
Bogor
Sebuah keputusan yang tepat jika Rahma menginginkan healing di villa Papi Mark di Bogor. Mizyan merasa senang dan tenang sebab misinya untuk pergi ke Bogor bisa sekalian dengan membawa Rahma dan Dika. Mizyan ingin bertindak cepat memberi pelajaran pada orang-orang yang mengganggu kehidupan rumah tangganya. Berangkat beriringan dengan mobil Papi Mark, perjalanan selepas Duhur itu sampailah di villa sore hari.
"Atu mau pelosotan----" Turun dari mobil, yang ada di pikiran Dika adalah tempat bermain. Buru-buru berlari menuju ruangan playground, berisi wahana mandi bola lengkap dengan ayunan dan perosotan.
Membuat Mizyan sigap mengikuti bocah aktif itu. Mengingat Rahma masih belum pulih kesehatannya dengan pergelangan tangan yang masih digips.
Mark meminta waktu sejenak pada Fatimah untuk berbicara empat mata sebelum diantarkan pulang oleh Rangga. Mengajak duduk di kursi teras.
"Bunny, sepertinya acara lamaran harus diundur. Harap maklum ya!" Mark menatap lurus wanita ayu yang duduk di hadapannya itu. Memang sudah dibicarakan dengan Fatimah jika lamaran akan dilaksanakan sepulang Mizyan dari Bali. Namun musibah yang sekarang ini menimpa anak dan menantunya, ia harus meminta pengertian calon makmumnya itu.
Fatimah mengangguk. "Saya sangat maklum. Andaikan Pak Mark keukeuh, malah saya yang akan minta mundurin."
"Alhamdulillah---" Mark tersenyum sumringah. "Hmm, gak salah aku memanggilmu Bunny. Kamu memang kelinciku yang imut." Ujung-ujungnya menggoda dengan suara lirih.
"Ya ampun, ingat umur ih. Malu tau---" Fatimah mesem-mesem dengan wajah yang bersemu merah tak bisa disembunyikan.
Mark terkekeh bahkan makin lekat menikmati wajah Fatimah yang merona itu.
Rangga mengantarkan Fatimah ke rumah tahfiz tepat di depan rumah sang owner. Sesuai titah dari boss Mark yang harus menurunkannya di pekarangan rumah dan pastikan sudah masuk ke dalam rumah dengan selamat. Sungguh tugas yang membuat Rangga merasa geli. Geli dengan sikap posesif bossnya itu yang sedang terserang sindrom bucin akut.
"Olla kenapa turun?" Rangga menatap heran terhadap Olla yang keluar dari pintu kanan.
"Aku turun di sini aja sekalian. Nanti mau minta adek jemput."
"Jangan-jangan! Aku yang akan anterin kamu pulang." Rangga mencegah Olla yang akan mengeluarkan ponsel dari tas.
"Gak usah, Mas. Mas Rangga pasti cape." Olla merasa tidak tega.
"Udah biasa aku mah. Ayo naik lagi!"
Olla bergeming. Ia benar-benar tidak tega jika Rangga harus pula mengantarkannya pulang.
Fatimah yang menyaksikan, tersenyum simpul. "Iya Olla, biar Rangga yang anter kamu pulang. Kayaknya bentar lagi mau hujan nih."
Langit sore memang bergelayut mendung hitam. Seolah siap-siap menumpahkan air hujan yang deras. Olla pun mengangguk setuju.
Rangga merasa senang mendapat kesempatan lagi berduaan bersama wanita yang diincarnya itu. Yang mau menurut untuk pindah duduk di depan, di jok sampingnya.
Perjalanan menuju rumah Olla masih diwarnai kebisuan. Rangga masih berpikir keras cara memulai percakapan. Sungguh sangat sulit baginya. Lebih mudah membicarakan tentang penggemukan sapi atau pengolahan kayu.
"Mas Rangga kenapa? Pusing ya?!" Olla menatap cemas Rangga yang tertangkap mata sedang geleng-geleng kepala dengan wajah meringis.
Rangga terkaget. Apa yang dilakukannya ternyata diluar kendali. "Eh, nggak kok. Lagi kepikiran Pak Mark sama Bu Ima. Mereka kayaknya cocok ya?" Ujarnya membuat alibi.
"Iya bener, Mas. Cocok banget." Olla menyahut setuju. "Uh Mas Rangga mah gak tau. Waktu di rumah sakit, aku denger Pak Mark manggil Bu Ima 'Bunny', jadi aku yang malu deh." Sambungnya sambil terkikik.
"Andainya Mas Rangga ada, aku pengen keluar saat itu juga. Mending bareng kamu aja daripada jadi obat nyamuk." Pungkas Olla masih diiringi tawa.
Rangga membeliakkan matanya. Sekilas menoleh semabil tersenyum simpul melihat Olla yang nampak sumringah. Aku juga mau bareng kamu selamanya.
"Eh, stop Mas. Dah sampe---" Olla spontan menepuk bahu Rangga yang hampir saja kebablasan melewati rumahnya.
"Lah kok dah sampe ya?!" Rangga merasa kecewa. Disaat obrolan baru opening, malah sudah sampai di tujuan.
Olla terkekeh diiringi gelengan kepala. "Ya kalau ke kota dulu mah nyampenya pasti masih lama." Ia merasa lucu dengan ucapan Rangga.
__ADS_1
"Ayok kalau mau ke kota dulu. Aku siap antar, La." Rangga menatap Olla yang bersiap turun.
Olla terkekeh lagi. "Becanda, Mas. Ini udah mau magrib dan Mas Rangga juga harus istirahat. Makasih ya....udah antar aku sampe depan rumah." Ujarnya tulus sambil tersenyum simpul.
Rangga mengangguk dan balas tersenyum.
****
"Sayang, kenalin ini Bi Ida." Mizyan menghampiri Rahma yang sedang menikmati udara pagi sambil berjemur di gazebo belakang villa. Yang datang diiringi Bi Cicih dan satu orang lagi yang bernama Bi Ida.
Rahma tersenyum dan mengulurkan tangan. Semalam suaminya itu memang membicarakan akan mencari pengasuh sementara untuk Dika. Mengingat kondisinya yang belum pulih. Paska kuret, dokter menyarankan harus beristirahat selama seminggu. Ia pun setuju dengan usul suaminya itu.
"Iya Neng Rahma, Ida ini adik bibi. Insya Allah udah biasa jadi pengasuh. Ini juga baru pulang dari Jakarta. Kerja di sana udah 6 tahun. Majikannya mau pindah ke Medan. Tapi Ida gak mau ikut karena terlalu jauh. Jadi memilih pulang kampung aja. Alhamdulillah, Den Mizyan pas butuh cari pengasuh." Jelas Bi Cicih.
Rahma mengangguk mengerti.
Anak yang sedang dibicarakan malah anteng bermain mencabuti rumput dan memasukkannya ke dalam mobil truk mainan.
.
.
.
"Sayang, kalau bosen bilang aja pengen pergi kemana. Pasti aku antar." Mizyan merangkum bahu Rahma. Yang duduk mengawasi Dika dari kursi santai di teras. Sang anak yang bermain ditemani Bi Ida, masih butuh adaptasi dengan orang baru. Makanya kehadirannya harus terlihat oleh Dika biar tetap anteng bersama.Bi Ida.
"Gak ada kata bosan tinggal di sini. Tempat yang bikin betah siapapun yang pengen healing." Sahut Rahma sambil menyandarkan kepala ke bahu Mizyan.
Mizyan menautkan jemarinya dengan jemari Rahma. Ikut memperhatikan Dika yang beralih bermain sepeda.
Rahma beralih menegakkan duduknya. Menoleh menatap Mizyan dengan raut takjub. "Gercep sekali ya."
"Ya...karena yang nangkep orang Bogor asli. Dia tau seluk beluk wilayahnya." Jelas Mizyan.
"Astagfirullah---" Rahma menepuk keningnya.
"Kenapa, Bun?!" Mizyan mengernyit heran.
"Aku belum berterima kasih sama Koko, Pa. Koko bukan hanya nganter aku ke rumah sakit tapi juga ngasih ganti rugi sama pemotor. Kata Fitri, Koko menolak waktu Fitri mau mengganti uang itu."
"Ya udah, sekarang aja telepon dia!" Mizyan beralih mengusap-ngusap belakang kepala Rahma yang berbalut jilbab instan.
Rahma mengeluarkan ponsel dari saku celana kulotnya. Harus menunggu lama sampai teleponnya itu dijawab.
"Hei....Rahma. Apa kabarnya sekarang." Terdengar suara riang di sebrang sana khas Koko Andreas yang tanpa basa basi langsung menyapa Rahma.
"Alhamdulillah, Ko. Sekarang makin membaik...ini juga lagi di Bogor healing dulu lah." Balas Rahma yang sengaja di loud speaker agar Mizyan pun ikut mendengar.
"Eh, itu kayak suara ombak. Lagi di mana, Ko?" Rahma menjadi penasaran dengan backsound yang didengarnya.
"Duh, resiko jadi selebritis gini amat ya...bikin orang pada kepo." Koko menjawab santai.
Membuat Rahma tertawa. Gayanya Koko Andreas memang seperti itu, selalu menghibur.
"Aku lagi di pantai Kuta Lombok, bareng pacar nih." Koko menyambung jawaban.
"Psssttt----" Rahma berusaha tidak tertawa. Tapi akhirnya lepas sampai mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Hei....stop ketawanya. Aku tau kamu ngeledek kan? Gak percaya kan?" Protes Koko dengan sewot.
"Ha ha ha---" Rahma berusaha mengerem tawa. "Udah ga perlu penjelasan kan? Dah Koko jawab sendiri," sambungnya sambil terkikik.
"Astaga--- memang susah ya ngibulin Bunda Dika ini." Terdengar helaan berat.
Mizyan yang menjadi pendengar, mesem-mesem mendengarkan obrolan Rahma dan Andreas.
"Ko, jadi hampir lupa ama tujuan nih aku...." Rahma berdehem menetralkan suaranya menjadi serius. "Aku sama Mas Mizyan mau ngucapin makasih untuk pertolongan kemarin. Maaf telat ya, Ko. Kemarin tuh aku masih syok gak kepikiran apa-apa sampai lupa sama Koko yang udah nolongin aku. Sekali lagi makasih banget ya, Ko." Ujarnya secara tulus.
"Santai aja, Rahma. Sekarang yang penting kamu cepetan sehat lagi. Harus kuat hadepin orang-orang yang julid. Percayalah, lebih banyak orang yang sayang sama kamu daripada yang iri sama kamu." Sahutan dari sebrang sana terdengar keluar dari lubuk hati yang paling dalam.
"Iya, Ko. Makasih supportnya. Ya udah, salam sama Mami....pacarmu itu." Rahma bersiap mengakhiri sambhngan telepon.
Giliran Koko yang tertawa sebab Rahma menebak dengan benar jika pacar yang dimaksud adalah maminya.
"Oh ya, dapat salam juga dari Mas Mizyan nih." Rahma menyambung setelah Mizyan berbisik di telinganya.
"Eits, tunggu....suami kamu dari tadi berarti nguping dong?!" Suara Koko terdengar kaget.
"Emang di loud----" Jawab Rahma santai.
"Astaga--- dasar kamu ya...kasih tau kek dari tadi. Kan aku gak ceplas ceplos ngomong." Gerutu Koko.
Rahma menoleh menatap Mizyan sambil terkikik.
"Santai aja, bro Andre. Aku gak papa kok." Mizyan unjuk bersuara diiringi kekehan.
Bahkan akhirnya kedua pria itu lanjut berbincang seolah sudah akrab. Padahal Mizyan selama ini bertemu Andreas baru 2 kali. Namun komunikasi terbuka Rahma membuat Mizyan mengenal siapa saja teman-teman sang istri beserta karakternya.
.
.
.
Orang di sebrang sana masih menggenggam ponsel padahal sambungan sudah berakhir 10 menit yang lalu. Masih tercenung. Deburan ombak yang pecah dan airnya bergerak ke tepi pantai membuatnya tersadar saat kakinya basah. Semakin tersadar saat tepukan di bahunya lembut terasa.
"Move on, Andre. Rahma mustahil untuk dimiliki, baik fisik dan hatinya."
Andreas menoleh. Tersenyum kecut sebab perih hati tapi tak berdarah.
"Yes, Mam." Andreas menghembuskan nafas panjang dan berat. "Mami cariin aku yang seperti Rahma." Pintanya dengan sorot penuh luka.
Mami menggeleng. "Jangan jadikan Rahma bayang-bayang. Perempuan akan merasa sakit hati saat dirinya dibanding-bandingkan dengan perempuan lain. Buka hati. Tuhan pasti siapkan jodoh terbaik buat kamu, nak."
Andreas menunduk. Kakinya menendang air laut yang datang tertuju padanya. Sama halnya Rahma yang sedang healing di villa dari masalah yang tengah menimpa. Tujuan Andreas mengajak sang ibu ke Lombok pun untuk healing dari masalah hati yang ingin move on dari sebuah rasa.
Sebuah rasa....cinta terlarang.
*******
SELAMAT KEPADA PARA PEMENANG. 👏👏👏
SILAKAN INFO ALAMAT KIRIM LENGKAP VIA PC KE ADMIN @Imas Perwati.
__ADS_1