
Untuk pertama kalinya Rahma menghirup udara pagi di apartemen. Ia membuka lebar pintu balkon sehingga hembusan udara yang dingin menggigit menerpa wajahnya. Mentari belum menyapa sebab hari masih terbilang subuh, jam 5 lebih 15 menit. Ia terbangun sebab usapan lembut Mizyan di pipinya yang memberitahu akan keluar untuk sholat subuh di masjid. Akumulasi lelah sejak acara pernikahan sampai beres-beres semalam membuatnya tertidur pulas. Namun pagi ini ia merasakan tubuhnya menjadi segar.
Secangkir teh manis panas menemani pagi buta sembari pandangan menyapu padatnya bangunan dalam kota yang masih terselimuti kabut putih. Bahkan kaca jendela balkon tampak basah oleh uap embun pagi. Ia merenung penuh syukur, sampai di titik ini hidupnya dilingkupi kebahagiaan. Memiliki suami yang kentara sangat mencintainya serta mertua yang menerima akan statusnya.
"Hebat ya baru setahun ditinggal suami udah nikah lagi. Biasanya kan kalau saling mencintai butuh waktu bertahun-tahun baru bisa move on nikah lagi. Kadang ada yang gak nikah lagi saking cinta mati. Apa dulu kamu dijodohkan ya?!"
"Baru setahun menjanda udah nikah lagi. Kan jarang-jarang ya denger kabar seperti itu. Kalau laki-laki sih gak aneh, istri baru mati sebulan juga ada yang langsung nikah lagi."
Inginnya mengacuhkan apa komentar orang lain tentang keputusannya menikah lagi. Namun tiba-tiba ucapan Lea dan Bu Joko ternging di telinga. Inilah hal yang dikhawatirkan dulu sebelum menerima lamaran Mizyan.
"Masih lama bengongnya, neng?"
Suara Mizyan yang kemudian menyergap tubuhnya dari belakang sungguh membuatnya terjengit dan berucap istigfar.
"Mikirin apa sih. Awas kesambet pesawat yang lewat lho." Goda Mizyan sembari mengetatkan pelukannya mengusir dinginnya udara pagi. Dan selesai berucap, suara desingan pesawat terdengar melintas di depan mata yang terbang rendah sebab baru take off dari bandara Husein Sastranegara. Rahma pun tertawa sebab ucapan Mizyan begitu pas momen.
"Mas kapan datang? Aku nggak denger Mas ucap salam." Rahma beralih manghadap suaminya yang memakai baju koko warna krem dan celana panjang hitam yamg tadi pergi sembari membawa kartu akses kunci.
"Dari tadi, sayang. Aku 3 kali salam tapi gak ada yang jawab. Kirain kamu tidur lagi tapi cuma ada Dika yang masih pulas. Eh taunya lagi bengong di sini." Mizyan mengecup bibir Rahma. Melingkarkan tangan memeluk pinggang ramping istrinya itu. Kemudian turun *******-***** bo kong yang bulat dan padat.
Rahma tersenyum meringis. "Lagi menghirup udara subuh yang belum tercemar polusi. Sambil muhasabah, bersyukur kepada Allah bisa bertemu lagi kebahagiaan. Bukan lagi bengong." Ia mengelak. Tak perlu Mizyan tahu jika ada orang yang nyinyir kepadanya.
"Mau sarapan apa, Mas? Aku belum tahu selera kamu apa aja." Rahma mengalihkan pembicaraan. Beralih melepaskan diri dan duduk meminum tehnya yang sudah hangat.
"Mau sarapan kamu aja. Mumpung Dika masih tidur." Mizyan meminta gelas teh yang dipegang Rahma. Teh yang tersisa setengahnya, diminum sampai habis. Tanpa menunggu jawaban, ia lalu menarik tangan istrinya itu untuk masuk ke kamar kedua, mumpung ada kesempatan.
Badan fresh dan tenaga baru ditambah udara pagi yang dingin mengantar kesyahduan olahraga pagi yang berhasil menguras keringat menjadi bercucuran. Mizyan merebahkan kepala Rahma di dadanya usai penyatuan yang melangutkan kenikmatan yang memabukkan. Tangannya mengusap lembut bahu putih yang terpampang tidak tertutup selimut.
"Sayang, mau cari asisten rumah tangga nggak?" Mizyan merapihkan rambut Rahma yang tergerai menutupi sebelah pipi. "Aku nggak mau kamu kecapean ngurus pekerjaan rumah."
Rahma yang tengah memejamkan mata sembari menikmati detakan jantung suaminya yang seirama dengannya, mendongakkan wajah. "Sekarang belum perlu, Mas. Nanti aja kalau Dika mulai sekolah atau kalau Dika punya adek," pungkasnya sembari menyembunyikan wajah di dada Mizyan. Malu dengan ucapan terakhirnya.
Mizyan tersenyum sumringah. Membayangkan launchingnya Mizyan junior ataupun Rahma junior. "Ah aku jadi gak sabar baby coming soon---"
Ia lalu menggulingkan tubuh Rahma menjadi telentang dan dengan leluasa mengungkungnya. "Nambah lagi breakfast ya, sayang." Tanpa menunggu persetujuan, diraupnya lagi bibir merah jambu yang menjadi candunya itu.
Suara tangisan Dika terdengar kencang sembari memanggil-manggil bunda lalu bergantian memanggil papa. Mizyan menyatukan keningnya dengan kening Rahma umtuk menormalkan deru nafasnya sebab tidak bisa melanjutkan lagi sarapannya.
"Breakfastnya cukup satu porsi aja ya, Papa." Rahma menahan tawa melihat Mizyan yang mendesah kecewa. Ia segera menyuruh suaminya keluar lebih dulu sebelum Dika makin kencang nangisnya sebab ketakutan sendirian.
****
__ADS_1
Usai sarapan yang sebenarnya, berupa nasi goreng buatan Rahma, Mizyan mengisi waktu cuti hari terakhir dengan kebersamaan bertiga. Ia meminta pendapat Rahma jika saja ada furniture yang harus ditambah atau cat yang harus diganti warna menyesuaikan selera istrinya itu sebab nuansa yang tersaji dominan manly. Sementara Dika anteng memainkan pesawat terbang di dekat jendela besar sembari menunggu pesawat asli melintas.
"Itu nanti aja, Mas. Yang urgent beli peralatan masak soalnya nggak lengkap. Sama kulkas juga kosong. Kita ke mall ya nanti siang?"
Mizyan mengangguk setuju dengan permintaan Rahma. "Bun, hape bunyi." Ia memanggil Rahma yang hendak masuk ke kamar sebab ponsel istrinya itu berdering di atas meja.
Mizyan menemani Dika bermain. Menahan bocah kriwil itu agar tidak naik ke atas sandaran sofa. khawatir terpeleset dan jatuh membentur meja. Ia menolehkan wajah begitu mendengar nama mama Indah disebut dalam perbincangan Rahma dengan penelepon. Bahkan kini memasang telinga baik-baik, tertarik ingin tahu apa saja yang dibahas. Apalagi melihat wajah Rahma tampak kaget.
"Siapa, sayang?" Mizyan menghampiri Rahma di meja makan begitu selesai menerima telepon. Menarik satu kursi sehingga duduk berhadapan.
"Mama Indah, Mas. Beliau minta maaf kemarin tidak bisa hadir karena sakit. Malah bulan depan harus operasi di Singapura butuh biaya 100 juta. Minta doanya katanya, biar operasinya lancar dan biayanya ada." Jelas Rahma menyampaikan hasil percakapannya dengan mantan mertuanya itu.
Mizyan mengerutkan kening. Mencerna ucapan Rahma, ia merasa ragu akan kejujuran wanita paruh baya sang mantan mertua Rahma. "Sakit apa katanya?"
"Waduh, aku sampai lupa tanya saking kaget tadi." Rahma membeliakkan mata merasa diingatkan.
Mizyan tidak memperpanjang lagi. Memilih minta dibuatkan kopi dan menatap punggung sang istri yang berlalu ke dapur. Pikirannya menimang-nimang untuk menyampaikan atau tidak jika sang mantan mertua sebenarnya tidak sebaik yang dikira. Ia menggeleng. It's the wrong time.
Mendorong trolly dengan Dika yang naik di atasnya, lalu mengekori kemanapun Rahma bergerak mengambil barang-barang yang dibeli, menjadi pengalaman seru dan menghibur. Ia mengambilkan es krim yang ditunjuk Dika, membuka kemasannya karena ingin langsung dimakan.
"Papa, aaa....." Mizyan menerima tawaran es krim coklat yang terlebih dahulu dilumat Dika.
"Nda, aaa...." Dika menarik-narik lengan bundanya yang tampak gamang memilih fry pan mana yang akan dibeli. Jadilah bunda menggigit es krim yang ditawarkan anaknya itu.
Sampai es krim habis dimakan bertiga, lalu Dika memakan biskuit, posisi belum berpindah dari jajaran kitchenware. Mizyan mulai gelisah dan bergerak mondar mandir. Pegel.
"Bunda, udah aja beli dua-duanya, biar cepet." Mizyan mulai mengeluh. Sejak memilih fry pan sampai sekarang memilih panci presto terus saja membandingkan merk dan harga. Juga menjungkir balikkan barangnya.
"Iya, Nda. Udahan beyinya---" Dika pun sama mengeluh meski ia enak duduk di tempat duduk trolly, tapi lama-lama mulai bosan.
"Iya bentar lagi, kalau Papa sama Dika bosen mending nunggu di atas aja ya. Nanti Bunda nyusul." Rahma memberi solusi, menyuruh menunggu di cafetaria.
Dika menggeleng. "Atu mau sama Nda."
"Papa juga." Mizyan pun mengalah daripada bengong sendirian di cafetaria.
Sebentar lagi versi Rahma, nyatanya sudah 30 menit waktu tambahan, acara belanja belum beres juga. Padahal trolly sudah penuh.
"Sayang, pegel...lapar..." Mizyan merajuk. Menjatuhkan dagu di bahu Rahma yang tengah memilih telor. Meski diawal belanja, Rahma menyarankan menunggu jangan membuntuti namun ia ingin merasakan pengalaman belanja bersama anak dan istri. Awalnya senang lama-lama bete.
"Iya ini terakhir, sayang. Salah siapa ngikutin terus. Emak-emak kalau belanja fisiknya kuat sampai seharian juga. " Bisik Rahma meledek Mizyan yang beralih merangkum bahunya. Keduanya tanpa sadar menjadi perhatian pengunjung lain yang melirik dan curi-curi pandang melihat kemesraan yang dipamerkan sang pria.
__ADS_1
Mizyan tersenyum lebar. Kalau bukan di tempat keramaian ingin sekali mencium istrinya itu sebab sudah memanggilnya 'sayang'.
"Nda, lapelll...." Giliran Dika yang protes setelah 2,5 jam lamanya ikut muter-muter area supermarket, kadang turun dari trolly lalu naik lagi.
"Iya-iya, sudah beres. Kita ke kasir yuk."
Ponsel yang tergeletak di meja menggelepar. Panggilan masuk dari Ricky membuat Mizyan tersenyum disela makan sore di lantai 3 sebagai penutup acara shopping.
"Gimana rasanya ngikutin bini shopping? Gempor-gempor tuh kaki, tapi biarin. Daripada malam gak dikasih jatah."
Mizyan tergelak mendengar ucapan di sebrang sana. Pastinya Ricky punya pengalaman lebih dulu.
"Duh gini ya resiko jadi seleb, ketahuan paparazzi." Ia pun tertawa mendengar Ricky mendecak.
"Kata Arya mau mampir ke atas gak? Lagi lembur nih."
"Next time. Pengen cepet pulang. Siap balas dendam." Mizyan menutup panggilan dengan tergelak. Pilihannya mengajak shopping di Plaza Galaksi ternyata diketahui sahabatnya.
"Papa, siapa yang telpon?" tanya Dika dengan mulut penuh makanan mulai kepo.
"Teman Papa di kantor atas." Mizyan mengangkat telunjuk ke atas. Melanjutkan lagi memakan stick yang tertunda.
Malam selepas isya Dika tidur lebih awal. Semangat bermain sambil jalan-jalan di mall membuat bocah itu tepar. Angin segar buat Mizyan yang terus memeluk Rahma dari belakang selama menemani Dika sampai tertidur.
"Bun, aku juga cape nemenin shopping tadi." Mizyan mulai merajuk sembari mengetatkan pelukannya.
"Terus pengen apa, Papa?" Rahma membalikkan badan sehingga saling berhadapan.
"Pengen diusap-usap!"
Tangan Rahma terulur mengusap rambut Mizyan.
"Bukan usap yang atas, tapi yang bawah." Mizyan memgalihkan tangan Rahma ke tempat yang dimaksud.
"Ah, aku cape, pegel, mau tidur." Giliran Rahma yang merajuk sambil pura-pura memejamkan mata. Namun kemudian memekik kaget sebab Mizyan menggendong tubuhnya. "Mas, ih---" ia memukul manja dada bidang suaminya itu yang dengan ringannya membawa pindah menuju kamar kedua.
"Aku akan beri servis pijat plus-plus biar bunda bangun pagi seger lagi." Mizyan meminta Rahma membukakan pintu kamar kedua dan menguncinya.
"Hmm, modus---" sahut Rahma sembari mendesah sebab bibir Mizyan menghisap lehernya begitu tubuhnya terbaring di ranjang.
"Modus tapi Bunda ketagihan kan?" Mizyan mengerling sembari melempar baju yamg dikenakannya. Cukup semburat merah di pipi sebagai jawaban. Yang membuat Mizyan semakin tersulut gairah melakukan apa yang menjadi kesukaannya.
__ADS_1