MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 67. Step by Step (3)


__ADS_3

Toko Citarasa


Dua orang karyawan saling tatap dengan senyum penuh arti di belakang meja kasir, lalu beralih melirik lagi sepasang pria dan wanita yang duduk di meja pojok tempat biasa menerima tamu. Dimana di sana ada Dimas dan Rahma yang sepertinya tengah berbincang.


"Kayaknya ini hari terakhir kita cuci mata liat pak kepala deh." Fitri menggaruk pangkal hidungnya yang tak gatal. Belum ada konsumen yang datang ke kasir sehingga ia bisa mengobrol dengan Desi yang tengah mendata bolu susu yang baru disetor dari pantry sekaligus membuat label expire.


"Memangnya pak Dimas dimutasi teh?" Desi tentunya tidak tahu maksud ucapan Fitri.


"Bukan lagi dimutasi tapi dicoret dari seleksi calon suami mbak Rahma, hihi." Fitri terkikik pelan.


"Hah?!" Desi menoleh. Menggantungkan memasang label expire di box bolu terakhir.


"Yang kemarin pastinya yang lolos. Yang gendong Dika---"


"Oh yang bule, teh?" Desi membulatkan mata dengan mulut menganga. "Ish, semua yang deketin mbak Rahma cakep-cakep. Tapi yang bule istimewa pastinya. Ntar punya anak bule juga, kan lucu." Pikirannya melayang membayangkan lahirnya bayi bule menggemaskan. Namun kemudian terkaget sebab mendapat lemparan bola kertas mengenai dadanya.


"Hayoh, otakmu travelling ke mana?!" Keduanya sontak tertawa bersama dengan tertahan sebab tak mau jadi perhatian orang lain.


"Berarti Koko juga out dong."


"Emangnya Koko naksir juga?!" Giliran Fitri yang kaget.


Desi mengangkat bahu. "Kalau cowok bersikap sangat baik dan perhatian sama cewek, bukankah bisa jadi ada maksud?!"


Kegiatan bergosip mereka pun berhenti dengan sendirinya kala 2 orang mengantri untuk bayar belanjaannya.


Beralih ke meja Rahma dan Dimas.


Rahma merasa ada kesempatan bicara kala Dimas mengajaknya ke luar untuk makan siang bersama. Sudah waktunya bersikap tegas, tak memberinya lagi harapan.


"Kang Dimas, maaf saya tidak bisa."


"Saya kan cuma ngajak makan siang, bukan ngajak nikah." Dimas terkekeh melemparkan candaan pada wanita cantik di depannya itu.


"Apalagi itu, sangat tidak mungkin." Rahma menatap serius pria berpenampilan necis di dihadapannya itu.


Membuat Dimas mengangkat alisnya dan memudarkan senyumnya. "Maksudnya?!" Perasaannya mulai merasa tidak enak melihat Rahma yang tampak serius.


"Jika kang Dimas menemui saya untuk urusan pribadi, mungkin ini pertemuan terakhir. Tapi jika kang Dimas datang ke toko untuk berbelanja, dengan senang hati kami menyambutnya."


Rahma membalas tatapan Dimas yang menatapnya tajam dan tampak fokus mendengarkan ucapannya.


"Sudah ada lelaki yang datang menemui ayah untuk melamar saya." Rahma menjeda dengan menelan salivanya. "Saya akan segera dikhitbah. Jadi maafkan saya jika ini jadi pertemuan kita yang terakhir." Lega rasanya sebab bisa berucap lancar.


"Kok bisa?!" Dimas memicingkan mata. "Pertama kali saya utarakan maksud untuk mengenalmu, kamu bilang belum siap menikah lagi. Tapi sekarang---"


Rahma menautkan jemari kedua tangannya di atas meja. "Benar kang, niat awalnya seperti itu. Tapi benteng yang saya bangun telah runtuh. Seseorang berhasil menyentuh hati saya. Malah anak saya yang lebih dulu jatuh cinta pada lelaki itu."


Dimas tersenyum kecut. "Saya kalah."


Rahma menggeleng.


"Ini bukan pertarungan. Ini perkara takdir."


"Dan takdir kita sekadar bertemu dan kenal, bukan jodoh."


Dimas tersenyum tipis. "Inilah mengapa kamu layak diperjuangkan. Karena kamu punya value. Sangat mahal dan langka di jaman sekarang ini."


Ia pun bangkit dari duduknya usai melirik jam tangannya. Sebentar lagi waktu istirahat habis. "Kita masih terikat relationship. Karena kamu adalah salah satu nasabah prioritas kantor. Jadi masih boleh kan saling menyapa kalau kita ketemu?" Dimas sudah bisa menguasai hati, menerima kenyataan meski kecewa itu ada. Manusiawi.


Rahma mengangguk dan ikut berdiri pula. "Tentu saja, Kang."


"Jangan lupa undangannya ya!" Dimas melangkahkan kaki dengan tergesa usai berucap salam.


****

__ADS_1


Bogor


Sebelum menuju pabrik, Mizyan meminta Rangga mengantar ke lokasi perkebunan sengon yang sudah terikat kontrak kerjasama dengan pabrik ayahnya itu. Begitu sampai di lokasi, pandangannya tajam menyapu dari tepi jalan deretan pohon yang menurut informasi Rangga akan mulai panen 2 bulan lagi. Cukup puas mengamati, ia mengajak Rangga melanjutkan perjalanan ke pabrik.


"Gue sering ngetrail ke sini. Jalur kedalamnya berbukit bukit, cocok buat jumping." Ujar Rangga sambil berjalan bersisian menuju mobil. Mark yang menunggu di mobil, baru selesai menerima telepon masuk dari relasi begitu keduanya mendekat.


"Jadi penasaran pengen lihat medannya." Mizyan baru menanggapi setelah masuk ke dalam mobil. "Tapi waktu gue terbatas. Gue pengen make sure aset Rahma ini soalnya mantan mertuanya ada niat ngerebutnya."


Mizyan yang duduk di samping Rangga yang menyetir, memutar wajah ke belakang. "Pi, tolong rahasiakan dulu kalau aku calon suaminya Rahma. Orang pabrik tidak boleh ada yang tahu!"


"Oke."


Di ruangan Ceo tampak foto gagah Mark Cornelius menunggang kuda, terbingkai figura besar yang menempel di dinding. Kini sang ceo duduk di sofa bersama Mizyan di sampingnya. menghadapi GM yang baru masuk ke ruangannya.


"Thomas, anak saya Mizyan akan menjadi penerus perusahaan ini. Mulai dari sekarang, dia punya wewenang ikut campur urusan intern perusahaan. Turuti apa yang dia mau!"


"Siap, pak." Thomas sang general manajer mengangguk patuh pada sang ceo.


"Pak Thomas, saya mau lihat MoU perusahaan kita dengan pemilik perkebunan sengon bernama Cut Mutiara Rahma!" Mizyan berkata tegas dan menatap tajam Thomas yang tampak bereaksi sedikit terkejut.


"Baik pak Mizyan, saya ambilkan dulu. Berkasnya disimpan manajer purchasing."


Thomas yang sudah berdiri ditahan Mizyan. "Biar Rangga yang ambil. Pak Thomas duduk saja!"


Rangga segera keluar ruangan menuju ruang purchasing. Tapi info yang diterima, berkas sudah diserahkan pada Thomas. "Kamu jangan main-main!" Ia yang dikenal seluruh staf sebagai asisten killer, menatap galak sang manajer yang ketakutan.


"Sumpah pak Rangga, selesai penandatanganan kontrak, Pak Thomas meminta berkasnya disimpan di ruangannya. Padahal harusnya saya forward dulu ke finance."


"Kontrak?! Bukannya baru MoU? Yang benar kalau bicara!" Hardik Rangga.


Sang manajer purchasing mengangkat 2 jarinya, kembali bersumpah.


Sepertinya ada yang gak beres.


Rangga kembali ke ruangan Mark dengan tangan kosong. Ia mengacuhkan tatapan heran Mark dan Mizyan. Fokus menatap Thomas yang tampak mengkerutkan kening.


"Astaga. Kenapa saya bisa lupa." Thomas menepuk kening. "Itu benar. Sebentar saya ambilkan dulu." Ia membungkuk sopan sebelum keluar.


"Saya antar. Biar bantu nyari kalau lupa nyimpan." Tanpa menunggu persetujuan, Rangga melenggang keluar lebih dulu.


Keduanya tak lama kembali datang dengan posisi Rangga mengekori di belakang.


"Sebelumnya saya ralat dulu, pak. Seminggu setelah MoU dibuat, bu Rahma telepon saya katanya sudah deal untuk dikontrak. Karena Bu Rahma tidak bisa datang, saya kirimkan berkasnya ke Bandung untuk ditandatangani."


Mark maupun Mizyan tidak menanggapi. Mizyan menerima sodoran berkas bersampul hijau itu. Dengan seksama ia membaca kata demi kata dalam hening. Tak ada seorang pun yang bersuara. Sesekali keningnya mengkerut lalu datar lagi.


"Oke. Karena waktu panennya masih lama, berkas ini saya pegang dulu."


"Biar saya saja yang simpan, Pak Mizyan. Ada brankas khusus file-file berharga. Jika diperlukan tinggal bilang saja." Thomas mencoba melobi dengan keramahan terlukis di wajahnya.


Mizyan menggeleng. "Pak Thomas bisa lanjutkan lagi pekerjaannya!"


Sebuah pengusiran yang sangat halus. Membuat Thomas tak bisa mendebat lagi. Ia hanya bisa berucap permisi.


"Saya merasa ada yang janggal, Pak." Rangga mulai bersuara melaporkan pada Mark.


"Agree." Mizyan menanggapi. "Pi, berkas ini mau aku bawa ke Bandung. Untuk sementara pending dulu urusan ini. Nanti aku follow up after marriage." Pikirannya melayang pada sosok wanita yang ingin segera dihalalkanya. ia bisa menilai jika Rahma masih polos dalam dunia bisnis perkayuan. Sebuah kelemahan yang bisa dimanfaatkan oleh orang serakah.


"Miki, sudah saatnya kamu handle pabrik ini."


Ucapan Mark membuat lamunannya berlarian. Ia menolehkan kepala melihat papinya memegang berkas yang cukup tebal tidak tahu dari mana asalnya.


"Nanti, Pi. Jawabannya after marriage." Ia dengan meraih ponselnya di meja begitu bunyi pesan khusus terdengar.


Sebuah pesan dari Fitri beserta foto.

__ADS_1


"Tamunya mbak Rahma hari ini, Pak Dimas."


Ia mengetik balasan cepat.


"Siapa Dimas?"


"Hmm maaf...itu yang naksir mbak Rahma. Kepala cabang bank syariah."


"Thanks infonya Fit."


Mizyan menemani papi Mark sampai sore di kantor. Sebab ia diminta membantu mempelajari laporan dari Quality Control (QC) yang merupakan divisi mandiri yang punya wewenang melaporkan langsung kinerja terhadap Ceo.


Malam hari kala duduk bersama bertiga di meja makan, ponsel Mizyan berdering. Ia abaikan sebab makannya belum selesai. Ponselnya di nakas kembali menggelepar untuk yang kedua kali. Ia menyelesaikan minum air putih sampai tandas sebelum beranjak menuju nakas.


"Hallo Mami---" Ia menyapa riang begitu melihat nama yang tertera di layar.


"Miki sayang, besok Mami sama Morgan mau ke Bandung. Morgan sudah libur sekolah, pengen holiday di Bandung."


"Alhamdulillah. Really great news." Mizyan menyahut gembira. Ia tak harus pergi ke Semarang malah Mami Kanti yang akan mendatanginya.


"Take off jam berapa, Mam? Nanti aku jemput ke bandara."


"Jam 11. Sudah ya, mami mau packing baju dulu."


"See you tomorrow, Miki."


Mizyan menatap sumringah ke arah papinya yang tentunya mendengar jelas semua percakapannya.


Ya Allah, makasih telah mempermudah urusanku.


****


Pagi menjelang, Mizyan bersiap untuk pulang dengan mobil sport merahnya. Ia berdiri berhadapan dengan Papi Mark yang mengantarnya sampai teras.


"Papi udah saatnya bertemu Mami. Please, nanti jangan seperti orang asing. Berdamailah demi aku."


Mark memeluk Mizyan, menepuk-nepuk punggungnya. "Kabari Papi kapan harus ke Bandung." Ia pun menyerahkan black card. "Ini hak kamu, jangan ditolak. Ingat jangan malu-maluin Papi, beli hantaran barang-barang branded. Lamaranmu harus berkesan."


Mizyan menolak kartu itu sebab ia pun memilikinya.


"Jangan bikin Papi merasa terus bersalah karena kehilanganmu bertahun-tahun!"


Ia akhirnya mengalah. Menerima kartu unlimited itu demi menyenangkan hati Papi Mark.


Hujan rintik-rintik mengiringi kepulangan Mizyan meninggalkan Bogor di pagi yang dingin dan berkabut. Senyumnya terus tersungging membayangkan dirinya segera bertemu lagi dengan bundanya Dika. Semalam sengaja tidak menghubungi Rahma demi surprise hari ini.


Ia menemukan chanel radio yang pas begitu audio dihidupkan. Sebual lagu dari Kerispatih tengah mengalun. Serasa curhatannya, senyum simpul tersungging di bibirnya.


Tak melupakan fokusnya menatap jalan raya yang bersiap memasuki tol, ia ikut bersenandung pelan----


🎶🎶


Tahukah engkau wahai langit


Aku ingin bertemu membelai wajahnya


Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah


Hanya untuk dirinya


Lagu rindu ini kuciptakan


Hanya untuk bidadari hatiku tercinta


Walau hanya nada sederhana

__ADS_1


Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan


(Lagu Rindu - Kerispatih)


__ADS_2