MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 90. Malam Terakhir di Bogor


__ADS_3

Mizyan tidak membiarkan Papi Mark merasa stres dengan masalah yang tengah menimpa perusahaan. Ia berbagi waktu antara menggarap pekerjaannya sendiri, juga membantu sang ayah mengawasi kinerja tim audit dibawah pimpinan Rangga. Sehingga target dua hari pengumpulan barang bukti tercapai sesuai ekspektasi. Menggiring dua orang pejabat atas yaitu general manager dan manajer keuangan ditambah satu staf lapangan menjadi tersangka. Dua milyar dalam kurun 2 tahun, total mark up yang dilakukan pada order pembelian kayu secara random agar tidak menimbulkan kecurigaan. Namun sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga.


Di ruang kerja sang ceo, tiga tersangka tersebut digiring masuk oleh security pabrik dengan tangan diikat ke belakang. Mark berdiri berkacak pinggang diapit Mizyan dan Rangga di kiri kanannya. Menatap tajam para tersangka yang menundukkan wajah menekuri lantai. Tak sanggup menatap kilatan marah yang tampak di sorot mata pria bule itu.


"Jelaskan alasan kalian mencuri!" Suara tegas dan datar Mark Cornelius memecah keheningan di dalam ruangan.


Rangga maju, mendongakkan wajah Thomas sebagai pemimpin umum pabrik BKS sekaligus sebagai dalang utama. "Ngomong lo!" dengan galak ia membentak pria berumur 45 tahun itu yang tampak menciut.


"Sa-saya khilaf, Pak Mark. Maaf---" Dengan suara bergetar Thomas kembali menundukkan wajah.


"Cih, mana ada khilaf berulang-ulang." Rangga yang tampak kurang tidur selama dua hari ini terpancing kesal dan amarahnya.


Pertanyaan yang sama terhadap 2 orang tersangka lainnya dijawab dengan jawaban yang sama jika Thomas lah yang menyuruh dengan iming-iming komisi.


Plak.


Sebuah hadiah tamparan keras dilayangkan Mark ke pipi kanan Thomas. Membuat tubuh tambun itu terhuyung ke belakang dengan sudut bibir mengeluarkan darah.


"Kepercayaan ibarat selembar kertas. Sekali saja teremas dan kusut, tak akan kembali lagi sempurna." Suara tegas Mark membuat suasana terasa mencekam bagi para tersangka. "Kalian harus menerima akibatnya!"


Bsrsamaan dengan itu pintu ruangan diketuk dari luar. Seorang security membukanya. Masuklah 5 orang petugas berseragam polisi mengepung ketiga tersangka yang tampak pias. Hukum harus ditegakkan, kejahatan harus mendapat balasan. Mark menyerahkan para tersangka korupsi kepada pihak berwajib.


Kasus yang membuat heboh dan menjadi buah bibir seluruh karyawan pabrik bahkan menjadi santapan berita awak media. Hari itu juga dilakukan rapat mendadak bersama para petinggi divisi untuk menunjuk pejabat sementara,


demi menjaga kelancaran mobilisasi dan produktifitas perusahaan eksportir olahan kayu itu.


Dua hari berlalu, kehadiran dan perhatian anak dan menantu menjadi penghiburan bagi Mark dari kasus kecolongan yang kini tengah diproses pihak kepolisian. Bahkan kepolosan Dika mengganggu kegiatan meditasinya dengan cara tiba-tiba duduk di pangkuan. Mengagetkan, membuyarkan konsentrasinya dalam mencari ketenangan jiwa.


"Opa, jangan bobo cambil duduk. Aaa....bial ga ngantuk." Satu suapan es krim strawberi dingin menyentuh bibir. Bukannya ingin marah malah tersenyum geli mendengar Dika yang mengira ia tengah duduk sambil mengantuk.


"Lagi---" Mark malah ketagihan. Membuka mulut lebih lebar dan dengan sigap Dika menyendok dan menyuapi Opa Mark.


"Enak ya Opa?" Dika tertawa melihat Opa Mark matanya meren melek dengan mulut mengecap-ngecap. Yang lalu mendapat jawaban dengan acungan jempol.


Rahma datang tergopoh-gopoh menuju gazebo dengan raut wajah panik. Tak mengira jika sang anak yang tengah makan es krim di teras depan dan ia tinggalkan sebentar ke kamar mandi, kini tengah mengganggu meditasi Papi Mark.


"Dika, gak boleh ganggu Opa!" Rahma menggelengkan kepala memberi kode agar anaknya itu turun dari pangkuan Opa Mark. Namun Dika malah menggedikkan bahu.


"Papi maaf yah Dika sudah gangguin." giliran ia meminta maaf pada mertuanya dengan wajah meringis merasa tidak enak.


"Gak papa. Lagian meditasinya juga tidak maksimal, susah fokus. Mending makan es krim disuapin Dika aja." Sembari menerima suapan berikutnya dari tangan mungil berwajah riang itu.


Rahma bernafas lega. Turut duduk di gazebo menikmati senja sambil menyaksikan interaksi Papi Mark dan Dika yang becanda dan saling tertawa.


"Rahma, bisakah sharing sama Papi... Bagaimana metode menenangkan diri dalam Islam, apa ada meditasi juga?"

__ADS_1


Pertanyaan tak disangka-sangka dari mertuanya membuat Rahma sesaat terkejut dalam keheranan. "Dengan senang hati, Pi. Aku akan jawab menurut keterangan yang ada pada Al Qur'an, bukan pendapat pribadi."


Rahma membenarkan posisi duduknya sehingga berhadapan dengan sang mertua.


"Ala bidzikrillahi tathmainnul-qulub.” Yang artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (berdzikir), hati menjadi tenteram.”


"Jadi cara meraih ketenangan itu dengan berdzikir yang artinya mengingat. Bisa dilakukan kapanpun, dimanapun. Bisa sambil duduk, berdiri, berbaring, atau sambil berjalan."


"Ada bacaannya?" Papi Mark tampak tertarik dengan penjelasan sang menantu, sebagai penambah wawasan.


Rahma mengangguk. "Dzikir yang paling utama adalah kalimat laa ilaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah). Bisa diucapkan secara lisan atau dalam hati."


"Contohnya, aku duduk di sini sambil menatap kolam ikan. Pandangan mata terarah pada sekumpulan ikan koi, tapi hati berucap laa ilaha illallah terus-menerus. Tidak hanya mendapat ketenangan lahir batin tapi juga pahala."


"Bisa pula sebagai terapi jika mengalami insomnia. Tidak perlu meminum obat tidur, cukup memfokuskan hati dan pikiran dengan berdzikir maka lama-lama akan tertidur dengan sendirinya." Pungkas Rahma sembari menolehkan wajah begitu hidungnya mencium aroma maskulin yang tertiup angin. Ternyata sang suami datang mendekat.


"Dicariin di depan gak ada. Lagi pada santai di sini rupanya." Mizyan duduk sila di sisi Rahma.


"Papa udah keljanya?" Dika turun dari pangkuan Opa Mark, ikut duduk sila di sisi papanya yang selama 2 jam tadi berada di ruang perpustakaan. Dan tidak boleh diganggu karena sedang menyelesaikan rancangan.


"Udah dong. Malah udah mandi juga." Mizyan menguyel-nguyel rambut kriwil yang mengambul-ngambul tertiup angin. "Es krimnya mana? Papa pengen." Ia melongok cup yang ternyata tersisa sedikit lelehan es krim yang mencair.


"Aku ambilin deh. Papa mau rasa apa? Papi mau juga?" Rahma bersiap beranjak.


"Papa coklat, bun."


"Atu juja lasa cocat, Nda." Dika turut meminta.


"Dika kan udah. Jangan banyak-banyak...nanti sakit perut." Rahma menggeleng tidak setuju.


"Punya atu abiss sama Opa." Dika menunjukkan wadah es krim yang kosong dengan bibir mengerucut.


Membuat Mark tergelak melihat kepolosan cucu sambungnya itu yang memang sedari tadi semangat menyuapinya. "Iya bener, abis sama Papi."


Giliran Mizyan dan Rahma tertawa. Rahma pun beranjak pergi menuju dapur.


****


Hari keenam berada di Bogor, sekaligus hari pertama dimulainya penebangan pohon sengon. Batang pohon yang ditandai cat merah menjadi ciri pohon yang siap ditebang. Kesepakatan dari awal memang Rahma menyerahkan penebangan dilakukan kepada pihak pabrik. Sebab tidak mau ribet harus menyewa jasa kontraktor pihak ketiga. Tak menyangka akan takdir yang Allah tuliskan, ternyata jodohnya yang sekarang yang turun tangan menghandle semua urusan project ini.


Mizyan turun langsung memimpin di lapangan. Memberikan briefing kepada 3 grup pasukan penebang yang siap bekerja. Ia menekankan pentingnya keselamatan kerja sehingga meminta para pekerja dispilin menggunakan perlengkapan keselamatan berupa sepatu boot, helm, sarung tangan dan kacamata yang semuanya sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia).


Diakhiri dengan memimpin doa bersama, Mizyan mempersilakan para pekerja melakukan tugasnya.


Dari bedeng yang dibuat mang Ojak untuk tempat berteduh dan beristirahat selama ini mengontrol perkebunan, Rahma turut menyaksikan proses perdana penebangan. Sembari merekam untuk dikirimkan pada Ayah Badru yang berada di Bandung. Ia duduk bersama dengan Dika serta Bi Siti yang membawa banyak makanan untuk nanti makan bersama. Sementara Mang Ojak tengah menyiapkan perapian untuk membuat nasi liwet.

__ADS_1


"Ahamdulillah, smoga lancar dan selamat." Komentar balasan dari Ayah Badru yang diaminkan Rahma.


Hanya setengah hari berada di lokasi. Selanjutnya Mizyan menyerahkan tugas kepada kepala pengawas untuk memonitor dan mencatat dengan benar dan jujur perhitungan kubikasi kayu. Armada truk sudah berjajar siap membawa potongan kayu menuju pabrik.


"Kita mau ke mana, Papa?!" Rahma menatap heran sebab Mizyan bukan mengarahkan mobil ke arah villa. Jalan yang masih asing buat Rahma.


"Iya Papa, mau temana?" Celetuk Dika ikut-ikutan kepo.


"Hmm---kasih tau nggak ya?!" Bukannya menjawab, tangan kiri Mizyan malah mengetuk-ngetuk pelips. "Aww---" pekiknya diiringi tawa sebab Rahma mencubit pinggangnya dengan wajah sebal.


"Dika tolong---Papa dicubit Bunda." Mizyan mengelitkan pinggang sembari tertawa kala cubitan kedua mendarat di pinggangnya.


"Nda---Nda ga boleh nackal!" Dika menggoyang-goyangkan telunjuknya dengan wajah serius.


Giliran Rahma yang tertawa lepas menyaksikan gaya Dika menegurnya. Mizyan yang melirik dari rear vision mirror pun tertawa.


Menempuh perjalanan 1 jam lamanya dan Rahma baru tahu tujuan ke mana setelah membaca plang bertuliskan objek wisata Pemandian Air Panas Gunung Pancar.


"Kita mau berendam?" Rahma menautkan kedua alis menatap sang suami usai mobil terparkir sempurna.


"Betul, Bunda cantik." Mizyan menjawil dagu bulat Rahma yang selama perjalanan menerka tujuan dengan salah. Dilepasnya sabuk pengaman bersiap turun.


"Tapi kan gak bawa baju ganti. Mas aja sama Dika yang berendam. Aku nonton aja."


"Don't worry. Aku udah siapin di bagasi." Mizyan mengedipkan mata sebelum turun. Beralih membuka pintu belakang. "Surprise!" Sembari mengangkat travel bag memperlihatkan pada Rahma yang membantu membuka sabuk pengaman Dika yang sudah tak sabar untuk segera turun.


Memilih membayar tiket kolam privat agar tidak bercampur dengan banyak orang. Mizyan dan Dika lebih dulu turun ke kolam yang berdinding sekat susunan batu alam hanya dengan memakai celana pendek bertelanjang dada. Sementara Rahma harus berganti pakain di kamar mandi dengan memakai baju renang muslimah pilihan Mizyan.


Liburan sederhana yang menyenangkan sebab bersama orang-orang tercinta. Terkadang Mizyan yang menghadap Rahma, iseng memainkan tangannya di bawah air memijat titik sensitif istrinya itu. Yang lalu mendapat hadiah cipratan air di mukanya. Dika yang nemplok di punggung papa buye yang membalas mencipratkan air ke muka bundanya sembari tertawa riang.


"Ish, curang 2 lawan 1." Rahma mengerucutkan bibir, mengangkat kedua tangan. Menyerah tidak mau kena cipratan lagi.


Puas mandi air panas sambil bermain-main, lalu hunting kulineran di kawasan jalan Suryakencana, ketiganya baru tiba di villa selepas isya. Bahkan Dika sudah terlelap sehingga Mizyan harus menggendongnya keluar dari mobil. Rahma dan Mizyan memutuskan mandi lagi sebab badan lengket dengan keringat. Lalu berjamah sholat isya di mushola.


"Sayang, aku ke kamar Papi dulu." Mizyan pamit meninggalkan Rahma yang bersiap mengaji. Yang dijawab Rahma dengan anggukkan.


Sampai satu jam lamanya Mizyan belym kembali ke kamar. Rahma yang selesai dengan ritual skin care sebelum tidur, beranjak naik ke ranjang sebab hawa mulai dingin setelah tiba-tiba turun hujan deras. Baru juga usai berdoa dengan mata yang sudah 5 watt, pintu kamar terdorong dari luar. Sekilas tahu Mizyan lah yang masuk dan terdengar mengunci pintu. Ia pun memejamkan mata agar suaminya itu mengira sudah tertidur.


"Kalau senyum berarti pura-pura tidur." Terdengar bisikan di telinga kirinya bersamaan hembusan nafas hangat di leher dan gesekkan hidung menyapu leher. Senyum yang awalnya ditahan tak mampu lagi bertahan sebab rasa geli bertubi-tubi.


"Benar kan cuma pura-pura!" Mizyan beralih menyingkap selimut, mengungkung naik di atasnya sembari membelai wajah Rahma.


"Mending tidur. Seharian in udah cape.jalan-jalan." Rahma mencoba merayu melihat tangan Mizyan turun membuka kancing piyamanya satu persatu.


"Besok kan kita pulang ke Bandung. Driver harus charger batre dulu. Mana kemarin udah 2 malam libur---"

__ADS_1


Menyadari tak akan menang melawan kemesuman suaminya itu yang selalu perkasa tak kenal lelah, Rahma berpasrah diri. Seperti biasa, Dika dievakuasi tidur di sofa. Malam panjang yang dingin siap mengantar kesyahdun, mereguk kenikmatan yang memabukkan dan menjadi candu.


__ADS_2