MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 51. Malu, Bertalu, dan Bersemu


__ADS_3

Satu persatu Mizyan membalas menelpon balik orang-orang yang telah menghubunginya, yang tentunya menyangkut urusan pekerjaan. Ia pun balas menghubungi Mami Kanti lewat video call, sekalian menceritakan pertemuannya dengan Papi Mark yang direspon dengan nada kaget lalu berubah raut muka ibunya itu yang tersenyum dan mengatakan turut senang.


"Jadi papimu tinggal di Bogor?"


"Yes, Mam. Awalnya aku ketemu adiknya Umi di pesantren yang tinggal di Bogor dan dia kaget lihat wajahku katanya mirip orang bule yang tinggal satu desa dengannya." Mizyan menatap lekat wajah ibunya. Ia tak mengatakan jika mantan suami maminya itu sudah banting stir bukan lagi pengusaha ekspor impor melainkan juragan sapi.


Biarlah Bunda dan Dika menjadi paling akhir yang akan dihubungi agar leluasa berapa lamapun berbincang. Cause they're excellent.


Selesai sudah dengan urusan umum sampai 1 jam lamanya sambil duduk di teras. Saatnya menghubungi 2 orang teristimewa yang terpatri di sanubari meski masih status cinta sendirian, cinta dalam hati. No problem.


Kala jempol bersiap menyentuh icon video, terdengar raungan motor trail memasuki halaman. Mizyan urung melakukan panggilan demi melihat yang rider itu adalah Olla. Ia bertepuk tangan sambil mendekati dengan binar kekaguman.


"Incredible! Nggak nyangka Bu Olla punya hobi ekstrim." Mizyan mengacungkan 2 jempolnya. "Treknya ke mana?" Lanjutnya sambil memperhatikan motir trail yang kotor penuh cipratan tanah.


Olla membuka kaca mata serta helm crossnya sehingga menampakkan wajahnya yang memerah dan berkeringat diiringi senyum merekah.


"Nggak jauh cuma mau pemanasan aja soalnya udah lama nggak pake."


"Barusan lewat ke pesawahan sampai mengelilingi kebun kayu sengon, balik lagi. Belum berani jauh, takut pegel badan." Pungkasnya disela membuka sarung tangannya.


"Next time, kita ngetrail bareng, mau?!" Tawar Mizyan yang dijawab Olla tanpa ragu. "Why not."


Mizyan pun mengutarakan jika ia akan pulang ke Bandung saat ini juga. Sebab ada temu janji dengan klien nanti sore. Malah tadi kala berangkat dari villa papinya mewanti-wanti untuk segera kembali lagi ke Bogor sebab masih rindu juga banyak hal yang ingin dibahas.


"Aku cuti sampai lusa. Jadi pulang ke pesantrennya lusa." Olla pun mempersilakan Mizyan yang akan pulang duluan.


Usai berpamitan kepada orangtua Olla, Mizyan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah pak Yunus. Sebuah ide terlintas di benaknya untuk memberikan surprise terhadap Dika sehingga ia memutuskan membatalkan menghubungi bocah cute itu.


Bandung, I'm coming.


****


Rahma memperhatikan ponselnya. Lebih tepatnya memperhatikan status chat seseorang yang tengah online setelah dari 2 hari lalu dipantau off. Menjadi heran, kala ia sudah beberapa kali menghubungi orang itu yang tak lain adalah Mizyan dan biasanya selalu respon balik dengan cepat, namun pagi ini mendapati status online tapi ditunggu-tunggu tak jua menyapanya walau sekadar kirim pesan untuk memberi alasan.

__ADS_1


"Nda, mo telepon om buye agi?!" Dika mendekati bundanya dengan mata berbinar dan penuh semangat sebab melihatnya tengah memegang ponsel.


Rahma melirik Dika yang duduk manis di sisinya dengan kedua kaki diayun-ayun dan wajah yang riang. Ia menghela nafas panjang. Anaknya itu benar-benar sudah ketergantungan sama om buye nya. Ini tidak boleh dibiarkan, pikirnya. Sebab Mizyan adalah orang lain yang punya privasi dan kesibukan sendiri. Ia sudah cukup direpotkan oleh Dika yang merajuk sejak kemarin harus menenangkan. Om Buye nya


tidak bisa dihubungi dan jadilah anaknya itu rewel.


"Om buye lagi sibuk. Nanti aja tunggu Dika ketemu langsung sama om ya." Rahma menghibur dengan spekulasi. Ia juga tak yakin apakah Mizyan masih tetap akan berinterkasi dengan anaknya atau malah tengah sibuk bersama calon istrinya, mungkin. Tetiba hatinya merasa gundah dan takut. Entahlah.


"Yeay om buye mo kecini.....atu mo biyang nene---"


"Eh----" Rahma membelalakkan mata melihat Dika yang turun dari kursi dan berlari ke arah dapur. Ia hanya bisa menggaruk kepala yang terbalut jilbab sebab anaknya sudah salah mengerti.


Semalam Mama Indah menelpon akan main ke rumahnya jam 10 pagi ini. Sehingga rencana pergi ke Bogor bersama ayahnya untuk meninjau kebun kayu sengon, diundur. Padahal ia ingin segera merealisasikan amanah almarhum Malik di surat yang ia terima dari pengacara Hari. Belum lagi koko yang menagih janji untuk makan siang bersama dengan Mami Helen di rumahnya. Ia belum bisa memberi jawaban sebab jadwalnya yang masih sibuk.


Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan rumah. Rahma yang baru membuka mukena usai sholat Duha, mengintip dari balik jendela kamarnya untuk mengetahui siapa yang datang. Dari balik jeruji pagar besi tampak seorang pria bertopi keluar dari pintu kemudi dan dari pintu kiri turun seorang wanita berambut coklat. Mama Indah dan Alex.


Sudah ada Uma dan Ayah yang menyambut kehadiran Oma dan Om nya Dika di ruang tamu. Terdengar obrolan ringan saling bertanya kabar kala Rahma menuju ke sana. Ia pun bertanya kabar mama Indah dan Alex sambil bersalaman.


"Dika, sini sayang----Oma kangen banget lho pengen ketemu Dika." Mama Indah melambaikan tangan kepada Dika yang bersembunyi di belakang bundanya. Tak ada keriangan di wajah bocah itu kala menuruti perintah bundanya untuk mencium tangan Oma dan Om nya.


****


Ada tamukah?


Ia memanjangkan leher dari balik kemudi. Tampak pintu pagar besi yang terbuka lebar. Berati benar dugaannya, sedang ada tamu di rumahnya Rahma.


I don't care.


Percaya dirinya yang tinggi membuatnya memutuskan untuk tetap masuk, siapapun tamunya. Meski jika mungkin itu akan menjadi rivalnya. Mizyan sempatkan mengganti bajunya yang sudah berkeringat. Ia sudah menyiapkan baju gantinya di jok belakang. Sebagai sentuhan akhir, rambut dan wajahnya ia cek dengan berkaca pada spion.


"Eh ketemu mas bule lagi----" Ceh Imas yang baru keluar dari rumah Rahma berseru girang begitu matanya melihat ada mobil berwarna merah. Mizyan hanya membalas dengan menganggukkan kepala dan tersenyum tipis.


"Bu, ada tamu siapa ya di dalam?" Mizyan masih berdiri di samping mobilnya.

__ADS_1


"Oh itu, ada mantan mertuanya Rahma sama àdik iparnya juga. Mau ketemu Dika, katanya." Ceu Imas menjawab dengan pelan. "Mas bule mau masuk sekarang atau mau nunggu dulu di rumah eceu, hihi---" ceu Imas terkikik dengan gaya centil.


"Saya masuk aja." Sahut Mizyan menahan senyum.


"Oooomm---"


"Om buyeee---"


Baru saja Mizyan memasuki gerbang yang terbuka, terdengar pekikan riang Dika sambil berhambur menghampirinya. Sebelum bocah itu menubruk kakinya, ia raih tubuh padat berisi itu dan mengangkatnya ke udara. Membuat Dika berteriak diiringi tawa gembira. Ia tidak tahu jika beberapa pasang mata yang baru muncul dari dalam rumah, tengah memperhatikan interaksinya dari teras.


"Ehm, Lo siapa?!" Alex mendekat diiringi tatapan tajam penuh selidik.


"Om buye, om atu, om nda juja---" Dika yang menjawab dengan cepat tanpa memandang kepada alex. Ia malah mengeratkan tangannya di leher Mizyan dalam posisi nemplok di dada dengan kepala disandarkan di bahu om buye nya itu.


Mizyan hanya tersenyum tanpa berniat menjawab lagi. Berbeda dengan Alex yang mengerutkan kening sebab tak mengerti dengan ucapan Dika.


"Dika, sini digendongnya sama om Alex. Kan kita mau jalan-jalan sama Oma." Alex berusaha membujuk Dika. Namun mendapat gelengan kepala dari bocah itu dan malah makin mengeratkan tangannya. "Kan Dika mau beli mainan yang banyak, ayo kita pergi sekarang!" Pungkasnya masih dengan nada sabar merayu.


"Dika nggak mau. Jangan dipaksa!" Ujar Mizyan pelan dan tenang. Tak ingin terdengar oleh orang-orang yang berada di teras.


"Lo siapa berani ngatur-ngatur?! Gue om nya!" Alex tak kalah memelankan ucapannya dengan nada geram dan masih dengan tatapan tajam.


"Bersihin dulu mulut lo yang bau minuman!" Mizyan berbisik di telinga Alex. Dengan tenang ia melewati Alex dengan sedikit menyinggung bahunya seolah tidak disengaja padahal memang sengaja sebagai kode pemberi peringatan.


Dengan Dika yang masih digendongnya, Mizyan menghampiri 3 orang yang berdiri di teras lalu menyalaminya. Ada uma dan ayah Badru serta mama Indah yang menyambut uluran tangannya .


Sementara Rahma yang tadi ikut berdiri di belakang Uma, perlahan memundurkan jalannya masuk lagi ke ruang tamu. Ia memilih menyaksikan dari balik kaca jendela kala dengan polosnya Dika memperkenalkan Mizyan sebagai om atu, om nda juja. Malu, bertalu dan bersemu.


"Dika akrab banget ya. Emang siapa om ini---" Mama Indah mencubit gemas pipi Dika yang masih bersandar di bahu Mizyan, tak mau turun.


"Ini om buye. Om atu, om nda juja---" Kali ini Dika menjawab dengan kepala tegak menatap oma nya.


"Atu tangen Om.....Nda juja tangen Om---" Lanjut bocah itu yang kini beralih menatap om buye dengan bibir mengerucut seolah protes sebab sejak 2 hari lalu tidak bisa menghubunginya.

__ADS_1


Dari balik kaca jendela yang berwarna hitam itu, Rahma meringis sambil menggigit bibir mendengar ucapan polos Dika di depan Oma nya. Ditambah jantung yang mendadak bertalu kencang sebab kaget. Tak menyangka jika apa yang dikatakan kepada Dika dengan maksud menghiburnya agar tak merajuk, kini orangnya hadir di depan mata dengan senyum khasnya yang membuat dadanya berdesir.


__ADS_2