
Di ruang makan, tuan rumah dan tamu masih duduk di kursi masing-masing meski sudah selesai makan. Rahma yang baru bergabung duduk di samping Mizyan nampak makan dengan sedikit nasi namun dengan dua rupa lauk sesuai keinginan perutnya. Sekaligus menjadi pendengar obrolan ringan antara Papi Mark dan Mizyan dengan para tamu.
Rangga datang dan berbisik di telinga Mizyan. Membuat Mizyan bangkit usai permisi dulu terhadap para tamu.
"Ada apa?!" Mizyan mulai penasaran hal penting apa yang ingin disampaikan Rangga sampai harus meeting di dapur.
"Mas, aku nanti ngobrol apa sama Olla?" Rangga menatap bingung. Padahal dari tadi ia sudah siap dengan nampan berisi aneka kudapan dan buah potong segar. Tapi belum jua melangkah ke ruang playground sebab mendadak tubuhnya menjadi tegang dan otaknya blank.
Mizyan menepuk keningnya diiringi helaan nafas panjang sebagai respon pertanyaan Rangga yang menurutnya aneh. "Mau ngobrol sama Olla kenapa harus nanya sama gue. Up to you!" ujarnya sambil menggedikkan bahu.
Rangga tersenyum menyeringai dengan tangan menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ya kan aku takut salah ngomong. Gak bisa basa basi. Gimana kalo keceplosan bilang....Olla, aku suka kamu."
"Hei...jangan dulu nembak. Nanti dia bisa ilfill sama lo." Mizyan menggeleng tak setuju. "Haiss, bener-bener nih anak polos banget urusan cewek," sambungnya dengan tangan menyugar rambut. Merasa gemas terhadap Rangga.
"Tuh kan...makanya aku butuh nasehat master." Sahut Rangga merasa tidak salah membawa Mizyan ke dapur untuk konsultasi.
"Hi hi hi----" Wanda yang sedang menyeduh kopi terkikik. Tentu saja ia mendengar jelas perdebatan dua pria tampan beda bibit itu.
"Wanda, lo ngetawain gue?!" Sarkas Rangga menoleh ke asal suara dengan mata menyipit menatap chef Iwan Damian.
"Em ber." Sahut Wanda santai sambil mengaduk kopi hitam dalam gelas. "Mas Rangga mah pinternya ngelobi relasi. Urusan asmara mah oon---," sambungnya diiringi tawa lepas meledek sang asisten.
Rangga mengacungkan tinju ke arah Wanda yang memeletkan lidah. Dan kini acuh duduk santai di mini bar sambil membuka ponsel untuk berselancar membuka akun sosmednya. Tugas meramu masakan sudah selesai. Waktunya bersantai membaca semua komentar netizen di chanel yutubnya, setelah tadi pagi meng upload cara menanam pakcoy secara hidroponik. Hobi berkebun yang menghasilkan rupiah. Dan lokasi tanamannya ada di samping kiri bangunan villa.
"Lo itu baru level 1." Mizyan kembali pada topik. "Jadi ngobrol hal-hal sepele dulu. Misal ngomongin yang sekarang viral kek. Or ngobrol soal motor trail, kan pas...punya hobi yang sama. Nanti juga lo akan ada celah berbicara ke arah serius."
"Kalo pake gombalan receh gimana, Mas? Kan biar suasana rame, bisa ketawa-ketawa gitu." Pandangan Rangga menerawang mengkhayalkan wajah Olla tertawa riang.
"Emang bisa ngegombal?!" Mizyan menatap sambil tersenyum sinis. Meledek.
"ENGGAK!" Jujur Rangga.
Terdengar gelak tawa Wanda membahana. Tentu saja mentertawakan kejujuran sang asisten boss Mark itu. Sampai-sampai memegang perutnya sebab tertawa puas.
"DIEM LO!" Rangga membentak jengkel.
__ADS_1
"Eh...diem diem diem lo!" Wanda menutup mulut sebab latah akan ucapan Rangga.
Mizyan menghembuskan nafas kasar melihat kelakuan Rangga yang menyolot pada Wanda. Yang tentu saja tidak dimasukkan ke hati sebagai hal serius.
"Bro, inget ya ini level 1. Artinya baru penjajakan. Jangan ada gombalan-gombalan. Lagian karakter lo gak cocok ngegombal. Be your self!" Mizyan menepuk-nepuk bahu Rangga, memotivasi. Dan menjadi perbincangan terakhir keduanya.
"Lah.....kopi aku?!" Wanda menatap kaget saat akan meminum kopinya. Hanya sebentar ia meninggalkan mini bar untuk mencharger ponsel di meja samping kulkas. Kini tersisa gelas kosong dengan tetesan hitam.
"Wan, thanks kopinya." Mizyan yang sudah berjalan 5 langkah setelah Rangga lebih dulu pergi sambil membawa nampan, membalikkan badan dan mengacungkan jempol sebagai kepuasan rasa kopi yang nikmat.
"Omegot, mana kopinya abis lagi." Wanda mengelus dada dengan wajah sedih penuh drama sebab kopi premium itu stok terakhir yang ada di toples. "Mas Bul...Mas Bul, gatel kayaknya sehari gak jahilin eyke. Kepaksa eyke minta kopi warungan ke security dah." pungkasnya berbicara sendiri dengan kesal. Ia berjalan lewat pintu belakang menuju pos jaga.
Usai makan bersama, sholat isya berjamaah dilaksanakan di musholla atas permintaan Papi Mark. Tidak ingin menyia-nyiakan kedatangan tamu orang-orang saleh saleha yang merupakan pendidik di bidang agama itu.
"Pak Faisal, saya minta waktu ngobrol berdua, sebentar saja." Mizyan menahan Faisal yang hendak berdiri usai berjamaah. Dan mendapat anggukkan sang imam sholat meski terlihat berwajah penuh kepenasaran.
Papi Mark dan Rangga serta makmum perempuan pun keluar lebih dulu. Menyisakan Mizyan dan Faisal duduk berhadapan di karpet musholla yang empuk.
****
"Eh, udah sholatnya?" Olla yang menjadi instruktur dua bocah, mengangkat kedua tangan ke atas lalu memutar tubuh, nampak kaget dan malu mendapati Rangga sedang memperhatikannya.
"Bu Olla seneng sama anak-anak ya?!" Rangga mengabaikan pertanyaan Olla. Berjalan mendekat dan berdiri di sisi Olla. Menjadi penonton Dika dan Salwa yang meminta lagi mengulang permainan.
"He he, iya." Jawab Olla malu-malu. Memilih menyudahi permainan sebab merasa sungkan dilihat Rangga.
"Lanjutin aja, anggap aku ayahnya murid yang lagi nonton anaknya belajar." Rangga bisa membaca raut malu di wajah Olla. Mulai lebih mengakrabkan diri dengan kata 'Aku'.
Olla, aku bisa jadi ayah dari anak-anak kita.
Rangga mengerem ucapan di kerongkongan. Teringat ucapan Mizyan jika misi untuknya baru level 1. Komunikasi dengan Olla sudah mengalir natural usai tadi memulainya sebelum sholat. Benar apa kata sang master, membicarakan tentang hobi membuat obrolan menjadi seru. Sambil mengawasi bocah bermain, ia juga bisa menikmati wajah gadis pujaan dari dekat.
Di ruang perpustakaan, Fatimah mengamati dengan penuh kekaguman rak-rak tinggi berisi buku-buku. Pandangannya mengedar menyapu sekeliling. Meraba dari dekat sekat kaca yang berisi buku-buku tebal dan mengeja judul buku yang nampak dari samping.
"Papi hobinya membaca buku." Rahma membuka percakapan. Ia sengaja membawa Bu Ima ke ruang perpustakaan untuk sebuah rencana.
__ADS_1
"Aku juga baru tahu jika Papi sudah sejak lama mempelajari Islam." Rahma menunjuk pada lemari terpisah berisi buku tema agama Islam dari berbagai penerbit dalam dan luar negeri.
"Maa sha Allah." Sahut kekaguman terlontar dari bibir Fatimah. Ia minta ijin pada Rahma untuk mengambil sebuah buku.
"Saya kalau sudah lihat buku bikin lapar mata." Fatimah menarik satu kursi pada meja baca yang memanjang. Yang memang fleksibel selain tempat baca, juga dipakai meja meeting. Matanya begitu berbinar menatap lembar pertama buku yang dipegangnya.
"Wah, hobinya sama dong seperti Papi." Rahma turut menarik kursi, duduk berhadapan dengan Fatimah.
Fatimah mendongak. Mengulas senyum terhadap Rahma sebagai responnya.
"Papi kalau gak ada aku dan Mas Mizyan datang ke sini, ya ngabisin waktu senggangnya di perpustakaan ini sambil menunggu ngantuk." Rahma menopang dagu dengan satu tangan menatap Fatimah yang sedang menunduk menyelami buku. Menanti respon.
"Aku dan Mas Mizyan berharap Papi punya pendamping hidup lagi. Agar ada yang membimbingnya belajar agama 24 jam. Agar bahagianya sempurna."
Fatimah mencerna semua ucapan Rahma. Menatapnya dengan raut wajah tenang.
"Menurut Bu Ima gimana?!" Rahma menurunkan kail umpannya.
"Maksudnya?!" Fatimah bingung. Merasa ambigu.
"Tentang harapan kami yang ingin Papi punya pendamping hidup."
"Menurut saya....itu niat mulia. Memikirkan kebahagiaan orang lain terlebih ini kebahagiaan orangtua. Allah pasti mendengar niat baik mbak Rahma dan Mas Mizyan. Semoga do'anya terkabul." Tulus Fatimah sambil menggenggam tangan Rahma diiringi senyum lembut.
"AAMIIN YA ALLAH---" Rahma begitu antusias mengaminkan do'a.
"Bu, aku tinggal dulu ya...mau ke kamar mandi." Rahma beranjak berdiri usai mendapat anggukkan dari Bu Ima.
Fatimah kembali terpekur pada buku yang ada di hadapannya, sepeninggal Rahma. Buku bacaan itu sangat menarik hatinya untuk dibaca.
"Eh, ada Bu Ima?!"
Sontak Fatimah menolehkan wajah pada sumber suara.
"Pak Mark!" Fatimah tergeragap menatap Mark yang mendekat.
__ADS_1