
Jatuh cinta berjuta rasa, nyata diperlihatkan Mizyan dalam bentuk sikapnya terhadap Rahma. Tidak melalui proses berpacaran sebelumnya, membuat dirinya kini menikmati pacaran setelah menikah. Jemari selalu ditautkan sepanjang perjalanan menuju rumah Suci untuk menjemput Dika. Sesekali memberi kecupan di punggung tangan istrinya itu. Hanya menyetir dengan satu tangan, dan genggaman tangan hanya dilepas kala mengover persneling. Jam 9 pagi keduanya sudah check out dari hotel mengingat siang ini Mami Kanti akan pulang ke Semarang.
Mobil tiba di halaman yang terbuka tanpa pagar. Tampak Dika dan ketiga sepupunya tengah bermain mengejar 2 ekor kelinci yang dilepas di taman yang dikelilingi pagar pendek.
"Nda Lahma--"
"Papa Buye--"
Dika berteriak girang setelah melihat siapa yang turun dari mobil. Lalu berlari dan menubrukkan badan pada papanya terlebih dulu. Mizyan sudah antisipasi dengan kebiasaan Dika seperti itu agar tidak oleng ataupun bocah itu terjatuh. Segera ditangkapnya bocah kriwil itu, diangkat ke udara. Membuat Dika tergelak riang.
"Bunda jadi dicuekkin nih." Rahma bersidekap tangan di dada, pura-pura ngambek dengan bibir cemberut. Sebab mereka asyik riang gembira berdua.
Dika yang masih dalam gendongan Mizyan mendapat bisikan. Segera merentangkan tangan untuk memeluk bundanya. "Ay lap yu, Nda--" bibirnya dimanyunkan untuk mencium kedua pipi bunda Rahma.
Rahma berubah tertawa dan menyuyel-nguyel pipi chuby sang buah hati. Gemas dengan tingkah lucu Dika, geli dan malu dengan bahasa bibir Mizyan yang ikut berucap I love you tanpa suara.
Nico datang dari arah luar dengan mengayuh sepeda. Tersenyum lebar mendapati Rahma dan Mizyan yang masih berdiri di dekat anak-anak yang memberikan wortel pada kelinci.
"Wah, pulang gowes ya?!"Mizyan menurunkan Dika. Menjabat tangan Nico yang baru melepas helm.
"Iya. Tiap minggu pagi gowes bareng komunitas. Ikutan yuk!" Nico mensejajari Mizyan yang berjalan masuk ke dalam rumah. "Barusan ada Satya sama Willi juga."
"Satya juga dulu pernah ngajak. Tapi aku bisanya sabtu itupun kalau tidak ada jadwal ke luar kota. Minggu pagi jadwal rutin kajian di pesantren ustad Ahmad."
"Sabtu juga boleh. Kapan-kapan kita agendakan."
"Oke." Mizyan mengangguk menyetujui.
"Pengen jadi orang Bandung biar bisa ikutan gowes." Candra bergabung duduk di sofa. Obrolan 2 orang iparnya itu terdengar jelas ketika ia berencana keluar melihat aktifitas anak-anak.
"Bang Candra tetap di Jakarta. Siapa nanti yang ngurus perusahaan. Weekend baru boleh ke Bandung, kita gowes bareng." Nico menggeleng tidak setuju. Sebab Candra sudah diangkat menjadi direktur oleh Ayah Hendro.
"Yaaah, cape dong pp gitu." Keluh Candra yang mendapat sahutan tawa dari Nico dan Mizyan.
__ADS_1
0brolan di dapur tak kalah seru. Salma dan Suci menceritakan jika Dika selalu saja memamerkan dan membanggakan papa buye ke semua orang. Bahkan semalam Nico dan Candra sengaja berulangkali mempermainkan bocah itu jika papa Dika namanya bukan papa buye tapi Papa Mizyan. Dan Dika keukeuh dengan jawaban yang sama 'Papa buye, papa atu, papa Nda juja'.
Rahma tertawa mendengar cerita keluarganya itu. Ia bersyukur jika Dika tidak rewel dan menangis mencarinya.
"Itu karena teralihkan ngumpul sama saudara-saudaranya. Tidur pun rame-rame berempat sampai gak sadar saling adu. Gak ada seorangpun yang bobo cantik." Salma antusias menceritakan kebersamaan dan kerukunan anak-anak.
"Jadi kalau mau honeymoon, pergi aja. Tenang, Dika akan anteng asal ngumpul berempat." Suci mencolek pinggang Rahma yang tengah mencicipi dadar gulung buatan Salma.
"Berarti anak-anakku juga bakal di sini dong. Hm, kesempatan atuh....akupun harus ngajak bang Candra hanimun." sahut Salma dengan jari mengetuk-ngetuk pelipis seolah berpikir keras. Justru gayanya itu membuat Rahma dan Suci tertawa lepas. Salma pandai melucu.
Singgah di rumah Suci tidak bisa berlama-lama sebab terbentur waktu harus segera ke apartemen menemui keluarga mami Kanti yang akan pulang.
"Mami, padahal undur dulu pulangnya. Aku kan pengen quality time dulu dengan Mami." Rahma mencoba merayu sang mertua. Keduanya memanfaatkan waktu yang tersisa dengan duduk bersama di sofa bersama Mizyan dan Papa Suryo. Sementara Dika diajak bermain oleh Morgan seperti dulu, berdiri di jendela menunggu pesawat yang terbang rendah.
Mami Kanti merengkuh bahu Rahma, mengusap-ngusapnya. Melihat cara pandang sang anak terhadap Rahma yang berkilatan binar cinta, membuatnya turut bahagia dan tenang hati meski berada jauh dengan buah cintanya dengan Mark itu.
"Morgan besok sudah mulai masuk sekolah lagi. Mami juga sebenarnya pengen dekat dulu sama kalian."
"Miki, kapan mau ajak Rahma dan Dika ke Semarang? Mami tunggu lho." Kanti beralih menatap Mizyan yang duduk di samping Papa Suryo.
****
Setelah mengantarkan keluarga Mami Kanti ke bandara, Mizyan melajukan mobil mengarah ke Alam Sari Residence, tempat tinggal Rahma. Begitu sampai di depan rumah, seorang pria tampak setengah berlari membukakan pintu gerbang. Membuat Mizyan urung turun dari mobilnya yang bermaksud akan membuka pintu.
"Hei, anda siapanya Pak Badru?" Mizyan turun dari mobil berlagak tidak kenal. "Sayang, orang ini kayaknya bukan keluargamu," lanjutnya sembari menatap Rahma yang baru turun dengan menuntun Dika.
Orang yang diinterogasi malah tertawa disamping Mira yang menyambut kedatangan Dika dengan mencium pipinya.
"Sepertinya calon anggota baru keluarga, Mas." Rahma turut menggoda lelaki itu yang tak lain bernama Fahmi. Mira tampak mesem-mesem mendapat candaan sepupunya itu.
"Tante Mila, atu punya hadiah dali Papa--" Dika memperlihatkan isi paper bag yang ditentengnya.
"Wah, bagus sekali pesawatnya. Nanti tante Mira pulang ke Medan naik pesawat ini boleh?!" sahut Mira menanggapi keponakannya itu.
__ADS_1
"Boyeh-boyeh---"
Rahma yang paling belakangan masuk ke dalam rumah, membalikkan badan mendengar seseorang memanggil namanya. Dua orang berdiri di ambang pintu gerbang yang terbuka. Rahma pun menghampirinya.
"Rahma, selamat ya udah nikah lagi. Maaf ya saya sama Lea kemarin tidak hadir, ada halangan. Itu lho pacarnya Lea ngajak ke showroom milih-milih mobil baru buat Lea." ujar Bu Joko yang merupakan tetanggga beda blok.
"Ya bu gak papa, mohon doanya aja." Balas Rahma dengan mengangguk sopan. Sudah tidak aneh dengan sikap tetangganya itu yang suka pamer tapi omdo (omong doang).
"Hm, Rahma. Hebat ya baru setahun ditinggal suami udah nikah lagi. Biasanya kan kalau saling mencintai butuh waktu bertahun-tahun baru bisa move on nikah lagi. Kadang ada yang gak nikah lagi saking cinta mati. Apa dulu kamu dijodohkan ya?!"
Senyum sumringah yang terlukis di wajah Rahma perlahan memudar seiring rentetan ucapan Lea, anaknya bu Joko. Kalimat yang terucap dengan senyum dibuat-buat itu mampu menorehkan rasa perih di hati. Membuat wajahnya seketika murung.
"Aya naon ieu teh (ada apa ini)?" Tiba-tiba ceu Imas keluar dari rumahnya yang bersebrangan dengan rumah Rahma. "Kayak ada gosip seru sampe kedengeran saya lagi nyapu." pungkasnya sembari bergabung.
"Ah bukan ngegosip, Ceu Imas. Saya ngucapin selamat sama Rahma karena kemarin gak bisa datang. Terus si Lea juga muji, baru setahun menjanda udah nikah lagi. Kan jarang-jarang ya denger kabar seperti itu. Kalau laki-laki sih gak aneh, istri baru mati sebulan juga ada yang langsung nikah lagi." Bu Joko menerangkan dengan berapi-api berharap ceu Imas mendukung ucapannya itu.
"Muji atau nyindir?!" Ceu Imas berkacak pinggang menatap tajam ibu dan anak itu. "Salahnya dimana kalau neng Rahma baru setahun terus nikah lagi. Saya saksinya, neng Rahma bukan perempuan genit dan matre yang suka ngejar-ngejar lelaki berduit." Ceu Imas balik menyindir anaknya bu Joko yang balik memandangnya tak suka.
"Heh, denger ya. Saya akui saya ini tukang kepo urusan orang, tapi bukan untuk ngiri apalagi mitnah. Hanya suka penasaran aja."
Rahma menggeleng. Menahan Ceu Imas untuk tidak meladeni omongan bu Joko dan Lea. Namun diabaikan oleh ceu Imas.
"Neng Rahma itu anak baik-baik gak pernah keluyuran malam apalagi genit sama cowok. Justru cowok-cowok tampan dan mapan pada datang menemui Pak Badru termasuk duren sawit tetangga kita, dokter Gunawan. Yang bertamu orang berpendidikan dan baik-baik."
"Emangnya kamu, Lea. Sampai sekarang gak laku-laku. Sok jual mahal pengen punya suami pengusaha kaya. Rupa sih cantik tapi sikap kamu jelek bin butut. Cowok baik-baik mah pasti mikir seribu kali. Kecuali jadi istri simpanan, kamu pasti laku."
"Ceu, udah ceu...nggak enak, nanti mas Mizyan dengar." Rahma menjadi panik melihat suasana berubah memanas. Menahan bahu ceh Imas yang tengah marah.
"Ceu Imas pulang ya. bu Joko, Lea maafin sikap Ceu Imas. Maaf saya harus masuk ke rumah." pungkasnya mendorong bahu ceu Imas agar meninggalkan pekarangan rumahnya.
Ceu Imas yang sudah melangkah balik badan lagi dan menunjuk wajah Lea yang ketus dan ditekuk. "Lea, tahu nggak. Mas bule ngasih maharnya 1 kg logam mulia. Tanya bah gugel harga emas sekarang, kalikan pakai kalkulator. Beuh...kebayang kan siapa yang nikahi neng Rahma yang cantik dan soleha ini. Sultan dong." Pungkas ceu Imas sembari memeletkan lidah.
"Ya Allah, Ceu....pulang Ceu---" Rahma tidak mau suasana makin memanas. Ia mendorong punggung ceu Imas sampai masuk pintu pagar dan menutupkannya.
__ADS_1
"Sayang, lagi apa? ayo masuk dipanggil Ayah." Terdengar suara Mizyan berseru dari teras.
Membuat Rahma yang masih berwajah tegang terkaget. Juga Bu Joko dan Lea yang penasaran dengan sosok suami Rahma, menolehkan wajah sembari mulut menganga. Kaget dengan rupa tampan blasteran yang kemudian berjalan mendekat.