MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 107. Birthday Party


__ADS_3

"Papa, awas!" Untuk kedua kalinya Dika mengusir tangan papa buye yang berpindah posisi ke sebelah kanan, memeluk bunda Rahma dari belakang.


"Kan Papa juga mau peluk bunda." Dengan sengaja mengetatkan pelukan sambil menyusupkan kepala di tengkuk Rahma.


"Da boyeh, Papa. Nda atu---" Dika protes keras. Lalu bangun terduduk. Menarik lengan papa yang melingkar di perut bundanya.


"Aaaaghh, Nda-- Papa nackal!" Dika beralih merajuk dengan bibir mengerucut menatap sang bunda. Sebab tidak berhasil menyingkirkan tangan papa nya itu.


Dari balik punggung Rahma, Mizyan senyum-senyum sendiri merasa senang menjahili si kriwil yang malam ini mendadak posesif sama bundanya.


"PAPA! Ngalah dulu napa sih." Rahma yang memilih memejamkan mata saat dua orang pria itu memperebutkannya, harus memaksakan membuka mata yang sudah mengantuk itu. Mengultimatum sang suami untuk mengalah.


"Iya nyonya, maaf." Beralih mengangakat kepala lalu memeletkan lidah pada Dika. Yang dibalas Dika memeletkan lidah sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Membuat Mizyan tertawa lepas.


"Dika juga ayo bobo...ini udah malam." Rahma menegur sang anak yang kini cekikikan melihat papanya memutar bola mata seperti penari Bali.


"Iya nyonya, maaffff." Dika mengcopy paste ucapan papa buye. Menenggelamkan wajah di dada sambil melingkarkan tangan mungilnya memeluk erat sang bunda.


Rahma mencoba menahan tawa. Nampak dari bahunya yang terguncang-guncang. Geli dengan sang anak yang sering meniru-niru ucapan orang dewasa.


"Ketawanya lepas aja, nyonya. Nanti sakit perut." sahut Mizyan yang beralih memainkan telunjuk membuat pola-pola tak beraturan di punggung istrinya itu.


"Nyonya, nanti sakit pelut hi hi hi--" Dika mengangkat wajah diiringi kikikkan tawa.


"Ya Allah, kapan bobonya--" Rahma menjawil pipi sang anak yang lalu mendusel-dusel lagi di dadanya masih dengan iringan tawa yang tersisa.


Sudah lewat jam 10 malam. Diajak becanda oleh papa buye, bocah kriwil itu malah makin jauh dari kantuk. Ia pun mengultimatum lagi suaminya yang akhirnya diam, tidur rapat di pungungnya tanpa berani memeluk. Sebab akan diprotes Dika yang malam ini sangat posesif pada bundanya. Usapan di punggung diiringi lantunan sholawat, lamat-lamat membuat Dika dan juga papa buye larut dalam lelap.


Terdengar dengkuran halus di belakang pungungnya. Rahma mengulas senyum simpul. Malam ini bisa terbebas dari serangan gerilyawan.


Adzan subuh sayup-sayup terdengar. Rahma mengerjapkan mata. Sejenak mengumpulkan nyawa yang berserak. Heran, kala melihat Dika tak ada lagi di sisi kirinya. Ia segera bangun khawatir sang anak terjatuh ke bawah ranjang. Menjadi lega, kala melihat Dika berpindah tidur ke sebelah kanannya.


Mizyan keluar dari kamar mandi usai berwudhu. "Aku pindahin pas bangun jam 3, hampir aja jatuh. Jadinya tukeran tempat." ujarnya begitu melihat Rahma yang terbangun dengan kaget.


Rahma menganguk-ngangguk. Perlahan turun dari ranjang empuk king size itu. Mengunci lagi pintu kamar setelah sang suami pamit pergi ke masjid bersama Rangga. Ia pun bersiap menunaikan sholat subuh.


****


Dika ikut Papa dan Opa Mark jogging jam 7 pagi. Satpam cilik yang berhasil menggagalkan aksi gerilyawan semalam. Awalnya merindingkan badan begitu keluar dari pintu sebab udara pagi yang dingin menggigit meski sudah memakai hoodie. Namun semakin bersemangat setelah Papa buye mengajak loncat-loncat sehingga membuat badan lebih hangat.


Bertiga mereka berjalan kaki menyusuri jalan kampung dengan pemandangan pesawahan yang menghijau serta kebun palawija. Bertegur sapa dengan para petani yang sudah turun mamantau sawah juga bertegur sapa dengan warga yang berpapasan sepanjang jalan. Semuanya sudah mengenal Pak Emsi sebagai juragan sapi dan kayu.


"Miki, dulu berapa lama proses kamu sampe memutuskan menjadi muslim?" Mark berdiri menatap hijaunya bukit yang nampak nun jauh di mata. Kedua tangannya ditarik ke atas melakukan peregangan.


Mizyan menghentikan gerak stretching kakinya. Menatap papi Mark yang menarik kedua tangan melengkung ke kanan dengan kedua alis bertaut.

__ADS_1


"Prosesnya lumayan lama, lebih dari setahun. Dulu waktu aku kabur dari rumah memutuskan jadi seorang atheis. Hidup bebas tanpa aturan yang penting happy." Mizyan mulai bercerita. Tak lupa memperhatikan Dika yang melempar-lemparkan kerikil pada air solokan yang jernih mengairi pesawahan.


"Bersahabat dengan Arya and the genk membuat aku sering memperhatikan keseharian mereka yang bergaul luas tapi taat dengan agamanya. Ada 3 orang muslim, 1 orang kristiani. Mereka rukun, bersahabat dengan menjunjung toleransi. Termasuk terhadap aku yang tidak beragama. Mereka tetap merangkul."


Papi Mark menyimak dengan penuh keingintahuan. Kembali ketiganya berjalan santai menuju villa setelah berjalan sejauh 1,5 km. Dika yang mengeluh cape berjalan, kini nemplok di punggung papa buye.


"Sejak pulang dari Amerika dan memutuskan tidak balik lagi, aku makin sering bertemu Arya, Rendi, dan Ricky. Ketiganya orang sibuk tapi begitu denger adzan selalu buru-buru mengerjakan sholat."


"Ternyata mereka memegang prinsip kuat. Penuhi dulu panggilan Allah, selebihnya biar Allah yang penuhi kebutuhan kita."


"Make me impressesed, Papi." Mizyan menoleh pada papinya dengan mata berbinar. Keduanya berjalan lebih santai sambil berbincang.


"Orangtua Arya juga humble. Menganggap semua teman dekat Arya sebagai anak-anaknya. Nasehat Papa Roby dalam urusan bisnis sampe sekarang masih aku ingat dan aku pegang."


"Beliau bilang, bisnis boleh meroket tapi gaya hidup jangan ikut meroket. Kalau beramal sangat boleh meroket." Mizyan tersenyum bangga.


"I'm so sorry. Papi belum jadi orangtua yang membuatmu bangga." Mark tersenyum getir. Merasa diri belum memberikan keteladanan untuk anak semata wayangnya itu.


Mizyan menghentikan langkah. Menggelengkan kepala, tidak setuju dengan ucapan sang ayah.


"Papi selama ini mencariku. Melindungiku dari jauh. Itu sudah menjadi bukti if you are the best Dad ever. I proud of you, Papi." Mizyan menatap dengan binar kesungguhan tersirat di kedua bola mata hazelnya.


"Thanks my son." Mark tersenyum senang. Terharu atas ungkapan anaknya itu. "Lanjutkan ceritamu!" Sambil mengajak Mizyan melanjutkan langkah kaki menuju villa. sementara Dika anteng menatap kiri kanan dengan kedua tangan memeluk erat leher papanya.


"And than...aku makin tertarik mempelajari Islam. Apalagi setelah seseorang memberikan Al Qur'an terjemahan. Membaca secara acak terjemahannya, membuat aku makin penasaran ingin menggali lebih dalam. Pernah debat juga dengan Arya Cs tentang kebenaran adanya kehidupan setelah mati, tentang kehidupan di surga yang makan minum tanpa buang air. Dan jawaban comparison berdasar logika, bikin aku makin selangkah lagi menuju mualaf."


Mizyan menghentikan langkah, memegang bahu sang ayah usai melewati pintu gerbang yang kini ditutup kembali oleh sang penjaga. Ditatapnya pria paruh baya pemilik warna bola mata yang sama sepertinya.


"Let me know, Papi. Apa Papi mau menyusul aku menjadi mualaf?!"


****


Mizyan dan Rahma berangkat menuju Puncak selepas Magrib. Merasa lega sebab Dika mau ditinggal pergi tanpa drama. Selama setengah hari ikut Papi Mark ke peternakan, menunggang kuda bersama, membuat Dika makin lengket dengan kakek sambungnya itu. Sehingga bocah kriwil itu bisa melepas Papa dan Bunda dengan senyum. Ditambah Opa Mark menyulap 1 ruangan kamar menjadi playground untuknya. Wahana playgorund yang dipesan Opa Mark datang di sore hari dan selesai terpasang selepas Magrib. Dika teralihkan dengan dunia permainannya.


Sampai di Puncak 1,5 jam kemudian. Memilih check in hotel dulu sebab keduanya akan menginap semalam setelah mendapat saran dari Papi Mark yang melarang pulang larut malam sebab khawatir akan keselamatan di jalan yang sepi. Dan Papi meyakinkan jika Dika dijamin tidak akan rewel.


"Mas, kita terlambat setengah jam." Rahma menatap pantulan dirinya di cermin usai berganti dengan gaun pesta warna creamy yang indah dan anggun. Touch up wajah dengan mengaplikasikan make up minimalis di wajah cantiknya itu.


"Gak papa, sayang. Biar gak terlalu lama di partynya. Lebih asyik kita party berdua sampai pagi di sini." Mizyan mengerling nakal menatap Rahma dari pantulan cermin. Ia selesai memakai jas hitamnya, ukuran yang pas membalut tubuh kekar dan ramping.


Rahma membalikkan badan. Sudah selesai dengan ritual dandannya. "Papa atu nackal ya!" Sambil merapihkan kerah kemeja Mizyan dan memberi usapan di permukaan jas. Ia membulatkan jari sebagai tanda penampilan sang suami sudah oke.


"Atu nackal nya sama Nda aja. So beautiful, wifey." Kecupan mesra mendarat di kening Rahma yang wajahnya kini merona merah.


"You too. So handsome, hubby." Malu-malu, Rahma berkata jujur sesuai isi hati.

__ADS_1


Mizyan mengulas senyum lebar. "Lets go, sayang" Mizyan memberikan lengannya untuk digandeng. Rahma melingkarkan tangannya dengan senyum sumringah.


Sampai di resort, Mizyan menunjukkan barcode undangan yang dijaga ketat para petugas. Menjaga sembarang orang masuk ke birthday party anak seorang konglomerat Jakarta itu.


Kesan mewah nampak menghiasi ruang pesta. Nyanyian happy birtday diiringi orkestra baru saja usai kala Mizyan dan Rahma masuk. Riuh tepuk tangan terdengar begitu Glen meniup lilin usai make a wish lalu memberikan suapan kue pertama kepada istrinya.


"Let's dance together!" Teriak MC, begitu susunan acara utama ditutup dengan doa oleh seorang pendeta. Hampir semua tamu menuju ke tengah lantai yang sudah didekorasi dengan gemerlap lampu gantung dan sorotan lampu led dari segala penjuru. Musik mulai menghentak. Dibuka oleh penyanyi dengan membawakan lagu Shape of you - Ed Sheeran.


"Mas, kita jangan ikutan." Rahma menggelengkan kepala. Melihat orang-orang melantai bebas dengan tawa lepas, sungguh tidak cocok dengan gaya hidupnya.


Mizyan beralih menggenggam tangan Rahma memberikan ketenangan. "Nggak akan, sayang. Kita temui Glen dulu, jalan-jalan sebentar nyicipi jamuan. Abis itu pulang. Gak perlu nunggu sampai akhir party."


"Kita gak bawa kado." Rahma menatap ragu sebelum melangkah. Saat memilih baju ke butik siang tadi, Mizyan melarangnya membeli kado.


"Orang seperti Glen gak mengharap kado, sayang. Dia bisa beli apapun dengan uangnya. Hanya akan senang jika tamu yang diundangnya datang. Malah merasa terhina jika ada yang ngasih." Mizyan kembali meyakinkan sang istri.


Benar saja. Kedatangan Mizyan dan Rahma disambut sukacita oleh Glen dan istrinya. Mizyan dan Glen berpelukan hangat. Mengucapkan selamat dan doa terbaik untuk sang pemilik pesta. Tak lupa memperkenalkan sang istri, Rahma, kepada sepasang suami istri dengan penampilan glamour itu.


Dance masih berlangsung dengan berganti lagu beat kedua. Mizyan menautkan lagi jemarinya usai menemui Glen. Mengajak Rahma menemui teman lain yang melambaikan tangan ke arahnya.


"Sayang, kenalan dulu sama Brian ya. Pengusaha emas dari Jakarta." Bisik Mizyan saat menuju orang yang melambaikan tangan tadi. Rahma menganggukkan kepalanya.


Rahma berbaur berbincang-bincang dengan teman-teman Mizyan yang kini bertambah menjadi tiga orang yang mendekat. Mizyan sama sekali tak melepasnya pergi dengan cara merangkul pinggangnya selama obrolan membahas soal tren bisnis. Ia hanya ikut senyum-senyum, sesekali mengedarkan pandangan kali saja ada seseorang yang dikenalnya. Sebab ia mulai bosan dengan pembicaraan kaum pria yang kini beralih membahas hobi.


"Mas, aku ambil minum dulu ya haus." Rahma meminta izin yang tentu juga didengar teman-teman suaminya itu.


Mizyan mengangguk. "Jangan lama, sayang." Tatapnya dengan mesra. Melepaskan rangkulan tangan yang melingkar di pinggang sang istri.


"Iya, sayang." Balas Rahma tak kalah menatap hangat. Membuat iri teman-teman Mizyan yang datang tanpa pasangan.


Rahma menatap pilihan minuman dingin yang tersaji di meja bundar. Ia jatuhkan pilihan pada ice lemon yang nampak segar daripada minuman aneh-aneh lainnya. Membawanya segelas untuk sang suami setelah perutnya merasa kenyang dan segar meneguk minuman sedikit asam itu.


"Michael---"


"Mona--- Lepas!!!"


****


Jangan skip...plis liat pengumuman di bawah ini.



Info tambahan gais...


Pemuncak top fans (rangking 1) otomatis mendapat hadiah HAMPER. Cek di rangking umum siapa dia...😉

__ADS_1


Empat pemenang lainnya akan diundi oleh author. So, ayo tingkatkan kirim hadiahnya siapa tahu kamu yang beruntung. 😉😉😉😍


__ADS_2