MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 152. Kado (2)


__ADS_3

"Olla, bolehkah aku menciummu?! Rangga menatap manik mata hitam wanita cantik yang baru hitungan jam menjadi istrinya itu. Tatapan hangat dan mendamba seorang pria dewasa yang ingin memulai petualangan bercinta.


Olla menggelengkan kepala. "Enggak."


Rangga menghentikan gerak wajah yang kian mendekat demi mendengar satu kata penolakan Olla. Kedua alisnya bertaut. Heran.


"Enggak perlu ijin, Mas. Lakukan apa yang Mas inginkan. Aku sudah halal untukmu, asal jangan menyakiti." Sambung Olla diiringi senyum malu.


Rangga tersenyum lebar. "Aku mencintaimu Violla sayang. Aku tidak berjanji, tapi akan selalu berusaha memberi kamu hanya kebahagiaan. Tegur aku jika ada sikap dan perbuatan yang membuat hatimu terluka, membuat matamu menangis."


Olla tidak menjawab. Hanya melukiskan senyum manis simbol betapa terkesannya akan ucapan suaminya itù. Mata terpejam begitu hangat nafas aroma mint menerpa wajahnya.


Lembayung senja yang tak lama lagi akan undur, menjadi saksi dua bibir saling menyatu. First kiss yang menggetarkan dada, menimbulkan gelenyar yang menyengat dan menjalar mengikuti aliran darah. Berulang saling me ma gut dalam gelora asmara seindah lembayung senja yang kian memudar. Kedua kening pun beradu saat pasokan oksigen sudah habis. Menyisakan nafas yang memburu dan pandangan yang saling bertaut diiringi senyum simpul penuh arti.


"Maaf aku bisanya surat-surat pendek. Mungkin bacaannya belum bener ya." Rangga meringis malu usai dua kali menjadi imam sholat magrib dan isya. Menatap Olla yang mencium tangannya dengan khidmat.


"Bacaannya udah betul kok. Nanti hafalin lagi surat yang lainnya ya, Mas." Olla menyemangati tanpa mencela. Meski sebenarnya masih ada makhraj yang salah dalam pengucapan. Ia tidak ingin membuat malu Rangga. Banyak waktu ke depannya untuk menemani suaminya itu belajar mengaji lebih fasih lagi.


Petugas hotel mengantar trolly berisi menu makan malam spesial. Free service dari hotel selama tiga malam menginap. Sebab sepasang pengantin itu merupakan salah satu tamu kelas VIP.


"Maaf pak, ini ada titipan. Pengirimnya atas nama Pak Mizyan." Petugas hotel menyerahkan amplop coklat kecil kepada Rangga yang berdiri di ambang pintu.


"Makasih ya." Rangga melarang petugas membawa trolly ke dalam. Mengambil alihnya dan memberikan uang tips.


"Ayank, tolong siapin di meja makan ya!" Rangga memulai panggilan mesra untuk sang istri. Meminta memindahkan menu dinner dari trolly ke meja makan.


"Iya, Mas." Olla tersipu malu mendengar panggilan untuknya, membuat darahnya berdesir. Sejenak terpaku di depan cermin dengan sisir yang menggantung di rambut sebahunya. Rangga memaksa harus memakai mini dress berwarna hitam kado dari Bu Ima. Sebab ada surat tertulis harus dipakai di malam pertama.


Rangga menuju pantry. Penasaran dengan amplop titipan dari Mizyan yang teraba isinya bukanlah uang.


"Bro, minum ini 2 jam sebelum tempur. Biar stamina on fire."


Rangga tersenyum tipis membaca surat pendek dari Mizyan. Diremasnya kertas itu dan dibuang ke tempat sampah. Sesaat berpikir. Melihat penampilan Olla yang seksi dan menggoda, membuat hasratnya makin menggebu. Gak ada salahnya menyeduh minuman serbuk bergambar ginseng itu buat begadang sampai malam.


Rangga menghampiri meja makan dengan dua kursi saling berhadapan. Lilin-lilin yang terpajang di meja telah dinyalakan oleh Olla. Makan malam ala-ala candle light dinner siap dimulai.


"Ayank, kamu cantik sekali." Sebuah ciuman mendarat di pipi. Rangga menuntun Olla berdiri. Ingin menatap dengan puas dari ujung rambut sampai ujung kaki penampilan istrinya itu yang berbeda. Bu Ima memberikan kado yang tak terpikirkan olehnya. Apalagi kado dari Rahma. Hufttt....membuat gairah kelakiannya tiba-tiba bangkit lagi.


"Kita makan dulu, Mas. Karena menggombal juga butuh tenaga." Olla menimpali Rangga yang mendadak bersikap romantis itu.


Rangga terkekeh dengan jawaban Olla. amenggaruk tengkuk yang tidak gatal. Membuat eksperimen belajar aksi romantisnya menjadi ambyar.


"Ayank, Mas Mizyan ngasih ini. Aku seduh boleh ya?!" Rangga memperlihatkan satu sachet kiriman dari Mizyan itu untuk dibaca Olla. Keduanya selesai makan dan beralih duduk menempel di sofa.


"Terserah Mas Rangga." Olla mesem-mesem usai membaca khasiat minuman dengan komposisi ginseng dan purwoceng itu.

__ADS_1


"Yo wis, seduhin ya, yank!" Rangga mengecup pipi Olla. Merenggangkan pelukannya saat sang istri mau beranjak ke pantry.


****


Suara dering ponsel di meja tidak mengusik Rahma yang sedang rebahan di sofa di pangkuan Uma. Ibu dan anak itu sedang menonton televisi berdua. Sambil menunggu Ayah Badru yang masih di masjid mengikuti pengajian bulanan.


"Itu angkat dulu!" Uma mencolek lengan Rahma yang masih bergeming tiduran di pangkuannya.


"Siapa ya?!" Dengan malas Rahma bangun. Tidak mungkin telpon dari suaminya sebab deringnya berbeda. Dan ia baru saja usai ber video call bersama Dika dan Mizyan.


"Olla---" Keningnya mengkerut. Merasa aneh pengantin baru menelponnya di malam pertama.


Rahma menjawab ucap salam Olla.


"Mbak Rahma, maaf mengganggu malam-malam nih." Terdengar suara Olla yang merasa tidak enak hati sudah menghubungi Rahma.


"Gak papa teh Olla. Aku lagi nonton tv sama Uma. Malah aku yang kaget kok pengantin baru telpon. Bukannya lagi ehem-ehem---" Rahma menggoda diiringi kekehan.


Olla hanya tertawa sumbang.


"Justru itu ada hal yang mau ditanyakan. Begini....aduh gimana ya aku malu ngomongnya." Suara Olla terdengar ragu.


Rahma beranjak menjauh dari Uma. Beralih ke meja makan sekalian mengambil minum.


"Bilang aja ada apa, Teh Olla. Jangan sungkan."


"Aku sih gak masalah malam pertama cuma tidur aja. Lagian badan juga cape banget dan pegel kaki abis hajatan."


"Aku cuma khawatir dengan Mas Rangga. Tidur kayak orang pingsan. Aku menduga itu efek dari minuman yang dikasih A Iyan. Bukan karena makanan dan minuman dari hotel."


Rahma terkesiap mendengar penjelasan panjang Olla. Ingatannya melayang pada keisengan Mizyan yang menjadi biang kerok mengganggu di setiap malam pertama para sahabatnya. Ia menepuk kening dengan wajah meringis. Kirain udah insaf.


"Teh Olla...aduh maaf ya. Sepertinya Mas Rangga jadi korban keisengan suami aku deh." Suara Rahma terdengar penuh penyesalan.


"Maksudnya, mbak?!" Olla merasa belum faham.


"Sebentar ya aku telpon Mas Mizyan dulu buat mastiin. Nanti aku telpon lagi teh Olla." Ujar Rahma mengakhiri percakapan sementara.


Tidak menunggu lama. Sambungan video call diterima Mizyan yang nampak berada di ranjang menemani Dika tidur. "Sayang, ada apa?"


"Mas ngasih minuman apa sama Mas Rangga?! Barusan Olla telepon aku. Mas Rangga tidur layak orang pingsan setelah minum minuman itu." Rahma menatap tajam suaminya yang kini beralih duduk.


Mizyan terkekeh dan menaik turunkan. "Biasa Bun, misi penggagalan MP," ujarnya santai tanpa rasa bersalah.


"Ya Allah, Mas---- kirain dah insaf." Rahma geleng-geleng kepala dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Rangga jadi yang terakhir. Swear, Bun!" Mizyan mengangkat dua jarinya sembari cengengesan.


Rahma hanya bisa mendesah panjang dan mendecak. "Itu minuman bahaya gak? Aku harus ngabarin lagi Olla nih soalnya dia khawatir."


"Nggak dong, sayang. Itu minuman ginseng ditambah obat tidur dikit. Reaksinya sampai 4 jam aja. Nanti juga bangun bakal seger badan. Ya...itung-itung istirahat kan siang abis cape masa maen tempur aja." Jelas Mizyan kalem.


Rahma masih mengerucutkan bibir. Sebal dengan keisengan suaminya itu.


"Amit-amit jabang bayi deh." Rahma mengusap-ngusap perutnya yang masih rata. "Nak, jangan ikutan tengil kayak Papa ya sayang. Nanti Bunda bisa darting. Turuti yang baiknya aja, jangan diambil yang jeleknya," sambung Rahma bicara pada perutnya.


Mizyan tergelak. Lalu menutup mulutnya sebab takut membangunkan Dika yang baru saja tidur.


"Salah itu. Bukannya bikin Bunda darting, tapi bikin kangen terus sama servis Papa yang selalu bikin Bunda mendesah." Mizyan mengedipkan mata.


"Ishh...nyambungnya ke mesum aja." Rahma memutar bola mata. "Udah ah, aku mau telepon Olla lagi. Besok jangan lupa pulang pagi."


"Tuh kan....yang udah rindu pengen dicumbu." Mizyan masih senang menggoda Rahma.


Rahma mengakhiri panggilan. Senyum tipis terbit di bibirnya. Ia gak bisa lama-lama marah sebab Mizyan paling bisa menggodanya sampai bisa tersenyum lagi.


Kembali menghubungi Olla. Ia menjelaskan tentang minuman yang tidak membahayakan itu sesuai penjelasan yang didapat dari sang suami. Juga menceritakan keisengan yang dilakukan Mizyan menggagalkan malam pertama sahabatnya. Berbuah tradisi balas dendam para sahabatnya yang lain yang juga mengalami kegagalan malam pertama. Termasuk ia sendiri mengalami, suaminya itu disandera di kamar lain oleh para sahabatnya. Olla pun akhirnya mengerti.


****


Rangga terjaga di jam 3 dinihari. Terkaget melihat ada seorang wanita tidur di sampingnya. Baru tersadar setelah nyawa terkumpul sempurna jika wanita yang nampak lelap itu adalah Olla, istrinya. Ia perlahan menyingkap selimut. Pakainnya masih lengkap, dan Olla memakai piyama tidur.


Berarti semalam gak anu...


Rangga mengingat lagi aktifitas selama di kamar pengantin itu. Baru ingat, setelah minum obat kuat dari Mizyan, ia malah mengantuk berat.


Turun dari tempat tidur. Meraih ponsel yang mulai dimatikan selepas isya. Mengabaikan puluhan chat ucapan happy wedding dari teman-teman serta karyawan pabrik kayu dan peternakan sapi. Memilih membuka 2 pesan dari Mizyan yang dikirim di jam 00.


"Solidaritas itu adalah....Tak ada yang boleh lolos MP, termasuk my brother Rangga. 🤣"


"Tenang...masih ada siang pertama or malam kedua, dst. Happy honeymoon, broh."


Rangga menghela nafas panjang. Ia baru sadar sudah menjadi korban keisengan anak bossnya itu. Memilih mematikan lagi ponselnya. Kembali ke ranjang dan mencium kening Olla dan merengkuhnya.


"Mas----" Olla terjaga saat merasakan tubuhnya dipeluk.


"Sstt... tidur lagi, Yank. Subuh masih lama." Rangga membenamkan wajah Olla di dadanya. Lalu mencium rambut yang menguarkan wangi lembut.


Olla mendongak dengan mata menyipitenahan kantuk. Rasa penasaran membuatnya ingin bertanya. "Mas gak papa kan? gara-gara minum----" ucapannya menggantung sebab Rangga memotongnya.


"Gak papa, Yank. Mas Mizyan udah ngerjain aku. Dia memang suka iseng. Sekarang mending lanjut tidur. Biar pagi bangun segar dan bisa anu...." ujar Rangga sembari menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Olla tersenyum malu. Lebih merapatkan lagi tubuhnya. Menenggelamkan lagi wajah di dada yang bidang dengan keharuman maskulin yang nyaman menyapa hidung. Rengkuhan tangan kekar suaminya itu begitu menentramkan dan membawanya kembali lelap dalam damai.


__ADS_2