
Rahma mendecak begitu membaca balasan singkat dari Mizyan. "Ish, orang serius juga." Keluhnya dengan wajah sebal sebab mengira pria itu mempermainkannya, mengajaknya becanda. Ia termenung sesaat sebelum memutuskan langkah selanjutnya. Sekalian menunggu barangkali ada chat susulan.
"Nda....sapi..." Dika belum berhenti merajuk dengan tangisan yang berlanjut. Dan Rahma kembali merayu sang anak untuk sabar menunggu.
"Gimana katanya?" Uma menghampiri lagi usai menyeduh kopi untuk Ayah.
Rahma menggeleng dengan raut kesal. "Malah bilang salah sambung."
Giliran Uma yang mengerutkan kening. "Mungkin kamu kirim pesannya nggak jelas. Coba cek lagi."
Demi Dika agar tak terus-menerus merengek dan menangis, ia kesampingkan rasa gengsi dan malu sebab baru menyadari jika pesan yang dikirimnya kurang rinci. Hanya dia sendiri yang mengerti maksudnya. Ia pun memutuskan menelpon untuk yang ketiga kalinya dengan rasa tegang yang mendadak timbul.
Suara tut panggilan terhubung, namun sampai tut ketiga belum juga dijawab, Ia harap-harap cemas sambil mendekap Dika yang tak mau turun dari pangkuannya.
"Hallo."
Suara tegas di sebrang sana mendadak membuat Rahma menjadi grogi saat mengucap salam.
"Waalaikumsalam---"
"Hei Bun, beneran mau nanya yang jual sapi?"
Rahma menggigit bibir bawahnya untuk menekan rasa kesal yang tiba-tiba hadir sebab tidak suka dengan cara pria di sebrang sana memanggilnya. Berhubung ada Uma yang memperhatikannya, ia menekan nada bicaranya agar tampak biasa-biasa saja.
"Bukan. Bukan sapi beneran."
"Maksud saya begini...."
Ia pun menjelaskan kronologis mainan robot sapi yang rusak, disela rengekan Dika yang menanyakan lagi sapi mainannya. Bahkan ia harus berbicara sambil mengusap-ngusap punggung anaknya yang menangis terisak.
"Coba saya mau bicara sama Dika!"
Rahma mengerutkan kening. Namun tak urung ia mendekatkan ponsel ke telinga sang anak.
"Sayang, ini Om mau bicara." Rahma mengangkat wajah anaknya agar tegak. Dan menyempatkan mengelap dengan tisu, pipi Dika yang basah dan ingus yang keluar. "Tapi jangan nangis Dika nya. Dengerin Om bicara ya!"
Ia tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Mizyan kepada Dika sebab tak sempat mengaktifkan loud speaker. Hanya melihat respon anaknya itu yang berhenti menangis menyisakan isakan sesekali. Menjawab dengan 'iya' berkali-kali sambil mengangguk, lalu menjawab 'mau' dan 'dadah Om'.
Rahma menerima uluran ponsel dari Dika, namun ternyata panggilan sudah berakhir. Membuatnya mendecak, sebab ia belum menanyakan alamat seller mainan itu.
"Saya sudah bicara dengan Dika."
"Nanti anterin mainan setelah jum'atan."
"Sekarang meeting dulu."
"Kalau Dika rewel lagi, call me back."
Pesan dari Mizyan membuatnya meringis.
Kenapa gaya bicaranya seperti itu. Seolah....
Sungguh, sebenarnya ia tidak ingin bertemu pria itu lagi apalagi harus datang ke rumah dan semakin akrab dengan sang anak. Ia khawatir ini akan menjadi celah goyahnya benteng hati yang ia bangun dengan kokoh. Egoiskah?
Entahlah. Ia hanya tidak ingin posisi Malik di hatinya tergeser oleh siapapun juga yang ingin mendekat. Menurutnya Dika tidak akan kurang kasih sayang darinya ditambah ada Ayah dan Uma yang menyayangi pula cucunya itu.
"Bu Rahma, kita sama-sama berstatus single."
"Bagaimana kalau kita saling mengenal lebih akrab. Siapa tahu cocok."
Kedatangan kepala cabang sebuah bank BUMN syariah tempatnya menabung, seminggu yang lalu ke toko, membuatnya terkaget. Jarak kantor bank ke tokonya cukup dekat hanya menyebrang jalan di samping showroom motor.
Dimas, sang kepala cabang memperkenalkan diri sebagai duda cerai dengan satu anak perempuan usia 10 tahun.
__ADS_1
"Pak Dimas, mohon maaf saya tidak ada niat menikah lagi."
"Saya mau fokus membesarkan anak saya."
Ia langsung memberi ketegasan, tak ingin memberi harapan. Namun jawaban Dimas sungguh di luar dugaan.
"Saya mengerti. Bu Rahma belum lama ditinggal almarhum."
"Saya juga tidak minta terburu-buru. Kita jalin silaturahim aja dulu."
Ia tidak ada kesempatan untuk menjawab lagi sebab Dimas keburu pamit usai menyadari jam istirahat segera habis.
Hembusan nafas panjang menyadarkan ia untuk membalas pesan pria menyebalkan itu.
"Kasih tahu aja dimana belinya."
"Saya tidak ingin merepotkan. Biar saya beli sendiri."
5 menit, 15 menit. Pesan balasan yang dikirimkan tak juga dibaca oleh Mizyan. Ia bahkan tak jadi berangkat ke toko sebab Dika melarangnya pergi sebelum robot sapi datang.
"Jadinya gimana?"
Pertanyaan Uma membuat Rahma mendongak. Lalu memperhatikan Dika yang mulai tenang tengah memainkan induk sapi berjalan. "Nanti abis jum'atan katanya dianterin ke sini."
"Ah, syukurlah."
Uma terlihat bernafas lega. Beda dengan dirinya yang menjadi gelisah.
****
"Yes."
Mizya mengepalkan tangan. Ia baru memarkirkan mobil di basement saat tadi ponselnya berdering panjang. Mendengar Rahma tak lagi marah saat dipanggil 'Bun' dan bagaimana ia bisa menghibur Dika sampai tenang tak menangis lagi. Ia merasa telah berperan menjadi ayah dan suami yang baik.
"Cerah amat tuh muka."
"Jadi curiga ada yang lagi fall in love."
Ledekan Ricky usai meeting 2 jam lamanya bertiga bersama Arya membahas wacana pembangunan kantor baru. Di mana ia dipercaya sebagai arsiteknya.
Mizyan hanya tertawa sumbang tanpa memberi komentar apapun. Sama juga, terlalu dini untuk kawan-kawannya tahu jika ia sudah punya seseorang yang memikat hatinya.
Keluar dari Plaza Galaksi, ia melajukan mobil menuju apartemennya. Masih ada waktu 1 jam sebelum pelaksanaan shalat jum'at. Ia membuka satu lemari kaca di walk in closet kamarnya yang berisi koleksi barang yang dibeli saat kunjungan ke berbagai negara.
Ia tersenyum lebar memegang 1 box berisi mainan robot sapi. Sekitar 2 tahun lalu, temannya sesama arsitek di Canberra, Australia mengundangnya untuk menjadi bagian dari tim arsitek pembangunan apartemen. Pada kesempatan main ke wilayah Darwin, ia mengunjungi pameran peternakan sapi dan iseng membeli souvenir 2 box robot sapi perah. Yang kemudian melanjutkan perjalanan dari pusat kota Darwin selama 2 jam menembus hutan dan savana menuju salah satu peternakan sapi seluas 400 hektar. Benar-benar My life my adventure.
Kedatangan Mizyan ke rumah Rahma sudah ditunggu Dika bersama Pak Badru di teras. Bocah 2 tahun itu melonjak-lonjak girang saat Mizyan berucap salam dan mendekat ke teras.
"Om...sapi atu..." Dika memekik riang dengan tangan menunjuk pada goodie bag yang dibawa Mizyan.
"Eh, sun tangan dulu!" Pak Badru menegur tingkah cucunya itu yang langsung meraih goodie bag yang diulurkan Mizyan. Dengan patuh Dika mencium tangan om bule yang tampak gemas mengacak-ngacak rambut kriwilnya.
"Apa kabar, pak?" Mizyan menyalami Pak Badru yang masih memakai setelan sarung dan baju koko usai shalat jum'at.
"Alhamdulillah. Nak Mizyan gimana sehat?"
Mizyan mengangguk dan membalas jawaban yang sama. Ia pun mengekori langkah Pak Badru yang mengajaknya masuk ke dalam.
"Dika sampai nggak mau bobo siang. Saking ngebet nunggu om bawa sapi katanya." Komentar Uma yang menyaksikan Mizyan mengarahkan Dika cara memakai remote control untuk 2 ekor sapi yang baru.
"Gitu ya, Uma." Mizyan menaikkan kedua alisnya merasa tak menyangka dengan respon Dika.
Ia berbincang santai bersama Pak Badru dan Uma. Menjawab dengan sopan pertanyaan seputar kegiatan dakwah ustad Ahmad yang sering diundang ke berbagai kota dan pelosok, sesuai yang ia tahu. Berbeda dengan Bundanya Dika yang datang menyuguhkan air di meja. Tampak duduk diam dan hanya menjadi pendengar.
__ADS_1
"Sebentar bapak tinggal dulu. Mau ganti pakaian."
"Uma juga ke belakang dulu. Mau siapin makan siang. Nak Mizyan jangan dulu pulang. Harus ikut makan di sini!"
Tinggallah Mizyan dan Rahma duduk berhadapan. Dengan Dika yang duduk di lantai memainkan sapi yang kini berjumlah 3 ekor. Mengabaikan 2 orang dewasa yang satu duduk tenang, yang satu lagi tampak gelisah menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Jangan takut." Mizyan menatap lurus Rahma dengan senyum dikulum. "Aku nggak akan gigit. Udah jinak." pungkasnya sambil mengangkat 2 jari masih dengan senyum dikulum.
"Apaan sih," sahut Rahma sambil memutar kedua bola matanya. Pria itu selalu saja memancing kekesalan.
"Oh ya, ini belinya di mana?" Rahma berusaha mencairkan suasana yamg mendadak tegang sebab ditinggalkan ayah dan uma. "Saya kok nggak nemu nyari di berbagai market place juga.
"Pasti lah nggak akan nemu. Belinya di Darwin." Mizyan mengambil gelas miliknya, menyesap perlahan teh manis yang masih panas.
"Darwin, Australia?!" Rahma tampak ingin memastikan.
Mizyan mengangguk. "Ini teh buatanmu?" Ia mengalihkan pembicaraan pembahasan mainan sapi. Memilih menatap wanita di hadapannya yang menurutnya sangat manis jika tidak jutek.
Rahma mengangguk.
"Pantesan enak banget." Pujinya dengan membulatkan 2 jari diiringi senyuman lebar.
"Lebay ih." Rahma mendecak. "Itu teh celup melati yang semua orang juga bisa bikin. Tinggal tuangin air panas, tambahin gula sesuai selera." Jelasnya sewot. Sama sekali tak terpancing untuk ge er sebab dipuji.
"Wah kamu bisa tau selera saya, manisnya sedang segini. Makanya saya puji enak banget."
Lagi-lagi ucapan Mizyan membuatnya sewot dan menggeleng tak setuju. "Itu kebetulan aja. Itu selera Ayahnya Dika."
Rahma terkejut setelah terlambat menyadari jika ia tengah mengenang kesukaan Malik. "Maaf."
"Saya iseng beli souvenir itu waktu lihat pameran peternakan sapi." Mizyan mengalihkan pembahasan, mencairkan suasana yang mendadak tidak menyenangkan. "Udah lama juga 2 tahun yang lalu. Eh nggak nyangka jadi milik Dika."
"Harganya berapa? Biar saya ganti." Rahma menatap punggung Mizyan yang berpindah duduk di lantai di samping Dika yang kesulitan memutar balik sapi agar berjalan ke arahnya.
"Nggak ada harga. Saya ikhlas kasih buat Dika." jawab Mizyan tanpa menoleh ke belakang di mana Rahma tengah menatapnya. Ia fokus mengarahkan tangan Dika memainkan remote dengan benar.
"Nda, sini...." Dika melambaikan tangan agar bundanya turun ke lantai.
"Bunda liat di sini aja." Rahma menolak. Tapi Dika keukeuh memanggilnya lagi untuk turun. Meski enggan, ia pun menurut untuk duduk di lantai di samping kiri anaknya itu.
"Ini atu...." Tunjuk Dika ke anak sapi yang hanya 1 ekor. "Ini Nda, ini Om." Tunjuknya dengan riang kepada 2 ekor sapi besar yang berdiri rapat di belakang anak sapi.
Membuat Mizyan tersenyum-senyum. Tidak buat Rahma yang memalingkan muka ke arah lain dengan wajah bersemu merah. Malu.
"Assalamualaikum."
Suara cempreng dari arah pintu, membuat Rahma dan Mizyan menoleh bersamaan sambil menjawab salam.
"Wah, ada tamu rupanya."
"Pantesan di luar ada mobil nggak dikenal. Mobil mewah lagi."
"Ini pasti calon ayah baru Dika, ya?!"
"Ihhh meni bule, kasep..."
Rahma berdiri dan memasang telunjuk di bibir agar tetangganya itu tak lagi nyerocos.
"Ceu Imas mau ketemu Uma, kan?"
"Ayo, ada di dapur."
Rahma menuntun tetangga depan rumahnya itu ke arah dapur demi menghindari banyak introgasi. Kini sudah pasti dirinya akan menjadi bahan gibahan tetangga rempong itu.
__ADS_1