
Mark mengikuti Fatimah yang berjalan lebih dulu keluar dari kantor sekretariat. Lalu berdiri bersisian di teras depan. Rangga yang sedang duduk memainkan ponsel pun berdiri, mengira bossnya itu sudah selesai dengan urusannya.
"Saya mau keliling dulu." Ujar Mark terhadap Rangga yang kemudian mengangguk mengerti.
"Ini rumah saya dan di sampingnya adalah pondok atau asrama putri." Fatimah berlaku seolah tour guide. Menunjuk rumah bercat biru kombinasi putih dengan halaman terbuka dan asri oleh tanaman hijau dan tanaman bunga yang terawat. Juga menunjuk bangunan 2 lantai di samping rumahnya sebagai pondok putri.
"Yang ini tidak direnovasi karena memang masih baru dan layak huni."
Mark menyimak dengan baik. Mengikuti lagi langkah Fatimah yang berjalan menuju bangunan yang direnovasi menghadap lapang yang sedang dipakai anak-anak usia SD berolahraga. Nampak sudah 80 persen selesai tinggal finishing bagian luar.
"Ini yang direnovasi Pak Mizyan---" Ucapannya menggantung sebab Mark menginterupsi.
"Bu Fatim gak usah panggil Pak sama Mizyan, panggil Mas aja. Kalau saya pantas dipanggil Pak karena sudah tua." Protes Mark diiringi gelengan kepala.
Fatimah mengulas senyum tipis. "Bapak dan anaknya sama ya. Putra Bapak juga protes dipanggil Pak. Beliau memang lebih muda dari saya, tapi gak enak lah masa panggil Mas kan saya menghargai profesinya."
"Tuh kan anak saya aja protes gitu. Sudah ya fixed, panggilnya Mas. No debat!" Watak bossy nya keluar.
"Baiklah." Fatimah mengangguk mengalah.
"Hm, kata siapa Pak Mark tua?" Menoleh sekilas pada pria matang di sampingnya itu. "Saya malah lihatnya seperti kakaknya Mas Mizyan. Hi hi hi---" Fatimah tertawa ditahan dengan telapak tangan menghalangi mulut. Lalu berjalan mendahului dengan semburat merah di pipi. Dan itu jelas tertangkap oleh netra tajamnya Mark.
Mark sudah biasa mendapat perkataan dan pujian orang-orang tentang dirinya yang pantas disebut kakaknya Mizyan. Tapi kenapa ucapan dari Fatimah membuat hidungnya terasa mengembang dan ingin terbang. Dan tawa tertahannya itu bikin sang bule Jerman gemas dibuatnya.
My God. Padahal senyum dan tawanya sangat manis. Kenapa selalu dihalangi tangan? Jadi penasaran alasannya.
Pertanyaan yang sudah di tenggorokan itu ingin sekali dilontarkan. Tapi ia harus tahan, jaga image sebab hubungannya masihlah formal.
"Makasih pujiannya. Hidung saya hampir saja mau terbang kalau gak ada plafon ini." Mark berkata jujur sesuai perasaanya saat ini. Ditanggapi Fatimah dengan terkekeh membelakangi. Hanya bisa melihat bahunya saja yang terguncang.
"Desain yang dibuat Mas Mizyan membuat ruangan jadi saling terintregasi, dan hemat tempat. Saya sangat puas dan kagum." Fatimah membuka pintu geser kaca ruang perpustakaan. Lalu masuk dan menyentuh dinding tembok berwarna krem yang ternyata bisa digeser. Berfungsi sebagai pintu sekaligus penyekat dan didalamnya terdapat lab komputer.
Mark tidak bersuara. Fokus menyapukan pandangan selama sang guide menjelaskan. Lalu berjalan lagi keluar menyusuri koridor menuju ruang belajar.
"Assalamu'alaikum, Bu Ima." Empat orang anak perempuan berseragam SMP dengan menggendong tas di punggung mendekat dan mencium tangan Fatimah juga Mark.
"Wa'alaikum salam. Kok sudah pada pulang?" Heran Fatimah menatap anak asuhnya.
"Guru-guru semuanya rapat. Kita disuruh belajar di rumah ngerjain tugas." Jawab salah satu anak. "Bu, boleh ngerjainnya di perpustakaan?" pungkasnya
Fatimah mengangguk mengerti. "Boleh. Tapi tidak boleh berisik ya!"
"Kok Bu Ima?!" Mark menautkan kedua alis. Memandang punggung anak-anak yang berlomba lari siapa yang lebih dulu sampai ke pintu. Ia segera menyusul Fatimah yang sudah berjalan mendekati tangga menuju lantai 2. Mensejajari lagi langkahnya.
"Ima itu panggilan kesayangan dari Abah dan Mamah. Jadinya semua orang pun manggilnya begitu." Fatimah menunduk menyembunyikan rona malu.
"Saya juga mau ikutan ah. Bu Ima, hmm manja-manja gimana gitu kesannya." Mark tertawa renyah dengan dada yang terasa penuh luapan bahagia. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali merasakan suasana hati seperti ini setelah bertahun lamanya membentengi diri dari banyaknya wanita yang ingin mendekati jiwa dan raganya.
"Pak Mark bisa aja becandanya." Fatimah mengulum senyum. Cerahnya suasana pagi menjelang siang memperjelas warna pipi yang memerah seperti tomat.
Tiba di lantai 2 yang merupakan tempat belajar dan asrama putra yang dipisahkan oleh lorong. Nampak dari kaca jendela, kegiatan belajar mengajar kelas 5 dan 6.
"Bu Ima punya berapa anak asuh?" Mark mengikuti lagi langkah Fatimah menaiki tangga terakhir menuju roof top.
"Semuanya ada 99 anak yatim dan yatim piatu. 5 orang pelajar SMA, 10 orang pelajar SMP, sisanya anak-anak MI atau setingkat SD. Yang MI sekolahnya di sini, yang SMP dan SMA sekolahnya di luar. Semua biaya 100 persen kami yang menanggung."
"Anak-anak berasal dari Bogor dan juga luar kota. Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi keluarga yang tidak mampu membiaya anak-anak yatim dan yatim piatu." Pungkas Fatimah menjelaskan dengan detail.
Mark yang setia menyimak, menatap penuh kagum pada wanita yang berdiri memandang hijaunnya pemandangan sawah dan pegunungan. Jilbab lebarnya berkibar ke kanan tertiup angin sepoy-sepoy. Nampak 2 orang pekerja sedang memotong besi-besi coran yang menonjol untuk dirapihkan.
__ADS_1
"Mas Mizyan bilang rooftop ini bisa difungsikan. Bisa disulap menjadi taman ala-ala cafe buat bersantai." Fatimah beralih membahas bangunan tempatnya berdiri.
Mark mengangguk setuju. "Memang benar. Sayang kalau dianggurin...dari sini pandangannya bagus sekali. Bisa melihat gunung Salak dengan segala misterinya."
"Boleh saya buatkan desainnya? Mau menyulap jadi seperti rooftop ala hotel bintang 5." Mark dengan berbinar menawarkan ide.
"Makasih Pak, tapi saya belum punya dananya. Lain waktu aja deh Pak."
"Bu Ima tidak usah pikirkan budget. Gambar berikut pengerjaan FREE." Ujar Mark meyakinkan.
"Ehh---" Fatimah hanya bisa melongo.
****
Rangga menatap jam di pergelangan tangannya. Entah sudah kali ke berapa melihat jarum panjang dan jarum pendek itu bergerak. Ia sudah duduk-berdiri, duduk-berjalan, dan kembali duduk selama durasi 1,5 jam lamanya ini. Bahkan ia sudah menghubungi sekretaris untuk membatalkan, menjadwal ulang agenda meeting yang harus dilakukan sang boss bersama divisi ekspor.
Hadeuh, gini nih yang modus ngasih gambar. Gak mikirin yang nunggu udah jamuran. Kalau nyetir mobil udah sampe istana Bogor ini.
Rangga mengomel sendiri dalam hati. Kembali duduk di bangku panjang yang tadi. Bahkan segelas teh yang disuguhkan seorang ibu paruh baya, tersisa tetesan saja.
"Mas Rangga?!"
Rangga urung mengeluarkan laptop dari dalam tas, mendengar suara yang familiar memanggil namanya.
"Olla?!" Terkaget melihat sosok berjilbab biru muda, wanita yang ingin dilupakannya, kini berdiri di hadapannya.
"Mas Rangga sedang apa di sini?"
"Olla sedang apa di sini?"
Tanpa dikomando, keduanya berucap serempak. Ujung-ujungnya tertawa bersama.
"Kamu dulu deh!"
"Kamu dulu deh!"
"Saya mau bertemu Bu Ima. Dewan guru ingin Bu Ima mengisi tausyiah akhir bulan ini di sekolah." Olla menurut saat Rangga menyuruh duduk di bangku yang sama.
"Bu Ima itu siapanya Bu Fatimah?" Rangga merasa penasaran.
"Bu Fatimah itu nama panggilannya Bu Ima."
Rangga mengangguk-ngangguk mengerti sekarang.
"Anak asuh beliau yang SMP sekolahnya di tempat saya mengajar."
Rangga menyimak.
"Kalau Mas Rangga dalam rangka apa di sini?" Olla yang duduk di ujung bangku, memiringkan badan menghadap Rangga.
"Lagi nganter Pak Emsi. Beliau lagi keliling melihat bangunan bersama Bu Fatimah."
"Bangunan yang direnovasi ini dananya infaq dari almarhum suaminya mbak Rahma. Mas Mizyan yang membuatkan gambarnya. Dan Pak Emsi membantu membuat desain interior mushollanya. Jadi beliau ingin melihat hasil gambar anaknya itu." Ujar Rangga menjelaskan.
"Ma sha Allah. Respect untuk A Iyan dan Pak Emsi." Olla merasa salut akan kebesaran hati Mizyan khususnya. Mau turun tangan mengurusi yang berhubungan dengan mantan suami istrinya. Sangat jarang orang yang mau melakukan itu.
"Kamu tunggu aja dulu di sini. Mereka masih belum selesai kelilingnya." Rangga merasa senang. Tak akan lagi merasakan bete sebab ada orang yang bisa diajak bicara. Terlebih itu adalah Olla.
Olla mengangguk setuju.
__ADS_1
.
.
.
Fatimah dan Mark berjalan santai, bersisian renggang menuruni anak tangga usai puas menyaksikan pemandangan dari rooftop.
"Bu Ima, kalau boleh tahu dari mana sumber dana untuk membiayai semua anak asuh ini?"
"Pak Mark gak usah sungkan kalau ingin bertanya-tanya." Fatimah menoleh sambil mengulas senyum. Yang bagi Mark itu sebagai senyum yang bisa membuatnya diabetes.
"Saya dan adik melanjutkan usaha toko emas peninggalan orangtua. Ada 4 toko di dua pasar. Alhamdulillah keuntungannya cukup untuk kebutuhan kami dan untuk membiayai anak-anak. Ada juga sepetak sawah yang juga cukup untuk makan. Di samping itu juga sumbangan dari para donatur."
Mark menghentikan langkah di tangga terakhir. Kekagumannya makin berlipat pada sosok wanita cantik berpenampilan sederhana itu. Termenung, kenapa selama ini sampai tidak tahu adanya rumah yatim piatu ini.
"Pak, mau lanjut liat musholla yang lagi dibangun?" Fatimah menunjuk ke arah selatan yang dari lantai 2 itu terlihat jelas.
Mark yang barusan termenung langsung mengikuti arah telunjuk Fatimah.
"Gak usah. Liat dari sini aja biar gak panas." Mark lebih mengkhawatirkan wanita berwajah putih itu menjadi memerah dan berkeringat terbakar sinar matahari. Memilih bersidekap tangan di pagar tembok yang kokoh sepanjang lantai 2 itu. Menatap aktifitas para pekerja bangunan musholla setelah memakai kacamata hitam yang terselip di saku kemejanya. Menghalau silau.
Fatimah memalingkan muka ke arah lain. Entah kenapa melihat Mark mengenakan kacamata hitam, membuat wajahnya bersemu merah. Merasa gugup.
"Bu Ima pasti merogoh uang pribadi tidak sedikit setiap bulannya ya." Mark berbicara dengan tatapan lurus ke depan. Kalkulator otaknya berkalkulasi. Ia tahu, ada oknum lembaga yang berbisnis mengambil keuntungan dibalik kedok yayasan sosial atau kemanusiaan. Tapi ia menilai apa yang dilakukan Fatimah begitu tulus murni.
"Harta sejatinya di bagi tiga. Yang dimakan menjadi kotoran. Yang dipakai menjadi usang. Dan yang dibelanjakan di jalan Allah menjadi bekal."
"Seorang muslim jika menggunakan hartanya pada nomer 1 dan 2 saja, akan sangat-sangat merugi. Ia hanya bahagia di dunia, di akherat celaka. Bukan kata saya, tapi keterangan dari Al Qur'an kitab suci kami umat Islam."
"Saya hanya seorang fakir ilmu dan fakir harta yang di dunia ini sedang mengembara. Hamba yang ingin sepanjang hidupnya berkah dan bisa memberi manfaat pada sesama. Dan saya sangat bahagia melakukannya."
Fatimah tidak tahu jika sepasang mata hazel di balik kacamata hitam itu tidak berkedip selama ia berbicara. Mark lagi-lagi terpesona dengan lisan yang keluar lancar dari bibir pink alami itu. Bahkan makin merasakan berjuta pesona dari seorang Ima.
"Beri saya nomer rekening. Saya mau menjadi donatur." Mark merogoh saku mengambil ponsel yang sengaja dalam mode silent itu agar tidak ada siapapun yang mengganggunya.
"Hape saya di kantor. Saya gak hafal nomer rekening yayasan, hafalnya nomer rekening sendiri. Nanti aja atuh ya di kantor."
"Rekening Bu Ima aja sekarang!" Keukeuh bossy Mark.
Fatimah mengalah. Menyebutkan sederet angka bank syariah yang lalu disave langsung oleh Mark dengan kelincahan dua jempolnya.
"Saya sudah transfer. Gak besar sih tapi semoga manfaat." Mark menggenggam ponsel yang sudah terkunci. Menoleh ke samping kiri menatap kepada Fatimah yang berdiri renggang, dan ternyata juga menolehkan wajah terhadapnya.
"Ehh---" Fatimah tergeragap. Kata terima kasih yang akan diucapkan tersedak di tenggorokan.
********
Semangat Senin Pembaca Setia 😍
Semangat juga mendukung Papa buye atu n Opa atu 😉
Reminder Give Away gaisss. Biar cemungut...aku kasih dulu penampakan HAMPERS yang akan dibagi utk 5 orang beruntung. Jangan ngintip isinya ntar bintitan. 🤣
Satu Hamper dipastikan untuk Top on the top Fans (Ranking 1). Empat Hampers lagi akan diundi untuk fans dengan lencana Gold.
Yok yo ayok....segera pada naik kelas ya gais. Masih banyak waktu. Jika tidak ada halang rintang, story MJ akan end Februari akhir.
Me Nia
__ADS_1