MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 31. Secercah Asa (2)


__ADS_3

Bandung


Seorang wanita menghentikan langkahnya di depan paviliun, Ia adalah Olla yang baru saja keluar dari kelas bersamaan dengan jam isoma (istirahat, solat, makan). Seminggu ini merasa ada yang berbeda, ada yang hilang dari pandangan. Tentu saja, sang penghuni paviliun tak lagi dilihatnya sebab tengah pergi ke luar kota. Begitu pamit Mizyan yang ia dengar kala pria berwajah bule itu menghampiri ustad Ahmad dan Uma untuk berpamitan. Kebetulan ia pun tengah berada bersama Uwa nya itu kala Mizyan diberi wejangan sebelum pergi.


Dua hari sebelumnya tepatnya sabtu sore, dikala ia tengah menggendong bayinya teh Ratna di teras rumah, Mizyan datang menghampiri.


"Olla, boleh tanya nggak?"


"A Iyan mau tanya apa?" Ia yang tengah menimang baby Humaira, ikut duduk di kursi rotan berhadapan dengan Mizyan yang terhalang meja. Ada makanan dalam toples tersaji di meja untuk siapapun yang mau. Sebab tiap hari staf pengajar maupun tamu keluar masuk ke rumah sang ustad.


"Kalau mencari wanita yang baik menurut syariat Islam gimana, La? Kamu kan ilmu agamanya udah mumpuni jadi aku pengen diajari bu Olla."


"InsyaAllah aku tau teorinya. Prakteknya nunggu ada yang datang mengkhitbah," jawabnya dengan terkekeh.


"Suatu hari nanti akan ada yang datang menemui orangtuamu. Tenang aja, Olla."


Ia tersenyum malu melihat Mizyan yang tersenyum lebar dan mengepalkan jari tanda memberi semangat.


“Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Namun dari empat itu paling utama yang harus jadi perhatian adalah masalah agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat."


"Itu adalah sebuah hadis riwayat Bukhari Muslim."


Mizyan mengangguk-angguk, tampak mencerna ucapannya dengan serius.


"Terus kalau cara pacarannya gimana?"


Olla menggeleng. "Dalam Islam tidak ada pacaran. Ada juga taaruf, A Iyan."


"Oh emang beda ya?! Kirain hanya beda istilah saja, maknanya sama."


Ia pun menggeleng lagi. "Pacaran identik dengan kontak fisik dengan lawan jenis yang bisa menjurus pada zina. Apalagi gaya hidup zaman sekarang ini, nau'dzubillah....tak ada lagi rasa malu bermesraan di depan umum. Nggak tau apa yang dilakukan jika hanya berduaan."


"Kalau taaruf itu perkenalan dengan tujuan mendapatkan jodoh. Ada tahapannya."


"Bisa dijelasin Bu Olla?"


Kalimat tanya dengan nada candaan itu membuat nya tersipu malu sebab Mizyan menyebutnya 'Bu Olla' dengan tersenyum sambil menaikkan kedua alis.


"Pertama datangi kedua orangtuanya, utarakan niat jika si pria itu tertarik dengan anaknya."


"Kedua, jalin komunikasi. Saat taaruf, cukup saling menanyakan beberapa hal, seperti perihal dirinya. Misalnya hal apa yang disukai dan tidak disukai. Tak dianjurkan sering bertemu atau saling mengirim pesan terlalu sering."


"Jika ingin bertemu, ajak keluarga atau teman dekat untuk ke rumah si wanita agar pesan tersebut dapat disampaikan dengan jelas."


Ia pun menjelaskan tahapan selanjutnya sampai tahapan khitbah dan terakhir yaitu akad.


"Thanks sharing ilmunya, Olla."


Mizyan yang beranjak turun dari teras sempat membalikkan badan lagi.


"By the way, kamu udah cocok jadi ibu." Ujar Mizyan dengan gestur tangan tengah menimang bayi.


Sayangnya, Mizyan tak melihat pipinya yang merah merona sebab pria itu keburu pergi setengah berlari menuju paviliun.


"Teh Olla, nuju naon (lagi apa)?"


Teguran dari Dado yang keras membuat Olla terjengit kaget. Terlalu asyik dengan lamunannya sehingga tidak tahu jika Dado sudah berdiri di sisinya.


Ia mengelus dada sambil mengucap istigfar berkali-kali. "Dado, kalau nanya jangan keras-keras dong. Aku jadi kaget nih, untung nggak jantungan." Ia masih mengelus dada kirinya yang masih berdegup kencang saking kagetnya.

__ADS_1


"Dado udah nanya pelan, tapi teteh malah sura seuri (senyum-senyum)." Elak Dado membela diri merasa bukan dirinya yang salah.


"Dado abis dari mana?" Olla memilih mengalihkan pemicaraan mengingat memang dirinya yang salah, melamun. Ia mengerutkan kening melihat pemuda bertubuh gempal itu menggendong ransel di belakang punggung.


"Dado abis dari apartemen A iyan. Abis bersih-bersih...."


"A iyan emang lagi di mana? Sering telepon Dado nggak? Kapan pulangnya?"


Dado bukannya menjawab, malah memijat kepala dengan bibir mengeluh.


"Do, kenapa?" Olla menatapnya khawatir atas perubahan sikap Dado.


"Teh Olla nanyanya kepanjangan. Kan Dado jadi pusing."


"Punten, teh. Dado mau masuk dulu ah, mau bobo."


Olla hanya melongo melihat Dado yang membungkuk melewatinya, ngeloyor pergi membuka pintu paviliun. Lalu terdengar pintu dikunci dari dalam. Ia hanya menggendikkan bahu, ikut berlalu menuju rumah utama. Lupa, jika bicara dengan Dado harusnya sedikit-sedikit.


****


Semarang


Duduk di meja paling pojok agar tak terganggu dengan lalu lalang orang yang keluar masuk restoran di jam makan siang ini. Senyum lebar terus menerus tersungging dari bibir Mizyan. Tentu saja sebab ia amat sangat senang bisa bisa bertemu Ibnu, teman sekelasnya waktu SMA, anak keturunan Arab yang tinggal di Kauman.


"Ente ke mana aja ngilang kayak di telan bumi?!"


"Kowe kok manglingi to, sampek aku ora niteni (Kamu mangling, hampir saja aku tak kenal)."


"Makin dewasa makin guanteng ente."


"Eh terus ngapain juga ada di sini (masjid)?"


"Ceritanya panjang, Nu." Mizyan menegakkan duduknya. Kentara wajahnya yang semringah dari tadi. "Gue jawab dulu pertanyaan terakhir lo," ujarnya dengan mengulas senyum tipis penuh kebahagiaan. "Gue udah jadi muslim." Pungkasnya dengan penuh kebanggaan.


Ibnu tak jadi menyeruput jus mangga yang baru saja diantarkan pelayan sambil menunggu menu utama datang. Memilih menundanya dan menyipitkan mata menatap Mizyan. "Barusan ente bilang apa?!" ujarnya ingin meyakinkan pendengarannya.


"Gue udah jadi muslim. Udah 2 tahun jalan."


"Maasha Allah Tabarokalloh---" Ibnu mengusap muka penuh syukur dengan wajah berbinar.


"Nama gue juga udah ganti." Mizyan mengeluarkan kartu nama, menaruhnya di depan tangan Ibnu yang bertumpu di meja.


Ibnu fokus menatap kartu nama yang dipegangnya, lalu mengejanya dengan hati-hati seolah takut ada huruf yang terlewat.


Mizyan abdillah, S.Ars


Berikut contact person dan alamat tempat tinggal lengkap.


"Wow, nama yang indah, sarjana arsitektur lagi." Ibnu berdecak kagum. "Jadi selama ini ente tinggal di Bandung?!" Ia menatap Mizyan dengan sorot mata dipenuhi kekaguman dengan status baru teman lamanya itu.


"Bisa dibilang ya. Soalnya gue sering bepergian pindah-pindah kota, bisa sampai berbulan-bulan. Tapi tetap, Bandung jadi tempat tinggal utama, udah nyaman di sana."


Apalagi sekarang lagi perjuangin someone special.


Senyum simpul terukir kala seraut wajah berkelebat di pikirannya.


"Nu, tau kabar orangtua gue nggak?" Mizyan mulai ke topik utama tujuannya datang ke Semarang setelah menceritakan awal mula kaburnya ia dari rumah belasan tahun yang lalu. "Gue sadar, baik atau buruk mereka tetap orangtua yang harus gue hormati."


Ibnu memyeruput jus mangga miliknya sampai tersisa setengah. "Dulu mami ente ke rumah nanyain keberadaan ente. Aku jawab sejujurnya nggak tahu. Malah sebulan kemudian dapat kabar dari gibahan emak-emak kalau orangtua ente bercerai."

__ADS_1


Kini, Mizyan dan Ibnu bertolak menuju Kauman dengan mengendarai mobil sejuta umat milik Ibnu. Ia mengantar Mizyan ke rumahnya sebab ingin bersilaturahmi dengan kelurganya sebelum berangkat menuju rumah Ibu Sukanti, ibunya Mizyan.


"Nu, sorry ya lo jadi direpotin. Gue janji akan ganti rugi waktu lo yang terbuang." Mizyan menoleh ke arah Ibnu yang tengah fokus menyetir, merasa tidak enak. Sebab harusnya Ibnu kembali ke kiosnya di pasar Johar usai mengantarkan sayuran dan daging ke salah satu restoran yang berada dekat dengan masjid agung.


"Santai aja, men. Aku senang bisa bantu ente. Tenang aja, di kios ada pegawai kepercayaan kok."


"Aku malah nggak enak, ini mobilnya bau sayuran." Pungkas Ibnu, sejenak menoleh ke arah Mizyan.


"No problem, men." Mizyan menepuk bahu Ibnu tanpa beban.


Mobil Ibnu terparkir di depan gang, hanya kendaraan roda dua atau becak yang bisa masuk ke dalam gang. Keduanya melanjutkan berjalan kaki memasuki gang yang keseluruhan kampung Kauman ini terbagi beberapa gang. Juga dihuni berbagai etnis seperti Jawa, Cina, Arab, Melayu, dan yang lainnya.


"Ini istriku, Mayang."


"Ini Syaqila udah kelas 1 SD, adiknya Syarima baru 3 tahun lagi nakal-nakalnya suka jahilin kakaknya."


Ibnu memperkenalkan keluarga kecilnya diiringi tawa melihat kelakuan usil anak keduanya yang memasukkan kue ke gelas yang akan diminum kakaknya. Alhasil membuat si sulung menangis.


"Sorry, Mizyan." Ibnu mulai memanggilnya dengan nama baru. "Tiada hari tanpa keributan, kayak gini nih. Aku sama Mayang harus sabar sama keributan anak-anak." ujarnya diiringi tawa dan gelengan kepala.


"Aku malah iri liatnya. Jadi pengen berkeluarga," sahut Mizyan diiringi tawa sumbang.


"Buruan nyusul, men. Ngapain banyak duit kalo jadi bujangan terus. Kurang pahala, men."


Lagi-lagi Mizyan hanya tertawa sumbang.


Selepas Ashar Mizyan mulai berangkat ke tujuan utamanya, dengan Ibnu yang menjadi guide nya.


"Nu, yakin Mami tinggal di sana?" Mizyan mulai tegang kala mobil memasuki gerbang tol Semarang -Solo. Merasa harap-harap cemas takut kecewa seperti kemarin di wilayah simpang lima.


Ibnu mengangguk yakin. "Waktu jual rumah, Bu Sukanti datang ke rumah aku. Bilang gini--- Ibnu, siapa tau suatu hari kamu ketemu Miki, bilangin sama Miki agar datang ke Ambarawa."


"Terus ngasih alamat dalam kertas yang tadi aku kasihin ke ente."


"Lo menyimpannya begitu lama kertas ini?!" Mizyan menatap tak percaya ke arah Ibnu yang lurus menatap jalanan tol.


"Harus, men. Itu kan amanah."


"Thank you, bruh."


****


Bogor


Seorang pria berkemeja putih menghampiri Boss peternakan sapi yang baru turun dari kudanya usai berkeliling melihat gerombolan sapi yang dilepas liar di padang rumput. Kemudian digiring menuju kandang sebab hari sudah sore. Ia turun diiringi 2 pegawai kepercayaannya yang sama-sama menunggangi kuda.


Dengan mengenakan topi cowboy dan kaca mata hitam, penampilannya masih gagah dan bugar diusia kepala 5. Sepintas orang pun akan tahu, jika pria perlente itu bukanlah penduduk asli kelahiran dalam negeri, khusunya Bogor sebagai tempat tinggalnya beberapa tahun terakhir ini.


"Pak, Mizyan sekarang sedang menuju Ambarawa diantar orang Kauman. Kemungkinan temannya dulu."


"Update terbaru, ia menuju rumah Ibu Sukanti."


Boss sapi itu mengangguk. "Awasi saja dari jauh. Biarkan dia bertemu ibunya!


"My **s**on." Lirihnya dalam hati.


Matanya mendadak berkaca-kaca. Beruntung kacamata hitam masih bertengger di hidung mancungnya.


Masa lalu memang tidak bisa diperbaiki. Ia hanya meratapi penyesalan sebab keegoisan masing-masing yang menyebabkan hancurnya sebuah keluarga.

__ADS_1


__ADS_2