MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 41. Room Paling Ujung


__ADS_3

Semarang


Sudah 3 hari selama berada di Banda Aceh, Dika selalu menghubungi Mizyan. Tak tentu waktu, sesuka hatinya. Dengan menggunakan ponsel kakeknya tentunya. Namun Mizyan dengan senang hati meladeni meski pekerjaan terpending sesaat. Ia rela nge mode sleep laptopnya demi fokus mendengarkan celoteh bocah berambut kriwil yang menggemaskan itu.


Seperti jam 9 pagi ini, suara Dika yang keras menyapanya membuatnya meringis. Ia menyaksikan Dika berada di gubuk dengan backround hamparan sawah yang tengah di panen. Tunggu-tunggu, bukan aktifitas operator combine harvester (alat panen modern) yang menarik perhatiannya. Tapi fokusnya jeli pada satu titik, pada wanita yang berdiri menyamping di pematang sawah menggunakan topi caping.


"Om, atu lagi di sawah liat panen." Lapor Dika dengan riang.


"Wah seru, Om jadi pengen terbang ke sana deh."


Dika terkikik. "Yeay, Om ayo sini telbang."


Mizyan tertawa melihat Dika berdiri mempraktekkan tangan mengepak seperti burung.


"Dika, itu bu tani ya?!" Mizyan menunjuk ke arah kanan melihat Rahma yang tengah tertawa lalu bibirnya komat kamit dengan tangan menunjuk ke depan, entah bicara apa.


Dika mengikuti arah tangan om buye nya. "Hiiih, itu nda atu, Om Buye. Nda Lahma." Dika menggeleng, mengoreksi kekeliruan om buye yang menyebut bu tani.


Membuat Mizyan tertawa lepas mendengar ucapan tegas Dika yang justru menjadi terlihat lucu.


Look at me, please.


Mizyan membaca mantra dalam hatinya berharap Rahma yang masih berdiri menyamping akan menghadapkan wajah ke arahnya.


Come on.


"Om mau ini?!"


Fokusnya kembali ke Dika yang menunjukkan makanan berbungkus daun pisang, lalu dibuka dengan merobek asal, sampai digigit setengahnya dan masuk ke dalam mulut bocah itu dengan pipi menggembung. Semua tak luput dari perhatin Mizyan yang terkekeh dibuatnya.


"Hmm, enyak-enyak---" Bisa-bisanya Dika berekspresi yang membuat Mizyan menelan salivanya sebab tertarik dengan makanan tradisional berbungkus daun pisang itu.


Makin kesini interaksi sambungan video dengan Dika kebanyakannya adalah percakapan unfaedah, namun menjadi hiburan yang mengundang tawa, menghasilkan benefit berupa kebahagiaan yang memenuhi hati bagi kedua belah pihak.


Mizyan membiarkan saja Dika yang berbalik badan menghadap sawah. Lalu turun memungut sesuatu entah apa. Biar saja, sebab kininia bisa fokus lagi pada titik itu.


Look at me, please.


Kali kedua ia membaca mantra agar wanita bertopi caping itu memutar badan menghadapnya. Sampai ia melakukan hitungan mundur;


Five


Four


Three


Two


Yes


Senyumnya mengembang kala Rahma berjalan mendekat dengan raut penasaran menatap ponsel yang berdiri memakai tripod. Dan kini saling bertatap mata.


"Hai, bun." Ia menyapa usil tanpa menurunkan kadar senyum lebarnya.


Ada keterkejutan nampak di wajah Rahma mendengar suara Mizyan. Pandangan dari jauh yang silau kena cahaya matahari membuatnya mengira ponsel milik ayahnya itu mati.

__ADS_1


"Eh, kirain gak nyala." Tetiba rasa grogi menyeruak usai matanya beradaptasi dan dengan jelas melihat wajah dalam layar. Ia melirik Dika yang menghampiri kakeknya yang tengah mengobrol dengan mamak tak jauh dari gubuk.


"Ta tadi bicara dengan Dika, ya?! Itu Dika nya malah pergi." Rahma tampak celingak celinguk . Merasa serba salah.


"Nggak papa. Sekarang lanjut sama bu tani. Pretty Farmer (petani cantik)." Mizyan mengacungkan jempol melihat penampilan Rahma yang masih memakai topi caping, yang kini pipinya bertambah merah dua kali lipat sebab terkena hangatnya mentari pagi plus hangatnya desiran yang mengaliri pembuluh darah.


"Maaf ya nggak punya recehan!" Rahma menjawab ketus sebab komplikasi menyerang hati. Ia kesal pada tubuh dan hati yang tidak bisa diajak kompromi untuk tidak baper. Ia kesal mengapa selalu hadir gelisah kala berhadapan dengan pria itu. Padahal via layar, gimana kalau ketemu langsung.


Mizyan malah tertawa menanggapinya.


"Ihh Om ketawa apa sama Nda ihh---?" Tahu-tahu Dika muncul dan melongokkan wajahnya di depan layar lalu beralih menatap bundanya dengan tatapan menyelidik.


Aduh Dika sejak kapan jadi usil.


Rahma tak bisa menjawab. Beralih menggelitik pinggang Dika hingga tertawa geli.


Mizyan menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Komunikasi berakhir tiba-tiba dengan iringan pesan dari Rahma yang meminta maaf sebab ponsel lowbat. Ia mengulas senyum tipis. Benar-benar butuh perjuangan untuk mendekati Rahma. Meski merasa pendekatannya ada perkembangan bagus namun terasa lambat. Benar-benar harus sabar.


"Mau cerita sama Mami?"


Mizyan menegakkan punggungnya demi melihat maminya berdiri bersidekap dada.


"Mami sejak kapan berdiri di sana?!" Ia memicingkan mata mengikuti langkah mami Kanti yang mendekat dan duduk di sisinya.


"Sejak denger kamu ketawa-ketawa. Suaramu kedengeran sampe dapur. Jadinya Mami penasaran nyamperin."


"Kalau happy bagi-bagi dong." Mami menyikut lengan Mizyan yang tak menjawab, malah senyum-senyum.


"Someone special?!" Mami terus mendesak.


"Kenalin dong!"


Mizyan menggeleng sambil merengkuh bahu Mami. "Belum waktunya, Mam. Doakan aja."


Pagi pun menjelang, Mizyan sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Sesuai schedule, ìa akan ke Medan atas permintaan Kemal kala liburan di Bali beberapa waktu lalu. Bahkan Kemal baru saja mengabari jika sudah sampai di Medan.


Ia menghampiri Mami Kanti yang tampak sendu sebab akan berpisah. "Mami, aku pergi dulu. Aku tunggu kedatangannya di Bandung nanti."


Keduanya berpelukan. Bahkan Mami Kanti tampak belum ingin melepaskan pelukannya untuk beberapa saat.


"Pa, nitip Mami." Mizyan beralih menyalami dan memeluk Suryo sesaat.Yang dijawab Suryo dengan anggukkan.


"Morgan, mas nitip mami ya!" Ia adu tos dengan adik tirinya itu yang bersiap akan berangkat ke sekolah.


"Nggih, Mas."


****


Medan


Dari bandara Kualanamu, dengan menggunakan taksi, Mizyan bertolak menuju hotel sesuai shareloc yang dikirimkan Kemal. Lumayan jauh perjalanan sekitar 40 menit lamanya menuju pusat kota Medan.


"Pa kabar, Le?" Kemal menyambutnya di kamar deluxe room dengan twin bed yang sengaja dipesan untuk ditempati mereka berdua.


"Alhamdulillah, Bang." Mizyan menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Rasa nyaman mulai mengaliri sekujur tubuhnya yang lelah.

__ADS_1


"Fahmi ke mana? Tumben gak keliatan." Ia beralih menyapukan pandangan ke seluruhan kamar.


"Besok baru nyusul. Aku suruh handle dulu kerjaan di Balikpapan."


"Makan dulu yuk, Le. Lapar." Kemal mengusap perutnya yang bersuara menyeruwuk. Pantas saja sudah jam 1 siang, begitu jam yang ia lihat di ponselnya.


"Oke. Aku sholat dulu!" Mizyan bangun dari tidurannya. "Abang udah sholat?" Ia beralih menatap Kemal yang tengah memainkan ponselnya.


"Belum. Kau aja dulu. Nanti aku abis makan," sahut Kemal tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.


Mizyan mendecak. "Masih aja suka leha-leha, bang. Udah sholatnya nggak khusyu, tambah ditunda-tunda. Nggak ada nilai plus sama sekali."


"Ayo kita berjamaah!" Ia merampas ponsel yang dipegang Kemal. Yang dibalas dengan gerutuan panjang sampai masuk ke kamar mandi.


Usai makan siang di restoran hotel, keduanya beranjak kembali menuju kamar sebab akan mulai pembahasan proyek baru.


"Tunggu, bang!" Mizyan menahan lengan Kemal kala matanya menangkap sosok seorang yang dikenalnya berdiri di depan lift menunggu pintu lift terbuka.


"Ada apa sih, Le?" Kemal mengkerutkan kening melihat wajah Mizyan yang mengeras.


"Bang, ikuti aku. Aku mau makan orang. Tolong ingatkan kalau aku kebablasan!"


Kemal tampak bengong mendengar ucapan Mizyan barusan. Ia dengan patuh mengekori Mizyan yamg berjalan ke arah lift dengan pikiran penuh tanda tanya.


Keluar dari lift, Mizyan memperhatikan sekeliling koridor kamar. Ia menenggelamkan topi yang dipakainya agar tak dikenali. Sebab orang yang diintainya tengah berjalan sambil memeluk mesra perempuan berbaju seksi menuju room paling ujung.


"Le, kau ingin ambil cewek itu?! Kemal berbisik pelan. "Istigfar Le, inget dosa."


"Shut up." Mizyan menempelkan telunjuk di bibirnya. Matanya masih fokus menatap tajam tingkah pria yang menyosor wanitanya di ambang pintu yang baru dibuka.


Dengan setengah berlari, ia menuju room paling ujung itu untuk mengejar pintu yang akan segera ditutup dari dalam. Berhasil. Kakinya menjegal pintu yang akan tertutup.


"Hei, lo salah kamar!" Sentak pria yang terkaget dengan kedatangan Mizyan diikuti Kemal di belakangnya.


Bughh.


Satu pukulan dilayangkan Mizyan ke wajah pria itu tanpa kata, sampai terhuyung dan sudut bibirnya berdarah. Membuat si perempuan seksi menjerit kaget. Termasuk Kemal yang terkaget dengan tindakan impulsif Mizyan.


"An jing! Berani-beraninya mukul gue!


Tinju balasan siap melayang. Namun spontan terhenti di udara begitu melihat jelas wajah yang menyerangnya.


"Michael?!?!" ujarnya dengan wajah terkesiap.


"Pa kabar, Oji."


"Kenapa kaget?!"


"Surprise kan, kita bisa bertemu di sini."


Mizyan berjalan mendekat dengan santai, pria bernama Oji itu mundur selangkah demi selangkah.


"Lo, keluar dari sini! Mizyan menatap tajam perempuan seksi yang gemetar ketakutan.


"Cepet pergi!" Kemal memberi isyarat kepala menunjuk pintu agar perempuan seksi itu segera keluar.

__ADS_1


__ADS_2