MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 144. Batal Lamaran


__ADS_3

Jakarta


Theo menghampiri meja makan dengan langkah gontai dan wajah yang lesu. Flu yang sudah seminggu menyerang tubuh, belum juga sembuh. Masih merasakan badan yang sedikit demam serta pilek yang mengucur.


"Mau panggil lagi dokter Harlan, Pa?" Mama Indah yang nampak bugar dan ceria menatap khawatir pada suaminya itu yang memakai sweater dan syal di leher. Ia berinisiatif akan memanggil dokter keluarga.


Theo menggeleng. "Gak usah, Ma. Kemarin dokter di kantor udah periksa. Tinggal nunggu hasil cek darah." Ujarnya mengkonfirmasi. Dimana setiap per 6 bulan, semua manajer divisi dan skretaris mendapat layanan chek up kesehatan menyeluruh yang dibiayai perusahaan.


"Alex belum bangun, Ma?" Theo menggigit roti bakar yang masih hangat, ditemani secangkir teh.


"Masih ngantuk, katanya. Maklum...baru pulang liburan, pasti jet lag juga." Sahut Indah yang sudah selesai sarapannya.


"Hahh, tau gini....ngapain berobat terus-terusan sampai balik lagi ke Bandung. Berita Rahma keguguran ternyata jadi obat mujarab Mama sehat lagi." Indah tertawa puas, mengecek lagi make up di wajahnya dengan cermin lipat sebelum bersiap pergi.


Theo memperhatikan. Susah payah menelan roti yang udah lembut di mulut untuk masuk melewati kerongkongan sebab merasakan radang tenggorokan yang perih.


"Anak kita memang cerdas." Theo membanggakan Alex yang dengan rapih bertindak.


"Iya, Pa. Ternyata anak manja kita punya bakat juga." Indah tergelak riang.


Obrolan di meja makan berakhir dengan kepergian Indah bersama sopir menuju kantor travel miliknya. Selama sakit jantung, sama sekali tidak mengecek langsung keadaan kantornya itu. Hanya mengecek laporan tulisan saja dari manajer.


Theo termenung di kursinya. Ia ijin tidak masuk kantor hari ini untuk beristirahat. Praktis selama sakit pula ia tidak menemui daun muda simpanannya itu.


"Om masih sakit. Belum bisa menemuimu. Love you, baby." Theo mengirimkan pesan. Setelah terlihat dibaca, segera menghapus nya agar tidak ada jejak. Ia memang melarang sugar baby nya menghubunginya demi terjaganya rahasia.


Siang hari, ponsel di nakas berbunyi. Membangunkan Theo yang sedang tertidur usai minum obat.


"Selamat siang, Pak Theo. Maaf mengganggu iatirahatnya." Suara di sebrang sana terdengar serius.


"Ada apa, dok?" Sahut Theo dengan malas menjawab Dokter Dani yang merupakan dokter yang dikontrak perusahaan.


Terdengar helaan berat sebelum berucap. "Hasil lab sudah keluar. Dan hasil tes darah Anda mengejutkan sekali."


Membuat Theo duduk dengan punggung tegak di atas ranjangnya. Mendadak rasa penasaran menguat diiringi jantung yang berdebar tak beraturan. Merasa takut jika mendengar kabar menakutkan.


"Katakan!" Theo memberanikan diri.


"Semoga perkiraan saya salah, Pak. Saya menduga Anda terkena virus HIV. Sekali lagi semoga perkiraan saya salah." Dokter Dani nampak berusaha memberi kabar dengan suara tenang.


Malah kabar yang membuat Theo terkesiap sekaligus kaget luar biasa. Mungkinkah? Tiba-tiba ia menjadi teringat dengan 'jajanannya'. Teringat juga dengan sakit flu yang tak kunjung membaik.


"Untuk memastikan positif atau negatif, Pak Theo harus melakukan serangkaian tes HIV."


"Dok, tolong bantu saya untuk melakukan semua tes. Dan tolong rahasiakan ini. Please, dok!" Theo mengabaikan keringat yang bercucuran di wajahnya. Ia terlalu panik dengan diagnosa sementara dokter senior itu.


"Baik, Pak. Besok saya akan jadwalkan Anda untuk serangkaian tes. Saya tunggu di rumah sakit jam 10 pagi."


Theo menghempaskan tubuh. Memukul ponsel untuk melampiaskan marahnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kabar dari dokter Dani membuatnya gelisah luar biasa.

__ADS_1


****


Bogor


Papi Mark menuruti keinginan Mizyan dan Rahma yang ingin berbicara serius usai sarapan pagi. Membatalkan pergi ke peternakan dan menyuruh Rangga menghandle pekerjaannya di ruang kerja miliknya.


Di ruang perpustakaan, Papi Mark mulai mendengarkan Mizyan yang membuka pembicaraan.


"Pi, ini soal hubungan Papi dan Bu Ima. Aku sama Rahma sudah membicarakannya semalam."


Papi Mark mencerna. Menatap Mizyan dengan kedua alis terangkat. Menunggu kelanjutan ucapan anaknya itu.


"Sebaiknya Papi batalkan rencana melamar Bu Ima!" Pinta Mizyan tegas.


Jelas raut keterkejutan nampak di wajah pria bule paruh baya yang masih bugar itu. Menatap tajam putra semata wayangnya itu dengan kening mengkerut. "Kenapa?!"


.


.


.


Mobil Mark yang dikemudikan Rangga tiba di rumah tahfiz La Tahzan. Tidak membuang waktu lama usai obrolan hampir 1 jam di ruang perpustakaan itu. Ia ingin segera memberitahukan kabar itu pada Fatimah.


"Kamu tunggu di luar!" Papi Mark memberi perintah pada Rangga saat akan memasuki teras rumah Fatimah. Yang dijawab dengan anggukkan oleh asistennya itu.


Lagian siapa yang mau jadi obat nyamuk, pak.


Fatimah membawa nampan berisi 2 gelas teh tawar hangat. Menyajikannya di meja.


"Sebentar ya, kuenya belum." Fatimah bersiap beranjak pergi, namun dicegah Mark.


"Duduk aja, Bunny. Liat wajahmu aja udah ngalahin manisnya kue." Mark menganggukkan wajah tanda serius meminta Farimah untuk duduk. Tak lupa diiringi senyum simpul.


"Mulai deh---" Fatimah memalingkan muka sambil berdehem memetralkan rasa grogi mendapat gombalan Mark. Sia-sia....Mark bisa menangkap rona merah yang terbit di kedua pipinya.


Mark terkekeh. Menjadi gemas sendiri melihat gaya malu-malu wanita cantik yang sudah mencuri hatinya itu.


"Aku ke sini mau bilang soal rencana lamaran yang tertunda." Mark mulai pada tujuan kedatangannya usai meneguk sedikit tehnya.


Fatimah menyimak. Menatap Mark sekilas lalu menundukkan pandangan ke arah tangan terjalin di pangkuan.


"Bunny, maaf....acara lamarannya bukan lagi ditunda tapi batal."


Membuat Fatimah mendongak dengan raut kaget. Tanpa sadar menggelengkan kepala. Merasa terkesima dan tak percaya dengan pemdengarannya barusan.


"Kenapa?!" Tanyanya lemah.


"Ya...karena anak-anak melarang. Tadi Mizyan dan Rahma secara mendadak bilangnya sampai aku gak jadi ke kantor. Aku juga kaget, Bunny." Mark berkata datar. Tak berpaling dari menyaksikan reaksi wajah Fatimah.

__ADS_1


Fatimah mengatupkan bibir dengan tatapan kosong mengarah pada pintu rumah yang terbuka lebar.


"Baiklah, kalau itu sudah keputusan Pak Mark. Saya terima." Fatimah berusaha bersikap normal meski hati pedih dan kecewa. Ia tersenyum getir.


"Maaf...udah bikin kamu kecewa." Mark mengatulkan kedua tangan di dada. "Lamarannya batal karena mau diganti dengan akad nikah. Tak ada lagi acara lamar melamar. Mau langsung sah saja. Apa Bunny masih kecewa hmm?!" Sambungnya sambil tersenyum simpul tanpa melepaskan tatapannya melihat Fatimah yang terkaget.


"Yaa Allah! Pak Mark ishhh---" Fatimah memegang dadanya. Ia merasa baru saja menaiki roller coaster. Dihempaskan...kemudian dilambungkan. Membuatnya ingin berteriak sebab jantungnya merasa berdetak tak karuan. Beralih menutupi muka dengan kedua tangannya.


"Hei...kelinci imut, kenapa nangis?!" Mark menahan senyum geli mendengar Fatimah terisak dan masih menuembunyikan wajah.


"Tega banget sih...pake ngeprank segala." Fatimah tertawa sekaligus menahan tangis. Menyusut sudut mata yang berair. Tentu saja tangis haru bahagia.


Mark tertawa lepas. Berhasil membuat syok teraphy pada Fatimah. Sama halnya tadi ia di prank Mizyan dan Rahma. Yang berakhir Mark menonjok bahu Mizyan sebab sudah mengerjainya. Dan lalu berpelukan penuh senyum bahagia.


Suasana berubah hangat ceria.


"Aku ingin kita akad nikah secepatnya. Biar resepsinya menyusul aja. Bagaimana jika akad nikahnya 5 hari lagi?!" Usul Mark.


Fatimah terdiam. Ia nampak memikirkan sesuatu.


"Kalau ada ganjalan bilang, jangan dipendam." Mark seolah menangkap raut gelisah di netra Fatimah.


"Pernikahanku dulu, aku dan suami didiagnosa sama-sama mengalami infertilitas. Lalu sama-sama berobat dan Alhamdulillah setelah itu dinyatakan normal dan sehat. Namun qodarullah, ikhtiar kami dulu ingin memiliki keturunan belum Allah kabulkan."


"Saya sampaikan ini agar Pak Mark tahu kondisi saya. Apa Pak Mark mau menerima saya dengan segala kekurangannya?!" Pungkas Fatimah menatap Mark untuk melihat reaksinya.


"Fatimah Malati....aku mencintaimu. Dan cinta yang tulus itu tanpa syarat. Jadi, apapun yang ada pada dirimu, aku siap menerimanya." Mark menjawab tanpa ragu.


"Terus bagaimana kalau aku bisa hamil. Apa Pak Mark keberatan atau tidak punya anak lagi di usia sekarang ini?" Fatimah masih terus mengeluarkan ganjalan di hatinya.


"Ya Alhamdulillah, akan disyukuri. Usia memang udah lewat setengah abad, tapi jiwa masih jiwa muda." Mark menyingkap lengan pendek kemejanya. Memperlihatkan otot yang menyembul di lengannya.


Fatimah terkekeh sambil ditutupi telapak tangan. Merasa geli dengan kelakuan Mark.


"Deal ya kita menikah 5 hari lagi?!" Mark kembali pada pertanyannya.


"Gimana kalau seminggu lagi?" Fatimah mengajukan negosiasi. "Hari ini saya baru mulai haid, kalau seminggu lagi berarti udah suci. Karena saya ingin akad nikahnya di musholla."


Alasan yang masuk akal dan dapat diterima Mark. "Baiklah aku setuju. Berarti nantinya wedding anniv kita bersamaan dengan ultah Dika." Ujarnya dengan mata berbinar.


"Oh ya?!" Fatimah tak kalah sumringah.


Mark mengangguk. "Minggu depan ultah Dika ke 3 tahun."


Mark dan Fatimah saling melempar senyum dengan wajah sumringah.


"Maharnya pengen apa, Bunny?!"


"Aku minta mahar bacaan surah Al Fatihah." Sahut Fatimah tanpa ragu.

__ADS_1


Mark menautkan kedua alis. Ia mengira Fatimah akan meminta mahar emas atau uang. "Boleh aku tau alasannya?!"


__ADS_2