
Mobil Nico terparkir di depan rumah Rahma. Sebelumnya sudah janjian jika sabtu pagi ini akan berangkat sama-sama ke Jakarta. Jika Nico dan Suci akan berkunjung ke rumah orangtua Nico. Sementara Rahma akan berakhir pekan di rumah Candra sambil menunggu hari senin bertemu pengacara.
Dika bersama Manda anteng memainkan robot sapi di lantai ruang tengah. Mengabaikan para orang dewasa yang duduk bersama di meja makan tengah berbincang serius ditemani sajian bika ambon dan teh hangat.
"Nico, Om nitip Rahma kalau mau ke rumah bu Indah." Ayah Badru memang tak menjalin komunikasi dengan baik dengan besannya itu sebab Bu Indah sendiri yang menjaga jarak. Makanya kala sekarang mau melepas putrinya pergi, ia merasa ada kekhawatiran.
"Tenang Om, aku sama Suci emang berencana akan mengantar Rahma ke rumah tante Indah." sahut Nico.
"Ayah jangan khawatir, mama Indah udah baik. Tadi juga udah telepon lagi nanyain sudah berangkat belum." Rahma ikut menimpali disela kesibukannya memasukan dus-dus kue sebagai oleh-oleh untuk Mama Indah, Bunda Devi dan Salma.
Drama terjadi ketika bersiap berangkat. Dika ingin membawa serta ketiga robot sapinya, namun dilarang oleh Rahma sehingga membuatnya menangis.
Rahma menjauhkan diri sambil menggendong Dika untuk menenangkan "Sayang, dengerin Bunda---Nanti kalau dibawa, sapinya bisa loncat dari mobil. Terus Dika jadi nangis, nanti Om bule juga jadi sedih." Ujarnya pelan sebab tidak mau terdengar oleh yang lainnya.
Dika mulai menghentikan tangisnya usai mendengar alasan bundanya. "Mending sapinya suruh bobo di kamar aja ya, jagain kasur Dika. Oke?" Rahma mengangkat tangan kananya untuk melakukan tos.
"Oke, Nda." Dika menepukkan tangannya menyambut tos tangan sang bunda.
"Anak soleh---" Rahma mencium pipi Dika yang sudah berhenti menangis. Ia lalu mengajak Dika membawa robot sapinya ke kamar, menyimpannya di tengah kasur. Sebagai gantinya ia memilihkan mainan mobil-mobilan yang akan dibawa ke Jakarta. Bukan tanpa alasan, Rahma melarang membawa robot sapi. Ia teringat ucapan Mizyan jika tidak punya lagi pengganti jika mainan itu rusak.
Perjalanan hampir 4 jam pun tiba di depan rumah Candra dengan lancar dan selamat. Sudah ada Salma bersama si kembar Raka dan Rayi menyambut diteras dengan sukacita. Dika dan Manda tidak ada kata lelah, langsung berbaur main dengan si kembar usai bersalaman dengan Ateu Salma dan Om Candra yang muncul dari dalam rumah.
"Lama nggak ke Jakarta berasa banget gerahnya," Rahma menyeka wajahnya yang berkeringat dengan tisu.
"Bukan Jakarta dong kalau nggak panas," sahut Salma yang sibuk mengeluarkan wadah dari dalam kulkas. "Nih, aku udah siapin yang seger-seger buat ngademin." Ia menutupkan pintu kulkas dengan lututnya sebab kedua tangannya memegang wadah dan makanan.
"Yes, asinan. Pas banget ini." Suci yang baru keluar dari kamar mandi tampak semringah melihat rujak asinan yang tersaji di meja.
"Curiga lagi isi, teh." Rahma memicingkan mata menatap ke arah perut Salma.
Membuat Salma meraba perutnya dengan bibir cemberut. "Ini bukan isi bayi, tapi lemak."
Sontak Rahma dan Suci tertawa lepas melihat tingkah Salma yang konyol mengelus-ngelus perut yang sedikit membuncit.
"Diet gagal terus gara-gara suka ngabisin makanan sisa anak-anak. Kalau dibuang kan sayang mubazir, jadinya aku jadi tim penyapu deh." lanjutnya sambil geleng-geleng kepala.
"Aku juga sama teh, nyuapin Dika sambil ikut makan juga. Kalau nggak abis, ya aku yang abisin. Tapi Alhamdulillah nggak bikin perut ngerempel." Sahut Rahma kembali tertawa.
"Idem." Suci pun menyahut pendek disela menyuapkan asinan ke mulutnya.
"Hmm, kasusnya beda dong. Aku mah ngabisin sisa 2 anak. " Salma sok serius menatap Rahma dan Suci. "Anakku kembaran dalam segala hal. Baju harus sama, mandi harus bareng, makan harus bareng. Termasuk kalau yang satu nggak abis, satunya lagi ikutan juga. Jadinya aku makan 2 piring," pungkasnya dengan mendelikkan mata.
__ADS_1
"Kenapa emak-emak kalau sudah ngumpul suka heboh?!" Candra datang bergabung di meja makan sebab mendengar tawa riang yang terdengar sampai ke teras dimana ia tengah mengobrol dengan Nico. Kemudian disusul Nico berjalan di belakangnya, sama-sama menarik kursi.
"Maklum jarang ketemu, bang. Yang penting tidak gibahin orang." Suci yang mewakili menjawab.
Sore harinya, Nico dan Suci pamit pergi ke rumah Bunda Devi, akan menginap di sana. Dan esok akan menjemput Rahma, bersama-sama menuju rumah mama Indah.
****
Rahma ingat betul, ini kali ketiga ia menyambangi rumah mertuanya itu. Pertama sebelum menikah, Malik memperkenalkannya sebagai calon istri. Di luar ekspektasi, mama Indah memalingkan muka, terang-terangan menampakkan ketidak setujuan. Kali kedua sebulan setelah menikah, dan disambut sikap mertuanya itu yang meradang. Sehingga Malik memutuskan tak akan lagi menginjakkan kaki ke rumah mamanya.
"Kamu takut?" Tahu-tahu Suci sudah membukakan pintu dan menyentuh lengan Rahma yang tampak diam di joknya.
Membuat Rahma tergeragap tersadar dari lamunannya. "Eh, nggak kok. Ayo Dika turun!" Ia mengalihkan dengan mengajak anaknya keluar dari mobil.
Baru keluar dari mobil, mama Indah datang dengan tergesa menyongsongnya. "Akhirnya kalian datang juga. Mama seneng banget--" Ia memeluk Rahma, mencium kedua pipinya dengan luapan perasaan bahagia. Lalu beralih memeluk Suci dan Nico.
"Cucu Oma, apa kabar sayang?" Terakhir Mama Indah menciumi Dika yang menggelayut dinlengan Rahma, tak mau lepas.
"Alhamdulillah sehat, Oma." Rahma yang berinisiatif menjawab sebab Dika malah menyembunyikan muka di balik lengannya usai menyalami neneknya itu.
"Ayo kita masuk. Ngobrolnya di dalam." ajak Maam Indah yang berjalan lebih dulu.
"Sebel aja. Kayaknya dia akting sok baik," Nico menjawab pelan.
"Hus ah. Jangan dibiasakan suudzon. Smile---" Suci menjawil bibir Nico sambil memberikan contoh senyuman. Barulah Nico menurutinya.
Rahma terpaksa menuruti keinginan mama Indah yang memintanya menginap malam ini sebab ingin mengajaknya dan Dika jalan-jalan mumpung ada di Jakarta, rayu neneknya Dika itu.
"Kalau gitu kita pamit dulu, tante. Besok aku jemput lagi." Nico memutuskan untuk pulang setelah Rahma menyetujui untuk menginap.
"Kok buru-buru, Nico. Nanti makan siang dulu rame-rame." Mama Indah berusaha mencegah.
"Makasih, tan. Aku mau nyusul Bunda lagi ngasuh cucu ke Ragunan."
Selepas kepergian Nico dan Suci, Rahma mulai merasakan kekakuan harus bersikap bagaimana di depan Teo, suaminya mama Indah, yang menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Dika dibujuk mama Indah agar mau mengikutinya masuk ke kamar untuk di beri hadiah mainan, entah kamar siapa.
"Sudah berapa lama Malik meninggal?" suara Teo memecah keheningan ruang keluarga yang hanya ada 2 orang yang duduk. Mama Indah bilang, anaknya Alex belum pulang sejak semalam menginap di apartemen temannya.
"Bulan ini bulan kesepuluh, Om." Ia teringat Malik yang enggan menyebut 'Papa' terhadap Teo.
"Bagimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik?"
__ADS_1
"Saya selalu merindukan bang Malik. Meski hati udah ikhlas tapi kenangan manis bersama Abang selalu terbayang." Rahma menjawab sejujurnya.
Teo manggut-manggut tanpa menyahut lagi.
Benar saja apa yang diucapkan mama Indah. Seharian ini Rahma dan Dika diajak jalan-jalan, shopping di mal yang dekat dengan bundaran HI. Membelikanya pakaian juga mainan untuk Dika. Rahma berusaha menolak kala pakaian dan mainan yang dibelikan mama Indah lebih dari satu, apalagi melihat harga yang fantastis. Ia bukan tidak mampu beli, tabungannya cukup. Namun cara seperti itu tidaklah mendidik, tidak baik buat perkembangan sang anak. Dika tentu saja senang yang ada mendapat banyak mainan, sebab pemikirannya masih polos.
Jam 8 malam barulah sampai di rumah. Sopir membantu menurunkan barang belanjaan dari jok baris ketiga dan bagasi. Rahma terpaksa menerimanya sebab mama Indah memaksa.
"Please jangan nolak! Kapan lagi kamu dan Dika datang ke rumah Mama. Belum tentu tiap bulan kan"
Alasan mama Indah memang masuk di akal. Tapi ia tetap kurang suka, tidak biasa memebeli barang yang tidak dibutuhkan.
"Ma, boleh aku ke kamar? Dika kayaknya udah ngantuk." Rahma beralasan untuk menghindar dari tatapan tak mengenakkan Alek yang berhenti bermain PS kala dikenalkan oleh Teo padanya.
"Oh iya, Rahma. Kalian istirahat aja. Barang-barangnya nanti dianterin bibi ke kamar." Mama Indah pun berteriak memanggil asisten rumah tangga.
Biasanya kalau seharian main, Dika akan cepat tidur. Tapi sekarang anaknya itu masih berguling-guling di kasur dan merengek ingin pulang. Usai melipat mukenanya, Rahma naik ke ranjang dan mulai menepuk-nepuk bo kong Dika yang menyusup ke dadanya. Paper bag pakaian dan mainan yang teronggok di sudut tembok sama sekali tak menarik Dika untuk mengacak membukanya.
"Nda, mo puyang--" Dika keukeuh merengek pada keinginannya meski berkali-kali Rahma membujuknya jika besok pagi pasti pulang.
Bunda juga sama, sayang. Pengen pulang.
Ia beralih mengusap-ngusap punggung Dika sambil melantunkan solawat. Waktu rasanya lambat bergerak. Sekarang baru jam 9 dan ia pun sama.tidak bisa tidur.
"Rahma, kata mas Nico kalau ada apa-apa cepet kabari."
Ia teringat pesan yang diterimanya dari Suci kala berada di mal. Sebenarnya nggak ada apa-apa, hanya saja tidak betah dan sedikit takut dengan tatapan mata Teo dan Alex yang membuatnya tak nyaman. Kalau bukan karena menghargai, pengennya malam ini kembali ke rumah bang Candra.
Suara dering ponsel mengalihkannya keluar dari lamunan. Mendadak hatinya merasa lapang melihat nama pemanggil video yang tertera di layar.
"Dika, ada Om bule." pekik Rahma tampak senang.
Dika terperanjat bangun mendengar ucapan bundanya. Ia terduduk sambil menggosok matanya yang berair sebab menangis manja.
"Nda, atu mau Om!" Dika ingin mengambil alih ponsel yang dipegang bundanya.
"Bentar sayang, Bunda pakai jilbab dulu." Ia tak mau ceroboh lagi. Dengan cepat ia berlari meraih jilbab instan yang teronggok di sofa.
Kamu selalu hadir di kala sulit.
Ponsel yang dipegannya masih berdering. Ia sempatkan mengaca dulu, tak mau tampilannya terlihat berantakan.
__ADS_1