
Bandung
Dika begitu senang dengan mainan barunya hadiah dari Opa Mark. Boneka sapi yang sangat besar melebihi tinggi badannya. Yang sangat nyaman dan hangat untuk dipeluk sebab bahan kain sangat lembut kualitas premium. Bocah itu begitu antusias untuk tidur di kamar kedua yang sudah didesain ulang oleh Papa Buye dengan perpaduan warna biru putih serta wallpaper tema astronot dan planet.
Dika tidak melupakan 3 robot sapinya. Dijajarkan di nakas samping tempat tidur. Dan sapi jumbo yang ia namai sapi opa, sesuai nama pemberinya, dibaringkan di bantal sebelah kiri.
Dengan bernyanyi riang Dika keluar dari kamar mandi usai melakukan ritual cuci tangan dan kaki serta gosok gigi didampingi sang bunda.
"Dika berani bobo sendiri?" Rahma tidur miring menghadap Dika. Mengusap-ngusap rambut sang anak usai membimbing membaca doa.
"Opa bilang ga boyeh atut. Atu bobo sama sapi opa, Nda bobo sama Papa atu." Dika menatap bundanya dengan sorot yakin.
Rahma memeluk sang anak penuh sayang. Belum rela rasanya tidur terpisah dengan bayi merah yang selalu ia dekap dan kini meminta tidur sendiri dengan teman barunya, sapi opa. Dika menggeliat dengan mata yang sudah terpejam, merubah posisi menjadi memeluk boneka sapi.
Mizyan melongokkan kepala di pintu kamar, berjalan perlahan menuju ranjang. "Udah bobo?" tanyanya pelan.
Rahma menganggukkan kepala. Bangun dari tidurnya untuk menyelimuti Dika dan sapi opa. Ia menatap sang anak yang tidur dengan wajah tenang. "Aku kok gak tega Dika tidur sendiri," ujarnya pelan dengan wajah sedih.
Mizyan merengkuh pundak Rahma, mengecup rambutnya penuh sayang. "Gak papa sayang, itu kan kemauan Dika, ikuti saja. Lagi seneng karena punya mainan baru. Mungkin besok-besok malah minta tidur lagi bareng kita."
Rahma mencerna. Benar juga apa yang dikatakan sang suami. Dikecupnya kening Dika sebelum beranjak keluar kamar. Hal yang sama dilakukan Mizyan, mengecup kening ditambah merapihkan rambut kriwil yang sedikit berantakan. Tak lupa memeriksa kembali jendela dan merapihkan tirainya.
Di kamar utama, Rahma berbaring di ranjang king size yang leluasa dipakai tidur bertiga. Namun malam ini hanya tidur berdua.
"Ah, berasa ada yang kurang. Biasanya sambil meluk Dika---" Rahma mendesah menyambut sang suami yang baru naik ke tempat tidur.
"Sekarang Bunda aja yang Papa peyuk--" Mizyan melingkarkan tangan di perut, menyilangkan kaki di paha Rahma. Sembari bibrnya menyesap leher sang istri, mengendus wanginya.
"Nanti tengah malam aku cek lagi ke kamar Dika. Bunda tidur aja jangan cemas." Mizyan membelai sayang pipi sang istri diakhiri kecupan lembut.
__ADS_1
Rahma mengulas senyum, beradu tatap dalam jarak dekat dengan sorot teduh berwarna hazel itu. "I love you, Papa."
Mizyan tersenyum lebar. Merasa bahagia mendengar Rahma mengungkapkan perasaannya. "So much love you, Bunda."
Getaran cinta merambat merasuki sukma. Debaran jantung yang bertalu tak beraturan masih saja terasa. Keduanya sama-sama menikmati keintiman setelah menikah. Menikmati pacaran halal. Merasakan hati yang selalu basah akan luapan bahagia.
Ciuman dilayangkan Mizyan sebagi ungkapan rasa cinta yang begitu bergelora dan penuh hasrat. Ia tak mau menghentikan, ingin lanjut mereguk kenikmatan yang tak pernah puas. Selalu merasa lapar dan lapar jika sudah mulai menyentuh istri tercintanya itu.
"Tidur yang nyenyak, sayang." Mizyan mengecup kening usai sama-sama memakai baju kembali. Memeluk sang istri yang lelah usai penyatuan yang memabukkan.
Sesuai janjinya, tengah malam Mizyan bangun, perlahan melepas pelukan. Tampak Rahma tidur dengan pulas dan tenang. Ia beranjak keluar kamar menuju kamarnya Dika. Tampak bocah itu tidur dengan pulas masih memeluk boneka sapi. Hanya selimut yang berubah menjadi melorot sebatas lutut. Ia tersenyum simpul sembari memperbaiki letak selimut. Kembali ke luar kamar usai mengecup pipi si rambut kriwil itu.
****
Pagi hari yang cerah dan ceria melingkupi penghuni apartemen. Mizyan berbagi tugas bersama Rahma membersihkan seluruh ruangan. Seminggu ditinggalkan membuat aroma ruangan yang apek dan sedikit berdebu. Rahma berkutat di dapur mencuci piring dan alat masak bekas sarapan. Mizyan duduk santai menghadap laptopnya ditemani secangkir kopi hitam. Tugas menyapu dan menyedot debu tengah dilakukan robot vacum cleaner. Ia hanya memetakan seluruh ruang yang harus dibersihkan robot melalui aplikasi di ponselnya.
Ponsel di samping mejanya berdering. Mizyan dengan semangat meraihnya begitu nama Kang Hendra muncul di layar. Dengan wajaj serius ia mendengarkan ucapan di sebrang sana.
"Oke Kang, sampe ketemu dua jam lagi," ujar Mizyan yang lalu mengakhiri dengan menjawab salam. Ia menuju sofa dimana Rahma tengah rebahan sambil menatap ponsel. Wangi harum segar menguar dari lantai yang sudah kinclong.
"Sayang, aku mau ketemuan sama kang Hendra 2 jam lagi. Mau ke toko gak? Aku anterin dulu."
Rahma menurunkan kakinya, berganti duduk tegak menghadap Mizyan. "Ada kabar apa dari kang Hendra?" tanyanya antusias.
Mizyan menggeleng. "Tadi bilangnya nanti aja ketemu langsung jelasinnya."
Rahma tak bertanya berkepanjangan. "Anterin ke Ayah aja, Mas. Mau ceritain soal sengon. Nanti ke tokonya agak siang dari sana." Ia pun mengajak Dika menuju kamar sebab bocah itu belum mandi. Sekalian dirinya berganti pakaian bersiap pergi.
Mizyan mengantar Rahma dan Dika ke rumah Ayah Badru. Ngobrol santai sejenak di sana bersama Ayah dan Uma.
__ADS_1
"Papa, itut---" Dika bergelayut manja di lengan papa buye yang tengah memakai sepatu. Sudah waktunya pergi ke tempat pertemuannya bersama Hendra.
"Nanti kalau jalan-jalan diajak. Sekarang Papa ada pekerjaan dulu. Dika sama Bunda, oke?!" Mizyan membuka telapak tangannya. Dika sejenak berpikir, namun bocah itu menyambutnya dengan ber high five.
"Smart boy." Mizyan mengecup kening Dika. Lalu pamit pada Rahma yang menemani duduk di sisinya.
Di sebuah warung kopi sederhana, Mizyan dan Hendra duduk berhadapan. Sebuah amplop coklat besar bertali tergeletak di tengah meja. Merupakan laporan hasil pengintaian selama seminggu kemarin.
Mizyan belum membukanya. Fokus mendengarkan cerita Hendra dengan kedua alis bertaut saking seriusnya. Barulah ia tanpa ragu membuka tali penutup amplop begitu Hendra mengakhiri laporannya. Banyak lembaran foto tentang aktifitas Indah dan Alex. Ia mengamati dengan seksama, juga membaca dua lembar keterangan tentang 2 orang tamak itu.
"Ini melebihi ekspektasi, kang. Informasi yang Kang Hendra dapat detail begini." Mizyan terang-terangan memuji kinerja Hendra. Wajahnya tampak puas.
"Alhamdulillah--" sahut Hendra tersenyum simpul.
"Untuk saat ini aku akan diam. Memilih menjemput bola. Jika mendadak butuh bantuan akang, tolong kesiagaannya, Kang." Pinta Mizyan yang memilih menunggu dwngn kartu As yang sudah di tangan.
"In shaa Allah, kabari saja Mas. Hape saya siaga 24 jam."
Obrolan 1 jam lamanya berakhir dengan berjabat tangan. Ucapan terima kasih diberikan Mizyan dengan mentransfer rupiah ke rekening Hendra yang tak pernah mematok tarif. Keduanya pun berpisah di parkiran dengan menaiki kendaraan masing-masing.
"Benar-benar wanita licik. Sudah kuduga sakitnya hanya tipuan buat memeras Rahma." Nico menggelengkan kepala sembari menghembuskan nafas kasar. Kedatangan Mizyan ke kantornya memberi kabar hasil investigasi, membuatnya semakin muak terhadap ibu kandung sahabatnya itu.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" lanjut Nico menatap Mizyan yang tetap tenang.
"Aku nunggu momen dia datang menemui Rahma. Pada saat itu semuanya akan dibeberkan. Aku harap kamu pun nanti bisa datang."
Nico mengangguk. "Moga saja tidak ada halangan. Terus soal Alex gimana?"
"Dia pemakai narkoba. Tunggu waktu yang pas polisi menangkapnya!" Mizyan tersenyum menyeringai membayangkan bocah ingusan yang sudah berani bermain-main denganya.
__ADS_1