MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 123. Buka Kartu


__ADS_3

Rombongan keluarga Mizyan berpindah tempat ke kediaman ustad Ahmad usai bermusafahah dengan jemaah masjid. Duduk bersama menikmati makan siang yang disiapkan petugas catering di meja ruang makan. Sementara untuk penghuni pesantren dan tamu, menikmati prasmanan yang disediakan di luar.


"Alhamdulillah Ya Rabb. Selamat saudaraku, selamat datang dalam silaturrahiim dan ukhuwah dunia Islam yang penuh keindahan." Ujar Ustad Ahmad merengkuh bahu Mark yang duduk di dampingnya diiringi senyum kharismatiknya. Acara makan yang semuanya kaum Adam berlangsung hangat penuh kekeluargaan.


"Alhamdulillah." sahut Papi Mark dengan aura yang bersinar nampak di wajahnya. Ia mengucapkan banyak terima kasih kepada sang pemilik pesantren yang sudah meluangkan waktu di hari ini yang seharusnya mengisi jadwal ceramah di luar kota.


"Mualaf di ibaratkan seperti bayi yang baru lahir, dengan di sucikan dari dosa-dosa terdahulu dengan syarat sungguh-sungguh menjadi mualaf yang islami. Semoga Pak Mark bisa istiqomah." Sambung sang pemilik pesantren.


"Insyaa Allah, ustad." sahut Mark takzim.


Mizyan yang duduk di sebrangnya tak henti menebar senyum sumringah. Menatap sang ayah penuh rasa bangga. Ayah Badru dan Rangga turut menyimak obrolan.


"Maaf Pak Mark, apakah sudah di khitan atau di sunat?" Ustad Ahmad menyambung lagi ucapannya sambil tangannya terulur mengambil pisang cavendish yang ada di tengah meja.


"Sa ya belum, ustad." Mark berkata diiringi senyum meringis, sedikit malu. "Rencana nanti di Bogor akan sunatnya."


Ustad Ahmad manggut-manggut. "Khitan hukumnya wajib. Amalan ini berlaku bagi Muslim yang telah menginjak masa baligh."


"Demikian pula dengan mualaf. Ketika mengucap syahadat, secara otomatis mereka menjadi mukalaf atau terkena kewajiban dalam Islam. Diantaranya khitan, meskipun orangnya sudah dewasa wajib melaksanakannya."


"Namun demikian, patut diperhatikan khitan bukan penentu Islamnya seseorang. Syahadat seorang mualaf tetap sah. Jika seorang mualaf ketakutan menjalankan khitan, kewajiban tersebut dapat ditunda lebih dulu. Meski sebenarnya dunia kedokteran saat ini sudah memungkinkan khitan tanpa rasa sakit yang sangat."


Uraian panjang sang ustad begitu jelas dan difahami semua orang yang masih duduk bersama.


Sore hari usai sholat Ashar berjamaah dan menjadi sholat pertama untuk Papi Mark, barulah rombongan Mizyan meninggalkan pesantren. Tak lupa sang mualaf memberikan kenang-kenangan berupa donasi untuk kegiatan pesantren. Sampailah mereka di apartemen. Dimana Papi Mark dan Rangga akan menginap semalam ini sebelum besok pulang ke Bogor.


"Sayang, aku bakalan rindu kamu dan Dika." Mizyan memeluk Rahma dari belakang. Yang baru selesai mandi dengan hanya memakai handuk. Menciumi bahu putih yang polos itu yang sedang memilih baju untuk dikenakan sekaligus memilih baju ganti yang akan dibawa ke rumah Uma. Sebelumnya keduanya sepakat untuk membagi perhatian. Mizyan akan menemani Papi Mark di apartemen. Rahma akan menemani Mami Kanti di rumah Uma.


"Lebay ih. Kan cuma semalam ini. Besok pagi juga ketemu lagi nganterin Mami ke bandara." Rahma mencubit hidung bangir sang suani yang masih menempelkan dagu di bahunya. "Awas dulu Mas aku mau pakai baju. Kasihan Ayah nungguin," sambungnya mengurai tangan kokoh yang melingkar di perutnya.


Bukan Mizyan namanya kalau tidak jahil. Dengan kilat tangannya menarik handuk yang diikenakan Rahma sampai melorot jatuh ke lantai. Buru-buru mendorong tubuh polos itu mepet ke tembok dan menutupinya dengan pekukan rapat. Tidak memberi celah istrinya itu melayangkan protes. Segera membungkam bibir tipis merah jambu itu dengan ciuman lembut dan dalam. Mengabsen setiap inci rongga mulut dan bertaut lidah yang membakar gairah.


Mizyan menempelkan keningnya dengan kening Rahma. Saling mengatur nafas yang tidak teratur dan memburu. "Cukuplah buat bekal aku semalam ini," ujarnya tersenyum usil. Mengecup lagi bibir Rahma yang memerah dan basah.


"Ambillin lagi handuk. Aku malu---" Rahma mengerucutkan bibir. Memukul manja dada Mizyan yang masih mengungkungnya dengan kedua tangan menopang ke tembok.


Mizyan menggesekkan hidung mancungnnya ke hidung Rahma. "Aku udah tau luar dalam, masih aja malu."


"Aww---" Cubitan di perut yang dilayangkan Rahma membuatnya mengaduh. Lalu terkekeh senang sembari mengambil handuk yang teronggok di lantai. Menutupkannya pada tubuh polos Rahma setelahnya mengecupi perut sang istri yang masih rata itu.


Selesai dengan dandannya yang banyak gangguan keisengan Mizyan, Rahma keluar kamar dengan menenteng tas berisi baju ganti untuknya dan Dika. Menghampiri ayahnya yang sedang berbincang santai dengan Papi Mark. Sementara Rangga duduk memojok di dekat jendela dengan laptop yang menyala.


"Papi, aku tinggal dulu ya. Mau nemenin Mami di sana. Di sini ada Mas Mizyan yang nemenin Papi." Pamit Rahma pada sang mertua.

__ADS_1


Papi Mark mengangguk. "Makasih Rahma, udah bantuin acara surprise Papi berjalan lancar."


"Sama-sama, Papi. Aku juga makasih untuk bonusnya, he he---" Rahma terkekeh antara malu dan senang. Niatnya ikhlas membantu malah mendapat imbalan. Uang sisa order catering ditambah tadi sang mertua transfer lagi memberinya bonus 5 juta untuk uang jajan katanya.


"Hmm, gak bilang-bilang nih yang abis dapat bonus." Mizyan sengaja menyindir dengan mendelikkan mata.


"Takut nanti minta ditraktir." Rahma memeletkan lidah, meledek suaminya itu.


Membuat Ayah dan Papi Mark senyum-senyum melihat kelakuan Mizyan yang kini usil menggelitik pinggang Rahma.


"Pak Mark, saya pamit dulu." Ayah menjabat tangan besannya itu.


"Besok saya akan pulang. Maaf tidak mampir lagi ke rumah Pak Badru. Salamnya saja pada Bu Fatma." Mark membalas jabat tangan dengan erat. Lalu saling berpelukan sambil menepuk punggung.


"Insyaa Allah, nanti disampaikan pada istri." Ayah dan Rahma pergi setelah berucap salam.


****


"Bun da, mana Papa buye atu?!" Dika yang menyongsongnya dengan riang begitu masuk ke dalam rumah, langsung menanyakan keberadaan Papa. Kakeknya yang berjalan masuk di belakang bundanya diabaikan.


"Papa gak ikut. Nemenin Opa sama Om Rangga." Rahma membawa Dika duduk di sofa. Mencium pipinya dengan gemas. Keharuman dan kesegaran aroma minyak telon yang menguar dari tubuh sang anak, sangat menyenangkan hidungnya.


Masuk ke dapur, nampak Uma dan Mami sedang memasak bersama, terdengar sambil mengobrol. Dika memilih main lagi bersama Morgan yang baru keluar dari kamar selesai mandi.


"Ini Bu Kanti lagi masakin soto Semarang. Uma jadi asisten aja." sahut Uma tanpa mengalihkan fokusnya menyeduh soun dengn air panas.


Mami Kanti terkekeh mendengar ucapan sang besan. Mematikan kompor setelah soto dalam panci mendidih.


"Nih cobain, kurang apa?" Mami Kanti menuangkan soto ke dalam mangkuk kecil. Meminta Rahma tes rasa.


Rahma perlahan mengicip-icip kuah yang masih panas itu. "Udah pas Mami, enak seger. Aku jadi lapar nih. Tadi siang di pesantren gak masuk nasi hanya makan rujak."


"Oalah...mulai mabok toh Neng." Mami terkekeh melihat Rahma yang menghabiskan soto dalam mangkuk kecil itu. Menyuruh sang menantu melanjutkan makan mumpung perut lagi berselera.


Malam menjelang tidur, formasi berubah. Morgan meminta tidur bersama Dika untuk kangen-kangenan sebab besok akan kembali ke Semarang. Tidak mendapat penolakan bocah aktif itu sebab Om Morgan menjadi teman main yang menyenangkan. Yang membacakan dongeng sambil memperagakan menggunakan robot-robot mainannya.


"Miki waktu seusia Dika sangat aktif. Hiperaktif malah. Bisa juga dibilang nakal." Mami Kanti membuka obrolan sebelum tidur. Sama-sama dengan Rahma menyandarkan punggung ke kepala ranjang dengan posisi setengah duduk. Mereka berdua tidur sekamar.


"Pengasuhnya sampai stress dan angkat tangan mengundurkan diri. Sampai Miki usia 6 tahun, empat kali ganti pengasuh." Mata Mami menerawang mengingat kembali kenangan lama yang harus ekstra sabar membesarkan Miki kecilnya.


Sambil mendekap guling, Rahma memiringkan badan menghadap sang mertua. Antusias ingin mendengar kisah masa kecil sang suami. "Nakalnya seperti apa, Mami? Sampe yang ngasuh kewalahan gitu." ujarnya sambil tertawa.


"Ampun deh. Miki gak bisa duduk diem, loncat-lincat di kursi atau lari sana sini. Rumah jarang-jarang bisa rapih. Kalau dikejar senengnya bukan main dan ngumpet di tempat yang sukar ditebak. Sampai mbaknya (pengasuh) panik nyarinya. Tambah jailnya gak ketulungan. Ngajak mbak suapin makannya di kursi kolam. Pas lagi lengah mbaknya didorong sampai tercebur ke kolam renang. Mana gak bisa berenang lagi mbaknya. Untung Mami belum berangkat kerja, jadinya nyebur nolongin dulu."

__ADS_1


"Pernah Papinya mau berangkat kerja, sepatu gak ada sebelah. Sampai uring-uringan nyari. Pas udah ganti sepatu lain dan masuk mobil, eh si Miki teriak dan tertawa sambil ngacungin sepatu yang ilang itu."


Mami geleng-geleng kepala sambil terkekeh mengenang kelakuan Mizyan kecil. Yang membuat ia dan Mark harus menahan diri saat jengkel sudah sampai ubun-ubun.


Rahma membelalakkan mata. "Pantesan---" ia pun sama menggelengkan kepala. Ternyata kejahilan sang suami sudah dimulai sejak kecil.


Mami menautkan kedua alis menatap sang menantu. Bingung dengan ucapan Rahma.


"Mami tau gak, Mas Mizyan itu biang kerok pengganggu malam pertama sahabatnya saat menikah. Dia bikin ide misahin pengantin agar tidak tidur bareng di malam pertama." Rahma teringat penjelasan Rade saat malam pertamanya harus tidur sendiri sebab Mizyan sedang mendapat 'hukuman' oleh teman- temannya.


"Astaga, Miki. Kirain jailnya hanya waktu kecil---" Mami menepuk jidat dengan helaan nafas panjang.


"Mas Mizyan dihukum setimpal sama teman-temannya itu. Malam pertama kami, Mas Mizyan disandera mereka. Aku tidur sendiri." Rahma tertawa mengingat suaminya yang waktu itu datang subuh dengan wajah ditekuk.


"Syukurin. Dapat hukum karma." Mami pun ikut tertawa senang.


Mami gak tau. Aku juga sering jadi korban kejailan anakmu. Tadi aja mau kesini disandera dulu di kamar.


Dibalik tawanya, wajah Rahma memerah mengingat kelakuan Mizyan sore tadi. Handuk yang dipakainya dipelorotkan dan melakukan aksi yang membuatnya terbuai.


Ponsel di atas nakas berdering. Rahma beranjak turun dari ranjang untuk melihat ponselnya.


"Sayang, belum tidur?!" wajah Mizyan muncul di layar. Nampak sedang berada di dalam kamar.


"Belum, lagi ngobrol sama Mami. Dika tidur sama Morgan. Jadi aku tidurnya sama Mami." Rahma naik ke atas ranjang. Mengarahkan layar ke arah Mami yang lalu melambaikan tangan sambil tersenyum.


"Lagi ngomongin aku ya. Ini telinga berdengung terus dari tadi." Mizyan menatap curiga. Turut naik ke atas ranjang dan menyusun bantal untuk menyangga punggung.


Mami dan Rahma tertawa kompak.


"Tau aja ini anak lagi digosipin. Eh bukan gosip tapi nyata." Mami yang menyahut. "Mami lagi ceritain kamu waktu kecil yang nakal dan super jail."


"Wahhh, Mami jangan buka kartu dong." Mizyan mendecak kesal. Menutup wajah dengan bantal menghindari pandangan Rahma yang memicingkan mata terhadapnya.


Mami tertawa lagi. "Biarin. Biar istrimu tau kalau kamu memang raja jail dan nakal waktu kecil. Katanya sampe sekarang belum sembuh ya?"


Membuat Rahma tertawa lepas melihat Mizyan tak bisa menjawab. Malah menutupkan wajah dengan selimut.


Malam semakin merangkak. Panggilan video setengah jam lamanya sudah berakhir lama.Obrolan santai penuh canda tawa beesama anak dan menantu membuat hati Mami Kanti penuh oleh rasa bahagia. Ia melihat sendiri bagaimana harmonisnya rumah tangga sang anak. Melihat sendiri betapa penuh cinta dan penuh binar bahagia tatapan Miki kecilnya itu.


Baru pertama kali melihat sang menantu tanpa hijab. Mami menatap wajah cantik Rahma yang sudah lelap dengan damai. Merapihkan rambut panjang yang sebagian menutupi sebelah mata yang terpejam rapat itu.


Makasih sudah hadir memberi bahagia untuk anakku.

__ADS_1


Mami mengecup kening Rahma perlahan penuh kasih sayang seorang ibu. Meski terpisah jarak jauh dan tidak sering bertemu, ia merasa tenang. Tenang hati dan pikiran sebab sang anak yang sempat menghilang lama tanpa kabar berita, kini telah mendapatkan cinta sejati dan bahagia.


__ADS_2