
"Om Molan, jangan pulang. Di sini sama atu ya ya ya---" Dika yang nemplok di punggung Morgan, berbisik di telinga kiri. Meski gayanya berbisik, namun suaranya cukup jelas didengar oleh orang-orang yang sama-sama duduk di ruang tamu. Jam 7 pagi ini Mizyan akan datang menjemput Mami Kanti dan Morgan. Akan mengantar mereka ke bandara.
"Gak bisa. Om kan harus sekolah. Dika aja yang ikut Om Morgan ke Semarang, oke?!" Morgan menimpali sambil menahan tangan Dika yang menggelayut di lehernya. Hampir tercekik sebab Dika nemplok sambil tidak bisa diam.
"Hmm, da mau...nanti atu nangis nyali Nda...nyali papa atu. Hu hu hu Nda...Bun da mana...hu huaaa papa atu manaaa." Dika memperagakan akting menangis dengan bibir dimanyunkan, masih nemplok di punggung Morgan yang duduk di sofa paling sisi.
Membuat semua orang yang memperhatikannya tertawa lepas dengan akting Dika yang lucu dan menggemaskan.
"Sini Dika, Oma karungin aja ya. Tak bawa ke Semarang. Kamu tuh bikin gemes ishh---" Mami Kanti mencoba menarik badan Dika. Ingin menguyel-nguyel si kriwil yang riang itu. Namun Dika menjeritkan tawa dan mengeratkan pegangan di leher, menyuruh Morgan berdiri.
"Om Molan...ayo kabulll....ada Oma. Ahahaaa---" Dika menghentak-hentakkan badannya sebab pinggangnya digelitik Oma Kanti.
Membuat Morgan ngos-ngosan sebab lehernya tercekik oleh pegangan erat tangan Dika. Ia memilih menggendong bocah yang sudah mencuri hatinya itu, keluar rumah. Berpindah main di teras.
"Papa atu dataaaang...yeayy." Dika menunjuk mobil yang baru berhenti di depan pintu gerbang yang terbuka. Berteriak girang melihat kepala yang tersembul dari kaca jendela mobil yang setengah terbuka.
Segera turun dari gendongan Morgan, Dika berlari menghambur menubrukkan badan terhadap Papa buye yang baru turun dari mobil. Mizyan dengan sigap menahan punggung Dika yang berlari kencang tanpa pengereman itu. Kebiasaan yang bisa membuat tubuh bocah itu oleng dan jatuh.
"Papa.....dendong!" Dika mendongak, merajuk dengan kedua tangan diangkat ke atas.
Mizyan meraih tubuh padat berisi itu ke atas. Mencium pipinya dengan sayang sambil berjalan menuju pintu masuk rumah. Melewati mobil MPV putih hadiah dari Papi Mark yang masih berpita, terparkir di pekarangan. Belum sempat waktu untuk dibawa pindah ke apartemen.
"Udah siap, Morgan?!" Mizyan menyapa sang adik yang berdiri di teras sedang memperhatikannya.
"Sudah, Mas. Mami udah nunggu di dalam." Sahut Morgan. Lalu berjalan lebih dulu ke dalam rumah.
Berpamitan kepada Ayah Badru dan Uma, Mami Kanti dan Morgan meninggalkan rumah dengan diantar oleh Mizyan dan Rahma. Sepanjang jalan menuju bandara, Morgan mendudukkan Dika di pangkuannya. Menunjuk dan membahas dengan riang saat ada badut di lampu merah juga atraksi topeng monyet.
Usai mengantar ke bandara, mobil mengarah ke toko Citarasa. Rahma hanya akan singgah sebentar untuk mengecek kelangsungan rutinitas kerja para karyawan. Meski semua sudah terkontrol oleh Fitri yang menjadi tangan kananya.
"Jadi Papi disunatnya kapan, Mas?" Rahma leluasa bertanya setelah hanya ada bertiga di mobil. Ia baru diberitahu tadi di rumah Uma jika Papi dan Rangga sudah pulang bersamaan dengan sang suami keluar apartemen untuk menjemput Mami Kanti.
"Rencananya lusa, karena Papi ingin secepatnya. Rangga sudah pilihkan dokter sunat terbaik di Bogor. Papi akan disunat dengan metode Gun Stapler yang memang direkomendasikan untuk pria usia dewasa." Mizyan menjelaakan dengan pandangan yang tetap fokus pada jalanan.
Rahma mengerutkan kening. Baru mendengar istilah sunat baru selain metode konvensional dan laser.
"Gun stapler....kesannya pakai pistol ada staplernya, gitu ya?!" Rahma meraba sesuai arti kata. Nampak meringis membayangkan tindakan medis seperti di dor, begitu traveling otaknya mengembara.
"Hayoh, mikir apa?!" Mizyan mengipaskan tangan di depan mata Rahma yang sedang senyum-senyum sendiri.
Membuat Rahma merona malu, terkekeh dengan mengacungkan dua jari.
"Hadeuh Nda atu piktor ya." Mizyan menoleh sekilas. "Pasti gara-gara berapa hari tidak mendesah ya."
__ADS_1
"Awww---ampun. Bunda galak amat." Mizyan sudah menduga ia akan mendapat hukuman karena ucapannya barusan. Sebuah cubitan melayang di pinggangnya. Ia pun mengulum senyum setelahnya.
"Ishh....Nda nackal. Kacian Papa atu atit---" Protes dari jok belakang terdengar. Rupanya Dika yang duduk anteng memainkan robotnya mendengar teriakan Papa.
"Bunda cuma becanda kok sama Papa." Rahma mendelik sebal melihat Mizyan tertawa lepas mendapat pembelaan Dika.
"Bukan berarti ditembak, sayang. Detailnya bisa searching di google. Sunat dewasa dengan gun stapler menggabungkan metode memotong sekaligus menjahit. Membutuhkan waktu yang lebih singkat, sekitar 10-15 menit. Proses penyembuhan juga sebentar, berlangsung singkat dan tidak mengganggu aktivitas." Mizyan melanjutkan penjelasan sesuai yang ia dengar dari Rangga semalam.
Rahma menyimak sambil manggut-manggut.
"Kalau Papa atu dulu sunatnya segera juga?" Rahma jadi terpancing bertanya pengalaman Mizyan setelah mualaf.
Mizyan menggeleng. "Aku malah sebelum mualaf sudah disunat. Dulu disunat waktu lulus SD. Dibujuk sama Mami dengan hadiah liburan ke Disney Land." Kenangnya sambil terkekeh.
"Bisa dibilang orang-orang non muslim sudah semakin melek akan pentingnya sunat. Semakin banyak yang menyadari sunat penting untuk kesehatan, terutama menjaga kebersihan pe nis." Pungkasnya menutup obrolan sebab mobil sudah memasuki parkiran toko Citarasa.
****
Bogor
Seminggu berlalu. Mark sudah melaksanakan khitan dengan lancar tanpa kendala. Pun tanpa rasa sakit mendera. Proses khitan dengan metode Gun Stapler hanya merasakan sakit seperti digigit semut, tidak lama.
Rangga duduk berhadapan dengan Bu Fatimah terhalang meja. Ia datang diutus oleh boss Mark memberikan desain roof top yang sudah rampung. Ada dua orang lain di kantor sekretariat rumah tahfiz La Tahzan itu. Sedang sibuk menghadapi komputer masing-masing. Rangga memperhatikan sang owner rumah tahfiz yang akrab disapa Bu Ima. Yang sedang mengamati gambar sebanyak 10 halaman itu.
"Sifat Pak Mark dalam bekerja tidak pernah setengah-setengah, Bu Ima. Totalitas dan maksimal, termasuk kalkulasi RAB nya. Pak Mark sudah menyiapkan budgetnya."
"Saya hanya perlu menyampaikan laporan tanggapan Bu Ima kepada Pak Mark. Apakah Ibu suka atau tidak, atau ada koreksi dan masukan untuk gambarnya. Agar bisa segera dimulai pengerjaannya." Jawab Rangga yang melihat pula raut bingung di wajah Bu Ima. Mungkin takut membayangkan besarnya biaya yang dibutuhkan.
"Saya sangat menyukainya. Sama sekali tidak ada koreksi. Ya...itu, membayangkan biayanya pasti besar. Aduh saya harus balas dengan apa kebaikan Pak Mark ini." Fatimah berkata sejujurnya.
Balas pakai cinta aja, Bu Ima. Si boss pasti senaaang.....saya pun ikut senang bisa segera dapat Ninja.
Andainya Rangga berani mengucapkan isi hatinya itu. Nyatanya hanya bisa tertawa dalam hati.
"Pak Mark ikhlas melakukannya. Bu Ima cukup mendo'akan saja. Semoga menjadi amal jariyah untuk Pak Mark yang sudah menjadi mualaf."
"Ehh, apa---?!" Fatimah terkejut. Duduk menegakkan punggungnya dengan sepasang mata yang membelalak. "Pak Mark sudah mualaf?!" sambungnya ingin memastikan lagi.
Rangga mengangguk. "Sudah seminggu. Ikrar syahadatnya di Bandung, di pesantren tempat Mas Mizyan dulu mengucap syahadat. Pak Mark ingin tempat yang sama dengan putranya."
"Ma sha Allah. Alhamdulillah---" Fatimah mengusap muka, berucap syukur dan turut bahagia mendengarnya.
"Baiklah, Bu Ima. Jika Ibu sudah setuju dengan desainnya, saya mau pamit pulang. Mau lanjut ke kantor." Rangga berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Fatimah mengangguk sebagai tanda setuju. "Ini mau dibawa lagi?" Ia menutup dan merapihkan dokumen desain roof top.
"Dipegang Bu Ima saja. Pak Mark masih punya soft filenya." Sahut Rangga.
"Kang Rangga, tunggu sebentar ya!" Fatimah memundurkan kursinya. Berlalu pergi tergesa ke sebuah ruangan lain. Meninggalkan Rangga yang kembali duduk menunggunya.
Selang 6 menit, Fatimah datang dengan menenteng paper bag yang tertutup rapat.
"Hmm--- Kang Rangga to long ya berikan ini pada Pak Mark." Sedikit malu Fatimah mengutarakannya dengan pelan. Menyerahkan paper bag warna marun ke tangan Rangga.
"Baik, Bu Ima. Akan saya sampaikan." Rangga menganggukkan kepala dengan formal. Tak menunjukkan jika di hatinya sebenarnya ingin menggoda Bu Ima yang nampak gugup dengan wajah putih yang merona merah.
Apa ya ini isinya. Lumayan berisi. Ini termasuk misi level mulai naik lagi gak ya....au ah.
Rangga menimang-nimang isi paper bag yang ditentengnya. Yang bersimpul pita gold sebagai segel. Sembari berjalan keluar kantor diiringi Fatimah yang mengantarnya sampai teras.
Di luar, pandangan Rangga terpaku pada sosok berjilbab hitam yang dikerumuni anak-anak di bawah pohon kersen. Menautkan kedua alis dengan rasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bu Ima, itu seperti Olla bukan ya?!" Rangga menolehkan wajah ke samping dimana Farimah berdiri mengantarnya pulang sampai teras.
Fatimah mengangguk. "Alhamdulillah, teh Olla menjadi volunteer di sini, menjadi pengajar tahsin. Belum lama, baru 4 hari."
"Teh Olla keluar dari sekolah tempatnya mengajar setelah memutuskan khitbahnya dengan pemilik yayasan itu."
"Astagfirullah----kenapa saya malah gibah. Maaf-maaf---" Fatimah jelas terkejut dengan lisannya yang menurutnya tak terfilter itu. Khilaf.
Fatimah mungkin menyesal sudah menjelaskan sampai ke ranah privasi. Berbeda bagi Rangga. Cerita Bu Ima ibarat angin segar yang menyejukkan hati. Ia tersenyum tipis misterius.
Melajukan mobil meninggalkan komplek rumah tahfiz, Rangga bersiul sepanjang jalan. Ia juga heran kenapa bisa sesumringah ini mendengar kabar putusnya Olla dengan sang calon imamnya. Entahlah, Rangga hanya mengekspresikan suasana hati.
Saat menatap spion kiri, pandangannya tarantuk pada paper bag marun yang bersandar di jok sampingnya. Ia jaga baik-baik jangan sampai lecet. Mungkin pemberian Bu Ima ini bisa menyenangkan hati Boss Mark.
Menepikan mobilnya sejenak. Rangga membuka layar ponsel. Satu jepretan kamera memotret paper bag. Dikirim langsung ke ketua pak comblang di Bandung.
"Level 8 hopely!" Rangga mengirimkan lagi pesan.
Saat bersiap memutar stir, terdengar notif balasan.
"Idih yg pengen Ninja. Baru level 5, broh."
"Tiga hari lagi gue ke Bogor. Kita atur rencana, oke!"
Dua pesan balasan dari Mizyan membuat Rangga tersenyum lebar.
__ADS_1
"Oke, mas bro." balasnya. Melempar ponsel ke samping paper bag untuk melanjutkan lagi perjalanan menuju peternakan.