
Detak jam dinding berpadu suara nyaring dengkuran Dado di malam yang sunyi menjadi teman kala Mizyan berkutat dengan kertas gambar dan laptop. Usai mengantar Rahma pulang ia tak menyia-nyiakan waktu dengan berleha-leha ataupun bermalas-malasan. Job yang terus mengalir tanpa putus membuatnya harus terus bekerja dengan disiplin tinggi demi kepuasan semua kliennya.
Ia meregangkan tangan, mengucek mata yang mulai lelah usai berkutat 2 jam lamanya. Laptop sudah dimatikan, kertas berserakkan sudah dirapihkan. Layar laptop yang sudah hitam kini seolah menampilkan kilasan peristiwa beberapa jam yang lalu.
Rahma.
Satu nama itu, telah berhasil menyentuh sudut terdalam seorang Mizyan, yaitu hati. Beberapa jam tadi ia dihadapkan pada kenyataan adanya rivalitas. Dua orang pria di hotel tadi jelas menunjukkan ketertarikan kepada Rahma. Ditambah satu rival tak kasat mata yang harus ia hadapi, yaitu kenangan masa lalu Rahma. Benar kata Rade, butuh waktu serta kesabaran ekstra untuk bisa mendapatkan hati Bundanya Dika itu. Tidak mudah tapi tak ada kata menyerah di kamusnya.
Allright.
Tarikan nafas panjang sebagai penanda ia telah membuat keputusan. Sebuah strategi harus dimainkan untuk meluluhkan dan mendapatkan hati sang pujaan.
"Allahu Akbar." Mizyan mengangkat kedua tangan memulai takbiratul ihram di atas sajadah yang terbentang. Ia akan adukan niat baiknya kepada Sang pengatur kehidupan, Maha membolak-balikkan hati, Allah subhanahuwata'ala.
Kajian ahad pagi menjadi lebih semangat untuk dinanti Mizyan. Tidak hanya untuk mendengar tausyiah ustad Ahmad tapi juga ada seseorang yang ditunggu. Biasanya ia yang akan disapa lebih dulu, tapi sekarang berbalik ia yang ingin menyapa lebih dulu.
Ia telah berdiri di ujung tangga khusus ikhwan. Matanya mengedar mencari sosok yang ditunggunya. Sesekali menerima uluran tangan yang mengajaknya bersalaman. Senyumnya merekah begitu sosok yang dinantinya datang sambil dituntun sang kakek.
"Dika." Ia lambaikan tangan begitu anak kecil yang dipanggilnya menatapnya.
"Om."
Ia menggendong Dika yang riang kala menyebut namanyanya. Tak lupa pula menyalami Pak Badru yang tersenyum menyaksikan interaksinya.
"Jagoan Om, apa kabarnya?" Mizyan mencium pipi bocah menggemaskan yang merangkulkan tangan ke lehernya sambil berjalan masuk ke dalam masjid.
"Al ham du lil lah." jawab Dika dengan nada mengeja sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Pinter jawabnya." Ia mengacak rambut Dika dengan gemas. "Diajarin siapa?"
"Nda." Dika menjawab dengan mata membulat penuh keriangan.
"Bunda ikut nggak?"
Dika menggeleng.
"Kenapa nggak ikut?"
__ADS_1
"Libul."
Mizyan mengerutkan kening mendengar jawaban Dika. Libur karena sakitkah, karena semalam kehujanan.
Ia memeluk erat Dika yang duduk di pangkuannya selama tausyiah berlangsung, sesekali mengusap rambutnya. Terlanjur sayang? Ya. Ia sudah meyakinkan hati jika tulus menyayangi anak yatim ini. Bukan sebagai alat untuk mendekati bundanya Dika.
"Pak, boleh minta waktunya sebentar?" Mizyan menahan lutut Pak Badru yang siap beranjak berdiri kala kajian telah berakhir. "Ada yang ingin saya bicarakan, Pak."
Pak Badru mengangguk. "Mau bicara apa, nak?"
"Tidak di sini, Pak."
Mizyan mengajak Pak Badru dan Uma menuju rumah makan sunda yang selalu buka 24 jam yang jaraknya paling dekat. Dan ia baru faham maksud ucapan Dika setelah Uma mengatakan jika Rahma tidak ikut kajian sebab sedang berhalangan datang bulan. Ia tersenyum lebar melihat Dika yang senang ikut naik di mobilnya. Sementara mobil Pak Badru mengikuti di belakangnya.
"Dika, happy?" Ia melirik Dika yang duduk mengenakan safety belt dengan tangan yang merayap menyentuh tombol-tombol yang menarik perhatiannya.
"Hah?" Dika menatapnya dengan bingung.
"Happy artinya seneng." Mizyan menoleh sekilas. "Jadi kalau Dika seneng, jawabnya yes I'm happy." ujarnya mengajarkan Dika istilah-istilah simpel bahasa inggris.
"Yes am hepi." Dika menjawab dengan melebarkan senyum sehingga menampilkan deretan gigi susu yang bersih terawat.
Ia memesan bubur ayam begitu tiba di rumah makan. Pak Badru dan Uma memilih menu bubur kacang ijo sebab sebelum kajian sudah sarapan. Dan Dika memilih menu yang sama dengan Om Mizyan, yang makan disuapi oleh sang nenek.
"Pak, Uma, sebelumnya saya mohon maaf sudah mengganggu waktunya." Mizyan mulai menyampaikan niatannya dengan sopan.
"Tidak juga, nak Mizyan. Bapak dan Uma lagi senggang kok." Pak Badru menyangkal ucapan Mizyan yang tampak nggak enak hati.
Mizyan mengangguk dengan wajah lega mendengar jawaban Pak Badru. "Pak, saya mau minta ijin untuk mendekati anak bapak." Ia langsung pada tujuan utama dengan berkata tegas dan yakin.
Membuat Pak Badru dan Uma saling pandang dengan menautkan kedua alis.
"Saya menyukai Rahma juga Dika, Pak." Ia kembali memperjelas maksudnya.
"Sejak kapan nak Mizyan suka sama Rahma dan Dika?" Pak Badru menatap Mizyan penuh selidik.
"Saya menyukai Rahma sejak menolongnya dari kejaran 2 orang jahat. Saya meyukai Dika sejak bertemu pertama kali di kajian," Pungkasnya yakin. Lalu menatap Dika yang tengah makan bubur ayam dengan lahap. Ia mengulas senyum begitu terkenang kala jumpa pertama dengan Dika yang memeluk kakinya dan memanggil 'Ayah'.
__ADS_1
Pak Badru mengulas senyum tipis, menatap pria dewasa yang duduk berhadapan terhalang meja. "Uma, gimana?" ujarnya beralih menolehkan kepala menatap istri yang sudah setia mendampingi hidupnya dalam suka dan duka.
"Uma ikut apa kata Ayah." Sahut Uma melemparkan kembali jawaban kepada sang suami.
"Bapak mengijinkan." Pak Badru menatap lurus Mizyan diiringi sorot mata penuh harapan. Berharap anak satu-satunya yang begitu disayanginya itu mendapatkan kembali masa depan yang bahagia.
"Alhamdulillah. "Mizyan mengusap muka dengan senyum sumringah. "Makasih pak, makasih Uma." ujarnya menatap silih berganti. Asanya makin tinggi usai mengantongi ijin kedua orang tua Rahma.
"Tapi keputusan diterima atau tidaknya, ada di tangan Rahma."
"Saya mengerti, Pak." Mizyan faham betul situsi dan kondisi wanita yang akan diperjuangkannya. Semalqm ia sudah cukup berpikir dan membuat keputusan langkah apa yang akan ditempuh.
Masih banyak hal ringan yang dibicarakan bersama Pak Badru dan Uma. Termasuk nasehat dari Uma yang meminta Mizyan untuk sabar dan perlahan mendekati Rahma.
"Ibarat luka, keadaannya belum kering tapi tidak lagi menganga. Seiring waktu InsyaAllah sembuh." Uma berkata sambil menyuapi Dika yang belum selesai makan. "Rahma orangnya teguh pendirian. Jadi nak Mizyan harus kerja keras untuk mendapatkan hatinya anak Uma."
"InsyaAllah, Uma. Saya juga tidak akan terburu-buru."
"Besok saya akan ke luar kota. Mungkin sebulan atau dua bulan."
"Makanya saya sampaikan niatan ini sebelum pergi. Agar bapak dan Uma tahu kalau saya sungguh-sungguh ingin meminang Rahma."
"Titip Rahma buat saya ya pak, Uma!" Pungkas Mizyan dengan sorot mata penuh kesungguhan dan pengharapan menatap silih berganti ke arah Pak Badru dan Uma.
"Nak Mizyan, ada nasehat indah sayyidina Ali bin Abi Thalib ; Jangan terlalu dikejar, jika memang jalannya pasti Allah akan memperlancar. Karna apapun yang menjadi takdirmu akan mencari jalannya untuk menemukanmu."
Ucapan Pak Badru membuat Mizyan mengatupkan bibir, diam terpekur. Ia baru saja mendapatkan ilmu baru tentang jodoh dan takdir.
"Kalau susah kembali ke Bandung, Uma tunggu kedatangannya di rumah kami."
Ucapan terakhir Uma sebelum berpisah, membuat senyumnya merekah. Ia mencium tangan dua orangtua yang menurutnya sangat bijak itu. Kemudian menggendong Dika, mengantarnya sampai memasuki mobil.
"Dadah, Om."
"Dadah, Om."
"Dadah, Om."
__ADS_1
Ia membalas dengan senyum dan lambaian tangan kala Dika berteriak riang dan terus-menerus melambaikan tangan, yang melongokkan kepala dari balik kaca jendela mobil. Sampai kendaraan yang dikemudikan Pak Badru itu berbelok tak terlihat lagi.