MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 139. Ini Takdir


__ADS_3

Bandung


"Aku antar kamu pulang!" Koko menolehkan wajah ke arah Fitri yang berjalan sejajar menyusuri koridor rumah sakit. Keduanya pamit pulang menjelang magrib. Awalnya ingin menunggu dulu Rahma bangun. Ingin memberi support agar tidak terpuruk dengan berita yang merusak image itu. Namun nampaknya tidur sang pasien begitu pulas. Keduanya memutuskan kembali menengoknya besok.


"Rumahnya di mana, Fit?" Koko menyambung ucapan sebab Fitri membisu tak menyahuti ajakannya.


"Eh, apa Ko?!" Rupanya Fitri sedang melamun dan baru tersadar saat Andreas mencolek lengannya.


"Astaga. Jadi dari tadi ngelamun." Koko mendecak sambil geleng-geleng kepala. "Awas kesambet...mana mau magrib ini." sambungnya sambil menggidikkan bahunya.


Membuat Fitri terkekeh dan mengangkat dua jarinya. "Maaf, Ko. Lagi ngebayangin pertemuan Pak Mizyan sama Mbak Rahma nanti. Pasti kayak drama romantis. Yang nonton jadi nangis bombay," ujarnya menjelaskan alasan melamunnya.


"Aku sukanya film action." Koko mencebikkan bibir. Iri....? Jujur iya.


"Ya iyalah cowok rata-rata begitu. Tapi mayoritas cewek sukanya drama percintaan. Termasuk aku. Hi hi hi---"


"Rahma sama Mizyan, harmonis ya?!" Koko merasa kepo dengan kehidupan rumah tangga wanita idamannya itu. Sorot mata yang sendu, hanya dia yang tahu akan maknanya.


"Beuh, bikin baper semua karyawan toko pokoknya. Pak Mizyan tuh terang-terang bingit perhatiannya sama mbak Rahma di depan kita-kita. Malah mbak Rahmanya yang malu."


"Huh, andainya ada lagi stok Mizyan Abdillah. Mau bingit deh." Fitri tertawa pelan. Tak ingin menjadi pusat perhatian pejalan kaki lainnya.


"Oh, jadi kamu jomlo ya." Koko tersenyum menyeringai dengan telunjuk mengarah ke wajah Fitri.


"Ya enggak lah, Ko. Aku udah dilamar dong. Kita lagi LDR- an sekarang. Dia lagi ngumpulin sekarung rupiah buat halalin aku." Fitri tersenyum malu.


"Bohong ya?!" Koko mencebik. "Buktinya itu tanganmu polos dak ada cincin."


"Aku gak suka pakai perhiasan, Ko. Gimana ya....kulitku tuh suka gatel kalo pakai emas. Jadi ngelamarnya diganti pakai 5 gram logam mulia."


Koko tersenyum kecut. Semua orang di dekatnya sudah laku.


Sampai di lobi rumah sakit. "Aku akan antar kamu pulang. Rumahnya di mana?" Ulang pertanyaan Koko.


" Wah, makasih banget. Ke toko aja, Ko. Motorku masih di sana."


Koko Andreas hanya mengangguk.


****


Rahma baru saja dipapah Uma dan Bu Ima masuk dan keluar kamar mandi dengan tangan kiri yang digendong perban. Berganti pakaian dan jilbab yang basah oleh keringat dengan bantuan mereka pula. Wajah Rahma nampak lebih segar.


Sementara Ayah Badru dan Papi Mark serta Rangga menyingkir dulu ke luar kamar untuk makan malam bersama di kantin. Ayah menceritakan lagi detail peristiwa sesuai yang ia dengar dari Fitri. Mereka juga berbincang kemungkinan tindakan yang akan ditempuh nanti.


"Bu Ima, Teh Olla, maaf....aku jadi merepotkan ya. Sampai harus datang ke Bandung segala." Rahma menatap kedua tamunya dengan raut sungkan. Ia tidur selonjoran setengah duduk dengan kepala bed dinaikkan.


"Tidak, mbak Rahma. Kami memang ingin sekali menemuimu. Yang sabar ya, banyak orang sayang dan support sama kamu." Bu Ima berkata lembut, mengelus bahu Rahma. Olla pun mengangguk, mendukung ucapan Bu Ima.

__ADS_1


"Uma, Dika gak nangis?" Rahma beralih menatap Uma yang sedang menyiapkan makanan yang diantarkan petugas rumah sakit.


"Nggak. Dika anteng kalo sama Manda. Tenang aja ada Suci yang jagain." Sahut Uma. Yang waktu Rahma masih tidur, Suci pamit pulang untuk memantau anak-anak yang diasuh oleh Sri, ART nya di rumah.


Pintu kamar perawatan di dorong dari luar. Ayah Badru dan Papi Mark masuk. Ayah menenteng kantong plastik berisi nasi box untuk Uma dan dua tamu.


"Rangga sudah jalan ke bandara. Perkiraan setengah jam lagi landing pesawatnya." Papu Mark mengkonfirmasi. Lalu mempersilakan Uma, Bu Ima dan Olla untuk makan dulu.


"Kenapa?!" Uma menangkap raut sendu di wajah Rahma yang urung menyuapkan nasi yang sudah disendoknya.


"Aku takut Mas Mizyan marah. Dia begitu antusias mau nganter ke dokter sepulang dari Bali. Tapi----" Rahma tak mampu melanjutkan ucapan. Berganti isakkan.


Semua orang mendengar lirihan Rahma. Bahkan Olla berusaha menyembunyikan mata yang berkaca sebab terbawa suasana. Turut sedih dengan cobaan yang menimpa Rahma.


"Suamimu gak seperti itu, gak mungkin marah. Uma yakin." Sahut Uma sambil menyuruh Rahma melanjutkan makan agar bertenaga lagi.


Papi Mark maju mendekati bed. "Kalo Miki marahin kamu, Papi yang paling pertama menampar pipi kanannya. Nanti Ayahmu kebagian nampar pipi yang kiri." Tegas Papi Mark. Justru membuat semua orang tertawa. Kecuali Rahma yang mengerucutkan bibir.


"Jangan dong, Papi. Aku yang akan pasang badan sebelum itu terjadi." Balas Rahma tak kalah tegas.


Ruang kamar VIP itu mencair dan hangat oleh selingan canda tawa.


"Bunny....pengen nginap di hotel mana? Aku akan suruh Rangga booking kamar." Ujar Papi Mark yang duduk bersama di satu sofa.


Membuat Bu Ima yang sedang makan tersedak dan terbatuk-batuk. Spontan Papi Mark menyerahkan botol air mineral dan membuka tutupnya.


"Kenapa aku yang jadi malu." Ia berusaha menahan senyum tanpa mengangkat kepala. Keikutsertaannya ke Bandung sebab permintaan Bu Ima demi menghindari fitnah orang, juga godaan setan.


"Makasih." Fatimah menyeka mulutnya. Kedua pipi yang merona masih nampak jelas.


"Pak Mark, tolong jangan panggil begitu di depan umum. Aku malu---" Bu Ima sedikit mencondongkan badan ke arah Papi Mark agar hanya dia saja yang mendengar ucapannya.


"Manggil apa?! Mark mengerutkan kening, pura-pura gak mengerti maksudnya.


Fatimah menepuk keningnya. Tidak percaya jika Mark tidak faham maksudnya.


"Bun----"


"Nah itu. Jangan manggil begitu." Fatimah memotong ucapan Mark dengan cepat. Lagi-lagi dengan berbisik.


"Ooh, itu. Oke, Bunny." Mark malah dengan sengaja mengulang dengan volume normal.


"Yaa Salaam---" Fatimah menunduk. Menutupkan muka dengan kedua telapak tangan. Andainya ada lubang di bawah kakinya, ingin sekali bersembunyi di sana.


Ayah dan Uma duduk menemani Rahma di samping bed sambil berbincang pelan. Entahlah, apa mereka mendengar namun menulikan telinganya. Atau memang tidak mendengar sama sekali.


Duh, Gusti. Coba ada Rangga...aku bisa ada alasan keluar dulu.

__ADS_1


Olla merasa dirinya salah tingkah.


Suara pintu yang didorong tergesa dari luar. Membuat semua orang menolehkan wajah. Mizyan muncul sambil mengucap salam. Mengacuhkan dulu pada orang-orang yang berada di dalam. Memilih melangkah tergesa ke arah bed.


Uma dan Ayah menyingkir. Memberi ruang pada sepasang suami istri itu untuk berduaan.


"Sayang---" Mizyan urung memeluk Rahma. Melihat kondisi sang istri yang tangannya di gips tentu malah menyakiti. Beralih memeluk dari samping. Membawa kepala Rahma ke dadanya.


"Maafkan aku, sayang." Mizyan mendekapnya erat dan memgecup puncak kepala Rahma penuh perasaan. "Aku malah gak ada saat kamu terluka." Sambungnya dengan suara segenap rasa. Lagi-lagi memberi kecupan di puncak kepala, lalu di kening. Dalam....dan lama.


Malah membuat Rahma menangis tersedu mendengar penyesalan yang diucapkan Mizyan. Berusaha menyiapkan hati agar bisa tegar sambil bercerita, nyatanya bendungan air mata bobol tak tertahan. Mizyan membiarkan Rahma melepaskan tangisnya. Dengan wajah sang istri yang terbenam di dadanya.


"Aku yang harusnya minta maaf." Dengan suara bindeng, Rahma mulai bisa berkata sambil menyeka sisa air mata di pipi. "Maafkan aku, Mas. A ku gak bisa menjaganya." Pungkasnya lirih.


"Menjaga apa?!" Mizyan beralih menangkup wajah Rahma dengan sorot penuh tanya. Jempolnya membantu mengusap sudut mata yang masih tergenang.


"Aku keguguran, Mas." Rahma menundukkan wajah. Tidak berani balas menatap kedua bola mata hazel yang hangat itu.


Seketika Mizyan membatu dengan kedua tangan masih menangkup wajah Rahma. Kaget tentu saja.


"Innalillahi wainna ilaihi roji'un----" Mizyan lirih berucap. Kembali membawa kepala Rahma ke dadanya. Sejenak terdiam tanpa suara. Hanya detak jantung terdengar bertalu seirama.


"Gak papa, sayang. Ini takdir yang harus kita lalui. Yang penting kamu selamat, aku sangat bersyukur." Mizyan berbesar hati menerima. Malah menguatkan istrinya itu.


"Gimana kronologisnya ini?" Mizyan beralih menyapukan pandangan pada Ayah, Uma dan semua orang yang ada. Kemal dan Fahmi yang berdiri menyaksikan, tak luput dari rasa penasaran.


"Minum dulu, nak. Nanti Ayah ceritakan." Ayah mengajak Mizyan berpindah ke sofa. Mark berdiri dan memeluk sang putra sambil menepuk-nepuk punggungnya.


Fatimah dan Olla memilih ijin keluar untuk pergi ke musholla melaksanakan sholat isya. Sengaja memberi ruang kepada kaum pria untuk berbincang-bincang. Hanya Uma yang tetap berada di dekat Rahma.


Mizyan mengusap muka dengan kasar mendengar cerita lengkap dari Ayah Badru. Penasaran membuka ponselnya untuk meyakinkan berita itu. Wajahnya memerah menahan marah.


"Istighfar---" Papi Mark menepuk bahu Mizyan yamg duduk di sampingnya.


Membuat Mizyan menurut. Ia khilaf telah mengikuti amarahnya. Ucap istighfar berkali-kali ditambah sebotol air mampu menenangkan gejolak emosinya.


"Kamu harus bertindak, Miki!" Tegas Mark sambil mencengkeram bahu Mizyan.


"Pasti, Papi. Aku tau siapa kemungkinan pelakunya." Aura dingin langsung terpasang di wajah blasterannya.


Malam semakin larut saat diskusi untuk rencana esok selesai dimusyawarahkan. Ayah mengajak Papi Mark dan Kemal serta para asisten untuk menginap di rumahnya. Sementara Rangga sudah lebih dulu pergi mengantarkan Fatimah dan Olla ke pesantren ustad Ahmad. Menolak menginap di hotel.


"Uma pulang aja istirahat di rumah. Biar Rahma ditemani aku." Mizyan membujuk sang mertua yang sudah terlihat mengantuk itu.


"Uma di sini aja. Kata dokter kemungkinan Rahma bisa pulang besok. Gimana hasil visit besok pagi."


Mizyan mengalah. Menyuruh Uma untuk tidur lebih dulu di satu bed kosong yang disediakan untuk penunggu pasien. Ia memilih duduk disamping bed. Mengusap-ngusap bahu Rahma yang sudah tertidur tenang. Sambil otaknya berpikir keras membuat langkah-langkah yang akan ditempuhnya. Termasuk harus menghubungi lagi Kang Hendra untuk membantu melancarkan strateginya.

__ADS_1


__ADS_2