MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 79. Closing Pembalasan Si Pitung


__ADS_3

Flashback On


H-1 wedding day, bertempat di cafe Zero tengah diadakan meeting yang diprakarsai Arya, sore hari sepulang kerja. Tiga sahabatnya sudah duduk manis. Ada Willi, Ricky, dan Rendi. Arya tengah menunggu seorang lagi yaitu sepupunya, Satya.


"Sorry telat, kena macet." Satya duduk di kursi kosong yang tersisa di samping Ricky.


"Belum mulai kok. Baru pesen minum." Ricky menyahut dan menyodorkan buku menu cafe ke depan Satya untuk memesan.


Sembari menunggu kedatangan minuman yang dipesan, Arya mulai menyampaikan tujuannya berkumpul. Sebab baru Ricky saja yang tahu, yang lain tidak.


"Besok wedding Mizyan. Ada yang punya ide?" Dengan gaya santai menyandarkan punggung, Arya menyapu wajah-wajah sekelilingnya.


"What? Si Mizyan bakal kena?!" Willi membeliakkan mata, antara kaget sekaligus senang. Respon Rendi hanya tertawa dengan pikiran menerawang. Merasa senang diatas penderitaan kawannya besok.


"Maksudnya apa? Aku gak ngerti." Satya mengerutkan kening dan menatap bingung ke arah Arya.


"Si Pitung Arya mau melancarkan pembalasan terakhir, gagalin malam pertama. Closing di Mizyan." Ricky yang mewakili menjawab. Wacana pembalasan sudah dibisikkan Arya sejak di acara lamaran kemarin. Dan ia tidak akan mencegah sebab sudah pasti Arya akan membabat habis semuanya tanpa ampun.


Satya menepuk kening. "Kirain meeting mau bikin project apa gitu," akhirnya geleng-geleng kepala dengan keusilan saudaranya itu.


"Yakin mau lewatin gitu aja?" Rendi menatap Satya sebagai adik iparnya itu. "Dulu aja kamu dikerjain. Demi setia kawan kamu nemenin Mizyan yang akting patah tulang pas MP." tawanya berderai demi ingat kejadian waktu lalu.


Satya terdiam dengan dahi mengkerut. Meresapi ucapan Rendi yang ada benarnya juga.


Enak aja dia lolos MP.


"Oke. Aku ikutan. Apa rencananya nih?" Satya antusias untuk mendengarkan intruksi.


Arya menghembuskan nafas panjang. "Justru aku mau tanya, kalian punya ide apa. Ayo pada pinter dong--"


Membuat orang-orang di mejanya mendengus dan mendecak sebal pada si ketua genk. Tentu sembari berpikir ide briliant apa yang bisa membawa Mizyan keluar kamar. Ricky menggeleng mentok. Usul Willi tidak disetujui, bisa terbaca lawan. Rendi dan Satya memilih ikut saja.


"Ah payah pada lemot semua." Arya berdecak namun tak urung mendapat tonjokkan Ricky di bahu sebab gayanya menyebalkan.


"Aku punya ide begini----" Mulut menjelaskan dengan wajah serius, tangan bergerak memetakan. Semuanya pun fokus menatap Arya dengan serius.


Willi menjentikkan jari. "Good idea. Memang cerdas kau ini." Ia harus mengakui ide Arya memang terkesan natural.


"Si Pitung dilawan!" Arya tersenyum menyeringai. Diangkatnya ke udara jus jeruk miliknya untuk beradu dengan minuman yang berbeda-beda milik komplotannya.


"Cheers."


Flashback Off


****


Mizyan mencuci muka demi menurunkan tensi yang sudah naik ke ubun-ubun. Minum segelas air dingin untuk menetralisir rasa dongkol serta menenangkan lagi junior yang kadung berontak. Sebelum beranjak, ia mengecup kening Rahma dan berjanji akan segera kembali.


Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jeans selutut yang dikenakannya. Menunggu lift terbuka yang tengah bergerak naik ke lantai 25 tempatnya berdiri.


Tring.


Pintu lift terbuka. Langkahnya urung melihat orang yang keluar dari dalam lift dengan menenteng tas. Membiarkan pintu lift kembali tertutup.


"Ren, bukannya udah pulang. Kok ada di sini?" Mizyan menatap penuh selidik terhadap penampilan Rendi yang memakai outfit casual.


Rendi mengangguk. "Emang udah pulang. Pas sampe rumah temenku telpon, anaknya kambuh sakit asmanya. Pas lagi nginep di sini." Ia menunjuk dengan dagu ke arah room paling ujung.


"Kamu mau ke mana? Penganten biasanya betah di kamar." Rendi balik bertanya sambil memindai penampilan Mizyan dari atas sampai bawah.

__ADS_1


Mizyan menghembuskan nafas kasar. "Alarm mobilku bunyi. Aku mau ke basement dulu. Sorry ya aku buru-buru." Ia pun menekan lagi tombol lift namun dicegah Rendi.


"Bentar, Yan. Gimana kalau gini aja. Kamu tolong anterin ini obat ke room 1219. Tadi aku udah periksa pasiennya. Hanya tinggal ngasih obat. Tadi lupa ketinggalan di mobil."


"Ke basement biar sama aku aja. Jadi kamu gak perlu pergi lama. Nanti kuncinya aku titip di resepsionis. Gimana kalau gitu?" Rendi memberikan opsi.


Mizyan berpikir sejenak. Memberikan obat ke room paling ujung berarti tak jadi pergi lama-lama meninggalkan Rahma.


"Oke. Mana obatnya!" Mizyan memberikan dompet kunci mobilnya dan menerima bungkusan plastik dari Rendi.


"Bilangin aja ada titipan obat dari dokter Rendi."


Mizyan mengangguk dan berbalik badan ke arah kiri menuju room paling ujung. Rendi pun masuk ke dalam lift.


Mizyan bersiul pelan menunggu pintu kamar dibuka. Angannya sudah membayangkan akan segera melanjutkan lagi petualangan yang tertunda. Pintu pun terbuka, namun tidak ada orang yang keluar.


"Permisi---" Ia melongokkan kepala di ambang pintu. Menyapukan pandangan pada seisi ruangan suite yang kosong tidak ada orang tapi terdengar bunyi keras air kran.


Pintunya dibuka tapi orangnya di kamar mandi?! Aneh.


"Permisi---Ada titipan obat dari dokter Rendi." Teriaknya lebih nyaring dan memutuskan masuk ke dalam untuk menyimpan plastik obat di meja sofa.


Suara pintu tertutup membuat Mizyan membalikkan badan yang baru saja selesai menyimpan obat.


Rendi tampak masuk dan Satya berada di balik pintu. Belum usai tanda tanya di benaknya, muncul Arya dari kamar mandi, Rendi dan Willi berdiri muncul dari belakang sofa.


"Taraaaaa---" Ricky merentangkan kedua tangan. "Selamat! Anda masuk pada jebakan si Pitung." Pungkasnya sembari tersenyum menyeringai lalu meloncati sandaran sehingga menjadi terduduk di empuknya busa sofa.


Mizyan berkacak pinggang sembari menggeram kesal. Tidak menyangka bahwa sobat sengkleknya benar-benar melakukan pembalasan terhadapnya. "Bukannya tadi pada pulang semua?!"


"Emang iya pulang. Nganterin dulu bini terus mandi---cus ke sini soalnya diancam potong gaji sama si boss tuh." Willi menunjuk dengan ekor mata pada Arya yang tampak kalem meminum soft drink.


"Bo ong----" Koor suara Rendi dan Satya yang masih berdiri bersidekap tangan di dada sembari cengengesan.


Mizyan hanya mampu beristigfar dalam hati. Menjatuhkan bokong di sofa dengan lemas. Tak ada celah untuk keluar sebab Rendi mengunci pintu dan menyembunyikan kunci entah dimana.


"Plis, brother. Kasian Rahma cemas nungguin. Aku sudah janji tidak akan lama." Mizyan mencoba peruntungan dengan memelas pada Arya yang kini duduk santai bertumpang kaki.


"Tenang, brother. Istrimu tidak akan cemas kok, mungkin sekarang bersiap tidur. Sudah ada Rade yang ditugaskan ngasih informasi kalau kamu lagi ngumpul bareng kita, ngerayain tradisi." Cuek Arya sembari mulai membuka snack kacang.


Mizyan memejamkan mata, meremas rambutnya. Putus asa sudah malam ini alias gagal total.


"Pening gak, pening gak----pening dong masa enggak."


Suara Ricky yang terdengar menyebalkan membuat Mizyan membuka mata dan melemparkan bantal sofa. Yang ditangkap Ricky dengan tertawa lepas.


Semuanya kini duduk bersama di sofa. Dikala ke 5 orang kawannya itu tampak sumringah, Mizyan hanya bisa meratap dalam hati. Baru juga ngerasain lulus test drive.


Arya berdehem. "Mungpung lagi ngumpul komplit. Gue mau tanya nih. Jadi sebenarnya siapa dulu yang punya ide ngerjain malam pertama gue?"


"Dia."


"Dia."


"Dia."


Ricky, Rendi, dan Willi kompak menyahut dan mengarahkan telunjuk ke wajah Mizyan. Yang ditunjuk tampak menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Dan enak lo mah langsung terbang ke Amrik. Gue jadi kena imbas. Malam pertama, mereka ikut masuk pada camping di kamar." Sewot Willi sembari menyapu pandangan pada Arya, Ricky dan Rendi.

__ADS_1


Rendi dan Ricky pun menceritakan pengalaman malam pertama mereka yang juga tak luput dari balas dendam Arya. Tentu saja Mizyan tidak tahu sebab dia tidak bisa datang, sedang sibuk dengan banyaknya project di Amerika.


Satya yang dari tadi menjadi pendengar, mulai bersuara. "Malah gue yang gak tau apa-apa kena imbasnya juga. Jadinya gue gak rela kalo lo lancar jaya."


Mizyan menatap Satya dengan isyarat mata penuh permohonan. Supaya sahabat sekaligus patner bisnisnya itu mau menolongnya.


Satya menggeleng. Mengambil softdrink dingin yang ada di meja. "Selamat merasakan gimana beratnya kepala atas dan bawah." Ledeknya yang membuat semua komplotan tertawa lepas penuh kemenangan.


Sampai jam menunjukkan pukul 1 malam, Ricky dan Willi masih anteng bermain catur di meja makan. Arya dan Satya sudah terdampar di ranjang tampak terdengar dengkuran halus. Melihat Rendi yang terkantuk-kantuk menonton televisi, Mizyan mendekat dan meneliti saku celana joger yang dikenakan Rendi.


"Di sakunya gak ada kunci. Gak perlu merayap-rayap." Padahal Ricky tengah menggerakkan pion tapi seolah tahu apa yang dipikirkan Mizyan.


"Sudah tidur aja. Siapin tenaga buat siang pertama. Percuma protes juga. Lo baru bisa bebas pas subuh." Willi pun seolah bisa membaca raut Mizyan yang bete padahal tidak memperhatikannya. Tengah fokus membaca langkah lawan dimana permainan dalam posisi draw.


Mizyan pasrah merebahkan badan di sofa, tidur telentang. Matanya nyalang menatap plafon kamar. Andaikan ada di kamarnya, pastinya sat ini tengah begadang, masih rakus mencumbui sang istri. Membayangkan hal itu, tak urung membuat si kecil berkedut. Makin berat kepala. Ia memilih saran Willi untuk tidur menyiapkan tenaga agar pagi-pagi fresh. Nyatanya rasa kantuk tak kunjung datang. Berusaha dipejamkan malah pegal mata. Mencoba berganti posisi bergerak gelisah miring ke kiri dan ke kanan.


Dan entah jam berapa matanya bisa terpejam. Merasa baru tidur sebentar begitu lengannya diguncang dengan keras berkali-kali. Sambil memicingkan mata yang masih berat, ia mengumpulkan nyawa yang masih berserakan.


"Bangun, bro. Subuh dulu baru tidur lagi." Arya membangunkannya sembari memperlihatkan jam di layar ponsel. Yang dengan santainya lalu mengambil posisi tidur di sofa sampingnya.


"Astagfirullah." Mizyan terduduk seketika melihat waktu hampir jam 5 pagi. Ia melihat yang lainnya bergelimpangan di ranjang.


"Pintu gak dikunci kalo mau keluar." Arya berbicara dengan mata terpejam. Kedua sudut bibirnya tertarik menandakan senyum kepuasan.


Ucapan Arya serasa angin segar yang membuatnya bangkit segera menuju pintu. Benar saja, ia bisa lolos dari penjara si pitung. Hanya dengan berbelok ke koridor kanan, ia sampai di kamar pengantinnya.


"Mas, sudah sholat?" Sapaan Rahma dengan rambut setengah basah terurai tidak membuatnya segera menjawab. Malah jakunnya turun naik. Betapa tampilan segar yang mengenakan bathrobe itu begitu menggoda.


"Belum, sayang. Aku mandi dulu!" Mizyan melewati Rahma dengan mengecup pipinya terlebih dulu.


Sinar mentari pagi hangat menembus kaca jendela dengan gordengnya yang telah dibuka ĺebar. Sarapan pagi yang dipesan dengan layanan kamar sudah tersaji di meja sofa.


"Maaf ya sayang, semalam aku diculik Arya dan and the genk." Mizyan memeluk erat pinggang Rahma yang baru mengambilkan sandwich untuknya. Bibirnya mengecup pipi halus lembut yang tampak merona.


"Iya Rade juga telpon aku kok. Gak papa, lagian aku cape. Semalam pun langsung tidur nyenyak deh." Jawab Rahma jujur.


Mizyan mengunyah sarapannya. Sepertinya Rahma tidak tahu jika semalam berkumpul itu bukanlah tradisi tapi aksi balas dendam. Biarlah sang istri tidak tahu saja. Sebab dialah awal mula sebagai biang keroknya.


Suara bel pintu terdengar berbunyi. Mizyan beranjak untuk membuka pintu.


"Papa buye---" Pekik riang Dika yang datang diantar oleh Mira. "Papa, Nda mana---" Tanpa menunggu jawaban Dika berlari masuk ke dalam.


"Maaf, Mas. Dika tadi nangis pengen ke bunda." Mira tersenyum meringis merasa tak enak sudah mengganggu pengantin baru.


Mizyan mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Mira. Pemandangan yang dilihatnya sekarang adalah Dika tengah menggelayut manja di pangkuan bunda Rahma sembari disuapi.


"Nda, atu mau bobo ama Nda ama Papa juja." Rengeknya manja.


"Iya, sayang. Asal Dika makannya banyak--"


Rahma mendongak menatap kedatangan Mizyan yang ikut duduk di sisinya. "Maaf--" bibirnya berucap tanpa suara. Sebab tadi Mizyan menginginkan naik ke ranjang usai sarapan.


Mizyan memberi isyarat kecupan jauh sebagai isyarat everything is oke. Lalu merangkum bahu Rahma dan mencium kening Dika.


"Papa, atu mau main sepatu loda ama Papa!"


"Nda, sepatu loda atu mana?"


Mizyan memijat pelipisnya yang berdenyut pening. Dika merajuk di waktu yang salah.

__ADS_1


__ADS_2