
"Bunda cini, atu peyuk juja---" Mizyan berkata ala Dika. Ia merentangkan tangan kirinya yang bebas diiringi senyum usil.
Rahma berdiri dan mendekat dengan senyum terkembang. "Nih, peyuk!" Ia mengepitkan botol minum di ketiak Mizyan dan melenggang melewatinya.
Dika terkikik lihat Ayah Buye memanyunkan bibirnya, yang pura-pura kecewa. Mizyan mengikuti Rahma yang beralih duduk di sofa. Ia tempatkan Dika duduk diantara keduanya.
"Aku boleh pasang sekarang nih?" Mizyan memperlihatkan isi kotak kecil berupa satu buah cincin emas putih dengan berlian yang berkilau indah.
"Emang harus ya?! Rahma balik bertanya dengan ragu. "Nanti aja ya kalau Mas udah minta restu Ayah dan Uma."
Mizyan menggeleng. "Nanti saat lamaran beda lagi. Sekarang aku ingin mengikatmu dulu biar nggak ada yang nikung. You are mine."
Kalimat penuh percaya diri yang diucapkan Mizyan membuat wajah putih Rahma merona seketika. Dan disepakati, Dika lah yang akan memasangkan cincin di jari manis kiri sang Bunda .
"Smart boy!" Mizyan mengecup puncak kepala Dika yang berhasil memasang cincin dengan baik sesuai arahannya. Dika bahkan bertepuk tangan girang, bangga dengan keberhasilannya.
"Makasih---" Rahma menatap Mizyan dengan mata berkaca penuh haru dan bahagia.
"Mas kapan nyiapin ini? Kok bisa tahu ukuran jari aku?" Ia menilik cincin yang melingkar indah di jari manisnya. Dab ia pun tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya sebab cincin itu bisa pas di jarinya.
"Beli dadakan tadi sebelum ke sini. Ukurannya base on feeling." Mizyan tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Senyum bahagia menghiasi wajah dua insan yang sudah saling menunjukkan perasaannya masing-masing. Ditambah gestur riang bocah kecil yang menggelayut manja di lengan ayah buye menemani dua orang dewasa itu berbincang santai.
"Hm...Mas, maaf ya Dika terlalu dini manggil ayah. Aku nggak ngajarin lho. Kemarin cuma nanya apa Dika sayang sama om buye dan apa pengen om buye jadi ayah Dika. Eh malah manggil gitu sekarang." Rahma menelisik bola mata hazel yang duduk menyamping menghadapnya, untuk mencari tahu respon sebenarnya. Sementara Dika tengah pergi ke kamar untuk mengambil mainannya.
Mizyan tersenyum simpul. "Aku malah seneng banget, berasa naik pangkat. Tapi boleh ya aku request panggilannya jangan Ayah. Sebagai bentuk respect aku terhadap almarhum ayahnya Dika, gelar itu hanya untuk beliau."
"Panggil saja aku Papa. Papa buye, hm keren juga ya." Pungkas Mizyan dengan telunjuk mengetuk-ngetuk pipi.
Hati Rahma basah sebab keharuan yang menyeruak mendengar perkataan Mizyan yang ternyata menghargai akan almarhum suaminya. "Baiklah, Papa eh Mas." Ia menutup mulut dengan tangannya yang kepeleset salah ucap.
"Kamu mau manggil aku Papa juga boleh, Bun." Rahma hanya menjawab dengan memukulkan bantal sofa ke lengan Mizyan yang malah terkekeh senang sebab berhasil menggodanya.
__ADS_1
Kruwuk kruwuk kruwuk.
"Psstt, bunyi apaan itu---" Rahma menahan tawa sampai bahunya terguncang. Ia menatap Mizyan yang tersenyum menyeringai sambil mengusap-ngusap perut.
"Jangan ditahan kalo mau ketawa!"
"Ha ha ha---" Rahma benar-benar melepaskan tawanya setelah ada ijin dari Mizyan yang menghempaskan punggung ke sandaran sofa.
"Dasar cacing gak tau diri. Merusak suasana aja." Mizyan mendecak mengomel sendiri.
Membuat Rahma terpancing untuk terus tertawa sampai Dika yang baru datang membawa 2 robot ultramen menatapnya aneh.
"Aku belum makan dari pagi, Bun." Mizyan menatap Rahma dengan memelas. "Baru ngopi doang sama makan roti. Gak sempet nasi keburu ada meeting."
"Ulu-ulu kacian----bentar aku pesan makan dulu deh. Mas mau makan apa?" Rahma berdiri untuk mengambil ponselnya di meja. Namun Mizyan mencegahnya sebab ia baru ingat ada titipan makanan dari Uma. Bergegas ia turun menuju mobilnya untuk mengambil goodie bag.
"Dika punya Ultramen berapa?!" Mizyan memperhatikan Dika yang memainkan sang robot berjalan di lantai dengan menekan tombol on off di belakangnya. Sementara Rahma tengah berada di pantry untuk memanaskan makanan.
Mizyan lalu membujuk Dika untuk berhenti dulu bermain. Ia mendudukkan bocah itu di sofa dengan posisi duduk bersisian.
"Dika mulai sekarang panggil om nya Papa, jangan Ayah, oke?!"
Dika menatap sejenak dengan raut heran sebelum menjawab. "Pa pa---" Ia mengejanya dengan ragu.
"Yes. Seperti itu. Kenalin boy, aku Papa Buye!" Mizyan mengulurkan tangan berakting mengajak kenalan.
"Papa buye atu. Papa Nda juja--" Dika tersenyum lebar sambil memiringkan wajahnya. Ia dengan semangat menghentakkan tangan kala menjabat tangan Mizyan.
"Thanks, my son." Mizyan mengangkat tinggi-tinggi tubuh Dika ke udara dan menggerakannya seolah kapal terbang. Tawa riang Dika sampai terdengar ke bawah dimana Rahma tengah berjalan menaiki tangga dengan membawa menu makan siang untuk mereka bertiga.
****
Mizyan melajukan mobilnya sambil bersiul-siul. Beginikah rasanya jatuh cinta dan cinta berbalas. Bahkan ia merasa, rasa yang membuncah di dada ìtu baru dialaminya sekarang. Rasa cinta yang tulus dan bersemi di dalam hati dan hanya tertuju untuk Rahma. Masa kelam dulu tak ada kata cinta dalam kamusnya. Ia memuja wanita hanya secara fisiknya saja, cantik dan seksi. Tak mau ada ikatan. Just for fun.
__ADS_1
"Rahma, apa alasanmu deadline dimajukan?"
"Karena Allah sudah memberikan ketetapan pada hati. Kenapa harus nunggu nanti."
Ia menghentikan laju mobil begitu mendekati lampu lalu lintas yang menyala merah. Masih terngiang jawaban Rahma yang diplomatis. Sebenarnya ia masih beteh berlama-lama di toko. Namun ada urusan penting yang harus diselesaikannya di pesantren. Mumpung Pak Yunus belum pulang ke Bogor, ia akan selesaikan obrolan semalam yang menggantung. Memberikan kepastian jawaban.
Suara notif pesan dari spesial number berbunyi ssetelah sekian lamanya senyap.
Bunda Dika :"Hati-hati di jalan, Mas. 😊"
Mizyan tersenyum simpul. Ini adalah pesan pertama pertanda sudah buka blokir. Ia pun membalas dengan emot kedipan mata. Sungguh hari baru yang amazing.
Kala mobil melintasi jalanan yang sepi tetiba sebuah mobil sedan menyalip dan melintang jalan. Membuat Mizyan reflek mengerem seketika dengan penuh kekagetan sebab kejadiannya begitu cepat. Rasa kesal dan marah yang sempat muncul menjadi menguap kala melihat seorang pria yang keluar dari pintu kemudi. Ia beralih memicingkan mata kala pria itu mendekat dan mengetuk kaca jendela.
"Masih ingat gue kan?"
"Lo siapa?!" Mizyan balik bertanya dengan mengerutkan kening, berusaha mengingat wajah yang sepertinya tak asing itu.
"Gue Alex. Adik iparnya Rahma."
"Kita perlu bicara penting. Ikutin mobil gue!"
Tanpa banyak basa basi lagi Alex melenggang menuju mobilnya.
Mizyan menutup rapat kembali kaca jendela mobilnya. Tanpa kata ia mengikuti kemauan pria bernama Alex itu. Ia baru ingat sekarang, jika pria dengan tato naga di lengan kirinya itu pernah dilihatnya di rumah Rahma dengan mulut bau alkohol.
Apa maunya?
****
Readers tersayang,
Maafkeun jika story di bab ini pendek. Badanku lagi kurang fit. Pls, jangan kecewa ya ya ya 😉🤗
__ADS_1