
Hujan deras tiba-tiba mengguyur jalanan aspal yang dilalui. Suasana sepi dan lengang begitu mobil yang dikemudikan Mizyan bersiap berbelok memasuki gapura perumahan. Ia memelankan laju mobil dan membuka kaca jendela kala petugas security berdiri di depan pos jaga memperhatikan mobilnya yang bersiap masuk.
"Pak Yanto, ini saya." Rahma mencondongkan wajah ke dekat Mizyan agar terlihat oleh petugas jaga.
"Oh mbak Rahma. Silakan lanjut mbak---" Sang penjaga keamanan membuka lebar pintu gerbang. Setelah kejadian percobaan pencurian di rumah Rahma tempo lalu, penjagaan satu pintu keluar masuk perumahan kelas menengah ke atas itu diperketat.
Mobil pun sampai di sisi jalan depan rumah Rahma. Ucap syukur terdengar dari bibir Ayah Badru sebab tiba di rumah dengan selamat.
"Biar aku aja." Mizyan menahan bahu Rahma yang akan turun membukakan pintu gerbang. Ia turun di bawah derasnya air hujan untuk mendorong pintu pagar besi bercat putih itu.
Rahma menatap dari balik kaca depan mobil dengan sorot mata yang menggambarkan berbagai rasa, melihat pengorbanan Mizyan yang rela hujan-hujanan demi dirinya dan Ayah. Bersamaan dengan mobil memasuki pekarangan rumah yang teduh dari hujan sebab naungan canopy, pintu rumahpun terbuka dari dalam. Uma keluar menyambut kedatangan mereka dengan kedua alis bertaut melihat mobil yang datang bukan mobil Rahma.
"Ayah kenapa?!" Uma mendekat dan menatap heran suaminya yang turun dengan dibantu Rahma dan Mizyan. Ia memang belum diberitahu akan peristiwa yang menimpa anak dan suaminya itu.
"Nanti ceritanya di dalam. Ayah sama Uma dulu ya!" Rahma melepas pegangan di lengan Ayahnya digantikan Uma yang akan menuntun masuk ke dalam rumah. Ia setengah berlari masuk menuju kamarnya.
"Mas, di lap dulu. Jangan sampe masuk angin." Rahma kembali membawa handuk sebab kasihan melihat Mizyan yang basah kehujanan dan masih sibuk menurunkan buah tangan pemberian Mang Ojak yang banyak.
"Makasih, Bun." Mizyan tersenyum senang mendapat perhatian bundanya Dika itu. Ia mengekori Rahma yang menyuruhnya masuk ke dalam rumah.
"Dika nggak mau diajak bobo di kamar. Pengen nunggu Bunda sama Om Buye, katanya." Uma memperhatikan Rahma yang menciumi wajah Dika yang ketiduran di sofa. Sementara Mizyan tersenyum lebar mendengarnya. Bukan hanya Dika yang kangen, ia pun sama.
Tiga minuman STMJ disajikan Uma di meja untuk menghangatkan perut di tengah hawa yang dingin. Jam menunjukkan pukul 11 malam kala Umq mendengarkan cerita Rahma dan Ayah tentang kejadian yang menimpa keduanya.
Uma tentu saja kaget melihat tangan Rahma yang terluka juga suaminya yang kena pukulan di kepala. "Alhamdulillah, Allah masih melindungi nyawa Ayah sama Rahma. Itu lebih utama. Soal uang dan barang yang hilang jangan jadi pikiran, Rahma. Kalau rejeki kita pasti kembali. Yang penting Ayah sama Rahma selamat."
Rahma tampak menggigit bibir dan menundukkan kepala menekuri karpet usai mendengar nasehat Uma.
Segelas minuman tradisional itu telah diteguk sampai tandas. Mizyan pun pamit untuk pulang ke pesantren sebab sudah larut malam.
"Mau aku bantuin pindahin Dika ke kamar? Tanganmu kan lagi sakit." Ia menatap Rahma yang tengah mengusap-ngusap rambut Dika.
Rahma menggeleng. "Nanti juga pasti bangun."
"Dika susah bangun kalau sudah tidur gitu." Uma malah berkata sebaliknya, tidak mendukung ucapan Rahma yang kini cemberut menatapnya. "Uma juga nggak kuat kalau harus ngangkat. Nak Mizyan tolong ya!" Ujarnya beralih menatap Mizyan yang sigap mengangguk.
Dengan langkah setengah digusur, Rahma memandu langkah Mizyan yang menggendong Dika menuju kamarnya. Ia terpaksa menuruti saran Uma sebab memang tak ada lagi yang bisa dimintai tolong untuk memindahkan Dika yang susah bangun jika sudah lelap seperti itu. Meski sebenarnya ia sungkan ada pria asing memasuki kamarnya. Tapi Mizyan ternyata hanya sesaat di dalam kamarnya. Usai membaringkan Dika di ranjang dan mengecup kening, ia segera beranjak keluar kamar. Rahma pun menyusul Mizyan ke ruang keluarga usai menyelimuti jagoan kecilnya itu.
"Besok ke sini jam berapa?!" Rahma mengantar Mizyan yang sudah pamit pulang kepada Ayah dan Uma, sampai teras.
"Kenapa?! Masih kangen sama aku?!" Mizyan yang tengah memakai sepatunya mendongak dengan kedua alis terangkat diiringi senyum usilnya.
"Apaan sih---" Rahma memutar bola matanya. "Kita kan belum hitung-hitungan. Berapa semua biaya yang harus aku ganti."
"Waktunya istirahat." Mizyan tak mengindahkan ucapan Rahma. Malah menatap hangat wajah cantik yang tampak lelah itu. "Besok aku ke sini sekalian nganterin mobil kamu. Jamnya nggak pasti nunggu mobilnya datang dulu."
"Makasih untuk semuanya." Rahma tulus mengucapkannya untuk yang kesekian kalinya. Ayah dan Uma pun tadi berkali-kali mengucapkan terima kasih dengan kebaikan pria berwajah bule itu.
__ADS_1
Mizyan hanya tersenyum sebagai jawaban. "Aku pulang ya! Assalamualaikum---" Ia mengusap kepala yang berbalut hijab itu sebelum masuk ke dalam mobil.
Mobil sudah hilang dari pandangan. Menyisakan halaman yang lengang dengan pintu pagar besi yang terbuka lebar.
"Waalaikumsalam." Rahma baru tersadar untuk menjawab ucap salam usai 5 menit lamanya mematung sebab terhipnotis usapan lembut tangan Mizyan di kepalanya tadi.
****
Mentari mulai merangkak naik sepenggalah. Menghangatkan pagi dan seolah memberi semangat memulai aktifitas usai semalam cuaca dingin menggigit. Dari jendela kamar yang terbuka, sinar sang mentari menembus masuk menerpa punggung Rahma yang masih duduk terpekur pada sajadah yang tergelar di samping tempat tidur. Sholat Dhuha usai ditunaikan, namun ia masih betah berdzikir untuk menenangkan hati yang gundah gulana.
"Apa kamu masih sedih karena hilangnya uang?"
Rahma terkaget mendengar suara Uma yang ternyata sudah ada berdiri di belakang, memperhatikannya. Ia menyusut buliran air mata yang jatuh di pipi. Tak menyangka isakannya di dengar oleh sang ibu. Wajar saja terdengar sebab pintu kamarnya terbuka lebar. Ia pun membuka mukenanya dan beranjak menghampiri Uma yang kini duduk di sofa kamarnya.
"Keadaan Ayah sekarang gimana, Uma?" Rahma ikut duduk di sisi Uma sambil mengikat rambut panjangnya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik. Lagi nyapu taman sambil jemur di depan sama Dika." Uma memperhatikan wajah anak tunggalnya itu yang tampak sembab. "Masih sedih dengan hilangnya uang?" Lanjutnya mengulang pertanyaan yang tadi.
Rahma menghela nafas panjang dan mengjembuskannya dari mulut perlahan. "Aku ikut apa kata Uma. Kalau rejeki kita pasti uang itu kembali." Ia lanjut merebahkan punggung ke sandaran sofa dengan mata menerawang. "Besok pas setahunnya Abang. Aku sedih karena hape hilang. Banyak foto kenangan di dalamnya. Aku nggak bisa lagi membukanya."
Uma memberi kesempatan Rahma untuk mengeluarkan semua beban yang menghimpit dadanya.
"Mizyan udah bilang soal niatannya ingin melamar aku. Dia ngasih waktu 2 bulan untuk jawabannya. Kalau aku tolak, dia akan pergi ke Italy tinggal selamanya di sana. Sekarang udah berjalan 2 minggu dari tempo."
"Dika udah ketergantungan sama Mizyan. Tadi bangun tidur aja yang ditanyakan mana Om buye. Kalau nggak ditenangin bilang om buye akan datang lagi nanti siang, pasti Dika masih merajuk sampe sekarang."
"Aku pusing, Uma. Aku harus gimana?!" Keluhnya dengan mendesah panjang. Rahma pun beralih merebahkan kepala ke pangkuan Uma.
"Aku baru ditinggal suami setahun. Apa kata orang kalau aku nikah lagi secepat ini." Belaian lembut tangan Uma memberinya kenyamanan dan ketenangan dikala kebimbangan, gundah gulana, menyergap hati.
Uma mengulas senyum tipis. Dari jawaban anaknya itu tersirat bagaimana isi hati yang mulai goyah dengan niatan menjadi single mom.
"Malik akan selalu ada dalam kenangan di hati dan pikiran meski foto-fotonya tak lagi ada."
"Mizyan sudah berapa kali menolongmu. Itu bisa menjadi pertanda kalau dia dikirim Allah untuk menjaga kamu dan Dika."
"Dia lelaki yang baik, Rahma. Seorang mualaf yang sungguh-sungguh dalam belajar agama."
"Ia bisa menjadi imam untukmu dan Mahardika."
Rahma mendesah sambil memejamkan mata. Sudah berpuluh kali ibunya itu berkata hal yang sama. Merayunya.
"Mulai malam nanti istikharah lah. Jawaban yang Allah berikan pasti yang terbaik untuk kehidupanmu."
"Jangan pedulikan apa kata orang selama kita dijalur yang benar, tidak berbuat maksiat. Orang lain hanya bisanya menilai dari luar."
"Nda---- ada tamuuu." Obrolan terhenti dengan kedatangan Dika yang masuk ke dalam kamar sambil berteriak sejak dari ambang pintu.
__ADS_1
"Siapa, sayang?" Rahma memeluk tubuh montok anaknya yang sudah berkeringat sebab bergerak aktif.
"Om Ande."
****
"Aku telpon kamu nggak aktif. Barusan ke toko, Fitri bilang kamu nggak akan datang, abis kena jambret kemarin. Beneran?" Koko langsung memberondong ingin memastikan begitu Rahma baru duduk di kursi.
Rahma mengangguk. "Tasku dijambret kemarin di Bogor. Uang, ponsel, SIM, semua kartu, hilang sudah. Kalau sempat siang ini aku akan urus pergantian kartu baru."
"Moga Tuhan ganti rejeki yang lebih banyak lagi.Mau aku antar?!" Koko menawarkan diri dengan semangat. "Kamu jangan nyetir kan nggak ada SIM."
Rahma mengaminkan doa Koko. "Makasih. Aku udah janjian mau pergi sama sepupu." Ia beralih mempersilakan Koko mencicipi talas Bogor yang masih hangat.
"Kamu harus lebih hati-hati, Rahma. Di jalanan itu banyak modus kejahatan." Koko berkata disela menikmati talas yang pulen dan hangat. "Gembos ban lah, pengemis yang minta duit buat beli susu anak lah, pokoknya.harus waspada."
"Kamu benar, Ko. Aku malah udah 2 kali kena modus gembos ban. Beruntung ada orang baik yang menolong." Pikirannya langsung terlintas wajah Mizyan dengan senyum khasnya. Tanpa diduga, orang yang sedang dipujinya itu kini datang membawa mobil Outlander miliknya masuk ke pekarangan rumah. Ia dengan jelas bisa melihatnya dari balik kaca jendela ruang tamu.
Mizyan marah nggak ya, ada Koko di sini.
Hati Rahma mendadak gelisah, takut Mizyan salah faham dengan tamunya itu. Ia menatap Mizyan yang berdiri di ambang pintu, berucap salam dengan diiringi senyum khasnya.
"Masuk, Mas." Rahma mempersilakan duduk di kursi yang ia tunjuk.
"Silakan lanjutin aja. Aku mau nengok Pak Badru. Ada di dalam?!" Dengan santai Mizyan mengangguk pada tamu bermata sipit yang tengah menatapnya.
"A-ada. Ayo aku antar." Dengan sedikit gugup Rahma berdiri dan meminta izin kepada Koko untuk ditinggal sebentar.
"Dia Andreas temennya almarhum." Rahma menoleh ke arah Mizyan yang berjalan di sisinya.
"Oh---"
"Aku manggilnya Koko. Dia suplier langganan, memasok bahan kue buat toko."
"Oh---"
Langkah keduanya terhenti di pintu belakang. Terlihat dari kaca jendela jika Ayah dan Uma lagi bersantai di kursi taman. Ada Dika yang tengah bermain bersama robot sapinya.
"Dia datang karena denger kabar dari karyawan toko kalau aku kena jambret."
"Oh---"
"Ih, sebel." Rahma spontan memukul bahu Mizyan dengan bibir memberengut. "Aku tuh jelasin takut kamu marah, salah faham, atau cemburu gitu. Tapi kamu cuma oh doang." Pungkasnya dengan wajah kesal.
Membuat Mizyan tersenyum lebar kala wajah jutek yang sudah lama hilang kini kembali menghiasi wajah cantik Bunda Dika. "Waduh, ada yang baper rupanya." Ia berbalik menggodanya.
"Emang aku siapanya kamu sampe berharap cemburu, hmm?!" Ia melipat tangan di dada menatap lurus bundanya Dika yang kini tampak terkaget, gelagapan. Salah tingkah.
__ADS_1
"Kan kamu yang bilang----" Rahma tampak menelan salivanya seolah berat untuk melanjutkan ucapannya. "Kalau kamu sayang aku." Ia menundukkan wajah yang memerah usai kalimat itu lolos dari mulutnya. Segera ia meraih handle pintu untuk kabur dari pria yang tengah terkekeh mentertawakannya. Namun keburu bahunya ditahan Mizyan dan dipaksa menghadapkan wajah ke arahnya.
"Say it, once more!"