MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 127. Gombalan Menjelang Tidur


__ADS_3

Mark mempersilakan Fatimah turun lebih dulu setelah lima belas menit berada di roof top. Tak tega melihat wajah yang memerah dan berkeringat karena panas terik siang hari. Meski memakai payung dan diterpa hembusan angin yang memberi kesejukan, namun hawa panas terasa dari pantulan tembok coran. Fatimah menurut, sebelum pergi mewanti-wanti Mark untuk singgah ke rumahnya jika sudah selesai urusan.


Usai Mark memberi arahan kepada pengawas yang ditugaskannya, selang lima belas menit kemudian ia dan Rangga turun. Menuju bangunan rumah minimalis bercat putih biru, rumah tinggal Fatimah.


"Silakan masuk---" Seorang perempuan yang menjawab salam Rangga, menyambut di ambang pintu dengan mengulas senyum ramah.


Rangga mengerjapkan mata. Khawatir salah lihat, takut mata sedang beradaptasi. Setelah dari tempat terang dan panas, beralih ke tempat sejuk dan teduh. Mengerjap dua kali lagi, tapi nyata. Wanita yang tadi dicari-carinya tapi tak nampak, malah kini tersenyum manis menyambutnya berdiri di ambang pintu.


"Mas Rangga, mari masuk. Jangan berdiri terus di luar." Olla mengulum senyum melihat Rangga yang bengong.


"Eh, iya. Sebentar nunggu boss." Rangga bisa menguasai situasi. Menunjuk dengan dagu pada boss Mark yang berdiri di dekat jajaran pot bunga, sedang menerima telepon.


Duduk di ruang tamu yamg cukup luas. Yang baru pertama kali disinggahi setelah kali kedua datang ke rumah tahfiz. Mark duduk tenang dengan wibawa yang tak pernah luntur. Tanpa perlu menyapukan pandangan menatap sekeliling, hatinya sudah bisa menilai jika aura rumah ini sangat nyaman dan membuat betah.


Rangga yang duduk di single sofa. Hatinya penuh keriaan bisa bertemu Olla meski belum ada kesempatan untuk mengobrol berdua. Gadis itu sudah berlalu pergi ke dalam rumah. Tapi lumayan, mengobati nelangsa sebab harus menyaksikan boss Mark yang menunjukkan perhatian pada Bu Ima.


Fatimah muncul dari dalam bersama seorang pria. "Pak Mark, Kang Rangga, kenalin ini adik saya, Faisal. Baru ketemu kan ya?!" Ujarnya sambil duduk di sofa panjang yang masih kosong.


"Faisal." Seorang pria berumur 40 tahun itu mengulurkan tangan kepada Mark, lalu berganti pada Rangga.


Wah, calon walinya sudah ada. Gaskeun Pak Mark.


Rangga tersenyum simpul usai bersalaman dan menyebutkan namanya.


"Alhamdulillah, sebuah kehormatan bisa bertemu muka dengan Pak Emsi. Selama ini saya cuma mendengar namanya aja, salah seorang dermawan di Bogor."


"Tak menyangka kami pun mendapat uluran tangan dari pak Emsi juga. Teh Ima sudah menceritakannya. Jazakallah khairan....pak." Faisal membuka percakapan dengan ucapan terima kasih. Ia memang baru datang dari Depok usai 1 minggu lamanya berada di kampung halaman sang istri. Kini kembali lagi dengan istri dan dua anaknya. Sama-sama tinggal serumah dengan Fatimah, kakaknya.


"Kang Faisal terlalu berlebihan. Saya hanya orang biasa yang ingin berbagi rejeki, bukan dermawan." Sahut Mark merendah.


Adzan duhur terdengar berkumandang. Percakapan terhenti sementara. Fatimah dan Faisal terdengar lirih menjawab seruan adzan. Sementara Mark dan Rangga terdiam mendengarkan.🌹


"Pak Mark dan Kang Rangga, setelah sholat jangan dulu pulang ya. Kami ingin menjamu makan siang. Saya harap jangan ditolak." Pinta Fatimah menatap sekilas sang mualaf sembari mengulas senyum.


"Baiklah---" Dengan cepat Mark menjawab tanpa ragu.


Rangga hanya menarik tipis sudut bibir mendengar jawaban Mark. Pastinya sebuah kesempatan yang tidak disia-siakan oleh bossnya itu.


Satu ruang kelas sementara disulap menjadi musholla. Menunggu kurang lebih empat hari lagi musholla sebenarnya selesai. Berdiri di shaf depan, berbaur dengan anak-anak, Mark nampak senang. Faisal sudah bersiap berdiri di depan bertindak sebagai imam.


****


Bandung


"Jadi gedung plaza dan gedung kantor akan terintregasi oleh parking space 4 tingkat. Cukup berjalan 100 meter di parkiran paling atas dari kantor baru ke plaza Galaksi dan sebaliknya. Atau kalau malas berjalan, bisa meluncur pakai mobil." Mizyan menutup presentasinya di hadapan Arya, Ricky, dan Willi dengan proyektor yang masih menyala.


Mizyan duduk lagi di kursinya. Menunggu Direktur Arya yang masih mengamati buku tebal berupa desain gambar gedung kantor baru yang sudah diwacanakan sejak setahun yang lalu. Sudah waktunya membuat kantor pusat yang mandiri, dengan lokasi lahan berada di belakang pusat perbelanjaan Galaksi. Dan Mizyan lah yang dipercaya sebagai arsiteknya.

__ADS_1


"Oke, deal." Suara tegas Arya memecah keheningan ruang meeting.


"Yes, Alhamdulillah---" Mizyan mengepalkan tangan tanda senang. Revisi gambar kedua kalinya dengan mengubah beberapa layout akhirnya disetujui.


"Makan-makan, broh." Celetuk Ricky tiba-tiba. Keluar dari suasana serius menjadi santai.


"Hayuuu...asal percepat aja paymentnya," mata Mizyan melirik pada William dengan menaik turunkan alisnya.


"Secara prosedur, payment akan cair dalam waktu 2 minggu. Kecuali si boss ngasih policy." Giliran Willi yang melirikkan mata ke arah Arya yang duduk bersandar ke belakang kursi.


"Dia mah dibayar tahun depan juga ga masalah. Duitnya banyak. Bentar lagi cair dividen." Arya dengan santai meregangkan kedua tangan. Cuek, toh di ruangannya hanya ada para sahabat.


"Haiss tau aja si boss. Alhamdulillah rejeki buat anak kedua." sahut Mizyan dengan wajah sumringah.


Semua mata membulat tertuju padanya. Merasa surprise.


"Widihh, congrats bro. Udah berapa bulan?" Willi meninju bahu Mizyan yang duduk di sampingnya.


"Masih muda, mau jalan minggu kelima."


"Duh, aku kesalip lagi. Asli ngiri, bro." Ricky menghela nafas panjang. Menginjak tahun keempat pernikahannya, masih belum dikaruniai anak.


"Sabar, bro. Kamu sedang diuji lebih. Insya Allah akan indah pada waktunya." Mizyan memberi motivasi kepada Ricky agar tidak putus asa.


"Kamu juga bakalan dapat giliran. Ikhtiarnya kencengin." Arya tak luput memberi support.


Meeting sore pun bubar dengan keluar bersama-sama untuk pulang. Ricky mengingatkan jika besok Mizyan harus ikut pergi ke Lembang. Meninjau lokasi yang akan dibangun villa milik Arya.


"Apa ini?!" Rahma menyimpan ponselnya. Beralih meraih ponsel milik Mizyan yang terulur padanya.


"Foto Papi dan Bu Ima. Laporan dari Rangga tadi siang." Mizyan menyuruh Rahma membuka galeri. Sementara ia memiringkan wajah menghadap perut sang istri. Memberi kecupan lembut beberapa kali.


"Wuahh co cwit, Papi." Rahma mengomentari foto Papi Mark dan Bu Ima yang nampak saling memegang payung.


"Mas, Papi udah beneran suka sama bu Ima. Gak perlu dicomblangin lagi deh. Kita lepas aja Papi berjuang sendiri." Rahma masih mengamati 3 foto berbeda angel kiriman Rangga itu.


"Tetep lanjut sampai level 10, sayang. Yang udah keliatan suka kan baru Papi. Bu Ima masih misterius. Tugas kita menyentuh hati Bu Ima." Mizyan merubah posisi menjadi telentang. Tersenyum penuh arti dengan pandangan menerawang. Otaknya sudah penuh dengan ide untuk nanti acara di Bogor.


"Besok jadi ke Lembang?" Rahma menyimpan ponsel sang suami. Beralih membahas agenda kerja suaminya.


"Jadi. Bekalnya harus full tank ya." Mizyan menatap Rahma sambil tersenyum menyeringai.


"Hmm---" Rahma hanya menanggapi dengan memutar bola matanya.


Malam ini tak ada bocah yang merecoki, terasa sepi sebab Dika menginap di rumah Uma.


"Ah hampir lupa, tadi lihat statusnya Koko. Maminya sedang dirawat di rumah sakit. Katanya stroke ringan. Besok aku mau nengok boleh, Mas?"

__ADS_1


"Hm, boleh. Asal perginya jangan nyetir, pakai taksi online saja!" Mizyan sangat perhatian akan kondisi hamil muda yang masih rawan itu. Ia sudah tegas melarang Rahma untuk tidak membawa kendaraan sendiri, meski kini mobil ada 2.


"Siap, Papa."


Malam menjelang tidur.


Hoek....hoek.


Mendengar suara Rahma yang muntah, Mizyan yang baru berganti baju bergegas membuka pintu kamar mandi. Nampak Rahma sedikit membungkuk di depan washtafel sedang berkumur-kumur.


"Sayang, mual lagi?" Mizyan mendekat dengan raut khawatir melihat Rahma yang pucat dari pantulan cermin.


"Sekarang tiap gosok gigi jadi kepancing mual dan muntah." Rahma mengeringkan wajahnya dengan handuk. Menyusut sudut matanya yang berair sebab dorongan muntah.


"Kalau ganti odol gimana?" Mizyan memberikan segelas air hangat pada Rahma yang kini duduk di tepi ranjang.


"Nanti dicoba deh." Rahma meneguk air hangat yang menyegarkan tenggorokan itu. Beralih menatap Mizyan yang duduk di sisinya memberi usapan lembut di punggung.


"Kenapa Bunda senyum-senyum genit gitu?! Mizyan memicingkan mata menatap seolah curiga.


"Tau gak, Papa. Memilikimu itu seperti bersin." Rahma memainkan telunjuknya di dada Mizyan. Masih dengan senyum-senyum sendiri.


"Maksudnya apa?!" Mizyan terkekeh. Mulai gemas dengan mood Rahma yang kini berubah genit.


"Kalau abis bersin bilang apa?" Pancing Rahma.


"Alhamdulillah." jawab Mizyan. Dan ia pun tertawa usai sadar akan gombalan Rahma.


"Aww----atit ih." Rahma meniru ucapan Dika sambil memberengut sebab jarinya digigit Mizyan yang nampak gemas.


"Kalau hitungan satu sampai sepuluh, cintaku cukup nomor dua aja."


"Hah, kenapa cuma nomor dua?" Mizyan meladeni kebiasaan Rahma yang sejak hamil jadi suka menggombal. Dengan merebahkannya telentang dan ia menopang kepala menatap wajah sang istri yang berbinar.


"Iya dua. Dualam banget." Rahma menutup wajah dengan telapak tangan sambil terkekeh. Malu.


Mizyan menghempaskan tubuh dengan keras, tak bergerak seolah pingsan usai menerima gombalan kedua sang istri. Membuat Rahma meledakkan tawa dan menggelitik pinggang Mizyan agar bangun. Dan Mizyan pun terpancing tawa sebab geli. Suasana kamar yang masih berlampu terang menjadi hangat akan canda tawa sepasang suami istri di tempat tidur.


Mizyan beralih posisi mengungkung di atas Rahma tanpa membebani. Mengusap-ngusap pipi yang halus lembut. "Tau nggak apa bedanya kamu sama lukisan?" ujarnya menatap dengan binar mata yang penuh cinta.


Rahma menggeleng. Balas menautkan tatapan mendalam menembus sepasang mata hazel yang hangat itu.


"Kalau lukisan tambah lama tambah antik, kalo kamu tambah lama tambah cantik."


Wajah Rahma memerah seketika. Merasakan jantungnya berdebar kencang dan darah berdesir, dengan keseriusan yang tersirat di wajah Mizyan saat mengatakan kalimat itu. Memilih memejamkan mata saat rasa hangat dan kenyal menyentuh bibir. Merasakan dan menikmati sesapan serta ******* lembut namun melenakan. Membuat tubuhnya terasa teraliri sengatan listrik.


Malam ini bekal full tank siap diisi.

__ADS_1


*******


🌹Terdapat dua pendapat ulama yang berbeda dari berbagai mazhab mengenai hukum menjawab adzan. Yaitu wajib dan sunnah. Namun, memang adalah sesuatu yang baik ketika kita bisa diam, mendengarkan sekaligus menjawab ketika adzan dikumandangkan.


__ADS_2