
Semarang
Mulai malam ini Mizyan tinggal di rumah Mami Kanti. Bahkan kala pulang dulu ke hotel untuk mengambil koper sekaligus check out, sang ibu turut serta dan terang-terangan mengatakan takut ia tidak kembali lagi ke rumah. Sikap posesif yang membuat Mizyan terkekeh dan menurut saja apa maunya ibunya itu.
"Miki, nggak apa-apa ya sementara pakai kamar tamu dulu." Mami memperhatikan Mizyan yang tengah membereskan pakaian dari koper dan memindahkannya ke dalam lemari. "Besok Mami akan nyuruh tukang untuk cat ulang kamar di atas."
"Nggak usah, Mam. Di sini juga nyaman. Toh aku paling seminggu aja tinggal di sini." Mizyan menjawabanya sambil mengeluarkan baju dari kemasan plastik yang baru di laundry.
"Loh, kok gitu. Kamu harus tinggal bareng Mami lagi. Banyak waktu yang sudah terbuang. Mami ingin menggantinya, Miki." Mami tampak kaget dan menggeleng tak setuju dengan pernyataan anaknya itu.
Mizyan menyelesaikan merapihkan pakaiannya, menutupkan pintu lemari dan menguncinya. Ia beralih mendekati Mami Kanti yang duduk di sisi ranjang yang sejak tadi memperhatikan aktifitasnya.
"Minggu depan aku harus ke Medan. Ada project di sana bareng orang Kalimantan." Ia mulai memberi pengertian.
"Terus akan pulang ke Bandung. Aku udah nyaman tinggal di pesantren."
"Aku janji akan selalu nengokin Mami. Atau Mami bisa main ke Bandung. Ada apartemen untuk Mami menginap."
Mau tidak mau, Kanti harus menerima keputusan Mizyan yang konsisten dengan keputusannya meski berupaya melakukan negosiasi. Ia sadar anaknya itu bukan lagi anak kecil yang harus menurut untuk tinggal bersama.
Momen kangen-kangenan ibu dan anak itu berlangsung sampai hampir jam 9 malam. Banyak hal yang diceritakan baik oleh Mizyan maupun ibunya. Seolah tak habis-habis tema pembicaraan keduanya itu, cerita yang dialami masing-masing selama belasan tahun tak bersua.
Mizyan memutar-mutar ponsel yang digenggamnya usai maminya keluar dari kamarnya dan menyuruhnya beristirahat sebab sudah jam 9 malam. Terlalu awal jika harus tidur jam segini, ia tidak biasa. Dalam kesendirian ia menjadi teringat akan Dika yang seharian ini belum dihubunginya. Bocah yang selalu ngangenin. Apalagi Bundanya.
Ia menyandarkan punggung ke sandaran sofa. Otaknya tengah menimang-nimang antara menghubungi nomer pak Badru atau Rahma. Tapi melihat jarum pendek jam dinding yang menunjuk angka 9, rasanya tak sopan jika harus menghubungi orangtua di jam istirahat malam. Akhirnya ia putuskan untuk menghubungi nomer Rahma saja. Apapun respon Rahma nantinya, akan diterimanya. Sebab hatinya kuat sekali ingin mendengar celotehan Dika meski hanya sebentar, tak mau menunggu esok pagi.
Ponselnya sudah tersambung, namun 10 detik menunggu tak jua diangkat. Mungkin sudah tidur?
Ia hampir saja memutuskan menutup panggilan videonya sebab lama berdering tapi tidak ada sambutan dari sebrang sana.
"Assalamualaikum---"
Ia baru membuka mulut untuk membalas ucap salam dari sebrang sana. Namun tatkala melihat seraut wajah cantik memenuhi layar sambil mengulas senyum, membuat ucapannya tersendat di tenggorokan. Terkesima.
Tunggu? dia tersenyum.
Apa ini mimpi?
"Om---"
"Om buye."
Namun suara riang Dika yang kini nongol memenuhi layar, membuatnya tersadar dari keterkesimaannya. Sepertinya Dika mengambil alih ponsel yang tadi dipegang bundanya.
"Hallo Dika, belum bobo?"
"Om, atu ma u puyang."
"Om buye jemput atu."
Dika dengan wajah merajuk tampak duduk sila di atas kasur dengan satu tangan menopang dagu.
"Memangnya Dika lagi di mana?" Mizyan mengernyit penuh tanya.
"Dika lagi di Jakarta, di rumah oma nya. Dari tadi merengek pengen pulang. Mungkin karena suasana asing jadi nggak betah."
__ADS_1
Ia mendengar suara Rahma yang menjawab tapi orangnya tak terlihat di layar sebab dikuasai sepenuhnya oleh Dika.
"Om, atu ma u puyang----" lagi-lagi Dika merajuk dengan memanyunkan bibirnya.
"Iya sayang, besok pagi pulang. Sekarang bobo dulu ya." Terdengar suara Rahma yang membujuk dengan lembut.
"Atu ga ma u bobo, Nda. Atu ma u puyang." Terlihat Dika berbicara sambil menoleh ke arah kanan.
"Dika, liat Om, sini!" Mizyan berinisiatif menengahi dan menenangkan Dika yang keukeuh ingin pulang. Anak itu pun menurut menatapnya.
"Om lagi di Semarang, jauh. Nggak bisa jemput Dika. Om temenin Dika bobo aja sambil menggambar ya, mau nggak?"
"Mau, Om." Dika menyahut dengan anggukan kuat.
"Sekarang Dika nya duduk di pangkuan Bunda!" Sesungguhnya Mizyan tidak tahu bagaimana cara ngelonin anak. Mana pengalaman.
Ia hanya mengikuti insting yang ingin melihat Bundanya Dika muncul di layar agar bisa melihat wajah yang tadi melukiskan senyum.
Yes. Bundanya Dika kini muncul di layar, dalam posisi Dika duduk di pangkuannya. Ia pun meminta Rahma sambil mengusap-ngusap rambut Dika.
Bismillah. Semoga berhasil.
"Tunggu ya! Om buatkan gambar dulu." Mizyan beranjak sejenak mengambil kertas dan pensil di atas meja rias. Tak lama ia kembali di depan phone holder dan mulai mengoreskan gambar di kertas hvs.
"Dika tau ini apa?" ia menunjukkan gambar di depan dada.
"Sapi." jawab Dika tampak senang sambil bersandar di dada bundanya.
"Atu mau gambal sapi atu, Nda, Om."
"Maksud Dika pengen gambar sapinya 3. Kayak robot sapi yg 3 ekor itu lho." Rahma menimpali sebab melihat Mizyan yang tampak bingung.
"Owh. Oke, bun."
Mizyan kembali menekuri kertas untuk membuat gambar 2 ekor sapi lagi. Sekilas ia mengangkat wajah untuk melihat air muka Rahma, apakah kesal usai dipanggil 'bun'. Ternyata anteng-anteng aja menatapnya.
Kala gambar sudah jadi, Dika pun bertepuk tangan girang. Namun Rahma menperingatinya agar jangan keras-keras.
"Om pernah main ke peternakan sapi. Buanyak sekali sapinya dan besar-besar." Ia pun mulai bercerita tentang pengalamannya mengunjungi peternakan sapi di Darwin, Australia.
Dari sebrang sana, Dika begitu antusias mendengarkan dan interaktif menanyakan dan mengomentari deskripsi gambar padang savana yang dilukiskan om buye. Pelan tapi pasti, Dika mulai menguap sebab usapan tangan bunda di rambutnya ditambah buaian cerita yang disampaikan ekspresif.
"Alhamdulillah, Dika tidur tuh." Mizyan tersenyum lebar kala melihat kepala Dika yang melehek ke kanan.
"Makasih ya udah bantuin." Rahma balas terswnyum lega usai memastikan Dika telah tertidur lelap.
"Kenapa?" Mizyan terheran melihat Rahma yang meringis.
"Kaki aku kram dan kesemutan," sahutnya masih meringis. "Sebentar ya, aku tidurin dulu Dika."
Beautiful view.
Mizyan merasa hatinya menghangat menatap adegan seorang ibu membenahi posisi tidur sang anak. Ia tersenyum simpul. Seperti menatap anak istri di masa depan. Ia lanjut tersenyum geli di dalam hati kala kehaluan mulai menguasai hati dan pikiran. Bukankah ini selangkah lagi lebih maju melihat Rahma yang tak lagi ketus.
"Sekali lagi makasih ya. Maaf selalu direpotin."
__ADS_1
Ia sedikit terkaget kala Rahma sudah duduk manis dan mengucapkan terima kasih dengan tampak tulus, dikala angannya tengah melambungkan asa untuk semakin maju berjuang mendapatkan hati bundanya Dika.
"Jangan sungkan hubungi aku kalau perlu bantuan. Aku terlanjur sayang sama Dika. Dia anak yang menggemaskan and smart."
Sure, sayang sama kamu juga.
Kesunyian melingkupi sesaat sebab Rahma hanya diam tak memberi jawaban. Ia lalu melihat perubahan mimik wajah Rahma yang terkaget dan menatap ke arah lain dengan kening mengkerut.
"Rahma, are you okay?"
"Ada yang muterin handle pintu." Rahma berbicara pelan. Tampak sedikit ketakutan tergambar di wajah cantik yang kini memucat.
"Apa pintunya dikunci?"
Rahma mengangguk.
"Sorry, tapi maukah kamu cerita tentang keluarga oma nya Dika itu?" Mizyan menegakkan badan sambil tetap menatap lurus ke arah layar ponselnya.
"Dika punya Opa tiri dan Om tiri. Omanya Dika memperlakukan kami dengan baik. Tapi jujur, aku merasa takut melihat tatapan opa dan om nya Dika itu. Merasa nggak nyaman gitu."
"Om nya Dika umur berapa?"
"Kurang tahu. Tapi kata mamanya baru beres wisuda."
Mizyan mengangguk-angguk dan tampak berpikir keras. "Rencana pulang kapan?"
"Besok pagi. Aku udah minta mas Nico jemput jam 8. Mas Nico itu kakak ipar aku."
Mizyan mengulum senyum kala dengan cepat Rahma menjelaskan tentang siapa itu Nico.
Kamu seperti takut aku salah faham.
"Sudah jam 11. Sebaiknya kamu istirahat ya. Jangan takut, tak akan ada yang menyakitimu. Aku yakin." Mizyan memberi motivasi agar Rahma tak merasa takut.
Tampak Rahma menolehkan lagi kepala ke arah lain.
"Ada lagi?!"
Rahma menggeleng.
"Aku yakin mereka tidak akan menyakitimu. Mereka hanya terlalu kagum melihat kecantikanmu."
"Apaan sih." Rahma memalingkan muka sembarang arah. Tak lagi ketus tapi tampak malu dan salah tingkah.
"Tidur ya. Atau mau aku temani dulu sampe tertidur?!"
"Tidak. Makasih. Aku bukan Dika."
Jawaban cepat itu membuat Mizyan terkekeh. Kamu menggemaskan, Bun.
Layar ponsel kini hitam usai Rahma lebih dulu mengakhiri dengan mengucap salam. Sebenarnya ia masih betah berbicara dengan bundanya Dika yang kini ramah. Bahkan ia mencatat ini sebagai rekor komunikasi terpanjang, terintens. Biasanya bundanya Dika selalu kaku dan menghindar jika ia sedang bertelpon dengan Dika.
Mizyan menjatuhkan tubuhnya telentang di sofa menatap langit kamar dengan senyum terkembang lebar.
I can make you love me, soon to be.
__ADS_1