
Bertempat di ruang kerja sang ayah yang memiliki jendela lebar menghadap halaman villa, Mizyan mulai membahas serius di depan Papi Mark dan Rangga mengenai temuan mark up harga beli sengon dari dua dokumen yang berbeda milik Rahma dan pabrik BKS. Meski transaksi belum terjadi tapi menguatkan indikasi jika selama ini terbiasa praktik penggelembungan harga yang dilakukan oknum manajemen pabrik yang tentu saja merugikan perusahaan.
"Kemarin waktu Mas Mizyan konfirmasi hal ini, saya gerak cepat melakukan investigasi sendiri, Pak." Rangga membuka suara setelah Mizyan selesai memaparkan. Menatap Mark yang rahangnya mengeras sebab menahan marah. "Tadi malam saya ketemuan dengan Pak Muhtar, orang Cibinong yang sudah 2 tahun menjadi suplier tetap." Ia pun menyodorkan berkas yang didapatnya dari Muhtar berisi data purchase order dan data transaksi pembayaran.
"Dan ini yang saya dapat dari manajer purchasing dan staf keuangan yang bisa dipercaya validasinya." Rangga menyerahkan berkas kedua. "Sengaja saya mulai investigasi diam-diam agar para pelaku tidak curiga."
Rahang Mark makin mengeras melihat data transaksi yang berbeda dari kedua berkas. "Damned." Ia menonjok meja dengan keras. Melampiaskan kekesalan dan kemarahannya.
"Sabar, Pi. Tenang---" Mizyan beranjak dari kursi, mengusap-ngusap bahu Papi Mark yang nafasnya memburu tak beraturan menahan amarah.
"Siapa yang kamu curigai, Rangga!" Mark mulai bisa mengontrol diri usai ditenangkan Mizyan.
"Dugaan awal saya curiga sama Thomas dan Sri." Rangga menyebut nama GM dan manajer keuangan. "Pastinya nanti saya selidiki lagi."
"Kamu pilih orang-orang yang beneran loyal. Bentuk tim untuk audit. Saya ingin dalam 2 hari bukti terkumpul. Siapapun yang korupsi harus dijebloskan ke penjara!" Mark memberi tugas pada Rangga sebagai akhir dari meeting pagi ini.
"Apa yang bisa gue bantu, Ga." Mizyan yang mengekori Rangga keluar dari ruangan papinya, menahan asisten terpercaya itu yang bergegas menuju mobil.
"Gak ada, Mas. Biar tim kami yang bekerja. Informasi kemarin sudah sangat membantu."
Mizyan menonjok bahu Rangga mendengar ucapan yang menurutnya formal itu. "Hei, gak usah kaku gini. Kita lagi ngobrol berdua, gak ada Papi."
Rangga menggeleng. "Kamu udah nikah. Rasaya nggak enak kalau panggil nama atau manggil elo. Sudah ya Mas, saya cabut dulu!" Ia menghindar kala Mizyan akan menonjoknya lagi. Lari terbirit-birit sembari tertawa menuju mobil.
Mizyan berjalan menuju kamarnya, membuka pintu perlahan. Tampak Rahma masih tertidur pulas dengan selimut sampai dada. Ia memang sengaja menyuruh sang istri tidur lagi selepas subuh. Sebab kasihan melihat wajah cantiknya yang pucat dan lelah usai begadang semalam. Lebih tepatnya dipaksa begadang sebab dirinya yang on terus. Pelan dikecupnya kening Rahma penuh sayang, yang tidur dengan mulut sedikit terbuka saking pulasnya.
Selanjutnya Mizyan pergi ke halaman samping, menemui Dika yang tengah bermain mengejar-ngejar marmut ditemani Bi Cicih. Langkahnya terhenti memperhatikan Dika yang berjalan mengendap-ngendap untuk menangkap seekor marmut yang tengah memakan wortel. Ia bertepuk tangan melihat bocah itu jatuh telungkup demi menahan marmut yang didapatnya. Tidak menampakkan kepanikan sebab Dika tersungkur. Agar anak itu terbiasa kuat mental.
"Pa, atu dapet---" Dika yang hampir mau menangis malah memekik riang setelah mendapat aplause dari papa buye. Mengangkat dengan kedua tangannya marmut yang berguik meronta-ronta.
"Good job, boy!" Mizyan mendekat, mengusap rambut kriwil yang sudah berkeringat. Sengaja belum mandi pagi agar bocah itu puas dulu bermain kotor-kotoran. Ia pun mempersilakan Bi Cicih kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya.
"Marmutnya lepas ya, kasian tercekik. Kita lanjut berenang, oke!" Penawaran yang membuat Dika luluh melepaskan hewan lucu yang baru didapatnya itu.
"Lesgow lenang, Papa---" Dika lebih dulu berlari menuju halaman belakang. Membuat Mizyan mengejarnya sebab takut masuk kolam renang sendirian.
Ia memasang pelampung di kedua lengan Dika yang sudah dibelinya kemarin sore via online berikut baju renang muslimah buat Rahma. Sayangnya istrinya itu tidak bisa ikut berenang hari ini.
"Papa, Nda da itut?" Dika mendongak menatap papa buye yang menuntunnya ke tepi kolam.
"Bunda masih bobo. Kita renang berdua aja, besok baru ajak bunda." Mizyan menurunkan Dika perlahan ke air. Awalnya menggigil dingin, lama-lama tampak enjoy dan menciprat-cipratkan air ke wajah papanya itu dengan tubuh yang mengambang karena pemakaian pelampung lengan. Dika berteriak menyemangati papa buye yang berenang dengan gaya dada. Dalam hangatnya sinar mentari pagi, dua pria beda generasi itu bersuka ria berenang sambil bermain.
"Kok gak bangunin bunda sih?" Kalimat pertama yang diucapkan Rahma begitu mendengar suara cekikikan Dika yang membuatnya terbangun. Sang anak tengah dikejar-kejar papa buye agar mau memakai baju dan malah berlari naik ke atas ranjang, masuk dalam selimutnya.
"Bunda lagi tidur nyenyak. Jadi aku sama Dika berenang berdua terus mandi bareng juga." Mizyan duduk di tepi ranjang membawa pakaian Dika yang masih bersembunyi di dalam selimut. Terdengar suara cekikikan dari balik selimut yang dikenakan bundanya itu.
Mata Rahma membulat melihat jam yang menempel di dinding. Jam 10.
__ADS_1
"Aduh aku malu sama papi, kesannya menantu pemalas deh. Padahal karena ulah anaknya." Rahma mengeluh sebab ia yang baru tertidur lewat jam 00, harus kembali bangun jam 3 dini hari sebab sang suami bergerilya memulai sesi ke 2. Meski sesi kedua berlangsung lebih singkat hanya 1 jam, namun tanggung waktu untuk tidur lagi sebab harus mandi dan sholat.
Tak urung Rahma pun membantu memakaikan baju pada Dika yang tengah didekap Mizyan agar tidak kabur lagi.
Mizyan tertawa. "Tenang, Bun. Aku udah bilang kalau kamu lagi kurang fit. Sekarang Papi lagi berkuda di peternakan sebagai penghilang stres." Ia pun menceritakan jika dugaan adanya mark up selama ini terjadi di pabrik mulai terkuak. Dan Rangga sedang menyelidikinya.
"Ya Allah, kasian Papi--" Rahma tulus berempati dengan musibah yang dialami mertuanya itu.
"Makan dulu, Bun. Iwan udah masakin sop buntut rempah, biar badanmu fresh lagi." Mizyan membantu menyisir rambut kriwil Dika usai lengkap memakai baju.
"Asal nanti malam libur dulu!" Rahma merajuk sebelum turun dari ranjang untuk mencuci muka.
"Hm, gak janji." Mizyan mengulum senyum. "Iya deh iya, Bunda. Jangan malah atu jadi atut---" pungkasnya mengikuti gaya Dika sebab Rahma memelototkan mata padanya. Membuat Dika terkikik mendengar ucapan papa buye seperti itu.
****
Sesuai rencana siang ini Rahma berkunjung ke rumah mang Ojak, sang pengurus kebon sengon. Silaturahmi sembari membawakan oleh-oleh dari Bandung. Sambutan hangat dan gembira tampak dari mang Ojak juga Bi Siti istrinya. Rahma pun memperkenalkan anaknya juga Mizyan sebagai suami. Dimana ia baru menikah 10 hari yang lalu. Ada rasa ragu menyampaikannya takutnya mereka salah menilai tentang keputusannya menikah cepat.
"Alhamdulillah, syukur neng Rahma udah nikah lagi. Biar ada yang jagain."
Jawaban bi Siti membuat Rahma bernafas lega. Namun berubah heran melihat sepasang suami istri paruh baya itu saling pandang dengan tatapan resah dan gelisah.
"Ada apa, Bi? Sepertinya ada sesuatu." Rahma mengemukakan praduganya. Yang mendapat jawaban hembusan nafas panjang dari mang Ojak. Sementara Mizyan duduk sila mendekap Dika yang duduk di pangkuannya sembari memperhatikan saja komunikasi sang istri dan tuan rumah itu.
"Meni pas nya (Pas sekali) 10 hari yang lalu ada yang datang dari Jakarta sekeluarga. Ada 3 orang, suami istri dan seorang anak laki-laki. Punten, katanya mah keluarga den Malik." Mang Ojak sedikit membungkukkan kepala menatap sungkan ke arah Mizyan.
"Mang gak usah sungkan sama saya. Terbuka aja, saya berhak tahu urusan yang menyangkut istri saya. Ditambah pembeli sengon itu juga ayah saya." Tak ada maksud membanggakan. Mizyan hanya ingin membuat perasaan Mang Ojak tenang jika diq berada dengan orang-orang yang berniat baik.
"Maksudnya, aden anaknya pak Emsi?!" Mang Ojak ingin memastikan. Dan dijawab Mizyan dengan anggukkan.
Tampak tuan rumah pun saling pandang dan tersenyum sumringah sembari mengucap syukur.
"Tamu itu namanya Ibu Indah, katanya ibu kandung almarhum den Malik. Yang laki-laki mah tidak memperkenalkan diri jadi gak tahu siapa namanya."
Rahma maupun Mizyan tidak menyela. Memilih menunggu kelanjutan ucapan mang Ojak.
"Ibu Indah meminta bagian setipa penjualan hasil kebon, mau itu petai, kelapa, termasuk sengon. Tapi dia mengancam tidak boleh pihak neng Rahma tahu. Jadi dia minta saya harus kerja dengan rapih."
"Ibu itu bilang tanah kebun itu warisan suaminya untuk den Malik yang seharusnya dia dapat bagian juga. Tapi anaknya kena pelet sampe nyerahin semuanya sama istrinya. Punten ya neng, jangan marah sama Mamang. Mamang hanya menyampaikan ucapannya tanpa ditambah atau dikurangin.
"Astagfirullah--." Rahma mengusap dada, jelas terkejut. Tak menyangka jika mama Indah tega berkata menjelekkan, memfitnahnya. Ia tersenyum getir menatap Mizyan yang menghibur dengan merangkum bahunya.
"Mamang saat itu terpaksa mengiyakan soalnya anaknya ibu itu mengancam akan merusak kebon jika tidak mendapat jatah." Mang Ojak masih melanjutkan ceritanya. "Jadi mamang harus gimana ya neng, Den?" pungkasnya menatap silih berganti Rahma dan Mizyan.
Rahma menghembuskan nafas nafas perlahan. Menundukkan wajah menekuri karpet bercorak bunga dengan pikiran menerawang ke masa lalu. Masa ia bertemu mang Ojak untuk pertama kalinya di tempat yang sama, di rumah ini. "Mang Ojak masih ingat kan amanah bang Malik?"
"Iya, Neng."
__ADS_1
"Nah, biar mang Ojak gak pusing dan tertekan, kita jalankan saja sesuai amanah almarhum. Kalau merunut ke belakang soal bagaimana seharusnya pembagian yang adil.seperti yang digugat mama Indah, saya tidak tahu. Karena yang saya dan anak saya dapat adalah hibah bukan warisan. Dan sudah sah secara hukum."
"Mang Ojak jangan khawatir jika ada ancaman lagi dari orang itu, datang saja kepada Rangga asisten ayah saya. Dia akan membantu Mamang nantinya." Mizyan ikut menambahkan dengan memberi perlindungan kepada pemilik rumah sederhana itu.
"Siap. Mamang mah hanya akan percaya dan nurut sama Eneng dan Aden sajah."
****
Rahma menyandarkan kepala ke belakang jok. Menarik nafas sebanyak-banyaknya, menghembuskan dari mulut secara perlahan. Kebenaran akan kelicikan mantan mertua makin terang tak hanya didengar dari sang suami tapi juga pengurus kebun sengon.
"Sepertinya sepanjang peradaban manusia, warisan selalu menjadi masalah klise. Kadang terjadi saling berseteru antar keluarga. Bahkan sampai terjadi pertumpahan darah. Aku tak mau hal buruk terjadi pada keluarga kita."
Mizyan menangkap mendung menggelayut di sorot mata Rahma. Urung menyalakan mesin mobil, memilih meraih kepala sang istri, membenamkan di dadanya. Ia usap punggung Rahma perlahan, menyalurkan ketenangan. Terasa pula dadanya sedikit basah akibat serapan dari kaos hitam yang dikenalannya. Rahma menangis dalam diam. Dia tahu itu.
"Tenang, ada aku. Everything will be okay, sayang." Mizyan mengecup puncak kepala berbalut hijab itu, dalam dan lama.
"Jangan nangis! Aku gak suka ada air mata di wajahmu." Mizyan mengangkat kepala Rahma. Menyeka pipi yang tampak basah itu.
"Aku kasian sama ayahnya Dika. Dia udah tenang di sana. Tapi keluarganya masih ngeributin harta, hiks---"
"Nda--- napa nangis hwua--- Nda jangan nangis, hwua---!" Dika yang sudah duduk manis di car seat miliknya terpancing turut menangis. Tidak tega melihat sang bunda yang sedih.
"Tuh kan Dika jadi ikutan nangis." Giliran Mizyan yang jadinya kelabakan. Meminta Rahma untuk tenang dulu, lalu menyuruhnya berpindah ke jok belakang menenangkan Dika.
Lima belas menit berlalu, mulai tampak tenang. Mizyan yang ikut berpindah duduk, mencium bergantian kening Rahma dan Dika. "Sabar sebentar. Aku janji secepatnya masalah ini akan selesai." Sembari menatap lembut sang istri. Merengkuhnya dalam dekapan.!
"Let's go ke taman safari ah. Kita liat gajah, harimau, dan kawan-kawannya. Dika mau?!" Mizyan mengubah suasana sendu menjadi riang lagi.
"Lesgow, Papa. Atu mau, Nda juja mau---" Dika bersorak girang, mendukung tanpa meminta persetujuan bundanya. Perubahan mood yang sangat cepat untuk anak kecil yang masih polos itu.
"Smile, Bunda." Mizyan mencuri kecupan di bibir Rahma dengan memalingkan wajah istrinya itu memunggungi Dika. Kedipan mata dilayangkan sebagai tanda kemenangan, sebelum turun berpindah ke jok driver.
Dasar mesum tak tau sikon.
Rahma memanyunkan bibirnya begitu pandangannya beradu tatap di rear vision mirror. Mizyan malah senyum-senyum penuh kemenangan.
"Bismillah, Papa. Jangan cenyum-cenyum!"
"Siap, boss!"
Rahma menahan tawa sebab sang driver mendapat teguran bocil. Ia memilih menemani Dika duduk dì sampingnya selama perjalanan menuju Taman Safari.
...****...
Mulai hari ini, othor resmi membuka grup chat dikarenakan banyaknya pembaca yang ingin gabung.
Silakan masuk, mari membahas dan berbagi hal yang membahagiakan. 😍😍😍
__ADS_1