
Rahma memalingkan muka sejenak untuk menetralkan ekspresi wajahnya yang tegang begitu melihat Mizyan berjalan menghampirinya. Senyum manis tersungging di bibir suaminya itu yang dengan cuek merangkum bahunya di depan sang tetangga julid. Membuat kini wajahnya berubah merona malu.
"Mas, ini Bu Joko dan Lea, tetangga di blok C." Tinggi tubuh yang sebatas bahu Mizyan, membuat Rahma mendongakkan wajah menatap sosok jangkung yang merengkuh bahunya.
Mizyan mengangguk sembari mengulas senyum. "Saya Mizyan, suaminya Rahma." Ia mengulurkan tangan yang disambut dengan respon kaget sebab Bu Joko dan Lea masih terkesima menatap sosok suami Rahma itu.
"Maaf ya Bu Joko, Lea, kami tinggal dulu. Mau beres-beres soalnya mau pindah ke apartemen." Pamit Rahma setelah Mizyan berbisik di telinganya.
Bu Joko dan Lea tidak menjawab saking terhipnotis dengan kemesraan yang dipertontonkan suaminya Rahma. Mereka masih mematung ditempatnya dengan mata tak lepas mengikuti langkah Mizyan yang memeluk erat Rahma. Bahkan terlihat mengusap dan mengecup puncak kepala berbalut hijab itu. Mulut yang sudah mingkem pun kembali menganga dengan mata membeliak.
"Ngences kan....ngences dong masa nggak." Tahu-tahu suara ceu Imas terdengar di belakang Bu Joko dan Lea. Membuat ibu dan anak itu terjengit kaget dan langsung membalikkan badan. Tampak Ceu Imas tersenyum lebar penuh kepuasan.
"Ngiler kan lihat gantengnya mas bule." Ledek Ceu Imas dengan tangan bersidekap di dada. "Tarohan, kamu mana bisa dapat cowok ganteng, mualaf, tajir melintir seperti suaminya neng Rahma ini. Beda level keles." Ledek Ceu Imas menatap sinis terhadap Lea.
"Oh dia mualaf?!" Jiwa kepo Bu Joko meronta ingin mengorek lebih jauh.
Ceu Imas membusungkan dada. "Saya ini CCTV nya keluarga pak Badru. Hampir tiap hari nongkrong di dapur Uma, icip-icip masakan Uma. Sekalian kepoin soal siapa itu mas bule. Pulang perut kenyang, penasaran pun terbayar. Beuh....ternyata masbul itu---"
"Ternyata apa?!" Bu Joko makin antusias sebab ceu Imas sengaja menggantung ucapan. Lain halnya Lea yang telinganya awas mendengarkan ucapan ceu Imas, namun mengarahkan pandangan ke arah dalam dimana pintu rumah Rahma terbuka lebar.
"Aduh, suami saya bentar lagi pulang kerja. Punten ah, mau masak dulu." Ceu Imas ngeloyor masuk meninggalkan ibu dan anak yang tampak jengkel sebab merasa digantung.
"Ah, lupa-lupa." Ceu Imas melongokkan kepala dari balik pintu pagar. "Nyari aja di bah gugel, profil lengkap masbul ada di wikipedia. Namanya Mizyan Abdillah. Biar kalian nggak mati penasaran terus ngajugjurigan (menghantui) ke saya hi hi hi---." Pungkasnya sembari terkikik dan menutupkan rapat pintu pagar besi.
Lea menghentakkan kakinya sebab keki dengan kelakuan Ceu Imas. Ingin melabraknya, namun ibunya menarik lengan mengajak pulang ke rumah.
****
Mizyan duduk berdua dengan Fahmi di kursi teras depan. Sembari menunggu Rahma menyelesaikan packing barang-barang yang akan dibawa, dibantu oleh Mira. Fahmi sengaja meminta waktu bicara empat mata.
"Mas, cara nembak cewek bagusnya gimana?!" Fahmi berkata pelan, langsung pada tujuan mengingat waktu yang terbatas sebab Mizyan akan segera pulang.
"Depend on....siapa dulu ceweknya?" Mizyan balik memastikan.
"Mira." Jawab Fahmi yakin. Dan Mizyan mengulas senyum sebab sudah bisa menebaknya.
"Ada cara biasa dan cara luar biasa." Mizyan memiringkan badan menghadap Fahmi yang duduk di sampingnya terhalang meja. "Kalau cara biasa itu seperti nembak di suatu tempat romantis sambil ngasih bunga atau cincin. Kalau cara luar biasa itu datang pada orangtuanya, bilang kalau ingin melamar putrinya. Itu baru pria sejati."
__ADS_1
"Aku setuju dengan filosofi jawa dalam mencari jodoh harus penuhi tiga kriteria, Bibit, Bebet dan Bobot."
"Itu maksudnya apa ya, Mas?" Fahmi yang asli kelahiran Balikpapan tampak mengernyit.
"Bibit itu asal usul keturunan. Khususnya kita muslim, cari pasangan dengan poin utama keturunan baik-baik, beragama kuat."
"Bebet itu kesiapan secara ekonomi untuk memberi nafkah. Ini lebih cocok menjadi pegangan cowok. Apakah sudah bisa mandiri saat berencana menikah. Jangan sampai setelah menikah justru makin merepotkan orangtua."
"Kalau bobot itu sama dengan kualitas individu. Gimana calon pasangan kita itu dari segi agamanya, wataknya, lingkungan pergaulannya, pendidikannya. Seperti itulah--" Mizyan mengakhiri penjelasan panjang lebarnya.
"In syaa Allah Mira punya kriteria baik sesuai bibit, bebet, bobot, Mas. Aku udah tanya-tanya di lingkungan tempat tinggalnya mengenai Mira dan keluarganya."
Mizyan mengangguk. "Kalau udah yakin, nunggu apa lagi. Soon!"
Fahmi mencondongkan badan, bertanya setengah berbisik. "Kalau Mas Mizyan nembak Rahma dengan cara apa?"
"Dengan cara luar biasa."
****
Mizyan dan Rahma duduk bersama dengan Dika yang menggelayut di lengan sang bunda. Ayah dan Uma serta tante Hamidah mendengarkan perkataan Mizyan yang akan membawa pindah Rahma dan Dika ke apartemen saat ini juga. Tidak membuat sang mertua kaget sebab sebelumnya wacana itu sudah didengarnya dari Rahma. Bahkan semuanya ikut mengantar sampai ke apartemen dengan menggunakan 2 mobil. Fahmi berinisiatif mengemudikan mobil milik Ayah Badru.
"Ayah sama Uma nginep dulu di sini ya." Mizyan menatap mertuanya, menawarkan dengan tulus. "Tante sama Mira juga." Lanjutnya menatap Hamidah dan Mira, dimana semuanya duduk lesehan di karpet usai makan malam bersama.
"Lain kali aja. Sekarang mau pulang dulu, belum istirahat full. Sampai tadi siang masih berdatangan tamu, teman-teman pengajian. Karena pas resepsi gak bisa hadir katanya." Ayah Badru menolak dengan halus. Memberi keleluasaan terhadap menantunya untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga kecilnya.
"Aku gak ditawarin, Mas?" Fahmi menyela dengan mengacungkan telunjuknya.
"Kamu boleh nginep. Tapi tidurnya di pos security di bawah." Sahut Mizyan. Yang membuat semua orang tertawa.
Ruangan menjadi lengang sepeninggalnya rombongan Ayah Badru. Mizyan melarang Rahma mencuci piring kotor malam ini. Sehingga Rahma beralih memindahkan pakaian dari koper ke dalam walk in closet yang luas dan masih banyak ruang penyimpanan kosong. Memang sudah disiapkan Mizyan sebelumnya dengan merampingkan barang-barang miliknya. Sementara Dika bermain sendiri dengan tiga robot sapinya di luar kamar.
"Mas, masih ingat ini?" Rahma memegang tiga tumpukan baju di tangan. Membuat Mizyan yang memperhatikan kegiatan beberes istrinya itu terkekeh melihat celana jeans, jaket kulit serta blazer miliknya.
"Kenapa gak pernah mau ambil? Sampe aku lupa jadinya karena keseringan kamu nolak dibawa. Ada aja alasannya. Ada meeting dulu lah, apalah....padahal tinggal taroh di jok belakang juga bisa. Pasti modus kan?!" tebak Rahma dengan bibir mengerucut.
Mizyan tertawa lepas mendengar tuduhan Rahma. Sebab benar adanya jika itu adalah modus. "Kan biar ada alasan bisa sering datang ke rumah kamu." Ia mendorong pelan tubuh ramping sang istri sampai mentok di tembok. Membelai wajah ayu dengan penuh sayang. "Allah telah menunjukkan siapa jodohku. Dengan cara waktu itu aku pingsan di depan rumahmu. Tidak ada kejadian yang kebetulan bukan? Semua sudah diatur Allah."
__ADS_1
Rahma tak bisa menjawab sebab bibirnya sudah dipagut dengan penuh kelembutan. Dengan lihai lidah Mizyan bermain di rongga mulutnya. Sungguh menghasilkan gelenyar dan desiran yang melemaskan persendian sehingga tubuhnya yang hampir melorot direngkuh kuat sepasang tangan kokoh.
Rahma melepas dengan nafas tersengal. Ciuman yang dilakukan Mizyan begitu melenakan. Membuatnya lupa untuk bernafas.
"Mas, maharnya simpan di mana?" Usai Rahma menormalkan nafasnya, ia menunjuk kotak berisikan logam mulia yang ada di koper.
"Di brankas aku aja." Mizyan menuntun Rahma menuju brankas yang tersembunyi di balik cermin yang bisa digeser. Ia pun menyebutkan kode yang harus diingat oleh istrinya itu.
"Mas, kenapa memberiku mahar sebanyak ini?" Rahma menolehkan wajah usai menyimpan kotak maharnya di tahap bawah. Rasa penasaran yang ingin ditanyakannya sejak usai akad sebab ia tidak diberitahu sebelumnya akan besarnya mahar yang diberikan.
"Pertama, karena kamu wanita istimewa dan sangat berharga buatku." Mizyan mendekap Rahma dari belakang. Menyesap wangi segar rambut hitam terurai itu. "Kedua, aku gak ngeluarin biaya untuk pernikahan kita. Semua di cover oleh Papi, Mami, dan bang Kemal. Jadi uangku buat beli mahar aja."
Mizyan mengurai pelukan, beralih mengambil dokumen dari dalam brankas. "Sayang, ini aset yang aku punya." Ia memperlihatkan berkas saham di tiga perusahaan besar termasuk di perusahaan batubara milik Kemal. Juga 2 sertifikat sawah di wilayah Cianjur total 1 hektar, sertifikat apartemen dan tanah kavling di perumahan tempat tinggal Satya.
"Ini nafkah dari aku. Pinnya perpaduan tahun kelahiran kamu dan Dika." Mizyan menyerahkan black card debit dan kredit ke telapak tangan Rahma.
"Makasih, Mas. Akan kugunakan sesuai kebutuhan." Rahma tersenyum dengan mata berkaca sebab haru akan cara Mizyan menyayangi dirinya dan Dika.
Mizyan merangkum wajah Rahma. Menatap lekat ke dalam manik mata hitam dengan tatapan penuh cinta. "Aku yang terima kasih. Bisa jatuh cinta sedalam ini sama wanita berdaster ungu dengan rambut dicepol. Yang selalu menghantui siang dan malam." Pungkasnya tersenyum simpul.
Semburat rona merah terbit di wajah Rahma. Malu jika mengingat hal itu. Justru membuat Mizyan menjadi gemas melihat sang istri yang menggigit bibir sembari tersenyum malu. Jarak kembali terkikis sebab Mizyan meraup lagi bibir ranum yang basah itu.
"Papa---"
"Papa---"
Suara kencang Dika di ambang pintu kamar mengagetkan sepasang pengantin baru itu. Rahma mendorong tubuh Mizyan agar sedikit menjauh sembari merapihkan penampilan yang acak-acakan.
"Papa, sapinya ga mau jalan---" Dengan polos, Dika masuk ke dalam walk in closet mendekati kedua orangtuanya dan mengacungkan remot.
"Ayo kita cek!" Mizyan mengambil alih remot dan mengajak Dika ke luar kamar. Rahma menghela nafas panjang. Hampir saja adegan kiss dilakukan suaminya itu. Melupakan jika ada bocil yang sewaktu-waktu bisa masuk ke kamar.
Sebuah pengalaman baru bagi Mizyan, malam pertama tidur bertiga dengan Dika berada di tengah. Dika tampak riang berguling ke kiri memeluk bunda. Tak lama berganti berguling ke kanan memeluk papa. Berceloteh dengan semangat menceritakan pengalaman kemarin pergi ke kebun binatang.
"Sudah malam, Dika bobo ya!" Rahma membenahi bantal untuk Dika, mengajaknya membaca doa, lalu memberi usapan lembut di kepala.
Mizyan memiringkan badan. Memperhatikan cara Rahma menina bobokan Dika dengan bacaan sholawat sampai mata bocah kriwil itu perlahan terpejam. Inginnya malam ini ia menyentuh lagi sang istri. Namun raut lelah di wajah cantik Rahma yang menyusul tertidur membuatnya tidak tega untuk membangunkan. Jadilah ia menyelimuti anak dan istrinya itu, mengecup kening keduanya dengan perasaan yang hangat. Ia pun terbang ke alam mimpi dengan tenang dan damai.
__ADS_1