
Pertemuan dengan mang Ojak di rumahnya sungguh dipenuhi keharuan. Mang Ojak dan istrinya tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya dan tampak berkaca-kaca mendengar kabar jika Malik telah meninggal, dan bulan ini satu tahun kepergiannya.
"Ya Alloh, Mamang mah asa tidak percaya. Den Malik orangnya soleh. Mamang banyak berhutang budi padanya." Mang Ojak menyeka matanya yang berair. "Pantesan saja mamang telepon selama ini hapenya tidak pernah aktif." Lanjutnya sambil mengusap-ngusap dada dan berucap takbir saking tidak menyangka dengan berita duka yang didengarnya.
Menyaksikan tuan rumah yang menangis dan tampak terpukul, membuat Rahma pun terpancing lagi untuk bersedih. Ia menyusut buliran air mata yang tidak bisa ditahan jatuh membasahi pipi mulusnya.
"Terakhir kali Den Malik telepon bilang gini; nanti ada istri dan mertua akan datang ke rumah mamang entah bulan apa pokoknya tunggu aja. Urusan kebon akan menjadi tanggung jawab istri, begitu katanya."
Rahma menundukkan wajah menahan kesedihan dan keharuan yang lagi-lagi menyeruak. Ia tidak meragukan kasih sayang Malik yang begitu detail memikirkan bekal masa depan untuknya dan Dika. Itulah kenapa ia begitu sulit melupakan suaminya, cinta pertamanya, sandaran hidupnya.
"Mamang pertama kali bertemu Den Malik 5 tahun lalu waktu Mamang dikejar anak buah rentenir." Mang Ojak memecah keheningan yang tercipta sesaat. "Den Malik turun dari mobil nolongin Mamang yang dikeroyok. Ini codet bekas sayatan pisau anak buah rentenir itu." Ia menunjukkan garis memanjang dekat sudut bibir kanan.
"Den Malik bayarin semua utang Mamang sama bunganya yang mencekik leher. Alhamdulillah rumah ini tidak jadi dirampas rentenir itu."
"Kebaikan Den Malik tak akan pernah Mamang lupain. InsyaAlloh, Den Malik mah surga tempatnya."
Aamiin. Serempak orang-orang yang berkumpul berucap lirih mengaminkan doa Mang Ojak.
Ayah Badru manggut-manggut mendengar cerita Mang Ojak yang membuat atmosfer ruang tamu sederhana itu diselimuti kesyahduan.
"Semenjak itu Mamang dipercaya mengurus kebon yang waktu itu sudah ada sengonnya tapi tak terurus, banyak kena hama. Lalu tanam lagi bibit baru dan sekarang sebagian siap tebang sekitar 3 bulanan lagi."
Setelah obrolan panjang lebar mengenang kebaikan Malik dan jamuan makan bersama, Ayah Badru pun meminta Mang Ojak mengantarnya ke lokasi kebun. Orang kepercayaan almarhum Malik itu pun ikut serta ke mobil sebab lokasi kebunnya berbeda kampung yang berjarak sekitar 3 km.
"Kayu sengonnya ada 1000 pohon." Dari dalam mobil, Mang Ojak menunjuk deretan pohon yang berjajar terbentang sepanjang 500 meter jalan aspal kampung. Lahan kebunnya tampak lebih luas memanjang ke belakang. "Ditambah ada 10 pohon petai dan pohon kelapa 90 tangkal. Kelapanya tiap bulan selalu dipetik. Ada bandar langganan yang membeli ke sini sekalian bawa tukang manjatnya," pungkasnya.
Bertiga mereka lanjut berjalan kaki menyusuri bagian dalam, melihat-lihat pohon-pohon yang sudah tinggi menjulang lebih dari 10 meter. Juga deretan pohon kelapa yang tingginya bervariasi. Sementara pohon petai sudah mulai keluar kuncup bakal buah.
"Kalau pesantren tahfidz yatim piatu
di mana mang?" Rahma tak sampai berkeliling hingga ke ujung sebab tanah yang berbukit-bukit membuat kakinya lelah.
"Nanti arah pulang Mamang tunjukkin, Neng." Sahut Mang Ojak yang ikut duduk di gubuk tempat biasanya ia memantau kambing-kambingnya yang dilepas liar makan rumput.
__ADS_1
"Oh ya Neng, dari pabrik Bina Kayu Sejahtera (BKS) sudah beberapa kali datang ke rumah Mamang, katanya minat untuk membeli semua sengon karena lihat kualitasnya bagus-bagus."
"Mamang bilang nunggu dulu pemiliknya datang."
"Gimana kalau sekalian bertemu pihak pabrik. Mumpung Neng Rahma dan Pak Badru ke sini." Pungkas Mang Ojak. Pandangannya menatap silih berganti terhadap Rahma dan Ayah Badru.
Rahma dan Ayah pun saling pandang, yang kemudian sepakat dan mengangguk setuju.
"Telpon aja orangnya, Mang. Atur pertemuan besok jam 9 pagi." Rahma memutuskan seperti itu sebab tidak mungkin temu janji sore ini. Masih ada urusan lain yang harus ditunaikan hari ini. Itu artinya ia harus menginap semalam di Bogor.
Selesai urusan berkeliling melihat lahan, Rahma bertolak menuju pesantren yang dimaksud. Amanah yang tertulis di surat yang ia terima dari pengacara mengatakan jika almarhum suaminya ingin merenovasi pesantren tahfidz yatim piatu itu dengan meminta biaya dari hasil penjualan 100 pohon kayu sengon. Tentu saja Rahma tidak keberatan menginfakkannya meski harus lebih dari segitu. Berharap, semoga menjadi amal jariyah sang almarhum.
Begitu kembali ke rumah Mang Ojak menjelang magrib, Bi Siti yang merupakan istri Mang Ojak sudah menyiapkan hidangan makan sore yang tersaji di karpet.
"Udah keliling kebon pasti cape ya pak, Neng." Bi Siti menyuguhkan teh hangat ke depan Pak Badru dan Rahma. "Mangga teras tuang wae (Silakan langsung makan saja)."
"Aduh Bi, saya tidak enak jadi ngerepotin nih." Rahma tersenyum meringis sebab tak enak hati dengan sambutan tuan rumah yang menyuguhkan banyak makanan. Ayahnya pun ikut mengamini ucapan Rahma.
"Sama sekali tidak ngerepotin. Kami mah senang kedatangan keluarga Den Malik. Nggak nyangka istrinya geulis pisan (cantik sekali)" Bi Siti tulus memuji dengan mata berbinar menatap Rahma yang tersipu malu.
"Alhamdulillah punya 1 jagoan, usia 28 bulan." Rahma pun memperlihatkan foto-foto Dika di galeri ponselnya.
"MasyaAllah, meni kasep lucu---- Wajah mah lebih mirip ke mamahnya tapi hidung sama mata mah asli mirip Den Malik."
Rahma terkekeh mendengar analisis Bi Siti yang antusias, yang memang benar adanya. Usai shalat magrib, ia pamit kepada tuan rumah untuk beristirahat di hotel. Meski Mang Ojak dan istrinya meminta menginap saja di rumah, namun Rahma menolak dengan alasan ada acara di kota. Bukan tidak mau menginap di rumah sederhana itu. Namun melihat kamar yang hanya ada 2, ia tidak tega jika 2 anak perempuan Bi Siti harus mengalah tidur di karpet.
"Pak Badru, Neng Rahma, besok sebelum pulang ke Bandung, mampir lagi ke sini ya."
"Ada hasil penjualan kelapa dan pete selama 1,5 tahun yang mau Mamang setor. Karena Den Malik juga terakhir bilang jangan lagi ditransfer ke rekeningnya. Nanti aja kasihkan ke istrinya."
Rahma mengangguk tanpa kata. Lagi-lagi hatinya basah sebab perhatian Malik yang begitu besar.
****
__ADS_1
Pertemuan 2 jam lamanya dengan manajer pabrik BKS menghasilkan MoU yang secara garis besar berisikan kesepakatan jika pihak pabrik akan membeli secara bertahap semua kayu sengon siap tebang, dengan 2 opsi harga disesuaikan dengan ukuran diameter kayu.
Rahma bernafas lega, urusan di Bogor berjalan lancar. Semalam ia maupun Ayahnya mencari tahu dulu informasi harga pasaran kayu sengon saat ini yang dominan dipakai untuk interior. Sehingga pagi ini ia mantap menandatangani nota kesepakatan dengan pabrik sebab sama-sama saling menguntungkan.
Ayah Badru melajukan mobil menuju rumah Mang Ojak untuk memberitahukan hasil meeting sekaligus pamitan pulang. Pihaknya akan mengikuti kesepakatan perjanjian Malik dan Mang Ojak dulu, dimana hasil penjualan akan fifty fifty antara pemilik dan pengurus lahan.
"InsyaAllah Mang, ini akan menjadi rejeki kita bersama. Semoga berkah ya, Mang." Ujar Rahma setelah ayahnya selesai menceritakan hasil perjanjian dengan pihak pabrik.
Mang Ojak dan istrinya mengaminkan dengan binar bahagia dan penuh syukur. "Mamang mah nanti uangnya mau dipakai buat renovasi rumah. Ini atasnya udah pada lapuk. Alhamdulillah buat sehari-hari mah kegaji dari jual kelapa, jual rumput pakan ke peternakan sapi Pak Emsi."
Ayah maupun Rahma manggut-manggut, turut senang.
"Ini, Neng....Mamang baru ambil uang dari Bank." Mang Ojak menyerahkan amplop coklat ke depan Rahma. "Itu hasil penjualan kelapa sama pete sslama 1,5 tahun. Semuanya 39 juta." Ia pun menyerahkan buku berisikan rincian penjualan tiap bulannya yang ditulis oleh anaknya dengan rinci.
"Besar sekali, Mang." Rahma tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya sambil membuka amplop coklat itu. "Ini udah dibagi 2 buat Mamang?!"
Mang Ojak mengangguk. "Sudah, Neng. Hak Mamang udah lebih dulu dipake buat biaya sekolah anak-anak dan kebutuham sehari-hari."
"Pasti besar, Neng. Rata-rata per pohon ada 20 kelapa tua dikali 90 pohon. Harga sebutir 2 ribu sampai 2500, tergantung pasaran." Jelas Mang Ojak yang terbuka dan jujur menjalankan amanah.
Ayah Badru maupun Rahma tak ingin kemalaman pulang ke Bandung. Usai dijamu lagi makan siang, keduanya pamit dan berjanji kedepannya akan sering berkunjung ke Bogor. Dengan bagasi yang penuh oleh-oleh, Rahma berinisiatif menggantikan ayahnya menyetir agar tak kecapean. Biar sang ayah giliran menyetir kala mau memasuki tol.
"Ayah liat Mang Ojak orangnya jujur." Ayah Badru membuka kaca jendela menikmati semilir angin kala melewati pesawahan yang hijau dengan backround gunung salak yang tampak hijau rimbun menjulang.
"Iya, Yah. Aku juga sependapat. Abang emang selalu selektif memilih orang-orang yang bisa dipercaya." Ah, setiap mengingat Malik, hati Rahma selalu basah dengan kebanggaan, keharuan. Dan kerinduan pun menyeruak.
Senyum tipis yang terlukis kala mengingat sang almarhum perlahan sirna dengan mimik berubah penuh keheranan. "Yah, ban kanan belakang gembos." Ia menatap dari spion kondisi ban belakang begitu merasakan ketidaknyamanan laju mobil yang dikiranya karena baru saja melewati sedikit jalan berlubang.
"Coba pinggirin dulu!" Ayah menegakkan badannya bersiap untuk turun memeriksa.
Semua terjadi begitu cepat tanpa kecurigaan. Kala sebuah mobil ikut berhenti di depan dan 2 orang turun menghampiri. Sebuah pukulan di belakang kepala Ayah Badru yang tengah jongkok memeriksa ban mobil, membuatnya tersungkur dan pingsan.
Rahma yang berdiri di depan pintu mobil, terkesiap dengan kejadian kilat tak terduga itu. Suaranya serasa tersekat di tenggorokan dengan mulut menganga. Kesadarannya pulih kala seorang lagi mengambil tas miliknya dari kaca yang terbuka penuh. Ia berusaha merebut tas yang diambil itu. Tarik menarik terjadi. Namun Rahma kalah kala orang itu mengeluarkan pisau dan menyabetkannya ke tangannya. Ia pun jatuh terjengkang di aspal yang kasar. Sekuat tenaga ia berteriak di jalanan yang sepi itu dengan pandangan nanar menatap sang ayah yang tergeletak tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Tolong----"