
Have a good fight (Selamat Berjuang)
Rahma PoV
Merasakan perih dan nyeri di tangan ditambah melihat ayah yang belum juga sadar membuat aku sangat-sangat takut dan terus meringis. Begitu Mizyan menawarkan air minum, aku langsung saja meneguknya dengan cepat sebab rasa tegang dan takut membuat tenggorokanku kering. Meski Mizyan bilang minuman itu bekas minumnya. Tak masalah.
Yang menjadi masalah untuk hati dan jantungku adalah perhatian Mizyan. Wajah seriusnya kala menatap luka di tanganku, terus entah menelpon siapa menanyakan letak P3K dan lalu membebat dengan perban luka agar tak terus menerus mengucur darah, semua tak luput dari perhatianku. Berada dengan jarak sedekat itu membuatku baru menyadari jika Mizyan sangatlah tampan. Gerakan tangannya yang terulur mengelus kepala agar aku tahan sebab sebentar lagi sampai rumah sakit, sungguh menimbulkan gempa kecil di hatiku. Merasa ada reruntuhan yang menembus jantung. Bukan menimbulkan sakit tapi merasa ada rasa yang mengawang terbang ke angkasa.
Dokter juga sok tahu. Dia kira aku ini istrinya Mizyan sampai-sampai minta agar Mizyan menenangkan aku yang takut dengan jarum. Aku tak berdaya menolak rengkuhannya agar bersembunyi di dadanya. Melihat jarum, gunting, dan entah apa saja yang ada di nampan, buatku alat-alat itu sangat mengerikan. Berharap dibius total atau pingsan saja daripada berlabuh di dada Mizyan menyembunyikan wajah. Tapi nggak bisa pingsan. Malah aku bisa dengar degup jantungnya Mizyan berdetak dengan ritme tenang seirama. Berbeda dengan tubuhku yang malah tegang lagi dan jantung berdegup tak beraturan sebab berjarak terlalu intim dengan Mizyan.
Bius lokal yang diberikan dokter menjadi kurang efek sebab tubuhku tak bisa rileks dengan lama, tegang lagi. Alhasil aku merasakan sakit dan ngilu kala tusukan terakhir jarum. Dan aku malah terlena merasakan nyamannya usapan tangan kokoh Mizyan di kepalaku yang berbisik menenangkan. Usai lukaku dijahit, aku duduk di tepi bed menatap Ayah yang masih ditangani dokter dan perawat. Entah karena lelah setelah peristiwa mengerikan tadi, membuatku mendadak mengantuk.
"Bun, Pak Badru udah sadar."
Bisikan pelan di dekat telinga diiringi tepukan halus di pipi membuat aku terperanjat seketika. Ya Allah, aku malah ketiduran. Di bahunya lagi. Sejak kapan? Mau dikemanakan ini muka yang sudah memerah. Malu luar biasa.
Aku cepat-cepat turun dari bed dan menghampiri Ayah yang mengerjap-ngerjapkan mata. "Ayah, apa yang sakit?" tanyaku dengan cemas takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Ayah pusing kepala." Ayah tampak memandang sekeliling dengan raut heran lalu menggeleng-geleng kepala. "Ini dimana, Rahma?
"Di rumah sakit, Yah. Tadi kita kena begal. Untung ada Mas Mizyan nolongin." Bersamaan dengan itu dokter dan perawat menghampiri sambil memberikan penjelasan hasil rontgen. Alhamdulillah, perasaanku lega Ayah hanya cedera ringan dan diperbolehkan pulang dengan diberi resep obat yang harus diminum sampai habis.
"Tasku tadi dicuri. Nanti aku ganti di Bandung." Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang menyeruak di depan Mizyan yang selesai mengurus administrasi dan menebus obat untuk aku dan Ayah. Bagaimana tidak sedih, semua uang dan barang berharga raib.
"Sssttt. Jangan banyak pikiran. Kita pulang sekarang!" Mizyan mengusap kepalaku sekilas. Gestur yang justru menimbulkan desiran halus di dada.
Aku memperhatikan jalan yang dilalui mobil yang kemudikan Mizyan masuk ke jalan kampung melintasi tempat kejadian saat aku di begal. Ayah yang duduk di belakang sama sekali tak memperhatikan jalan. Malah menyandarkan kepala ke sandaran jok sambil memejamkan mata.
"Tenang, Bun. Mobilmu sudah ada yang urus." Mizyan seolah tahu kegelisahan yang tengah aku rasakan.
"Kita mau ke mana, Mas?" Aku mengernyit satelah mobil melintasi masjid yang dekat dengan gang rumah Mang Ojak.
"Ke rumahku. Lebih tepatnya rumah Papi. Nanti Polisi akan datang meminta keterangan, kamu jelasin aja semuanya."
Aku tak menyahut. Memilih mengedarkan pandangan ketika seorang petugas jaga membukakan gerbang tinggi hingga menampakkan jalan hotmix dengan pepohonan rindang di kiri dan kanannya, jalan menuju bangunan yang lebih tepat disebut villa yang klasik yang mewah.
Ah lega, mobilku ternyata ada terparkir di samping mobil sport merah.
****
__ADS_1
Mizyan PoV
"Ga, bantuin!" Aku berteriak memanggil Rangga yang berdiri di depan pintu masuk berbahan kayu jati yang terbuka lebar.
Rangga sigap membopong langkah Pak Badru yang tampak masih lemas dan pusing. Sementara Rahma berjalan mengekori di belakangnya.
"Bapak sama Rahma sekarang makan dulu karena harus minum obat. Nanti Bapak bisa lanjut istirahat di kamar." Aku pun memanggil asisten rumah tangga untuk menyiapkan makan siang.
"Kami sudah merepotkan Nak Mizyan." Pak Badru tampak tidak enak hati lalu mengucapkan terima kasih berkali-kali. Aku hanya mengangguk dan meminta Pak Badru jangan banyak pikiran dulu. Aku juga menemani Rahma dan Pak Badru makan agar mereka tidak merasa canggung.
Aku sudah minta tolong Papi yang punya koneksi dengan orang kepolisian agar mendatangkan petugas ke villa. Kasihan Rahma dan Pak Badru jika harus membuat lapotan dengan datang langsung ke Polsek.
"Awalnya saya merasa jalannya mobil tidak nyaman. Pas dilihat dari spion ternyata ban belakang kanan gembos. Ayah turun untuk mengecek kondisi ban. Pas lagi jongkok tiba-tiba ada 2 orang laki-laki datang, yang satu memukul bagian kepala Ayah, satu lagi mengambil tas saya. Kejadiannya sangat cepat kira-kira 1 atau 2menitan." Rahma menceritakan kronologis kejadian terhadap 2 orang anggota reskrim yang datang ke villa.
"Apa saja barang yang hilang, Bu Rahma?" Satu petugas mengajukan pertanyaan berikutnya.
"Tas saya, isinya uang cash 39 juta dalam amplop coklat. 1 iphone. Dompet berisi uang cash 2 juta, KTP, SIM A. Dompet kartu isinya...."
Rahma menyebutkan secara rinci semua kartunya yang berharga. Aku yang duduk mendampingi di sisinya merasa kaget dengan isi tas yang dicuri itu. Sepertinya pencuri sudah tahu jika Rahma bawa uang banyak, sudah sudah diincar, pikirku.
"Bisa dijelaskan ciri-ciri pelaku? Ciri-ciri kendaraan yang dipakai pelaku?"
Petugas dari kepolisian sudah pulang, tinggal menunggu hasil penyelidikkan. Aku mengulurkan ponsel pada Rahma setelah mencatat nomer call center tiga nama bank yang tadi disebutkan.
"Kamu telpon call center dulu. Minta semua kartumu diblokir. Pakai aja ponselku!"
"Ah iya." Rahma menerima ponsel. Sepertinya baru sadar jika semua kartunya harus diblokir demi keamanan.
"Ponselnya di password." Rahma mengembalikan lagi ponsel padaku.
"Passwordnya, bundadika13." Aku menyuruhnya mengetik sendiri karena ingin menikmati wajah yang tersipu malu setelah mendengar nama sandi yang aku sebutkan.
.
.
"Who is she?"
Papi menatapku dengan kedua alis bertaut kala Rahma dan Pak Badru pamit masuk ke kamar tamu bersiap-siap untuk pulang. Pertanyaan penuh keingintahuan usai aku memperkenalkan Rahma dan Pak Badru dimana Papi baru pulang dari peternakan.
__ADS_1
"My future wife and my future father in law. Hopeful." Aku tersenyum lebar sambil menaik turunkan kedua alis menatap Papi yang langsung saja meninju lenganku.
"Have a good fight." Papi meninju lenganku lagi lebih keras sebelum ia berlalu ke kamarnya untuk mandi. Papi menyuruhku berjuang. Bukankah itu artinya Papi mendukungku. Yess.
"Nda, tapan puyang?!"
Aku mendengar suara rengekan Dika begitu keluar dari kamar usai berganti baju. Bersiap mengantar Rahma dan Pak Badru pulang ke Bandung selepas magrib ini. Tampak mereka berdua tengah duduk di sofa sambil menatap layar ponsel.
"Sekarang mau pulang, sayang. Tunggu Bunda di rumah ya." Rahma mendongak menatap kedatanganku sambil mengulas senyum.
"Dika tebak...Bunda lagi sama siapa?!" Lagi-lagi Rahma tersenyum kala menatapku sekilas. So sweet, Bun.
"Cama tate. Atu udah liat, Nda---" Terdengar suara Dika yang masih dengan nada merajuk. Aku yang duduk di sofa sebelahnya ikut mengulas senyum. Pak Badru pun sama.
"Hm. Terus sama siapa lagi coba?!" Rahma benar-benar sengaja menggoda Dika. Ia pun melirikku lagi.
Oh, Rahma. Lirikan matamu itu bikin aku gemes pengen meluk (lagi). Aku malah ingin merevisi deadline 2 bulan jadi 3 minggu saja setelah mendengar Rahma memanggilku Mas. Sungguh terdengar merdu mendamba. Aku merasa menjadi pria berarti untuknya.
Rahma menyerahkan ponsel ayahnya kepadaku. Begitu aku menatap layar, di sebrang sana tampak Dika terperanjat dan memekik girang.
"Om Buye.....Om Buye atu...." Suaranya yang kencang membuat aku meringis sebab telinga terasa berdenging. Namun tak urung membuatku tertawa menyaksikan Dika yang melompat-lompat kegirangan. Tapi tak lama kegirangan itu berubah menjadi cemberut dengan wajah lebih dekat terhadap layar.
"Om, atu juja mau cama Om----" Dika bahkan mengulurkan tangan seolah minta digendong.
"Tunggu ya. Om akan ke sana sama Bunda dan Kakek."
"Yess." Dika mengepalkan tangan mungilnya ke atas, meninju udara. "Atu mo main cepatu loda cama Om ya?!"
"Oke, boy." Aku memberi hormat untuk menyenangkan hati bocah di sebrang sana itu.
"I love you, Dika." Aku mengakhiri obrolan dengan Dika yang terus berceloteh tanpa henti mengingat waktu yang terus beranjak malam. Jangan sampai terlalu larut pulang ke Bandung.
"Alapyu tu, Om." Dika membalas dengan lambaian tangan penuh semangat.
Padahal aku berharap serta membujuk Rahma dan Pak Badru agar mau menginap semalam di villa untuk menenangkan diri. Peristiwa tadi siang mungkin saja masih meninggalkan shock untuk keduanya. Tapi mereka keukeuh mau beristirahat di rumahnya saja. Apa boleh buat.
Demi alasan keselamatan, aku meminta Rangga check up ulang kondisi mobil Rahma dan menyusul besok dibawa ke Bandung. Oleh-oleh yang ada di bagasi dialihkan ke Rubicon yang aku pakai.
Sepanjang jalan Rahma banyak diam dengan wajah yang murung. Hanya menjawab pendek jika aku bertanya. Sepertinya ia tidak ada mood untuk berbicara. Aku pun memilih diam namun sambil tetap memperhatikannya juga keadaan Pak Badru di belakang yang banyak tidur karena efek obat. Sudut mataku bisa menangkap jika kini Rahma mengusap pipinya.
__ADS_1
Rahma menangis?