrol dengan Ceu Imas di depan pintu pagar besi yang terbuka lebar.
Moga aja ceu Imas nggak gibahin aku.
__ADS_1
Rahma berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman. Otaknya keras berpikir bagaimana caranya agar kedatangan Dimas cukup jadi yang pertama dan terakhir. Ia tidak mau memberi harapan pada sang kepala cabang itu. Namun nyatanya yang dibicarakan adalah hal-hal santai dan malah lebih banyak berbincang dengan Ayah. Sampai Dimas pun pamit setelah 1 jam lamanya bertamu tapi tak ada celah untuk berbicara ke arah sana.
"Neng Rahma, tamunya cakep-cakep semua." Ceu Imas yang berdiri di sebrang rumah sambil memeluk pagar tampak geleng-geleng kepala penuh kekaguman usai mobil Dimas pergi. "Jadi bingung ya neng mau milih yang mana. Yang bule, atau yang sipit, atau ini ganteng kalem, eh satu lagi si kasep berkacamata, dokter Gunawan." Pungkasnya diringi tawa cekikikan.
Rahma yang hendak menarik pintu pagar rumahnya urung sejenak. "Ceu Imas jangan bergosip deh. Mereka itu hanya bertamu biasa kok."
"Luar biasa juga gak papa atuh Neng. Biar Dika punya ayah baru." Ceu Imas tertawa cengengesan melihat Rahma yang memanyunkan bibirnya.
Bunyi klakson mobil mengalihkan perhatian Rahma dan Ceu Imas yang langsung menatap pada mobil yang berhenti di sisi jalan.
Mama Indah.
Rahma mendekat begitu tahu siapa yang kaluar dari pintu penumpang. Ia menyalami mantan mertua yang ternyata datang sendiri menggunakan taksi online.
"Mama sengaja dari Jakarta ke sini?" Rahma mengambil alih paper bag yang dipegang Mama Indah yang tampak kerepotan membawa buah tangan
"Mama tadi malam nyampe Bandung. Nginap di Dago sama Papa Teo. Semalam ada relasi yang ngundang wedding aniv di sana."
"Papa Teo nggak bisa ikut ke sini diajak temannya main Golf. Titip salam aja katanya."
Rahma mengangguk sambil mengajak Omanya Dika masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan sejenak mama Indah ditemani Ayah dan Uma sebab mau membujuk Dika yang bersembunyi ke kamar. Uma bilang begitu melihat ada Omanya di luar, Dika langsung berlari ke kamar.
Benar saja Dika berada di karpet sambil telungkup memegang pensil dengan buku gambar terhampar di depannya. "Dika, ada Oma di depan. Salam dulu ya sayang." Namun hanya mendapat gelengan kepala. Dika tetap anteng membuat coretan-coretan di buku gambar.
"Bunda bilangin om buye ah, kalau Dika jutek nggak mau nemuin Oma." Rahma pura-pura merajuk. Dan itu berhasil membuat sang anak terduduk dan semangat menuntunnya ke luar kamar.
Rahma mengulum senyum, Om Buye ternyata menjadi kata sakti untuk meluluhkan sikap pengkuhnya sang anak. Entah kenapa dengan Dika, setiap bertemu Omanya bocah itu suka menghindar dan butuh jurus untuk membujuknya. Padahal Mama Indah selalu royal memberikan aneka jenis mainan dan pakaian.
"Wah cucu Oma yang ganteng kok baru keliatan sih---" Mama Indah menyambut kedatangan Dika dengan membuka tangan lebar-lebar untuk memeluknya.
"Dika lagi seneng menggambar Oma. Jadi suka anteng sendiri." Rahma membuat alibi agar tak membuat kecewa perasaan mama Indah jika tahu kalau Dika tidak menyukainya.
Kali ini Rahma mengabulkan keinginan Mama Indah yang ingin mengajak Dika jalan-jalan. Toh ia yang akan membawa mobilnya, tidak ada Alex yang membuatnya merasa risih. Dika, asalkan bersamanya tentu saja mau ikut. Rahma melajukan mobilnya menuju mall sesuai keinginan mama Indah.
Akhir pekan seperti biasanya, mall selalu ramai dengan pengunjung. Usai menemani Dika bermain di playzone, selanjutnya beralih ke cafetaria memilih menu makan siang.
"Rahma, tamu laki-laki yang dulu datang pas ada mama, siapa?" Mama Indah menatap Rahma yang tengah menyuapi Dika.
"Oh, itu teman pengajian Ayah."
"Sepertinya akrab sekali dengan Dika ya. Jangan-jangan dia ada maksud sama kamu."
Ucapan Mama Indah membuat Rahma yang tengah meneguk jusnya menjadi tersedak.
__ADS_1
"Mama nggak melarang kamu kalau mau nikah lagi. Tapi---"
Rahma tak merespon perkataan mantan mertuanya itu. Memilih menunggu kelanjutan ucapan yang menggantung itu dengan rasa harap-harap cemas.
"Kamu tahu kan Rahma. Kalau Malik adalah anak kandung mama satu-satunya. Dan kini telah tiada." Mama Indah mengusap sudut matanya yang berair. "Mama mohon sama kamu. Biarkan Mama yang asuh Dika kalau kamu mau nikah lagi. Kamu bisa punya anak lagi, sementara mama akan kesepian. Jadi ijinkan Mama membesarkan cucu Mama ini."
.
.
.
Detak jarum jam nyaring terdengar dikesunyian sepertiga malam. Rahma terduduk di tepi ranjang sambil terpekur. Ucapan Mama Indah di mall tadi siang masih terngiang bahkan terbawa mimpi. Sampai dirinya tiba-tiba terbangun dengan badan tegang dan berkeringat sebab dalam mimpinya mama Indah merebut paksa Dika yang berada dalam gendongannya. Siang tadi tentu saja dengan tegas Rahma menolak permintaan omanya Dika itu.
Astagfirullah
Rahma mengusap wajahnya. Semoga itu hanyalah bunga tidur, harapnya demikian. Ia pun beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu. Sholat istikharah akan dilaksanakannya lagi. Ia ingin adukan lagi segala kegelisahan dan gundah gulana yang menyelimuti hati kepada Allah, Al Qaadir Yang Maha Kuasa menentukan takdir.
****
"Teh Olla---"
Petugas keamanan memanggil Olla yang baru saja keluar dari kelas. Senin menjadi hari yang sibuk bagi para petugas jaga sebab keluar masuk kendaraan tamu keluarga santri yang menengok anak-anaknya yang sekolah sambi mondok.
"Ada apa kang Ato?"
"Teh Olla punten saya mau nitip surat buat Aa Mizyan ya. Tadi ada titipan dari kurir. Soalnya saya mau ke ruang guru nganter paket ini." Kang Ato mengangkat paket buku yang dikepitnya di lengan kiri.
Sambil berjalan menuju rumah utama, Olla memperhatikan amplop surat berwarna biru muda. Tak ada nama pengirimnya yang ada nama penerima dan alamat lengkap. Bisa dipastikan itu bukan surat tagihan dari leasing ataupun tagihan kartu kredit macet. Merasa heran juga, hari gini masih ada komunikasi surat menyurat. Dari siapa ya?
"Dado, ada A Iyan nggak?" Olla menghampiri Dado yang tengah duduk di teras paviliun sambil memegang box snack dan mulut yang bergerak mengunyah.
"Ada di dalam lagi kerja. Nggak boleh diganggu katanya banyak pe er." Dado menyampaikan seadanya ucapan Mizyan. Itulah mengapa ia berdiam di luar sebab takut mengganggu konsentrasi sang arsitek.
"Ini ada titipan untuk A Iyan. Nanti kasihkan ke A Iyan ya." Olla menyerahkan sepucuk surat berwarna biru muda itu ke tangan Dado yang menerimanya sambil mengangkat tangan kanan ke samping kepala. Bersikap hormat.
Berkali-kali Dado mengintip dari sela pintu, tapi Mizyan masih fokus menghadap layar laptop. Selama hampir 3 jam menunggu, Dado sudah bolak balik pergi ke dapur umum, jajan ke kantin. Begitu adzan Ashar terdengar barulah tampak Mizyan keluar dengan setelan baju koko dan sarung.
"Aa kehela (sebentar)." Dado berlari menuju Mizyan yang melangkah lebar menuju masjid.
"Ini ada surat dari teh Olla." Dado menyerahkan amplop berwarna biru muda dari saku kemejanya yang dilipat dua.
Mizyan mengernyit heran menatap surat yang beralih di tangannya. Merasa aneh jika Olla mesti mengirim surat untuknya padahal bisa ketemu langsung.
__ADS_1
"Ayo Do, ke masjid dulu!" Mizyan tak mau ambil pusing. Ia memasukkan amplop surat ke dalam saku bajunya. Beriringan keduanya menuju masjid untuk ikut berjamaah sholat Ashar.