
"Ehh---" Fatimah tergeragap. Kata terima kasih yang akan diucapkan tersedak di tenggorokan.
Uhuk-uhuk.
Ia pun terbatuk tiba-tiba dengan wajah memerah. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Sungguh ia tidak tahu mengapa bisa terbatuk. Memilih menghadapkan tubuh berlawanan dengan Mark sebab malu akan tamunya itu.
"Bu Ima ga papa?" Mark menatap khawatir pada punggung yang terguncang. Reflek jempolnya membuka layar ponsel yang masih dipegangnya.
"Ga, cepet bawa air mineral sebotol. Saya tunggu di lantai 2. CEPET!" Mark mematikan sepihak panggilannya tanpa menunggu jawaban di ujung telepon.
Rangga. Orang yang baru saja dihubungi Mark mengerutkan kening menatap ponselnya. Telepon dari sang boss yang panik meminta air sejenak membuatnya bingung dan penuh tanda tanya.
"Olla, ada kantin gak di sini? Saya perlu air mineral buat Pak boss." Rangga berdiri menatap sekitar. Ia harus segera melaksanakan tugasnya. Urgent.
"Di dalam ada. Bentar aku ambilin deh." Olla pun beranjak menuju ke dalam kantor. Yang memang sedari tadi duduk ngobrol santai bersama Rangga di teras kantor. "Mau yang dingin atau yang biasa?" Olla melongokkan kepala dari balik pintu.
"Yang biasa aja."
Rangga menaiki anak tangga setengah berlari. Sampai di tangga paling atas baru terlihat 2 orang yang duduk di bangku panjang depan kelas. Ia menyerahkan botol air yang dibawanya. Lalu berbalik badan untuk pergi usai melihat sang boss mengibaskan jari isyarat menyuruh pergi.
"Minum dulu, Bu Ima." Mark memutar tutup botol yang tersegel.
"Saya sudah gak batuk kok. Maaf jadi merepotkan." Fatimah tersenyum meringis. Insiden batuk yang akhirnya bisa berhenti setelah mengikuti instruksi Mark untuk tarik nafas dari hidung dan membuang dari mulut, berhasil meredakan batuknya.
"Tapi tetap harus minum. Tenggorokan pasti kering." Mark keukeuh. Botol tanpa tutup yang sudah diulurkan ke depan Fatimah, makin didekatkan.
Fatimah mengalah. Menerima dan meneguknya pelan-pelan. Tenggorokanya memang sangat kering, namun tadinya tidak ingin kentara oleh tamunya itu.
Mark menarik sudut bibir melihat Fatimah yang minum sampai habis setengahnya.
"Sini biar saya simpan." Mark meminta botol yang dipegang Fatimah.
"Biar saya pegang aja." Sebaliknya Fatimah meminta tutup botol yang dipegang Mark.
Mark bergeming. Tangannya tetap terulur menunggu botol yang dipegang erat wanita anggun itu berpindah ke telapak tangannya. Fatimah pun mengalah lagi.
Mobil Rubicon melaju meninggalkan rumah tahfiz. Sopir maupun penumpang tak ada yang bersuara. Keduanya larut dengan pikiran masing-masing. Rangga terkenang obrolannya dengan Olla yang dihiasi canda tawa. Tak hanya membuang jenuh sebab harus menunggu boss Mark selesai dengan urusannya, nyatanya kedatangan Olla membuat good mood. Aneh, setelah merasa kalah dan mundur dengan ikhlas malah membuat interaksi dan komunikasi dengan Olla mengalir natural tanpa beban.
Mark dengan pikirannya yang melayang pada sosok Fatimah Malati. Pertemuan ketiga kali yang makin memberi kesan. Betapa wanita itu memiliki kecerdasan terbungkus kesederhanaan, santun, dan tentu saja cantik.
Mark memutar-mutar botol minum bekas Fatimah yang masih tersisa air setengahnya. Ia yang tadi segera pamit sebab sudah melewatkan satu meeting, tak ingin lagi terlewat di meeting kedua. Meski sebenarnya masih betah berbincang dengan pemilik lesung di pipi kanan itu, namun ia harus profesional. Kesibukan pekerjaan di kantor menantinya.
Rangga sekilas melirik penumpang di belakang dari rear vison mirror. Kembali meluruskan pandangan ke jalan dengan kening mengkerut.
Tumben-tumbenan botol bekas minum dibawa-bawa. Biasanya juga ditinggal gitu aja sisanya.
Rangga kembali mengerutkan kening untuk kedua kalinya. Tanpa sengaja menangkap wajah sang boss sedang mengulum senyum usai menenggak air dari botol kemasan itu.
Apa Pak Mark stress? Saya harus lapor Mas Mizyan.
Rangga menghela nafas panjang. Perjalanan dengan kecepatan sedang menuju komplek pabrik kayu itu dilalui dengan kebisuan. Sebab penumpangnya asyik sendiri dengan dunianya yang sedang searching entah mencari info apa. Bahkan kini ia melihat wajah sumringah Pak Mark saat menjawab telepon masuk.
"Santai saja, Bu Ima. Semoga itu cukup membantu untuk biaya operasional. Tapi kalau kurang akan saya tambahin lagi."
"Oke-oke."
"No problem. Itu rejeki dari Tuhan, saya hanya perantara."
"Saya sudah janji akan jadi donatur. Bulan depan saya akan transfer lagi di awal bulan. Sama bulan seterusnya juga, selama saya ada umur."
__ADS_1
"Oke, Bu Ima. Selamat beraktifitas juga."
"Just remind, kesibukan jangan sampe membuat telat makan ya, Bu Ima!"
Rangga mendengar semuanya. Hampir saja meledakkan tawa menguping kalimat terakhir bossnya itu. Merasa geli dan aneh seorang bossy Mark berkata lebay menurutnya. Ia menahan dengan menggigit bibir.
****
Bandung
"Sekarang giliran Bunda yang mandi." Rahma mencium pipi Dika yang sudah dipakaikan baju dan disisir rambutnya. Wangi minyak telon yang menguar dari badan sang anak, menyegarkan hidungnya yang sudah dua hari ini selalu merasa badan tidak fit di malam hari.
"Pa, nitip Dika ya. Aku mau mandi." Rahma yang menuntun anaknya, menghampiri Mizyan di ruang keluarga. Suaminya yang tadi mandi bareng Dika, lebih dulu beres memakai baju santai dan kini sedang menonton tayangan berita sore.
"Sini, boy!" Mizyan menepuk sofa di sisinya menyuruh Dika naik.
"Sayang, bikinin dulu teh hijau ya!" Pinta Mizyan sebelum Rahma berlalu.
"Iya."
"Sayang, atu juja mau mimi ya. Hi hi hi---" Dika latah memanggil bundanya seperti ucapan Papanya, diiringi tawa cekikikkan.
Mizyan tertawa. Mengacak-ngacak rambut Dika yang setengah basah itu. Gemas dengan tingkah menyebalkan bocah kriwil itu.
Rahma berkacak pinggang memelototkan matanya pada Dika yang lalu ngumpet di ketiak papa buye sambil tetap cekikikkan. Merasa senang sudah berhasil menggoda bundanya sampai terlihat marah padanya.
"Dika harus ulangi mintanya. Jangan ikutan Papa. Ayo bilangnya gimana." Rahma menghentikan akting marahnya. Melembutkan suaranya pada bocah yang tiga bulan lagi genap 3 tahun.
Dika merubah posisi duduk menjadi tegak setelah papanya berbisik.
"Nda---"
Dika terdiam dulu mendengarkan bisikkan Papa buye.
"Bunda Lahma---atu mau mimi. Plissss Bunda sayang atu----" Dika memiringkan wajah dengan mata mengerjap-ngerjap.
Siapa yang tidak gemas melihat tingkah Dika seperti itu. Rahma mendekat, menjawil hidung sang anak. Lalu dengan kilat mengecup bibir Mizyan tanpa sepengetahuan anaknya itu.
"Bonus untuk pemberi bisikkan gaib." Rahma mengedipkan sebelah mata sebelum berlalu pergi ke dapur.
"Once more, Bunda! Deeper (lebih dalam)." Mizyan menangkap tangan Rahma yang sudah membalikkan badan hendak pergi. Menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.
"Papa minta apa ama Bunda?" Dika yang berada di tengah keduanya menatap Papa buye penuh rasa penasaran.
"Papa minta teh nya sekarang. Udah ah Bunda ke dapur dulu." Rahma mendahului menjawab keingintahuan sang anak. Mizyan terkekeh melihat bundanya Dika menatapnya jengah.
Segelas teh hijau yang maaih panas tersimpan di meja bersanding dengan segelas susu formula hangat milik Dika yang sebetulnya bisa langsung diminum. Namun Dika bergeming, menunggu minum bareng Papa atu.
Suasana santai di senja yang cerah. Waktu dimana satu jam lagi menjelang magrib. Semburat jingga di cakrawala nampak dari kaca jendela apartemen. Desingan suara pesawat yang terbang rendah hendak landing menuju bandara Husein Sastranegra terdengar pelan namun jelas.
Ponsel Mizyan yang tersimpan di sela sandaran sofa berbunyi. Sang pemilik mengalihkan perhatian dari layar televisi ke ponselnya. Rangga calling.
Ucap dan jawab salam terdengar bergantian di telinga.
"Ada update apa hari ini, Ga!" Mizyan duduk bertumpang kaki sambil memperhatikan Dika yang merosot turun ke karpet mengambil mainan mobil truk besar.
"Papi Mas hari ini aneh sekali." Terdengar helaan nafas Rangga.
"Jelasin!" Perintah Mizyan yang tidak jauh berbeda memiliki watak bossy seperti Papi Mark. Inginnya to the point.
__ADS_1
"Pak Mark kan tadi ke rumah tahfidz ketemu Bu Fatimah sampai 2 jam lamanya. Melewatkan meeting pertama yang akhirnya harus di reschedule."
"Pulangnya, sepanjang jalan diam sambil muter-muter botol Aq**. Terus setelah minum, tiba-tiba senyum sendiri."
"Terus?!" Mizyan antusias menyimak.
"Tiba-tiba dapat telpon dari Bu Fatimah. Kedengarannya ngobrolin Pak Mark akan menjadi donatur dan tadi ngasih transferan besar kayaknya. Soalnya Pak Mark bilang; itu rejeki dari Tuhan, saya hanya perantara."
Mizyan makin tertarik mendengar laporan dari wakil ketua misi percomblangan. Turun dari sofa dan duduk sila di depan meja. Menyeruput teh hijau perlahan yang panasnya sudah pas untuk diminum. Mencolek bahu Dika agar meminum susu setelah diperlihatkan jika papanya pun sudah meminum tehnya. Dika menurut.
"Dan diakhir teleponannya--- Ha ha ha." Rangga menggantung ucapan dengan tertawa lepas.
"Hei---jangan dulu ketawa. Jadi kepo akut nih." Mizyan tidak jadi mengangkat gelas tehnya.
Terdengar Rangga berusaha mengerem tawanya dengan berdehem dua kali.
"Sebelum nutup telepon Pak Mark bilang; Just remind, kesibukan jangan sampe membuat telat makan ya, Bu Ima."
Terdengar lagi Rangga tertawa lepas dan puas. "Mas, itu bukan gaya Mr. Mark Cornelius. BUKAN BANGET. Jadi tadi itu saya geli dengernya. Tadi sampe mules karena nahan tawa deh." Kembali Rangga tertawa.
Mizyan tersenyum lebar dengan wajah berbinar mendengarnya. Kembali menyeruput teh hijau yang banyak khasiatnya itu selama tidak dicampur gula.
"Maaf-maaf, Mas. Kok saya malah ngetawain. Jangab dilaporin Pak Boss ya!" Rangga seakan baru tersadar jika ia sedang berbicara dengan anaknya boss.
"Hmm, misi kita akan berhasil, Ga." Mizyan mengabaikan rasa tidak enak hati Rangga. Malah menyampaikan rasa optimis dengan misi yang dicetuskannya. "Si Papi udah terserang virus nih."
"Virus apa, Mas? Saya malah mengira Pak Mark stress apa depresi, sampe senyum-senyum sendiri gitu. Bahkan di meeting kedua, Pak Mark kadang hilang fokus. Saya sampe mencolek paha tiga kali di bawah meja." Ujar Rangga dengan nada serius.
"Haisss, ngobrol sama jones benar-benar tidak peka. Mendadak otak pintarnya jadi lemot." Mizyan menggerutu sambil menepuk jidat.
"Papi sudah terserang virus-virus cinta yang ditebarkan Bu Fatimah. Mungkin jumlahnya masih puluhan. Nanti kalau naik level bisa bertambah ribuan virus cinta menyerang hati dan otak. Ha ha ha...Papi bersiap puber kedua." Mizyan tertawa riang. Terbayang bagaimana resah dan gelisahnya sang ayah saat hati terpanah asmara. Sesuai pengalamannya.
"Bundaaa, itu baju Papa!"
Mizyan menoleh ke arah kanan setelah mendengar suara nyaring Dika. Menoleh lagi ke arah kiri mengikuti arah pandangan Dika dengan ponsel masih melekat di telinga. Ia melongo dengan mulut menganga menatap penampilan Rahma yang berjalan mendekat sambil memegang gelas jus. Menatap dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, memastikan penglihatannya. Seketika ponselnya pun dimatikan tanpa pamit dulu pada Rangga.
*********
MOHON PERHATIANNYA GAISS!
Mulai hari ini, saya dan admin akan memperketat aturan di GC dari member yang sudah sekian kali melanggar Rules. (Ini bukan menyentil seseorang ya, plis jangan baper. Ini berlaku agar smua faham)
Sudah cukup kelonggaran waktu yg diberikan untuk memperbaiki attitude. Yg masih melanggar, maaf saja kami KICK.
Siapa yg di KiCK? Mereka para sider (silent rider) yg suka NYOMOT PERGI tanpa mengucapkan terima kasih. Sider hadirnya saat kotak hadiah bertebaran, tidak menjalin komunikasi sesama member. Ini meresahkan dana dikeluhkan member yg lain. (Ada 3 member sider saat ini dalam pengawasan)
Yang suka BOOT masih diberi toleransi dengan teguran. Tp masa berkali kali ga ngerti juga sih. Kasian admin pusingeun 😢
Yang masih antri ingin masuk GC!!!!
Fahami dulu ya, GC Me Nia adalah ruang exlusive utk menjalin silaturahmi Fans vs Author, Fans vs Fans, pendukung seluruh karya author Me Nia. Terkhusus membaca story MJ yg on going ini.
Dibuktikan dengan minimal memberi like dan hadiah setangkai mawar. Apalagi ditambah komen, vote dan hadiah kopi. Itu menunjukkan Anda fans loyal.
So, calon member. Mangga ajukan ulang jika sudah memenuhi syarat diatas. Follow dulu admin @Imas Perwati , pasti beliau akan acc permintaanmu jika sdh memenuhi syarat.
Salam santun n santuy 😍
Me Nia
__ADS_1