MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 143. Akhir Kasus


__ADS_3

Sidang versi Mizyan dimulai. Dengan terdakwa admin si pengirim berita ke sebuah situs gosip online. Yang kemudian di share di berbagai media sosial. Tidak ada tangan terikat bak tawanan. Mizyan dan Hendra memperlakukan secara halus namun terhunus. Membuat admin pria kurus berkaca mata tebal itu menciutkan tubuh dengan tangan bergetar. Apalagi di belakangnya ada preman berbadan tambun. Tak lain adalah Asep Kadal.


"Mas, siapa tahu jadi terkuak juga siapa begal yang mengambil tas aku dulu."


"Nanti fotoin ya orang-orang yang mau ditemui. Aku masih ingat betul satu pelakunya."


Mizyan teringat ucapan Rahma sebelum berangkat. Segera mengeluarkan ponsel, memotret sang admin yang sedang disidang. Mengirimkannya pada Rahma.


"Saya cuma menjalankan orderan dari klien, Pak. Kerja saya memang menjual jasa. Saya dibayar 5 juta. Sumpah selain itu, saya gak tau apa-apa." Sang admin mendongak sebentar lalu menunduk lagi sebab takut dengan tatapan penuh intimidasi dari pria berambut gondrong yang diikat rapih. Tak lain adalah Hendra.


"Siapa namanya?!" Tanya Hendra datar.


"Tidak tahu, Pak. Dia hanya menyerahkan flashdisk dan uang tunai, lalu pergi lagi."


"Ada rekaman cctv?!" Lagi-lagi Hendra mengintrogasi.


Sang admin mengangguk. "Rekamannya ada di hape." Sahutnya sambil melirik dengan ekor mata ke arah pria tambun. Sebab ponselnya disita saat ia dipaksa untuk ikut ke rumah kosong ini.


Hendra menyuruh Asep Kadal menyaksikan rekaman cctv yang ditunjukkan sang admin setelah ia dan Mizyan melihat. Barangkali anak buahnya itu kenal dengan wajah di balik topi itu.


"Saya tahu dia, boss. Jam segini biasanya dia jadi tukang parkir di Indo April." Asep Kadal berkata yakin.


Mizyan nampak sumringah. Sebab titik terang pelaku makin kentara. "Kita temui dia sekarang, kang!" Pintanya pada Hendra.


"Kamu boleh pulang. Tapi jika nanti dibutuhkan lagi informasi, kamu harus kooperatif!" Hendra berkata tegas dan datar. Yang mendapat jawaban anggukkan dan menyatakan bersedia dari sang admin.


"Mas Mizyan sebaiknya nunggu kabar aja. Biar kami yang bergerak ke lapangan." Saran Hendra, begitu acara intrograsi berakhir dengan sang admin yang sudah pergi.


"Aku ikut, Kang. Penasaran pengen liat langsung wajah pelakunya."


Tanpa membuang waktu lama, Hendra mengambil alih menyetir. Melajukan mobil inventaris peternakan ke alamat mini market yang disebutkan Asep Kadal. Setelah sebelumnya sang preman tambun itu mengontak dua anak buah agar lebih dulu ke lokasi. Untuk antisipasi jika target sampai melarikan diri.


"Ngapain lari kalo gak punya salah!" Asep Kadal memiting tangan juru parkir ke belakang. Yang saat didekati nampak gelagat aka kabur, namun sigap anak buah Asep Kadal menjegalnya.


Semua tindakan serba cepat tanpa menimbulkan kecurigaan orang-orang sekitar. Tersangka sudah berada dalam mobil yang terparkir di samping mini market tersebut untuk menghindari jangkauan kamera pengawas.


Di rumah kosong yang tadi, interogasi dimulai. Bernama Alex Bonar, mengakui dirinya otak di balik berita yang sempat viral itu, setelah terlebih dulu mendapat hadiah bogem dari Asep Kadal hingga sudut mata dan sudut bibirnya berdarah


"Ini yang terakhir. Siapa yang nyuruh lo?!" Hendra menodongkan pistol di pelipis Alex Bonar dengan pelatuk yang sudah ditarik. Setelah sudah berkali-kali diintimidasi namun tetap tidak mengakui jika ada boss yang menyuruhnya.

__ADS_1


Mizyan memundurkan langkah, berpindah ke sudut ruang yang lain saat melihat nama istrinya tampil di layar ponsel.


"Ya, sayang." Sapa Mizyan terlebih dulu.


"Mas, i- itu foto....a- aku masih ingat." Suara Rahma bergetar dengan ucapan yang terbata dan terdengar panik.


"Sayang, tenangin diri dulu...tarik nafas, oke. Lalu bicara perlahan aja!" Mizyan memandu Rahma yang terdengar nafasnya ngos-ngosan karena tegang.


Selang satu menit, suara Rahma terdengar normal.


"Mas, wajah orang itu mirip dengan yang merebut tas aku dulu. Untuk ciri pastinya, ada tato kepala naga di belakang kepalanya." Rahma sudah menelisik berkali-kali foto kedua kiriman Mizyan. Sebelum kemudian segera menelepon suaminya itu.


"Oh ya?!" Sahut Mizyan ikut terkejut dengan mata membeliak. "Oke, aku tutup teleponnya ya. Aku akan pastiin, sayang."


Bergegas Mizyan masuk lagi ke ruang interogasi. Langsung mengarah ke belakang Alex yang wajahnya terkulai ke bawah sebab mendapat lagi hadiah bogem dari Asep Kadal. Benar saja, tato bergambar kepala naga nampak di tengkuk preman itu.


"Kang, kita harus bicara!" Mizyan mengajak Hendra keluar ruangan. Ia menceritakan tentang telepon dari Rahma tadi serta cerita setahun yang lalu saat terjadi pembegalan.


Hendra mencerna sampai akhir cerita.


"Alhamdulillah, jadi bisa mengungkap kasus lama." Hendra mengomentari dengan raut senang.


"Dalam dunia kejahatan, ada job dengan istilah mising link, yaitu mata rantai yang hilang. Si Alex ini saya yakin menjalankan job itu. Sudah dikorek dengan ancaman pistol juga gak mempan dia. Karena dia sendiri memang tidak tahu siapa yang menyuruhnya. Tidak ada jejak komunikasi untuk dijadikan barang bukti. Sudah clear. Polisi juga gak akan mampu mengorek siapa pucuk pelaku. Jadi dia sendiri yang akan kena hukuman." Hendra lanjut menjelaskan dengan gamblang.


Selanjutnya, Alex Bonar akan diserahkan kepada pihak berwajib untuk mempertanggungjawabkan 2 kasus.


****


Sepuluh hari berlalu.


Rahma dan Mizyan masih berada di Bogor untuk mengikuti perkembangan kasus. Disamping masa healing yang membuat Rahma semakin baik kesehatan fisik dan psikisnya. Diketahui jika satu orang lagi yang terlibat dalam pembegalan satu tahun yang lalu, sudah meninggal karena kecelakaan tertabrak bus. Terjadi saat polisi melakukan pengejaran setelah mendapat informasi alamat persembunyian pelaku kedua itu, dari Alex Bonar.


Mami Kanti merasa menyesal dam sedih sebab terlambat mengetahui berita tentang anak dan menantunya. Sebab ia dan keluarga sedang berada di Singapura untuk merayakan Natal dan tahun baru di negeri dengan julukan kota Singa itu. Itupun tahu dari Mizyan yang mengabari seminggu yang lalu. Hanya bisa mendo'akan dan memotivasi Rahma agar sabar dan kuat melewati ujian hidup ini.


"Apa Mas berpikir yang sama tentang siapa sebenarnya dalang utama?" Rahma menatap Mizyan yang tiduran di sebelah kiri. Sementara Dika sudah tertidur di tengah. Lelap dalam buaian lembut usapan tangan bunda di kepalanya.


Mizyan merubah posisi menjadi tidur miring dengan satu tangan menopang kepala. Menatap Rahma yang merapihkan baju piyama Dika yang terangkat ke atas.


"Iya, Bun. Sayang ya kita gak punya bukti." Mizyan meringiskan wajah dengan rasa jengkel dan kecewa yang masih membekas di sorot mata. Kecewa sebab tidak berhasil menemukan barang bukti yang mengarah pada orang-orang yang dicurigainya.

__ADS_1


"Sudahlah, Pa. Kita anggap selesai saja masalah ini. Biar pikiran kita tidak terus-menerus terbebani. Kita serahkan pada pengadilan Allah. Biar Allah yang memberi hukuman dengan cara-Nya." Ujar Rahma dengan serius.


Mizyan meraih tangan kanan Rahma. Mengecupnya dengan segenap perasaan. "Baiklah istri solehaku. Lebih baik kita pikirkan liburan aja. Bunda pengen pergi ke mana hm?" ujarnya memberi tatapan hangat.


"Aku pengen ke Turki, boleh?" Rahma tersenyum manja.


"TIDAK." Mizyan menjawil dagu Rahma dengan gemas. Kemudian bangkit dan berpindah posisi mengungkung Rahma tanpa membebaninya.


"Tidak akan nolak keinginan bunda atu." Mizyan memberikan kecupan di bibir yang memberengut sebab mengira ia menolak keinginan liburan ke Turki. Membuat senyum di bibir tipis itu mengembang manis.


"Tapi sebelum liburan, ada hal yang harus kita urus dulu, Pa." Tangan Rahma menelusuri jambang yang titik-titik hitamnya makin teraba kasar sebab belum bercukur lagi.


"Apa?!" Mizyan menaikkan kedua alis. Menyesap dulu bibir merah jambu yang bersiap akan berucap.


"Kita urus dulu Papi sama Bu Ima. Kasian udah tertunda lamarannya. Setelah itu kita liburan. Nah pas wedding anniv, kita honeymoon ke Maldives. Aku kan boleh hamil pasca 3 bulan kuret. Itu pas setahun pernikahan kita." Netra Rahma berbinar menerangkan planning yang udah disusunnya sendiri.


Mizyan termenung setelah mencerna ucapan Rahma.


"Dika seminggu lagi ultah kan, sayang. Kayaknya gak bakalan pas sekalian liburan ya." Mizyan nampak berpikir. Mengingat harus mengurus dulu paspor untuk Dika yang belum punya.


"Emang gak akan pas. Gak papa, kita adain acara kumpul keluarga dulu pas ultah Dika. Sekalian berbagi ke anak-anak di rumah tahfiz Bu Ima."


"Good idea." Mizyan memberi hadiah kecupan lagi untuk idenya Rahma.


"Terus kalo junior kapan boleh bermain? Udah sesek nih." Mizyan menggesek-gesekkan dan menekankan inti tubuhnya yang dari tadi mengeras.


Membuat Rahma terkekeh ditahan. Takut membangunkan Dika yang sedang pulas.


"Nanti pas liburan."


Mizyan mendecak. "Serius, sayang. Itu kelamaan. Aku bisa migrain nih." Ujarnya mendesah berat.


Rahma terkekeh lagi. "Lusa udah bisa. Tapi siapin pengaman dulu."


"Bisa dinego gak. Majuin sekarang lah....pusing aku." Keluh Mizyan sambil menjatuhkan wajah di ceruk leher Rahma. Meninggalkan stempel kepemilikan berwarna merah terang.


"Gak bisa. Kalo sekarang aku bantu buffet service aja. Mau?" tawar Rahma sambil tersenyum geli mendengar Mizyan mengerang dan mengeluh pusing.


"Boleh, sayang. Biar bisa tidur nih." Mizyan turun dari tubuh Rahma. Mengambil posisi tidur telentang di samping Rahma yang kini bangun.

__ADS_1


"Bun da--- mau pipis." Suara Dika mengagetkan konsentrasi Rahma dan Mizyan.


Rahma sigap menaikkan selimut sampai ke perut, menutupi bagian bawah tubuh Mizyan. Beruntung posisinya membelakangi sehingga Dika yang terduduk sambil mengucek-ngucek mata, tidak akan melihatnya.


__ADS_2