MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 42. Medan, at The Moment


__ADS_3

Kemal menutup pintu dan menguncinya usai perempuan seksi itu berlari keluar dengan gemetar. Ditambah ia sudah mengancamnya jika berani melapor pada siapa pun.


"Bro, salah gue apa? kenapa tiba-tiba maen tonjok." Oji mengangkat tangan menahan langkah Mizyan yang terus mendekat.


"Jangan pura-pura lupa apa yang udah lo kasih waktu di bandung." Mizyan menarik kerah depan polo shirt Oji hingga membuat temannya itu sedikit tercekik. "Soft drink itu udah lo campur obat kan?!" Ia makin menarik kerah baju sehingga Oji meringis sebab kesulitan bernafas.


Bughh.


Tanpa diduga, Oji melayangkan pukulan ke wajah bagian kiri Mizyan. Membuat cengkeraman di kerah baju Oji terlepas.


Berbalik sekarang Oji yang menarik kemeja bagian atas Mizyan sampai kancingnya terlepas.


"Salah lo sendiri. Lo udah ngecewain gue. Sengaja gue datang dari Singapore buat party bareng lo. Gue booking cewek kelas atas. Dan dengan seenaknya nolak." Dengan wajah penuh amarah, Oji memepet Mizyan hingga membentur dinding tembok.


"Gue nggak terima lo berubah. Dulu kita setia kawan, bro. Tapi lo malah jadi pengkhianat." Oji tersenyum menyeringai. "Ya sudah, gue hukum aja aset lo itu. Buat apa punya senjata tapi dianggurin---"


"Argghh----" Oji memekik sebab tendangan lutut Mizyan mengenai perutnya sampai tubuhnya membentur meja sofa.


Dengan satu kali lompatan, Mizyan menahan Oji sampai terjengkang di meja dan ia menindih di atasnya.


"Harusnya lo bersyukur punya temen berubah jadi baik." Mizyan mengeram diiringi satu pukulan mendarat di wajah Oji. "Lo yang tak tahu diri, bang sat. Tidak tahu balas budi udah gue tolongin bisa kerja enak." Pukulan bertubi-tubi dilayangkan ke wajah Oji sehingga berubah babak belur.


"Cukup, Le. Dia bisa mati." Kemal yang dari tadi siaga mengawasi, kini turun tangan menahan lengan Mizyan yang sudah siap dengan kepalan tinjunya. Ia menarik Mizyan untuk turun dari tubuh Oji yang tampak tak berdaya dan berdarah-darah.


Tak dinyana, kala Mizyan tengah membelakangi untuk mengatur nafas agar kembali normal, Oji bangun. Dengan sekuat tenaga menghantamkan botol minuman mengarah ke belakang kepala Mizyan. Ia berhasil mengelak, namun kurang waktu untuk menghindar. Sehingga botol minuman itu mengenai pelipisnya sampai botol pecah dan meninggalkan luka sobekan.


"Dasar setan kau!" Kemal melayangkan tendangan kaki ke rahang Oji sampai teman masa lalunya Mizyan itu terpental membentur meja lalu ambruk dan tak bergerak lagi.


"Bang, apa dia mati?" Dengan meringis menahan perih di pelipis dan darah mengucur, Mizyan memperhatikan kondisi Oji yang tergeletak miring di kaki meja.


"Jangan khawatir. Dia cuma pingsan." Justru Kemal menatap khawatir ke arah Mizyan. "Le, kalau dia lapor polisi gimana?"


Mizyan menggeleng. "Don't worry. Dia nggak akan berani lapor. Hidup mati karirnya ada di tangan aku."

__ADS_1


Kemal tak menyahut lagi. Keduanya keluar dari room yang sudah acak-acakan, meninggalkan Oji seorang diri. Usai mengganti baju yang basah oleh darah dan minuman, Mizyan dan Kemal pun keluar hotel menuju klinik terdekat untuk mengobati semua luka yang ada di wajah.


"Kau punya masalah apa sama dia?" Kemal yang menyetir dengan memakai mobil yang dikirim staf kantor cabang Medan, menoleh ke arah Mizyan yang tengah meringis usai pelipisnya mendapat 10 jahitan. Ia masih belum mengerti dengan pembicaraan yang diselingi adu otot kala tadi di room yang ia dengar kadang keras kadang mengeram tak jelas ucapannya.


"Dia ngerusak aset aku."


"Berapa banyak kerugiannya?" Kemal menoleh sesaat lalu kembali fokus menatap jalanan.


"Bukan materi, tapi aset vital. Senjata aku sekarang mati rasa gara-gara minuman yang dikasih dia. Sama sekali nggak bisa bangun."


Suara decitan rem terdengar mencuit nyaring sebab Kemal memdadak menghentikan laju mobil sambil membantingnya ke bahu jalan.


"Astagfirullah, Bang." Mizyan menahan tangan ke dashboard sebab tubuhnya terhuyung ke depan meski memakai safety belt.


"Teman lak nat itu. Kenapa kau nggak bilang tadi?! Aku akan sunat lagi dia. Tuman." Kemal mengabaikan kekagetan Mizyan. Ia malah marah sebab orang yang sudah dianggap adik itu baru terbuka sekarang tentang kondisinya.


"Kau harusnya tonjok burungnya dia sampai pecah. Biar nggak bisa celap celup lagi. Balas dendam, Le." Kemal masih saja ngomel dan menyayangkan sikap Mizyan yang tak membalas merusak aset Oji.


"Sekarang setelah aku jadi muslim. Hasil ngaji yang aku tangkap dan tersimpan di memori, sikap yang baik ketika kita dizalimi adalah istighfar dan melakukan muhasabah diri."


"Itu mental mulia yang dicontohkan Imam An-Nawawi rahimahullah ketika dizalimi oleh orang lain."


"Akupun muhasabah, mungkin ini hukuman karena kelakuan burukku di masa lalu. Dan Allah sedang membersihkanya. Baik sangkaku begitu." Pungkas Mizyan menatap Kemal yang menganga selama mendengar penjelasannya.


Kemal geleng-geleng kepala. "Aku speechless, Le. Nggak nyangka dengan jalan pikiran kau. Makin tambah malu aku sama kau. Jadi muslim dari lahir tapi kelakuan masih jauh dari taat perintah agama," lanjutnya dengan bibir meringis.


"Aku juga masih belajar, bang. Kita sama-sama belajar. Nggak ada kata terlambat."


****


Rahma membalas lambaian tangan dua orang yang berdiri di tempat penjemputan bandara Kualanamu. Ada sepupunya Mira, anak dari adiknya Uma, dan Eva teman masa kecilnya.


Dengan menuntun Dika diikuti Uma dan Ayah dibelakangnya yang menenteng koper, mereka menghampiri penjemput. Rahma, Mira, dan Eva, berpelukan bersama sambil jingkrak-jingkrak senang sebab bisa bersua setelah 2 tahun lebih tak bersua secara fisik. Selama ini hanya komunikasi dunia maya saja.

__ADS_1


"Om Badru, Tante Fatma, apa kabar? Eva mencium tangan orang tua Rahma yang diikuti pula oleh Mira.


"Alhamdulillah baik, Eva." Uma mengusap rambut gadis berkalung salib itu. "Pangling nih lama gak ketemu, makin cantik aja kamu."


"Aihhh, tante bisa aja." Eva mengerjap-ngerjapkan mata mendapat pujian yang mengembangkan hidungnya itu. "Nanti aku traktir Ucok Durian deh sekenyangnya." Membuat semuanya tertawa riang.


Sepanjang jalan menuju rumah adiknya Uma, diisi dengan perbincangan santai saling bertanya kabar keluarga. Sementara Dika masih dalam mode diam dan menempel di dada Rahma. Lagi manja.


"Duh udah kangen pengen kulineran." Rahma tampak berbinar membayangkan masa dulu setiap berkunjung ke Medan selalu berburu kuliner kaki lima ditemani Mira dan Eva. Tentunya ada juga kenangan berjalan-jalan bersama Malik setelah menikah.


"Tenang....kita siap antar." Mira menyahut dari balik kemudi. "Tinggal pilih mau kemana. Kuliner Pagaruyung, kuliner jalan Semarang, Merdeka Walk, pokoknya kemanapun Anda pergi, ada kami yang mengantar." Pungkasnya berlagak seperti guide.


"Sudah-sudah, jangan promosi terus. Aku jadi ngiler nih." Sahut Rahma.


Rumah satu lantai bercat abu muda itu masih sama seperti dulu. Rumah peninggalan orangtua Uma yang kini ditempati adik satu-satunya bernama Hamidah. Yang merupakan single parent setelah ditinggal wafat suaminya 6 tahun yang lalu. Halaman depan dan samping yang luas dengan pepohonan mangga dan jambu merah, masih menjadi ciri khas dan tetap asri seperti dulu.


"Rahma, maaf ya aku nggak datang saat suamimu meninggal. Waktu itu barengan Mama dirawat di rumah sakit." Eva menatap Rahma penuh penyesalan begitu trio itu sudah berada di kamar Mira. Cukup lama tadi berkumpul di ruang keluarga, usai melepas kangen dengan tante Midah dan Alfat adiknya Mira.


"Nggak papa, aku ngerti kok." Rahma merebahkan badan, ingin meluruskan punggung yang pegal selama perjalanan. "Va, tidur di sini ya. Kangen tidur bertiga, kangen ngobrol banyak hal, kangen bernostalgia masa kecil. Pokoknya pengen quality time soalnya nggak bisa lama-lama di Medannya.


"Ok ok." Sahut Eva yang ikut merebahkan badan di samping Mira. Toh rumahnya nggak jauh, berada di samping rumah Mira. Alhasil ranjang pun penuh oleh ketiga perempuan yang sama-sama menatap langit-langit kamar.


Dika berlari masuk ke dalam kamar dengan wajah memberengut dan hampir menangis.


"Kenapa sayang?" Rahma menatap Dika yang naik ke ranjang menyempil di sisi Mira.


"Atu telpon Om Buye tapi da ada." Dika menggeleng dengan bibir mengerucut panjang sebab kecewa tak bisa menghubungi om buye nya.


Mira dan Eva bersamaan bangun dan menatap penuh rasa ingin tahu. "Om buye itu siapa?!" Mira lebih dulu bertanya. Eva hanya menunggu sebab pertanyaannya sudah terwakilkan.


Rahma tampak gelagapan dan menggaruk rambut yang tak gatal itu usai baru saja melepas jilbab. Bingung mau jawab apa.


"Om Buye, Om atu." Dika bersegera menjawab dengan sorot mata berbinar, hilang sementara murung yang barusan nampak. "Om Nda juja---" pungkasnya seperti lupa hampir terlewat.

__ADS_1


__ADS_2