
Semarang
Rumah satu lantai bergaya klasik dengan dominasi cat warna putih mutiara, berdiri kokoh dengan pekarangannya yang luas. Dari luar gerbang setinggi 2 m itu dengan leluasa pandangan Mizyan bisa mengedar menjelajahi seluluh area depan rumah yang asri. Sebab jeruji pagar besi berbentuk ulir itu berjarak renggang, memudahkan orang melihat dari luar juga dari dalam.
"Nu, yakin ini rumahnya?" Mizyan menolehkan wajah ke arah Ibnu yang berdiri disampingnya, sama-sama mengamati ke dalam.
"Lah masa ragu. Kan ente pegang kertasnya." Ibnu geleng-geleng kepala melihat keraguan Mizyan. Padahal sudah jelas alamat dan nomer rumah yang tertera cocok dengan data di kertas.
Mizyan menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan dari mulut. "Bismillah...."
Ia menggosok-gosok tangan sebelum menekan bel yang menempel di tembok pilar. Satu kali bel ditekan, belum ada tanda orang muncul dari dalam rumah. Ia coba menekan bel untuk kedua kalinya. Tampak seorang wanita keluar dari dalam rumah dengan berjalan tergopoh-gopoh mendekati pintu gerbang.
"Sampean golek'i sopo, mas? (cari siapa, mas?)" tanya wanita itu dari balik pagar besi.
"Saya mau bertemu Bu Sukanti. Bisa, mbak?" Mizyan angkat bicara. Meski ia tak biasa berbahasa jawa, namun mengerti apa yang diucapkan lawan bicara.
"Sing nduwe omah lagi do lungo liburan. (Yang punya rumah lagi pergi liburan)."
Mizyan dan Ibnu saling tatap. Harap-harap cemas yang dari tadi dirasakan Mizyan menguap sudah dengan hembusan nafas kecewa. Suara mengaji dari spiker masjid mulai terdengar. Menandakan sebentar lagi waktu adzan magrib akan tiba.
"Kapan pulangnya ya, mbak?" Mizyan menatap lagi wanita di balik pintu gerbang yang diperkirakan sebagai asisten rumah tangga.
"Mulihe sesok, mas. (pulangnya besok)."
Ibnu melajukan mobil menuju hotel yang dipilih Mizyan melalui aplikasi. Mizyan sengaja memilih hotel yang jaraknya paling dekat dengan rumah yang akan dikunjunginya lagi besok. Asisten rumah tangga tadi bilang kemungkinan pulang dari liburan di Balinya besok sore. Otomatis ia harus sabar menunggu lagi sampai besok.
"Aku nggak keberatan kalau ente mau nginap di rumahku." Untuk kedua kalinya Ibnu menawarkan tempat tinggal selama perjalanan menuju hotel.
"Makasih, Nu. Kejauhan kalau gue harus ke Kauman." Mizyan mematikan layar ponselnya dengan senyum tipis tersungging. Ia baru saja membuka pesan dari Pak Badru jika Dika ingin menelponnya, mengabaikan beberapa pesan yang lain yang enggan dibukanya sekarang. Dan ia sudah membalas pesan dari Pak Badru itu dengan berjanji akan menelpon balik nanti malam.
Setibanya di lobby hotel usai sholat magrib di masjid yang ditemukan di jalur jalan, Mizyan dan Ibnu masih melanjutkan berbincang santai membahas teman-teman sekolah yang telah berpencar tinggal di berbagai kota sebab domisili kerja ataupun turut suami.
"Mizyan, aku pamit pulang ya?" Ibnu mengulurkan tangan sebagai tanda perpisahan.
Mizyan menggeleng. "Ntar, Nu. Kita dinner dulu, baru lo boleh pulang!"
Ia segera melakukan check in dan menyimpan kopernya ke kamar sebab Ibnu tidak ikut naik, memilih menunggu di lobby hotel. Selanjutnya kembali menemui Ibnu dan mengajaknya ke restoran hotel. Selama satu jam kebersamaan pun berakhir sebab Ibnu harus pulang. Pekerjaannya sebagai pedagang sayuran dan daging di pasar Johar mengharuskannya buka kios jam 3 dinihari setiap harinya. Jadi ia mesti tidur lebih awal agar badan bugar.
Meski berat dan masih kangen, pertemuan yang singkat itu mau tidak mau harus berakhir perpisahan.
"Kalau aku nggak punya tugas ke kios, aku pasti nemenin ente di sini. Biar ada temen ngobrol." Ibnu tampak berat hati meninggalkan Mizyan yang mengantarnya sampai lobby hotel.
"Gue seneng banget udah dibantuin." Mizyan merangkul bahu Ibnu sebab ia pun masih enggan berpisah. "Makasih banget udah mau nganterin jauh-jauh ke sini, Nu." Ia pun mengepalkan sejumlah uang ke tangan Ibnu kala keduanya berjabat tangan untuk berpisah.
"Eh apaan ini.... Jangan, Mizyan! Aku ikhlas nolongin ente." Ibnu menggelengkan kepala dan mencoba membuka kepalan tangan yang masih ditahan oleh Mizyan. Ia tak setuju dengan perlakuan teman lamanya itu.
Namun Mizyan menahannya. "Ini buat jajan anak-anak lo. Plis jangan ditolak!"
Tarik menarik tangan itu pun harus berakhir dengan Ibnu yang mengalah sebab Mizyan keukeuh memaksa harus menerima uang itu.
****
Bandung
Ayah Badru yang baru pulang dari masjid usai berjamaah isya harus sabar mendengar rengekan Dika yang menagih janji ingin berbicara dengan Om buye. Meski sudah dikasih penjelasan jika cucunya itu harus menunggu om buye yang akan menelpon balik. Namun namanya anak kecil, baru menurut sebentar kini merajuk lagi. Bunda nya pun tak bisa berkutik menenangkan anaknya yang telungkup di sofa menyembunyikan tangisnya. Menyedihkan.
"Nah panjang umur----. Om video call nih, ayo Dika angkat!" Ayah Badru tampak semringah dan menyerahkan ponsel ke cucunya yang terperanjat duduk sambil menyusut pipi yang basah dengan punggung tangan sebab menangis.
"Ga ada, hwua----" Dika memperlihatkan ponsel ke kakeknya, kali ini sambil menangis sebab kecewa layar ponsel kakeknya tampak hitam gelap.
__ADS_1
Ayah yang mengambil lagi ponselnya mendecak kecewa. "Yaaa, pantesan...hape kakek abis batre."
Jawaban yang membuat Dika menangis makin kencang.
Ayah menatap Rahma yang menggendong Dika untuk ditenangkan. "Rahma, pakai hapemu aja. Dika nggak akan berhenti nangis kalau belum dituruti kemauannya."
Membuat Rahma terkaget lalu menggeleng keras, tak setuju. "Hape ayah aja lah. Hape aku di kamar."
"Hape ayah lama harus dicharge dulu. Udah sana aja teleponannya di kamar!"
Mau tidak mau Rahma menuruti saran ayah. Ia menggendong Dika ke kamarnya dan meminta sang anak agar berhenti menangis kalau ingin menelpon Om buye.
"Cup--- berhenti dulu nangisnya." Rahma menyeka kedua pipi dan ingus dengan selembar tisu. "Bunda akan telpon Om nya kalau Dika udah nggak nangis."
"Atu mo nelpon om buye, Nda." Dika menghentikan tangisnya dengan sorot mata penuh pengharapan mengiba pada sang bunda.
Rahma mengangguk. Mendadak tubuhnya menegang kala jempolnya menelusuri daftar kontak mencari nomer Mizyan yang ia namai 'Mr. X'.
"Sebentar, sayang." Rahma meminta pengertian Dika yang sudah tak sabar ingin mengambil alih ponsel. Bahkan tiba-tiba rasa gugup muncul begitu mendengar suara ucap salam dari sebrang sana.
"Waalaikumsalam---"
"Maaf, hape ayah lowbat."
"Jadinya aku disuruh ayah menelpon balik."
Ia buru-buru memberi penjelasan tanpa diminta, takut pria di sebrang sana itu salah faham.
"Owh---"
Hanya satu kata yang ia dengar sebagai respon dari pria itu.
"Sekalian sama bundanya juga boleh."
"Apaan sih---"
Rahma mendesah.
Orang itu...
Kenapa slalu aja mancing kekesalan.
Padahal aku udah niat mau ramah.
"Nda---- mana om nya?"
Guncangan di lengannya membuat Rahma menoleh ke arah Dika yang mengacungkan ponselnya. Otaknya telat memahami jika Dika menginginkan panggilan video bukan panggilan telepon. Reflek jempolnya menyentuh tombol menerima panggilan video yamg diminta dari sebrang sana.
Sesaat matanya terpaku tanpa kedip pada sosok wajah yang tengah tersenyum memenuhi layar.
"Om---"
"Om buye---" Beruntung teriakan riang Dika yang beralih duduk ke pangkuannya sambil mengambil alih ponsel yang dipegangnya, membuat Rahma tersadar dan berdehem untuk menetralkan aura yang tak menyenangkan melingkupi aliran darahnya.
****
Semarang
Dibalik kekecewaan selalu tersimpan jackpot. Mizyan merasakannya demikian. Kemarin kala kecewa tak menemukan jejak rumah tinggalnya, ia mendapat penghiburan kala bervideo call dengan Dika. Hari ini ketika kekecewaan kembali melanda sebab ibu yang dicarinya ternyata tak berada di rumah, tergantikan dengan kebahagiaan yang membuncah di hati. Bagaimana tidak bahagia, panggilan videonya diterima oleh bundanya Dika yang wajahnya memenuhi layar. Tak dipungkiri hatinya berdesir menatap seraut wajah tanpa hijab, dengan rambut dicepol ke atas menampakkan leher yang putih bersih, mengenakan daster rumahan lengan pendek warna ungu motif bunga. This's super jackpot.
__ADS_1
Tapi jam terbang sebagai mantan player di masa lalu, membuatnya mampu mengendalikan perasaan sehingga yang ia tampilkan bukanlah kegugupan tapi senyuman manis untuk memikat lawan jenis. Berdosakah?
Sungguh ia tak mampu melenyapkan ilmu pelet itu.
Demi Tuhan. Aku melakukannya hanya sama bundanya Dika.
Ia masih menyunggingkan senyum kala melihat wajah di sebrang sana yang terpaku tanpa kedip menatapnya. Kena kau!
"Om--"
"Om buye---"
Teriakan riang Dika yang kini duduk dipangkuan bundanya, membuat fokusnya terbagi 2, pada anak dan bundanya di belakang.
"Dika manggil om apa?!" Ia merasa samar dengan panggilan yang disematkan bocah riang itu padanya.
"Om buye, kata Nda Om---"
"Dika kesulitan menyebut nama 'Om Mizyan'. Jadi aku suruh manggil 'Om bule' aja, daripada awalnya Dika menyebut 'Om sapi'."
Mizyan mengulum senyum menatap bundanya Dika yang menahan senyum di ujung kalimat."
So cute, Bun.
"I see." Ia mengedipkan mata. "Bundanya juga boleh manggil aku 'Mas bule'.
"Apaan sih---
Look, baru aja melihat senyum yang ditahan kini berubah ketus lagi. Ia memang ketagihan untuk terus menggoda bundanya Dika itu.
"Astagfirullah---!"
"Dika sendiri aja ya sayang, bunda keluar dulu!"
Ia memperhatikan dan menyimak kehebohan serta kepanikan Rahma di sebrang sana. Yang sepertinya baru meyadari penampilannya yang tanpa hijab.
Ia menutup mulut dengan tangannya demi menahan tawa sebab menurutnya tingkah panik Rahma sangat lucu. Terdengar pintu yang dibuka dengan kasar seolah terburu-buru.
"Om, atu mau gambal lagi!"
Ia fokus lagi pada Dika yang tampak tengkurap di kasur dengan menaik turunkan kedua kaki.
"Oke, boy. Mau dibuatin gambar apa?"
"Gambal Nda ya Om---"
With a pleasure.
Mizyan membulatkan jarinya. Kertas dan pensil sengaja sudah disiapkan di samping tempat duduknya. Sebab ia sudah mengira apa yang dimau Dika. Menggambar.
Tak terasa sampai satu jam lamanya interaksinya bersama Dika. Menggambar, becanda, melakukan sulap, apa aja dilakukannya yang membuat Dika tertawa riang. Namun kini yang tersaji di layar, tampak Dika sudah terkulai tidur dengan kepala miring.
Ia terkekeh. Hatinya menghangat melihat pemandangan natural itu. Haruskah menunggu dulu Rahma masuk ke kamar untuk memperbaiki posisi tidur Dika?
No.
Ia menggeleng sambil mengulum senyum. Sepertinya Rahma tengah merasa malu berat.
"Have a nice dream, my son...soon to be." ucapnya yang selalu optimis.
__ADS_1
Ia pun mengakhiri panggilan videonya. Beralih tidur telentang di sofa menatap plafond kamar berwarna putih. Otaknya refleks membuat sketsa seraut wajah cantik dengan rambut digulung ke atas menampakkan leher putih bersih. Baju yang tergambar sepotong sebab sosok wanita itu tengah duduk. Impuls saraf otaknya beralih menggorekan gambar daster ungu motif kembang berlengan pendek. Done!