MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 140. Tindakan


__ADS_3

Rahma sudah bisa pulang usai visit dokter pagi ini. Hanya minggu depan harus kontrol untuk mengecek kondisi pergelangan tangan yang masih di gips. Memilih pulang ke rumah Ayah dan Mizyan juga setuju sebab banyak orang bisa membuat istrinya itu terhibur.


"Aku bisa jalan kok." Rahma menggeleng. Menolak kursi roda yang diantarkan perawat atas permintaan Mizyan.


"Aku yang khawatir, sayang. Udah, ayo duduk!" Tegas Mizyan sambil menepuk bantalan kursi roda.


Kalau sudah bernada tegas begitu, Rahma tidak bisa lagi membantah. Menuruti menaiki kursi roda.


Ayah yang menjemput hanya saling pandang dengan Uma diiringi senyum tipis.


Sampai di pekarangan rumah, ada Dika dan Manda sedang bermain di teras ditemani Suci. Dika antusias mendekati mobil yang mulai parkir. Sudah diberitahu jika Bunda dan Papa akan datang.


"Yeay, Papa buye atu...Nda atu---" Dika memekik girang. Dengan tidak sabar menggedor-gedor pintu kemudi sebab ditunggu-tunggu belum juga terbuka.


"Baaa---- ini kakek bukan Papa." Ayah Badru menurunkan kaca. Terkekeh melihat Dika yang berubah cemberut. Ia memang sengaja yang menyetir sebab Mizyan nampak kurang tidur.


"Ihhh...kakek, Papa atu Nda atu mana?" Dika mendongak dengan bibir yang cemberut.


"Ada juga Nenek, nih." Ayah Badru meminta Uma yang duduk di jok sampingnya mendekat agar terlihat oleh Dika dengan jendela yang dibuka sampai bawah. "Dikanya awas dulu, kakek mau turun." Sambungnya masih iseng menggoda sang cucu yang tidak menyadari kalau Papa dan Bundanya yang duduk di jok belakang sudah turun lewat pintu kiri.


"Atu ga mau nenek, gak mau kakek. Atu mau Papa sama Bun da." Dika menggeleng-gelengkan kepala dengan mendung yang menggelayut di kedua matanya. Bersiap akan menangis.


"Ehemm."


Dika menoleh ke asal suara deheman. Suara yang familiar di telinganya. Sontak wajahnya kembali riang dengan mata berbinar. Menangkap sosok Papa buye yang berdehem berdiri bersama Bunda Rahma di depan kap mobil. Dengan berteriak memanggil nama kedua orangtuanya itu, seperti biasa Dika berlari untuk memeluk dengan menubrukkan badannya.


Mizyan sigap menahan Dika yang berlari lebih dulu ke arah Rahma. Khawatir membentur tangan sang istri yang di gips. Meraih tubuh Dika dan menggendongnya sambil mencium pipi dan leher yang wangi aroma minyak telon itu. Dika tergelak riang, merasa geli dengan gesekkan jambang kasar Papa di lehernya.


" Bun da, tangannya napa?!" Dika memperhatikan tangan bundanya dengan wajah heran.


"Iya tante Rahma tangannya kenapa diikat gitu?!" Manda tak kalah antusias mendekat ingin tahu.


"Kemarin abis jatuh. Tapi besok juga sembuh kok." Rahma menanggapi santai sambil berjalan menuju pintu utama yang terbuka. Merangkum bahu anak gadis keponakannya itu.


"Manda.... awas bunda atu!" Dika meronta ingin turun dari gendongan Papa Buye. Merasa cemburu bundanya memeluk Manda.

__ADS_1


"Bunda aku lah---" Dengan sengaja Manda memanas-manasi Dika dengan cara menggelayut di lengan kanan tantenya itu.


Membuat Suci dan yang berada di luar, mentertawakan tingkah Dika yang jealuos terhadap Manda.


"Mas Nico masih di Jogja, pulangnya besok. Dia juga geram dengar berita tak bermutu itu." Suci menemani Rahma di kamar. Sementara Mizyan sedang berbicara serius di ruang keluarga bersama Ayah, Papi, dan Kemal.


Rahma menghela nafas kasar. "Kenapa perempuan harus dianggap salah saat memutuskan menikah lagi. Hanya karena kata orang terlalu cepat. Tapi saat ada pria yang nikah lagi disaat baru 40 hari ditinggal istrinya, orang nanggepinnya paling juga kasak kusuk di belakang, bahkan biasa-biasa aja." Ia mencurahkan hal yang menyesakkan hatinya di depan Suci.


"Aku bukannya tak cinta lagi dengan Bang Malik. Dia sudah punya tempat tersendiri di sini." Rahma menunjuk dadanya dengan air mata yang meleleh tak bisa ditahan. "Kelak aku akan buka untuk diceritakan pada Dika tentang siapa ayahnya. Ayah Malik yang gagah, hebat dan sangat baik, yang selalu tegar meski dianaktirikan oleh mama kandungnya." Ia tergugu di dalam dekapan Suci yang memeluknya dari samping.


"Kalau tidak ada rongrongan dan ancaman dari keluarga mama Indah, mungkin sampai sekarang aku masih sendiri, aku bisa jadi single parent, Suci" Lagi, Rahma menumpahkan keluh kesahnya.


"Tapi qodarullah--- inilah takdir hidup yang harus aku jalani, gak bisa aku tolak. Bertemu Mas Mizyan yang sayang dan mengayomi aku dan Dika. Tapi kenapa orang-orang seenaknya menghujatku, hu hu hu." Tangis Rahma makin tak terbendung dengan tubuh yang terguncang.


"Sudah...jangan nangis lagi." Suci mengusap-ngusap rambut Rahma. Ia dapat merasakan kepedihan dan kesedihan hati saudaranya itu.


"Kamu harus sabar ya...ujian ini memang berat tapi kamu pasti bisa melaluinya. Yang membuat berita itu jelas iri sama kamu. Sabarrr..." Suci meredam dan menenangkan Rahma.


Sesaat tanpa percakapan. Hanya isakan yang makin lama makin melemah. Suci membawakan tisu yang ada di meja rias.


Rahma baru sadar. Benar apa kata Suci. Kesedihannya bisa membebani pikiran sang suami. Segera menyusut muka dengan beberapa lembar tisu. Menarik nafas dan perlahan menghembuskan dari mulut. Sejak di rumah sakit sudah berusaha memperlihatkan ketegaran di depan Mizyan. Berani mencurahkan perasaan sebenarnya di depan Suci yang sejak kecil tak hanya menjadi saudara, tapi sekaligus sahabat dekatnya.


Tanpa disadari Rahma dan Suci, orang yang dibicarakan sedang berdiri bersandar di balik tembok. Terlambat, Mizyan mendengar semuanya. Kedatangannya ke kamar untuk mengganti kaos. Pintu kamar yang sedikit terbuka, urung ia dorong lebar saat mendengar suara Rahma yang berbicara pilu. Memilih menguping sampai akhir, yang terdengar jelas ke telinganya. Buku-buku tangan yang terkepal nampak memerah. Geram dengan orang yang sudah mengusik ketenagan rumah tangganya. Mizyan beralih menuju dapur. Meminum segelas air untuk menurunkan tensi amarah yang mendadak tersulut lagi. Malam ini tindakan tegasnya akan dimulai.


****


Malam ini. Bertempat di meeting room sebuah hotel bintang lima, yang disewa untuk durasi 2 jam, conferensi pers siap digelar. Dengan bantuan 2 asisten, yaitu Rangga dan Fahmi, telah mengundang para awak media untuk hadir. Tak tanggung-tanggung merogoh kocek hanya untuk sewa ruangan ekslusive, Mizyan juga menjamu para awak media dengan voucher coffee shop selepas acara press conference.


Melarang Papi Mark yang akan membayar semuanya. Ia ingin mandiri dengan memakai uang yang dimilikinya. Toh kartu platinum pemberian Papi Mark dulu isinya masih menggelembung sebab selalu disuntik tiap bulannya. Hanya dipakai saat kepepet.


"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat malam rekan-rekan media, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir di sini." Mizyan memulai membuka press conference. Duduk tegap dengan penuh wibawa didampingi Papi Mark dan Ayah Badru.


"Perkenalkan saya Mizyan Abdillah, suami dari Cut Mutiara Rahma. Bermaksud ingin mengklarifikasi atas beredarnya berita yang viral dari kemarin." Ia juga memperkenalkan oran-orang penting di samping kiri dan kanannya. Dengan penuh percaya diri Mizyan menyapukan pandangan ke semua awak media yang sedang merekam sebelum melanjutkan penjelasannya.


"Kami bukanlah selebritas yang penting untuk diketahui kehidupan privasinya. Tapi baiklah, saya akan jelaskan jika teman-teman penasaran." Mizyan jeda sesaat untuk menghela nafas.

__ADS_1


Keputusannya menggelar konferensi pers sempat mendapat penolakan dari Rahma saat tadi siang dibicarakan. Merasa tidak perlu. Biarkan orang dengan pendapatnya masing-masing, katanya. Namun berbeda bagi Mizyan. Kehormatan dan nama baik sang istri harus dipulihkan. Yang akhirnya Rahma mengalah dan memberi pelukan lama saat suaminya itu akan berangkat ke hotel.


"Saya menikahi Rahma satelah almarhum suaminya yang bernama Johan Al Malik meningggal, tepatnya di 1 tahun 2 bulan. Dan sayalah yang mengejar-ngejarnya karena sudah jatuh hati sejak tak sengaja bertemu beberapa kali di momen yang berbeda. Dan saya nekat berbicara pada orangtuanya menyampaikan niat ingin melamar Rahma menjadi istri saya."


"Tidak mudah untuk memenangkan hati Rahma. Ia begitu jutek dan galak untuk didekati. Tapi saya tidak menyerah, dan Alhamdulillah bahagia sekali...akhirnya bisa menikah dengannya."


Mizyan menatap salah satu kamera yang tersambung dengan live streaming dimana Rahma menyaksikannya di rumah. "I love her so much." Senyum manisnya tersungging dengan sedikit anggukkan kepala. Ingin menghibur seseorang yang ada di rumah sedang ditemani Uma. Sudah terbayang jika saat ini wajah Rahma sedang merona dan tersenyum malu.


"Jadi SALAH BESAR jika Rahma yang mengejar saya ditambah tuduhan sebagai wanita matre dan kata-kata menyakitkan lainnya yang malas saya sebutkan."


"Karena pemberitaan itu, istri saya yang sedang hamil muda menjadi syok dan kemarin mengalami keguguran." Mizyan memejamkan mata sambil menundukkan wajah sebab rasa sedih tiba-tiba menyeruak.


Papi Mark merangkum bahu sang anak untuk menguatkan agar tegar kembali.


Mizyan berdehem sebelum melanjutkan berbicara.


"Kepada pelaku pembuat berita, saya kasih waktu Anda tiga hari untuk meminta maaf dan membuat klarifikasi di depan media. Juga terhadap akun-akun penyebar gosip, mulai malam ini juga tolong untuk hapus semua postingan. Sebelum saya bertindak tegas membawa ke jalur hukum!" Tegas Mizyan sekaligus mengakhiri jumpa persnya.


"Saya kasih kesempatan satu pertanyaan sebelum menutup acara ini." Rangga yang bertindak sebagai moderator memilih salah satu wartawan yang mengacungkan tangan.


"Mas Mizyan kan arsitek ternama, berprestasi di dalam dan luar negeri. Dan sekarang sedang menghandle project besar Dempo Properti. Apakah berita viral ini ada dampaknya terhadap pekerjaan?"


Mizyan termenung sesaat. Pertanyaan sang wartawan sama sekali tak terpikirkan olehnya sekaligus mengingatkannya pada chat dan email yang belum dibukanya sejak kemarin.


"Saya tidak tahu. Fokus saya sekarang adalah menemani dan menghibur istri saya yang lagi down. Kalaupun terjadi pembatalan kontrak sepihak, gak masalah. Saya masih punya ALLAH yang Maha Kaya."


Dan Mizyan pun ijin pamit. Segera pergi meninggalkan ruang meeting diiringi Papi Mark dan Ayah. Tidak memberi kesempatan terhadap wartawan lainnya yang ingin bertanya. Selanjutnya menjadi urusan Rangga dan Fahmi yang akan membagikan voucher coffee shop.


Mizyan bersama Ayah dan Papi, lebih dulu meninggalkan hotel untuk pulang ke rumah. Pulang dengan penuh kelegaan setelah satu tahap tindakan sudah dilalui. Sementara Kemal tetap berada di sana untuk menginap semalam lagi sebelum besok pagi pulang ke Kalimantan.


Sampai di depan rumah, ponsel Mizyan dalam mode vibrate bergetar. Ia yang akan mendorong pintu gerbang, penasaran dengan siapa yang menelponnya. Kang Hendra calling.


"Target sudah ada di markas." Lapor Hendra usai menjawab salam Mizyan.


"Oke. Otewe!"

__ADS_1


Mizyan urung membuka gerbang. Meminta ijin pada Ayah dan Papi yang turun dari mobil, untuk pergi lagi sebab ada urusan penting.


__ADS_2