MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 120. 20 November


__ADS_3

Hawa malam dengan hujan yang sudah reda terasa sedikit panas yang menimbulkan gerah. Kamar utama dengan suhu AC rendah membuat penghuni kamar tidur lelap bergelung di balik selimut. Rahma mengerjapkan mata perlahan. Rasa ingin buang air kecil yang mendesak, membuatnya terjaga di jam 3 dini hari. Dipalingkan wajah ke arah kiri menatap Mizyan yang tidur telentang. Nampak pulas dengan dengkuran halus terdengar. Jemari tangan yang saling bertaut sejak mulai tidur, masih sama terjalin hangat. Rahma mengurainya perlahan agar tidak membuat sang suami terjaga. Ia harus segera pergi ke kamar mandi menunaikan hajatnya.


Selesai uruaan kamar mandi, Rahma melangkah keluar kamar. Merasakan pula tenggorokan yang haus serta perut dengan suara menyeruwuk lapar. Meski di dalam kamar selalu menyediakan air minum, namun memilih ke dapur sekalian mengganjal perut yang tiba-tiba keroncongan. Namun sebelumnya ia melangkahkan kaki ke kamar kedua. Memperbaiki selimut yang dipakai Dika yang sudah melorot ke bawah. Sementara orangnya lelap sambil nemplok memeluk boneka sapi opa.


Membuka kulkas, Rahma mengambil wadah selai strawberi untuk olesan roti tawar gandum yang tersedia di meja makan. Tatapannya terantuk pada kalender sobek yang ada di samping kulkas. 17 November.


Ia menyobek tanggal kemarin itu. Berganti angka menjadi 18 dengan sudut bibir tertarik mengingat dua hari lagi berarti ulang tahun sang suami. Sambil duduk mengunyah setangkup roti tawar gandum isi selai strawberi, ingatannya melayang pada percakapan dengan Papi Mark saat di resto. Membuat matanya tetiba berkaca-kaca, haru. Akan ada kejutan yang diberikan Papi Mark dan ia dapat peran pembantu untuk merealisaaikanya. Huft, semoga dilancarkan.


Hamil bukan ya?!


Kini Rahma menduga-duga pada apa yang dirasa dalam tubuhnya. Tak ada mual pusing seperti yang dialami saat hamil Dika. Malah yang sekarang dirasa seperti tanda-tanda menjelang haid. Tanggung waktu jika tidur lagi sebab waktu subuh kurang dari 1 jam, ia memutuskan tes urin menggunakan semua tespek yang semalam dibeli. Bismillah.


Pagi usai sarapan lebih awal, Rahma dan Mizyan serta Dika berangkat menuju pesantren untuk mengikuti kajian Ahad. Dimana ada waktu luang tentu saja tidak disia-siakan untuk mengikuti kajian siraman rohani sekaligus silaturahmi dengan usrad Ahmad dan keluarganya.


"Dika mau sama Bunda atau sama Papa?" Rahma memberi pilihan pada sang anak usai keluar dari mobil. Meski sudah bisa menebak apa jawaban anaknya itu. Suasana tempat parkir ramai oleh kendaraan roda dua dan roda empat yang masuk dan mencari posisi tempat yang kosong.


"Atu sama Papa." Jawab Dika mantap sambil menggelayut di lengan Papa buye.


"Ayah sama Uma udah datang belum?" Mizyan melihat parkiran mobil yang berjajar untuk mencari tahu mobil Rahma yang sejak menikah diberikan kepada Ayah Badru.


"Udah di dalam, katanya." ujar Rahma yang baru saja menelpon Uma.


Mereka pun berpisah saat memasuki masjid. Dimana tempat ikhwan di lantai bawah dan tempat akhwat di lantai atas.


"Papa sholat sunah dulu. Dika duduk di sini, gak boleh lari-lari ya!" Mizyan yang memilih posisi menepi dulu agar tidak terganggu lalu lalang orang, menyuruh Dika duduk di sampingnya. Dika menurut duduk sila, sambil matanya mengedar memperhatikan tingkah orang-orang yang mulai duduk rapih berjajar.


Selesai kajian tidak lantas langsung pulang. Mizyan dan Rahma mengajak Ayah dan Uma ke rumah utama untuk bertemu langsung sang ustad juga Umi Hani. Dado dengan riang membantu membawakan oleh-oleh 2 goodie bag oren berlogo Citarasa. Tentu saja disambut sukacita Umi dan Abah, sapaan ustad Ahmad. Ada pula Azis dan istrinya Sarah turut menyambut girang.


"Sudah isi belum?" Terang-terangan Sarah mengusap perut Rahma dengan antusias.


Rahma mengulas senyum. "Mohon do'anya saja, Teh."


Sesuai rencana kemarin, selanjutnya Mizyan mengajak Ayah dan Uma refreshing. Pilihan tempat jatuh ke kawasan Dago.


****


Senin 19 November.


Di lantai 2 toko Citarasa, Rahma nampak berjalan bolak balik dengan ponsel yang melekat di telinga. Kening yang mengkerut menandakan ia begitu serius mendengarkan penjelasan seseorang di sebrang sana. Check and recheck semua yang dipesannya terhadap teman pemilik catering. Berakhir dengan senyum lebar menandakan kepuasan.


Ia beralih menghubungi Ayahnya. Setelah kemarin di Dago sempat menceritakan garis besar rencana kejutan di hari ulang tahun Mizyan. Sekarang waktunya bertanya tentang progres yang sudah dikerjakan sang ayah sepulangnya dari Dago.


"Yah, gimana-gimana?!" Dengan tidak sabar Rahma bertanya pada pokok bahasan usai menjawab salam sang ayah.


"Alhamdulillah---" Rahma mengucap syukur dengan menghembuskan nafas kelegaan.


"Aku juga udah hubungi catering. Mudah-mudah besok dilancarkan ya, Yah."

__ADS_1


Selesai berbicara dengan Ayah Badru, Rahma mendekap ponselnya di dada. Ia merasa tak mungkin bekerja sendiri merealisaaikan keinginan Papi Mark. Orang-orang terdekat harus dilibatkan termasuk Uma yang juga sangat mendukungnya. Biar semua berjalan lancar dan tidak ada misunderstanding.


Rahma duduk di kursinya. Satu jam lagi akan keluar menuju rumah sakit ditemani Fitri. Makanya sengaja Dika dititipkan dulu pada Uma sebab hari ini akan disibukkan dengan banyak tujuan.


Ya Allah, bisakah air mata ini terkuras habis hari ini. Agar besok bisa kuat tak terbawa perasaan.


Rahma mendongakkan kepala menatap langit-langit. Baru membayangkan akan keharuan besok, matanya sudah berkaca. Melihat orang menangis saja bisa terbawa suasana. Apalagi esok yang akan berkumpul bersama orang-orang tersayang. Akan ada sejarah terukir.


Ah aku memang baperan.


Rahma menyeka pipi sebab dua buliran air mata lolos tak terbendung.


Ya Allah, mohon mudahkan dan lancarkan acara esok. Engkau Maha mengetahui niat baik kami.


Rahma memejamkan mata, mengusap muka dengan kedua telapak tangan. Perlahan menarik nafas untuk menenangkan suasana hati. Dan sekarang waktunya pergi ke beberapa tujuan ditemani Fitri.


.


.


.


Mizyan mengendurkan dasi yang dikenakannya. Jas sudah terlepas dan tersampir di sandaran jok. Jam 8 malam ia baru keluar dari hotel selesai meeting dengan ceo sebuah perusahaan developer raksasa. Yang membahas 2 project pembangunan masjid di perumahan elit dan di pusat perbelanjaan yang sedang dibangun. Developer itu tertarik dengan rancangan sang arsitek yang pernah menjuarai lomba desain masjid tingkat internasional yang diadakan di Abu Dhabi setahun yang lalu. Padahal mereka punya arsitek intern. Tapi bisnis tetaplah bisnis dengan profit yang sudah dikalkulasikan. Nama besar serta pesona arsitek Mizyan Abdillah bisa menjadi magnet untuk menarik konsumen.


Mizyan langsung mengarahkan mobil ke apartemen sebab Rahma sudah pulang sambil menjemput Dika sore tadi. Senyuman manis sang istri menyambut kepulangannya. Membawakan tas kerja dan jas yang tersampir di lengan. Dika menyongsong dengan permintaan ingin digendong. Seperti biasa, Mizyan mengangkat tinggi-tinggi tubuh bocah yang semakin bertumbuh besar dan sehat itu.


"Udah dong, Papanya cape baru pulang." Rahma menghampiri dengan membawa segelas air putih hangat. Menegur Dika yang tergelak lepas dan minta diayun lagi ke atas.


"Papa gak akan kuat ngangkat Bunda, berat." sahut Rahma yang duduk di sofa usai menyimpan gelas di meja.


"Kata siapa---" Mizyan menurunkan Dika dari gendongan. Mengambil tempat duduk di samping Rahma yang tampil segar dan wangi dengan rambut panjang tergerai. Meneguk segelas air yang disajikan sang istri sampai tandas.


"Bunda sering Papa gendong kalau malam." Mizyan tersenyum miring sambil menaik turunkan alis menatap Rahma.


"Papa, atu ga pelnah liat Nda digendong Papa." Protes Dika yang lalu mengambil celah duduk di tengah keduanya.


"Stop Pa, STOP!" Rahma mengangkat telunjuk melihat Mizyan membuka mulut.


"Apa sih, sayang. Aku cuma mau nguap." Elak Mizyan sambil terkekeh. Sehari tidak menggoda Rahma rasanya bagaikan makan tanpa kerupuk. Kurang afdol.


"Iya sayang, apa syihhh. Hi hi hi---" Dika menimpali. Lalu menyembunyikan wajah ke bantal sofa melihat bundanya yang melotot.


Interaksi yang penuh canda tawa ini yang selalu menjadi hiburan dan kebahagiaan buat Mizyan. Lelah tenaga dan pikiran usai bekerja terasa menguap begitu saja.


Mizyan memilih mandi dulu saat Rahma menawari makan yang sudah disajikan di meja. Menyegarkan badan dari keringat yang lengket di kulit agar bisa menikmati makan dengan nikmat.


"Gimana meetingnya lancar?" Rahma mulai membuka pembicaraan begitu Mizyan menyusul bergabung di ruang keluarga. Mainan yang berserakan di karpet menjadi pemandangan yang biasa selama bocah aktif itu belum tertidur.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sudah langsung tanda tangan. Aku akan mengerjakan 2 project." Mizyan merangkulkan tangan kanannya ke bahu Rahma. Ikut memperhatikan Dika yang menjajarkan 3 robot sapinya di lantai.


Rahma berucap syukur yang sama.


"Sayang, besok---"


"Bentar, Mas. Aku pipis dulu." Rahma memotong ucapan Mizyan dengan segera beranjak bangun dari sofa.


Selasa 20 November.


Mizyan terjaga dari tidurnya. Menatap jam, pukul 1 dini hari. Ia menghembuskan nafas lesu. Menatap Rahma yang tidur berpelukan dengan Dika. Keduanya nampak pulas.


Saat bercengkrama di ruang keluarga, ia mencoba memancing sang istri apakah ingat atau tidak dengan hari spesialnya tanggal 20. Namun Rahma malah pergi ke kamar mandi dan kembali dengan menguap ingin segera tidur. Katanya tadi siang sibuk di toko banyak pesanan hingga harus turun tangan.


Mizyan telentang dengan kedua tangan menopang belakang kepala. Mengerucutkan bibir sambil menatap plafon kamar. Diluar ekspektasi, dikira jam 00 akan ada surprise romantis untuknya. Nyatanya, sudah jam 1 ini Rahma nampak berwajah damai dalam lelap.


Ya sudah. Tidur lagi.


Mizyan mencoba memupus rasa kecewanya dengan kembali memejamkan mata.


"Papa---"


Mizyan lamat-lamat mendengar suara Rahma.


"Hmm---" Menanggapi dengan mata yang masih rapat.


"Papa, bangun udah subuh. Mau ke masjid gak?!"


Usapan lembut di dada membuat Mizyan membuka mata. Menarik lengan Rahma hingga jatuh menimpa dadanya.


"Bentar lagi azan, Pa. Mau ke masjid gak? Aku udah siapin bajunya." Rahma mencoba mengangkat tubuhnya namun Mizyan memeluknya erat.


"Dua menit lagi." Sahutnya dengan suara serak. Menenggelamkan kepala Rahma ke ceruk lehernya.


Rahma mengalah. Berdiam diri di atas tubuh sang suami. Bisa merasakan bagian inti suaminya itu yang tegak.


"Sudah 2 menit. Ayo!" Rahma memberi kecupan di pipi kiri dan kanan sebagai bujukan. Mizyan pun terbangun.


Mengintip cuaca di luar lewat jendela yang nampak gerimis. Mizyan memutuskan pergi ke masjid yang paling dekat berjarak 1 km dengan menggunakan mobil.


Pulang dari masjid. Membuka pintu dengan kartu yang selalu terselip di dompet kunci mobilnya. Ia mengucap salam dengan kurang gairah. Sepi. Tak ada Rahma yang berberes rumah. Tak ada aroma masakan yang tercium. Dengan lunglai ia menuju meja makan. Ada setangkup roti tawar gandum tersedia dan segelas teh tawar hangat.


"Sayang---" Mizyan memanggil sang istri. Hening.


Apa tidur lagi?!


Mizyan beranjak dari duduknya. Baru memakan roti setengahnya. Merasa gak asyik makan sendirian. Biasanya ada Rahma selalu menemani.

__ADS_1


Masuk ke dalam kamar, tempat tidur sudah rapih. Tidak ada Dika yang biasanya jam 6 ini belum bangun. Memanggil lagi Bunda dan Dika bergantian. Membuka kamar mandi, tidak ada orang di dalamnya. Hanya tercium aroma wangi sabun seperti baru saja ada yang mandi.


Pada kemana ya?!


__ADS_2