MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 113. Menyimpan Dendam


__ADS_3

"Ini mimi Dika--" Rahma bergabung di karpet membawa segelas susu formula dalam milk cup khusus. Menyimpannya di samping sang anak yang sedang memperhatikan Papa Buye menyusun lego. Dan Dika menjadi peran pembantu memasangkan sesuai petunjuk Papa atu.


Dika melirik susu miliknya, lalu menggelengkan kepala. "Atu mau cucu nona cepelti Papa."


"Nda...mana mimi Papa?" Lanjutnya menatap dengan polos sang bunda yang kini menggigit bibir dengan sorot mata tajam menatap papa buye.


"Ha ha ha---" Mizyan tertawa lepas dengan menjatuhkan tubuh telentang di karpet. Merasa senang sudah usil terhadap Rahma yang nampak raut bingung mau menjawab apa.


"Papa tanggung jawab harus jelasin!" Rahma mencubit pinggang Mizyan yang masih enak tertawa-tawa tanpa dosa. Sebal dengan keusilan suaminya itu yang sudah tahu jika sekarang Dika apa-apa ingin selalu sama dengan papanya.


Mizyan memiringkan tubuh menopang kepala dengan satu tangan mengarah pada Rahma yang cemberut. "Jangan galak-galak atuh Neng geulis, Aa jadi pengen nyandak eneng ka kamar." Pungkasnya dengan bahasa sunda yang kaku. Tangannya mencolek pinggang istrinya itu yang gelian. Sehingga yang tadinya cemberut berubah tertawa.


"Ih hi hi hi--Nda unyu." Dika mentertawakan bundanya yang seperti cacing kepanasan menangkis serangan papa buye sebab pinggangnya sangat sensitif jika tersentuh apalagi digelitikin.


Entah apa yang dibisikkan Mizyan terhadap Dika sehingga bocah kriwil itu mau meminum susunya dengan semangat sampai habis.


"Mas bilang apa sama Dika?" Rahma menatap penuh rasa penasaran kalimat ajaib apa sampai Dika menurut dalam sekali bujukan.


"KEPO." Cuek Mizyan sambil memasang lego terakhir.


Rahma mencebik.


"Dika, Papa barusan bisik-bisik apa sih?" Mencoba peruntungan mengorek lewat Dika yang sedang mengagumi susunan lego berbentuk rumah.


"TEPO" Dika copy paste ucapan papanya. Lalu 2 pria beda generasi itu adu tos diiringi tawa puas.


Rahma menghela nafas panjang. Merasa kalah.


"Oke, nggak masalah. Bunda mau bobo sendiri, pintunya mau dikunci. Dika bobonya sama Papa aja ya. Bye!" Bergegas bangun meninggalkan ruang keluarga menuju kamar.


"Bundaaaa ikuttt!"


"Ndaaaa ituttt!"


Mizyan dan Dika berteriak kompak. Berlari mengejar bunda Rahma dengan iringan jeritan tawa Dika yang melengking menuju pintu kamar yang hampir tertutup.


****


Rahma berkutat di dapur menyiapkan sarapan pagi. Ia dan sang suami bangun subuh kesiangan gegara semalam begadang sampai lewat tengah malam. Di tengah cuaca hujan deras dengana udara yang dingin menusuk kulit, membuat keduanya lelap terbuai mimpi.


Terlebih sebelumnya Mizyan mengungkung Rahma setelah Dika terlelap. Dalam dinginnya malam saling memberi kehangatan dan berbagi kenikmatan. Berakhir saling menautkan jemari bersama Dika yang tidur di tengah keduanya usai dievakuasi sesaat.


"Mas, sarapan duluan aja. Aku mau bangunin dulu Dika." Rahma selesai menata nasi merah hangat dengan telor rebus dan tumis sosis brokoli. Menyendokkannya ke piring makan. Asupan protein tinggi diperlukan untuk aktifitas kerja yang padat agar stamina fit sampai menjelang nanti makan siang. Ia tahu jam 9 nanti suaminya itu ada jadwal mengisi workshop di hotel Sheraton. Merupakan program dari komunitas arsitek Bandung sebagai pembekalan bagi para arsitek muda yang baru lulus kuliah untuk membantu mendapat peluang kerja.


"Iya, sayang." Mizyan menarik kursi makan dan menerima pelayanan sang istri. Ia yang sudah siap dengan outfit semi formal nampak fresh dan penuh percaya diri serta semangat. Bagaimana tidak, semalam batre di charge penuh. Sehingga pagi ini ia sangat siap sharing ilmu pengalaman saat bekerja di perusahaan arsitek ternama di Amerika.

__ADS_1


Jam 8 kurang 15 menit Mizyan sudah siap berangkat. Ia tidak bisa mengantar Rahma ke toko sebab akan terlambat sampai ke tempat workshop uamg jalannya tidak searah.


"Papa kerja dulu." Mizyan mencium kening Dika yang sudah rapih dan wangi aroma telon yang menyegarkan hidung.


"Papa jangan lupa beldo'a dulu ya." Dika mencium tangan papanya diiringi senyum lebar menampakkan deretan gigi susu yang terawat.


Mizyan membulatkan jari memberi tanda oke.


Rahma mengantar Mizyan sampai depan pintu. Menilik lagi penampilan sang suami dari bawah sampai atas jangan sampai ada mis. Nyatanya sudah paripurna.


"Bun, aku gak bisa anter, paling nanti jemput pulangnya." Mizyan menenteng tas kerja berwarna darkbrown berbahan kulit di tangan kirinya.


Rahma mengangguk mengerti. "Gak papa, Pa. Aku pakai taksi online nanti jam 9 berangkatnya. Mau sarapan dulu." Ia mencium tangan Mizyan dengan takzim. "Sukses untuk workshopnya, Papa atu," sambungnya sambil terkekeh sebab mengikuti gaya Dika.


Mizyan memeluk, mencium kening belahan jiwanya itu. Sekilas dapat mencium bibir tipis candunya itu saat Dika lengah dengan mainannya. "I love you." bisiknya. Lalu keluar dengan berucap salam.


****


Jadwalnya mengisi workshop selesai di jam ishoma siang. Mizyan hanya hadir sesuai schedule, tidak akan mengikuti acara sampai akhir di sore nanti. Sebelum perpisahan, ia dengan senang hati mengabulkan permintaan panitia untuk foto bersama. Juga menerima permintaan peserta WS yang ingin selfie maupun wefie.


Selesai turut serta dalam jamuan makan siang bersama seluruh panitia WS yang sebagian orangnya ia kenal, Mizyan pamit pulang terhadap semuanya. Ia keluar restoran paling awal untuk segera melaksanakan kewajiban sholat Duhur di musholla luar.


Sambil menunggu lift yang sedang naik ke tempatnya berdiri, Mizyan membaca pesan dari Satya.


"Bro, Rade nanyain terus nih. Kapan kita bisa doible date?"


Mizyan mengulas senyum tipis. Memang benar, berbagai kesibukan diantara mereka, membuat sulit untuk bertemu kopi darat.


"Saturday night, gimana?" Mizyan mengirimkan balasan. Belum keluar dari aplikasi pesan, menunggu dulu jawaban sebab terlihat Satya sedang online.


"Deal." Balas Satya.


Tring. Bersamaan dengan pintu lift terbuka.


"Sepertinya kita memang jodoh ya."


Mizyan baru menyimpan ponselnya di tas saat mendengar suara yang familiar. Ia mendongak menatap sosok perempuan bertubuh tinggi semampai dalam balutan mini dress. Berdiri bersisian bersama asistennya yang kemayu menghalangi jalan Mizyan. Lift pun tertutup kembali tanpa membawa penumpang.


"Mona---" Mood Mizyan berubah buruk melihat perempuan yang kini merubah gestur menjadi sensual menggoda.


"Permisi. Saya mau masuk lift." Mizyan meminta Mona dan asisten bergeser posisi tidak menghalangi pintu lift.


Mona terkekeh. "Michael, jangan kaku begitu. Aku masih Mona mu yang dulu."


"Gak ada istrimu kan? come on, jangan takut. Aku gak akan bilang siapapun juga. I miss you, Michael." Tangan Mona terulur menyentuh dada bidang yang terbungkus kemeja slimfit warna army.

__ADS_1


Mizyan menghempaskan tangan Mona dengan kasar sebelum berhasil menyentuh dadanya.


"Kamu kenapa kasar sama aku?!" Mona merajuk tidak terima.


Membuat Mizyan merasa muak melihatnya. "Karena kamu TIDAK SOPAN." Penuh penekanan sambil menatap dingin.


Mona yang baru saja merasa kesal kembali memasang muka manis. "Michael, jangan muna. It's oke kamu udah punya istri. Tapi laki-laki tidak akan puas dengan satu wanita bukan. Ayo kita lakukan seperti dulu. Suka sama suka." Pungkasnya diiringi kedipan mata.


Mizyan berdiri tenang di tempatnya. "Istriku ternyata benar. Kamu sudah tidak punya rasa malu."


"Kamu tidak malu merayu orang yang sudah berhijrah. Bahkan terang-terangan ingi menjerumuskan lagi."


"Kamu tidak malu menawarkan tubuh meski tanpa pamrih. Menukar kehormatan diri demi pemuas nafsu."


"Sikapmu itu memang tidak ada beda dengan BINATANG."


"Cukup! Jangan sok suci, sok alim, sok ceramahin orang." Mona mengeram marah. Merasa dihinakan oleh pria masa lalunya itu.


Ia mengangkat telunjuk berkutek merah di depan muka Mizyan. Menunjuk-nunjuk dengan kemarahan yang ditekan. "Kamu akan menyesal udah menghinaku. Lihat saja nanti akibatnya!" Ancamnya tegas.


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak takut. Malah kamu yang akan menyesal sudah mengusik kehidupanku." ujar Mizyan kalem saat Mona dan asisten baru tiga langkah melewatinya.


****


"Papa, aku ingin keluar sekarang. Di sini nggak betah, Papa." Untuk yang kesekian kalinya Alex merajuk meminta dibebaskan dari pusat rehabilitasi narkoba rujukan BNN itu.


Nampak gurat lelah tergambar di wajah Theo yang datang sendiri usai bekerja setengah hari.


"Sabar dulu, Lex. Jangan coba-coba kabur kamu ya. Malah dapat masalah baru nantinya." Tegas Theo. Meski sebagai ayah ia merasa kasihan dengan nasib anak semata wayangnya itu.


"Aku pengen segera ngasih perhitungan sama si bule sialan itu, Pa. Aku yakin dia dalang dibalik penangkapan aku dulu." Mata Alex menyala merah penuh kebencian terhadap orang yang bernama Mizyan.


Alex mencondongkan wajah dan berbisik pelan. "Sogok lagi lah, Pa. Biar dipangkas lagi hukumannya." Memelas menatap sang ayah.


Theo menghembuskan nafas kasar. "Nanti Papa pikirkan. Awas pokoknya kamu jangan cari masalah biar mudah ngurusnya!" Kembali ia menekankan.


Berkunjung ke tempat Alex malah menambah beban pikiran. Sepanjang jalan ia memutar otak untuk mencari solusi membebaskan sang anak dengan segera. Sewa pengacara lagi dan duit lagi solusi instannya. Indah tidak tahu jika uang pemberian Rahma tersisa 90 juta. Tak terasa habis dipakai 'jajan' olehnya. Sepertinya istrinya itu tidak pernah mengecek mutasi mobile bankingnya. Terlalu.fokus dengan keluham sakitnya. Tapi Theo sudah siap dengan jawaban alasan jika suatu saat Indah terkaget dengan saldo akhir yang tertera. Uang yang tadinya diimpikan akan dipakai liburan keliling Eropa.


Theo mengetuk pintu salah satu rumah di komplek perumahan. Setelah sebelumnya mengabari akan datang berkunjung.


"Om---" Perempuan muda yang mengenakan tanktop dan hotpan membuka pintu dan menyambut dengan senyuman.


Beberapa kali jajan mahal membuat Theo berpikir untuk menghemat. Ia memutuskan memilih daun muda dan meyimpannya di kontrakan. Tak terikat durasi 2 jam. Bebas kapanpun semaunya asalkan segala kebutuhan wanitanya itu tercukupi.


"Om cape. Banyak masalah di kantor dan di rumah bikin stres." Keluhnya sambil menghempaskan tubuh di sofa dan merebahkan kepala di paha mulus yang terpampang bebas.

__ADS_1


"Tenang....aku akan bikin Om tidur nyenyak." ujar si daun muda yang mulai memberikan pijatan lembut di kepala.


__ADS_2