
Orkestra mempersembahkan alunan musik slow sebab sesi couple dance akan dimulai. Mereka yang berpasangan merapat di dance floor, tak terkecuali Glen yang mengajak sang istri menuju panggung khusus. Suasana romantis pun mulai tercipta.
Berbanding terbalik dengan perasaan Rahma yang berdiri terpaku berjarak 2 meter di belakang Mizyan. Kedatangan seorang perempuan cantik dan seksi yang tiba-tiba memeluk suaminya itu membuat matanya terbelalak. Ia pun mendengar Mizyan yang dengan cepat melepaskan tangan serta mendorong tubuh perempuan itu, membentak tidak suka.
Tiga orang teman Mizyan yang menyadari akan kehadiran Rahma, lebih dulu undur diri. Seolah lepas tangan tidak tahu menahu dan tidak mau ikut campur dengan apa yang akan terjadi kemudian.
"Mona, please jaga sikapmu!" Mizyan menggeleng dan mundur selangkah saat perempuan bernama Mona kembali merangsek.
"Michael, long time no see. I miss you so much." Mona yang seorang model dan berkarir di Paris, dengan aura bahagia kembali ingin mengalungkan tangan ke leher Mizyan. Namun kembali pula mendapat penolakan.
"Papa---" Rahma berjalan mendekat.
Membuat Mizyan dan Mona menolehkan wajah. Mizyan bereaksi kaget, khawatir sang istri salah faham. Berbeda dengan Mona yang menautkan kedua alis sambil memperhatikan penampilan Rahma dari bawah sampai atas. Penampilan anggun yang tertutup, berbanding terbalik dengan penampilan anggunnya yang serba terbuka.
"Sayang, kenapa?!" Mizyan memperhatikan wajah Rahma yang nampak meringis.
"Mataku kelilipan. Tiupin, sayang." Rengek Rahma manja.
"Mba, tolong pegangin minumanku sebentar!" Tanpa menunggu jawaban, Rahma menyerahkan minuman yang dipegangnya pada Mona.
"What!" Mona terpaksa memegang gelas dingin yang sudah ditaruh Rahma di telapak tangannya dengan mata membulat.
"Kenapa bisa kelilipan, sayang?!" Mizyan mengamati wajah Rahma yang matanya mengerjap-ngerjap dengan raut cemas. "Yang mana yang sakitnya?"
"Tadi abis ngambil minum ada debu masuk. Tiupin yang kanan dulu, sayang. Rasanya panas dan perih." Rahma mendekatkan tubuh, menyimpan kedua tangan di bahu Mizyan yang perlahan meniup-niup mata kanannya. Posisi tangan Mizyan yang memeluk pinggangnya semakin membuat kedua tubuh rapat tak berjarak. Cocok dengan suasana romantis yang tengah tercipta dalam alunan musik slow romantic dance.
"Satu lagi, sayang!" Rahma menunjuk mata kirinya yang sama-sama berkaca. Sebuah akting yang sempurna yang idenya tercetus di injury time. Sudut matanya menangkap jika si Mona sedang menggeram melihat adegan mesra tersaji di depannya.
"Sayang, periksa ke dokter yuk. Aku gak mau kamu kenapa-napa." Mizyan menangkup wajah Rahma. Menilik sepasang mata indah dengan bulu mata panjang dan lentik asli. Bukan bulu mata anti badai seperti yang dipakai Mona.
Rahma menggeleng. "Sekarang udah enakan kok."
"Eh mba, minumanku!" Rahma menoleh pada Mona dengan membingkai senyum . Meminta lagi gelasnya. "Makasih. Maaf sudah direpotin." Pungkasnya dengan satu tangan menggelayut di lengan Mizyan. Memberikannya pada sang suami untuk diminum. Atmosfer panas yang berada di sekitarnya harus diademkan dengan meneguk minuman dingin.
"Sudah?!" Rahma dengan sengaja menyusut kedua sudut bibir Mizyan dengan jemarinya. Mengambil alih gelas yang tersisa setengah. Menyimpan pada nampan waiter yang lewat di sampingnya.
"Michael---" Mona menatap tajam Mizyan dengan wajah merah padam. Tidak terima dengan aksi mesra yang dipertontonkan itu. Yang dianggapnya sebagai akting lebay.
"Ini Rahma. ISTRIKU!" Mizyan berkata penuh penekanan. Ia tahu jika Mona meminta penjelasan.
"Kita sudah lama tidak bertemu, dan selama itu aku sudah berubah, Mona. Sudah menjadi mualaf dan nama pun sudah ganti. Aku Mizyan Abdillah. Nama Michael sudah tertinggal di masa lalu yang hitam."
Mona menggeleng tidak percaya. "Kamu becanda kan? Cuma ngeprank kan?!" diringi tawa sumbang menatap pria masa lalu yang pernah menjalin cinta satu malam. Ia merindukannya lagi.
"Terserah. Maaf, kami mau pulang." Mizyan tidak ambil pusing. Tetap menjaga sikap tenang, menghormati pemilik pesta. Meski hati sudah dongkol ingin meledakkan kemarahan di depan perempuan tidak tahu malu itu. Ia menggenggam tangan Rahma untuk pergi dari hadapan perempun agresif itu.
"Tunggu, Michael!" Mona menghadang langkah keduanya. "Kalau kau berubah pikiran, call me. Aku akan selalu siap bermain denganmu." Sambil memasukkan kartu nama ke saku jas Mizyan dengan iringan kedipan sebelah mata.
Dengan bersikap tenang, Rahma lebih dulu mengambil kartu nama yang baru saja diselipkan di saku jas sebelah kanan, bersamaan dengan Mizyan yang akan merogohnya. Merobeknya di depan mata Mona sampai serpihan terkecil. Menghamburkannya ke udara yang sebagiannya mengenai rambut coklat panjang model curly itu.
__ADS_1
"Anda jadi perempuan harusnya punya rasa malu, meski sedikit. Jangan merendahkan harga diri dengan menjajakan diri. Apa bedanya dengan BINATANG!" Pelan tapi menghujam ucapan yang keluar dari bibir Rahma diringi tatapan tajam.
"Sayang, ayo pulang!" Pandangannya berubah hangat menatap Mizyan. Ia tidak tahu jika sang suami sedang terkesima dengan keberaniannya menghadapi Mona.
Tanpa kata, Mizyan merangkul pinggang Rahma. Berlalu dari hadapan Mona yang mengeram dan mengepalkan tangan menahan marah. Ia tidak terima dihina, namun otaknya masih waras untuk tidak membuat keributan di pesta owner agency modelnya itu.
****
Tak ada pembicaraan selama perjalanan keluar dari tempat pesta. Bahkan Mizyan yang harus mengejar langkah Rahma yang berjalan dengan cepat padahal memakai high heel. Ia mengingatkan sang istri untuk berjalan normal, khawatir jatuh atau keseleo. Namun tidak diindahkan. Rahma tetap berjalan cepat dengan bibir mengatup rapat.
Mizyan bergerak mendahului membukakan pintu mobil buat Rahma. Tahu, jika sang istri sedang menyimpan marah. Wajah cantik yang berubah ketus seperti dulu pernah tersaji kala ia sedang berjuang mendekati bundanya Dika itu. Namun kali ini Mizyan tidak berani menggodanya. Situasi berbeda.
Keduanya duduk berdampingan dengan seat belt yang sudah terpasang dan mesin yang sudah menyala.
"Sayang, ada klinik yang masih buka. Periksa dulu ya matanya. Takut iritasi." Bujuk Mizyan usai sejenak searching di google.
Rahma menggeleng. "Nggak usah, mataku gak papa. Sebenarnya yang perih dan panas bukan mata tapi hati." dipungkas helaan nafas panjang dan keras.
Mizyan membulatkan mulut, terkesima. Ternyata sang istri jago akting juga. Begitu luwes dan menjiwai.
"Kita langsung pulang ke hotel?" Menoleh menatap sang istri dengan berkata lembut. Bukan situasi yang pas melanjutkan membahas kejadian tak terduga barusan di dalam mobil apalagi sambil menyetir. Ia ingin bicara dari hati ke hati dalam keadaan suasana santai dan tenang.
"Aku mau jagung bakar." Kali ini suara Rahma lebih normal. Nampak merajuk.
"Siap, nyonya. Sekalian borong dengan gerobaknya juga hayu." Mizyan sedikit menyelipkan joke agar tensi kemarahan sang istri makin menurun.
Mizyan tak menyia-nyiakan kesempatan, menahan kepala Rahma. Meraup bibir yang sudah menjadi candunya itu. Me lu mat dan menghisapnya dengan lembut. Ia tersenyum senang, Rahma tidak menolaknya. Bahkan sama-sama larut dalam kenikmatan yang membuai.
Menyusuri jalanan Puncak yang ramai lancar, mobil berhenti di samping penjual jagung bakar yang sedang fokus menata jagung di pembakaran, melayani pesanan yang menunggu duduk lesehan di gelaran tikar. Mizyan membuka seat belt diikuti Rahma yang juga ingin turun.
Udara Puncak yang dingin dengan suhu 14°C, membuat Rahma menyilangkan kedua tangan di dada, sambil menggosok-gosok kedua bahu. Ia memesan dua jagung bakar rasa original dan harus menunggu 4 antrian lagi. Gestur Rahma membuat Mizyan reflek membuka jasnya. Menyampirkan pada bahu sang istri yang berdiri menatap kerlap kerlip lampu di dataran bawah sebagai pemandangan yang nampak di depan mata.
"Mas juga pasti dingin." Rahma ingin menolak jas itu namun ditahan Mizyan.
"Kita duduknya di sini!" Mizyan menarik tangan Rahma menuju pintu belakang mobil. Membuka pintunya ke atas dan mengajak sang istri duduk di ruang bagasi yang bersih sebab mobil baru dicuci siang tadi.
"Aku gak akan kedinginan kan sambil meluk kamu." Mizyan duduk rapat dengan satu tangan merangkum bahu Rahma dan tangan kanan meraih jemari Rahma, meremasnya.
"Aku kok rasanya pengen makan orang. Makanya diganti makan jagung."
"Hmm--" Mizyan menyimak dengan mengecupi tangan sang istri yang digenggamnya erat. Membiarkan Rahma mengeluarkan semua kekesalan yang bercokol di hati.
"Perempuan dari masa lalumu baru satu orang yang muncul. Bisa jadi nanti ada yang kedua, ketiga..." Rahma menghela nafas kasar.
Mizyan masih mencerna. Belum akan menjawab. Tangan yang merangkum bahu Rahma bergerak memberi usapan lembut menenangkan.
"Lain kali aku akan pasang badan. Enak aja main sosor- sosor. Yang udah jadi milikku selamanya hanya untukku. Tidak boleh ada perempuan lain memeluk suamiku. Kecuali Mami, Uma dan anak perempuan kita." Rahma melampiaskan kekesalan dengan berkata sengit sambil menatap kerlap kerlip bintang di langit pekat.
Mizyan menegakkan badan. Kaget sekaligus terkesima untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
Kemarahan Rahma di luar ekspektasinya. Ia mengira akan didiamkan berhari-hari sebagai hukuman. Mungkin juga disuruh puasa, tidur memeluk guling.
"Sayang, makasih." Mizyan mengeratkan pelukan. Membawa kepala Rahma bersandar di dadanya. "Aku sungguh pria beruntung. Kamu udah memuliakanku, menjadikan aku pria istimewa."
"Aku janji, akan mengingat semua ucapanmu. Hanya kamu, Mami, Uma, dan anak perempuan kita yang boleh memeluk aku. Begitu kan, Bunda?!"
Rahma menganggukkan kepala sebagai jawaban. Sebab Mizyan masih mengelus puncak kepalanya.
"Jujur, setiap aib masa laluku terkuak, saat itu pula harga diriku jatuh, percaya diriku runtuh di hadapanmu. Aku sangat malu terhadapmu." Mizyan mengecup puncak kepala penuh rasa bangga akan kelapangan hati istrinya itu.
Rahma mengurai pelukan. "Jangan seperti ini, malu banyak orang." Memperbaiki posisi duduk menjadi tegak dan memiringkan badan saling menghadap. Giliran ia yang menggenggam jemari Mizyan.
"Mas jangan pernah menampakkan kelemahan seperti ini di depan orang lain ya. Aku ingin Mas yang selalu penuh percaya diri tinggi." Rahma mengulas senyum, menatap hangat. Mengangkat jemari sang suami yang digenggamnya untuk dikecupnya.
"Iya, sayang. Hanya sama kamu aku memperlihatkan kerapuhan diri. Kamu pula yang berhasil mengokohkannya lagi." Mizyan tidak melepas tatapannya pada sosok yang bukan hanya cantik paras, tapi juga hatinya.
Menikmati malam yang cerah dengan hawa Puncak yang dingin menggigit. Mizyan dan Rahma berbagi jagung bakar, saling bertukar gigitan. Sambil mengayun-ngayun kaki yang menggantung di atas tanah, keduanya bercengkrama santai diiringi canda tawa. Peristiwa tadi sudah selesai dibahas dengan komunikasi lepas dan terbuka. Tanpa ada lagi kemarahan dan kekesalan yang tersisa di hati Rahma.
.
.
.
.
Di sebuah hotel berbintang kawasan Puncak. Jarum jam makin merambat naik. Membawa malam pada pergantian hari di jam 00. Tapi tidak menjadi risau untuk dua insan yang bergelung di balik selimut tebal dan hangat. Saling berbelit kaki, berbagi peluh dalam sentuhan skin to skin. Keduanya baru saja meniti puncak surga dunia bersama-sama di sesi pertama.
"Sayang--" Mizyan mengusap peluh yang mengembun di dahi Rahma yang terpejam dalam pelukannya.
"Hmm--" Rahma tidak ada tenaga untuk berucap.
"Kapan ya kita honeymoon? Bunda pengen pergi ke mana? Bilang aja."
"Entahlah, Papa. Aku ga akan tenang ninggalin Dika lama-lama. Boleh gak diganti liburan aja. Biar Dika diajak."
"Sure. Liburan harus. Aku gak ada maksud lupain Dika. Ada waktunya kita butuh quality time berdua kan. Jadi perginya gak perlu lama. Tiga hari misal." Mizyan masih melobi. Membelai pipi yang putih dan halus.
Rahma membuka mata. Nampak sang suami sedang menatapnya hangat sehingga tatapan saling bersirobok.
"Sekarang kita lagi quality time. Berarti kita lagi honeymoon." Rahma mengecup bibir Mizyan diiringi kerlingan nakal. "Setiap bulan kita bisa honeymoon di tempat yang berbeda. Jadi ga perlu pergi berhari-hari. Sehari aja...di hotel yang berbeda. Deal?!" Pungkasnya sambil mengangkat jari kelingking.
Mizyan menyambut dengan menautkan kelingkingnya diiringi senyum lebar. "Deal."
"Mau lanjut porsi kedua?" Tantang Rahma sambil menelusuri garis wajah blasteran yang nampak cerah dengan mata hazel yang berubah berkabut gairah lagi setelah mendengar penawaran menggiurkan.
"Aku mau porsi kedua lebih lama!"
"I'm ready." Rahma menyambutnya. Ia tahu titik sensitif mana yang mesti disentuh agar mesin turn on. Yang bisa membuat Mizyan menggeram dan mendesah panjang.
__ADS_1