MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 148. Dua Tahun


__ADS_3

Sebulan kemudian.


Jakarta


Theo menatap tajam Lira, wanita yang beberapa bulan ini menjadi pemuas hasratnya. Mencengkram kedua lengannya dengan kuat. Membuat Lira meringis dan ketakutan.


"Katakan! Kamu udah tidur dengan berapa orang? Aku positiv HIV pasti gara-gara kamu melayani pria lain juga kan?!" Theo menuduh Lira dengan penuh emosi. Ia yakin penyakit yang kini hinggap di tubuhnya bukan karena jajan sebelumnya. Sebab ia melihat artis yang pernah menjadi partnernya masih wara wiri di dunia entertainment.


"Sumpah Om aku hanya melayani Om. Aku patuh dengan perjanjian kita." Lira memelas agar tangannya dilepaskan.


"Ya Tuhan, berarti aku pun bakal kena---" Wajah Lira memucat dengan bibir bergetar. Tubuhnya luruh ke lantai saat Theo melepaakan cengkramannya. Ia menangis tersedu.


"Alex.....Om." Lira mendongak dengan pipi yang basah. Tiba-tiba tangisnya berhenti begitu teringat nama itu.


Theo yang terduduk di sofa sambil meremas rambutnya, mendongak dan menatap dengan raut terkejut. "Apa maksudmu?!"


Lira memberanikan diri untuk berkata jujur, apapun resikonya. "Alex pernah datang ke sini dan memaksa aku untuk melayaninya. Dia mengancam akan melaporkan perbuatan Om pada istri Om kalau aku menolaknya."


"Pasti dialah yang membawa penyakit sialan itu, arghhh---" Lira berteriak sambil memukul-mukul dada untuk melampiaskan marah. Entah harus marah pada siapa akan nasib yang menimpanya sekarang.


"APA?!" Theo membelalakkan mata dengan badan yang menegang. "Gak mungkin---- kamu pasti ngarang kan nuduh anakku?! Sambungnya merasa tidak percaya.


"Tanyakan aja sendiri sama si breng sek anakmu itu!" Lira meradang.


Plak.


Sebuah tamparan melayang ke pipi kanan Lira sehingga meninggalkan bekas.


"Om jahat, hiks---" Lira berteriak sambil menangis memegang pipinya yang panas. "Gara-gara Om dan anak Om masa depanku hancur. Kenapa aku yang ditampar Om...kenapa?" sambungnya berteriak marah.


"Diam Lira, jangan berteriak! Nanti tetangga dengar." Theo merendahkan suaranya dan mendekati Lira. Membantunya berdiri dan mengajak duduk di sofa.


"Aku gak mau mati muda Om. Aku gak mau----" Lira menatap Theo dengan wajah berlinang.


"Sebaiknya kamu ke dokter lakukan tes." Theo mengeluarkan beberapa lembar uang. Melemparnya ke pangkuan Lira. Lalu pergi tanpa berkata lagi.


Sampai di rumah.


"ALEX!" Amarahnya tak terbendung begitu melihat anaknya sedang santai bermain PS. Theo menghampiri dan menarik kerah baju anaknya itu.


Plak.


Sebuah tamparan keras melayang di pipi. Membuat Alex terhuyung dan hampir jatuh mengenai meja.


"Papa apa-apaan...datang-datang nampar aku?!" Antara kaget dan kesal, Alex menatap ayah kandungnya itu.


"Kamu yang apa-apan." Theo balik menghardik sambil tangannya menunjuk muka anaknya itu. "Kamu udah khianatin Papa. Kamu udah memakai Lira dan jadi biang penyakit. Kamu bawa virus HIV, Alex." Sambungnya dengan emosi yang meluap-luap.

__ADS_1


Alex terkesiap dengan mata melotot kaget.


"Papa jangan sembarangan nuduh." Alex mencoba mengelak sambil memalingkan muka.


"Lira udah ngomong. Kamu jangan mengelak lagi, Alex." Theo kembali mencengkram kerah baju anaknya itu. "Tega kamu ya sama Papa. Papa udah bantu kamu dapat sertifikat, tapi ini balasannya---" Tamparan kedua melayang lebih keras. Membuat Alex terjengkang jatuh terduduk di sofa dengan sudut bibir mengeluarkan darah.


"Hentikan, Papa!" Suara Indah terdengar melengking tinggi.


"Ada masalah apa ini?!" Indah menghampiri. Ia yang sedang bersantai di tepi kolam renang, datang tergesa setelah mendapat aduan dari asisten rumah tangga jika Theo dan alex sedang bertengkar.


****


Bandung


Mizyan membawa Rahma duduk di pangkuannya. Memperlihatkan rancangan rumah impian untuk hunian baru keluarga kecilnya yang siap dibangun.


"MasyaAllah....bagus banget, Pa." Rahma menatap kagum dengan desain 3D rumah dua lantai sesuai requestnya. Desain luar minimalis anti sombong. Tapi bagian dalam memiliki desain interior modern yang lux dan elegan.


"Beneran udah deal, gak ada yang harus direvisi?! Mizyan memperat pelukan yang membelit perut rata Rahma tanpa melihat laptonya. Memilih tangannya bergerak menjelajah ke bagian atas.


"Deal, Papa. Aku sangat puas." Sahut Rahma yakin. "Kapan mulai pembangunannya?" sambungnya merasa tidak sabar desain indah itu ingin segera terwujud nyata.


"Budgetnya baru siap 50%, Bun. Tunggu beberapa project akan beres sekitar 2 bulan lagi biar uangnya cair." Mizyan berkata sejujurnya tentang saldo yang ada di rekeningnya. Tak mungkin semuanya dialokasikan untuk biaya pembangunan rumah.


Rahma memutar tubuhnya menjadi menyamping. Mengurai tangan kekar yang nakal bergerilya menyentuh tubuh atasnya.


"Kan itu buat buka cabang toko di Cimahi?!" Mizyan mengingatkan akan rencana pembelian ruko di kawasan Cimahi.


"Itu beda lagi. Sudah ada anggarannya dari profit toko. Kan ada tabungan lagi dari penjualan sengon. Sama sekali belum digunakan." Jelas Rahma yang bisa dibilang tabungannya selalu utuh. Sebab nafkah dari suaminya setiap bulannya lebih dari cukup.


"Oke, sayang. Bismillah, bulan depan mulai." Mizyan menutup obrolan di ruang kerja. Mengajak Rahma berpindah ke kamar untuk tidur.


Rahma mengecek ulang ke kamar Dika yang sudah lebih dulu tidur setelah capek bermain sepatu roda. Memperbaiki selimut yang melorot terinjak kaki. Ditatapnya wajah polos yang nampak tenang itu. Tatapannya berubah haru sambil merapihkan rambut yang menutupi kening. Tak terasa, besok dua tahun meninggalnya almarhum Bang Malik.


Mizyan menepuk dada. Meminta Rahma yang sudah selesai dengan ritual skin care sebelum tidur, untuk merebahkan kepala di dadanya.


"Besok ziarah jam berapa, sayang?! Mizyan merengkuh tubuh Rahma. Memberi kecupan di puncak kepala. Tadi siang sang istri sudah berbicara dan meminta ijin akan berziarah ke makam Malik bersama Nico dan Suci.


"Jam 8. Nanti Suci dan Mas Nico akan menjemput ke sini." Sahut Rahma dengan mata terpejam merasakan damai dan nyamannya bersandar di dada suaminya itu.


"Bilangin gak usah jemput, biar ketemuan aja di parkiran TPU. Aku akan temani Bunda ke sana."


Membuat Rahma mendongak dan menatap dengan alis bertaut. "Kan Papa ada meeting jam 9?!" Tanyanya heran.


"Aku sudah ajukan mundurin meeting. Jadinya deal jam 2 siang. Karena aku ingin berziarah juga ke ayahnya Dika."


Rahma mengulas senyum. Spontan matanya berkaca-kaca. "Aku terharu....makasih, Mas." Ujarnya sambil menenggelamkan wajah ke dada Mizyan. Menyembunyikan air bening yang mendesak jatuh. Rasa khawatirnya jika Mizyan tidak akan memberikan ijin terpatahkan. Sebab dulu ia pernah berkata tidak akan lagi berziarah setelah menjadi istrinya demi menjaga perasaannya. Nyatanya, Mizyan mendukung dan malah kini bilang akan ikut pula.

__ADS_1


Mizyan menurunkan badannya. Merangkum wajah Rahma agar saling bertatapan mata. "Sayang, lihat aku." Pandangan pun saling bertaut.


"Seperti halnya kamu yang bisa menerima masa laluku yang buruk, aku juga pasti menerima kisah manis masa lalumu bersama almarhum. Apalagi ada Dika diantara kita yang tidak boleh lupa dengan ayahnya. Jangan sungkan lagi ya----"


Rahma memejamkan mata. Hanya bisa menjawab dengan anggukkan kepala. Sebab cairan bening mendahului luruh membasahi pipi.


"I love you, Mas." Dengan suara serak, Rahma memeluk erat Mizyan dengan wajah kembali tenggelam di dada. Haru menyelimuti.


"So much love you, sayang." Mizyan balas memeluk dan menciumi rambut Rahma. "Jangan nangis lagi ah, aku hanya ingin melihat senyum di wajahmu." Sambungnya sambil mengusap-ngusap punggung istrinya itu.


"Iya....maaf." Rahma menyeka matanya yang masih basah sambil mengatur nafasnya agar kembali tenang. Beralih tidur telentang berbantalkan lengan Mizyan yang terulur.


"Aku udah searching tentang Maldives. Udah nyatet lokasi-lokasi yang alan kita kunjungi nanti. Jadi gak sabar ingin segera ke sana." Rahma beralih topik tentang rencana honeymoon bersamaan perayaan first wedding anniversary. Matanya berbinar menatap langit-langit kamar. Membayangkan eksotisme Maldives dengan air lautnya yang biru dan tenang.


Giliran Mizyan yang membenamkan wajah di dada Rahma dan membuka dua kancing atas piyama istrinya itu. "Sekaligus perayaan lepas balon ya, sayang." Ujarnya sambil membububkan stempel kepemilikan.


Rahma terkekeh. Mizyan memang protes karena harus memakai pengamam saat liburan di Turki. Dengan dalih ingin balapan sama Papi untuk menyemai benih.


****


Pagi yang cerah dengan hangatnya sinar mentari menyapa tubuh. Empat orang dewasa berjongkok di depan pusara dengan nisan bertuliskan Johan Al Malik. Sekeranjang kelopak bunga mawar merah ditabur di pusara oleh si kriwil Dika. Seikat bunga sedap malam tersimpan di depan nisan berbahan marmer itu oleh Rahma.


"Bro, sungguh....aku kangen sekali. Gak terasa ya...udah 2 tahun aja." Nico tersenyum miris menahan desakkan sedih dan haru yang menyeruak. Ia mengusap-ngusap tulisan nama sahabatnya itu. Suci mengusap-ngusap bahu Nico untuk menguatkan.


"Ah maaf, aku sama Malik sangat dekat. Dia sangat berjasa jadi intel sampe aku bisa dapetin Suci." Nico menatap Mizyan sambil terkekeh. Lain halnya Suci yang tersenyum simpul dan tersipu malu.


Mizyan tersenyum dan mengangguk. Ia sangat mafhum dengan kedekatan Nico dan ayahnya Dika itu.


"Allahummaghfirlahu----" Nico menengadahkan tangan memulai memimpin do'a untuk sahabatnya itu. Semuanya khusyu turut mengangkat tangan dan mengaminkan do'a yang dipanjatkan sampai akhir.


"Ya Allah, ampunilah almarhum Johan Al Malik, berilah dia rahmat-Mu, kesejahteraan, serta maafkanlah kesalahannya. Al Fatihah---" Mizyan turut menyambung do'a setelah Nico memintanya.


"Aamiin----" Dika mengikuti ucapan orang dewasa di sekitarnya sambil menengadahkan tangan.


"Bunda, ayah lagi apa?" Dika menatap bundanya dengan tatapan polos.


"Dika tanya aja langsung. Salam dulu, dan bilang kalo Dika datang sama siapa aja." Mizyan yang lebih dulu menyahut sambil mengusap rambut Dika.


Dika sejenak nampak bingung. Tapi kemudian mendekatkan wajah ke nisan.


"Salamu alaikum, Ayah." Dika mengetuk-ngetuk nisan seolah mengetuk pintu.


"Ayah lagi apa?!"


"Ayah...atu datang sama Bunda Lahma, sama Papa buye. Hm....teluus sama tante Suci....sama Om Niko juja----"


"Ayah.....ayah dengel atu?!" Dika menempelkan telinga ke nisan.

__ADS_1


__ADS_2