MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 59. Gegana


__ADS_3

Gegana \= Gelisah, galau, merana


Mizyan pulang dengan senyum kemenangan. Deadline 1 bulan deal tanpa bantahan sebab keburu taksi online datang menjemput. Membuat ia segera beranjak dari duduknya membiarkan Rahma yang masih menganga terkaget. Sepintas dari balik kaca mobil ia melihat wajah Rahma yang memberengut dan menepuk-nepuk kening. Ia hanya bisa tersenyum geli melihat reaksi bundanya Dika itu.


Mizyan tak lama berada di pesantren. Usai mengikuti sholat magrib berjamaah di masjid, ia berganti setelan baju untuk bersiap pergi lagi.


"A Iyan mau pergi lagi?" Dado menatap Mizyan yang baru keluar dari kamar dengan tampilan fresh dan wangi.


"Iya, Do. Ada urusan lagi di luar."


"Kamu makan apa?!" Mizyan mengerutkan kening melihat Dado menusuk makanan berbentuk bulat dari dalam plastik.


"Ini namanya cilok. Barusan beli di depan gerbang."


"A Iyan mau? Dado beliin ya. Rasanya enak loh." Dado mengipas-ngipas mulutnya sebab cilok masih panas dan juga pedas.


Mizyan menggeleng. Malah makin mengkerutkan kening melihat ekspresi Dado dengan mulut mengembung. "Cilok apaan, Do?"


"Cilok itu singkatan dari aci dicolok. Bentuknya bulat-bulat seperti bola kecil. Didalamnya ada suwiran daging ayam." Jelas Dado sambil menusuk kembali cilok berikutnya padahal di mulutnya masih penuh.


"Oh kalau di Amerika itu seperti chicken ball, maybe." Mizyan menarik kesimpulan sendiri. Ia bersiap keluar usai memasang jam tangannya sebagai pelengkap penampilan.


"Bukan ciken ***. Ini mah cilok, aci dicolok." Dado keukeuh dengan pernyataannya.


"Up to you lah, Do. Aku pergi!" Mizyan menepuk bahu Dado kala melewatinya.


Mizyan masih bertukar mobil dengan papinya. Mobil tipe Jeep itu ia lajukan ke pusat kota menuju sebuah rumah sakit swasta. Malam ini ia sudah buat janji dengan dokter andrologi yang merupakan kunjungan ketiganya. Dengan maksud untuk berkonsultasi mengenai kondisinya yang masih belum menunjukkan kesembuhan sama sekali meski telah berganti obat. Dan ini merupakan dokter kedua setelah berobat denggan dokter di Semarang yang tidak membuahkan hasil sama sekali.


Tidak perlu menunggu lama untuk masuk ke ruang dokter andrologi. Begitu daftar ulang, ia langsung dipersilakan masuk dengan wajah harap-harap cemas mendapatkan opsi pengobatan lanjutan.


Hampir 20 menit berada di ruangan dokter untuk pemeriksaan dan tanya jawab. Mizyan pun keluar dengan wajah datar. Tak mau pusing dengan 1 beban yang cukup mengganggu pikirannya itu, ia lajukan lagi mobil menuju rumah Satya setelah tahu orang yang akan ditemuinya itu ada di Bandung. Matanya menoleh ke arah toko kue Citarasa begitu mobilnya berada di sebrang jalan.


"Mau tutup ya?!" Mizyan bertanya kepada karyawan laki-laki yang tengah menyapu lantai di dekat pintu masuk.


"Iya pak, persiapan tutup. Tapi masih bisa kok kalau mau belanja. Ada waktu 15 menit lagi."


Mizyan mengangguk. Ia masuk ke dalam dan melihat masih ada beberapa orang mengantri di kasir.


"Malam, mas Mizyan. Perlu saya bantu, mau nyari apa?" sapa seorang karyawan perempuan sambil tersenyum ramah.


"Kenal sama saya?!" Mizyan menunjuk dadanya dengan rasa heran.


"Saya Fitri. Asistennya mbak Rahma di sini. Saya mencatat dalam ingatan siapa saja tamu-tamu yang khusus menemui mbak Rahma." Karyawan yang bernama Fitri itu menjelaskan dengan sopan.

__ADS_1


Tamu-tamu khusus.


Mizyan mencerna kalimat yang menurutnya bermakna itu.


"Aku mau minta tolong sama kamu, bisa?"


"Silakan, Mas. Mau cari kue apa?" Fitri mengangguk semangat. Ia mengira jika Mizyan memintanya memilihkan kue.


"Bukan soal kue. Begini----" Mizyan menjelaskan dengan hati-hati agar tidak ada kesalahfahaman. Setelah menilai gestur orang yang berdiri di hadapannya itu tampak loyal terhadap Rahma.


"Tapi----" Fitri tampak ragu mendengar permintaan pria tampan di hadapnnya itu. Tak segan matanya menelisik ke dalam mata serta raut wajah bule itu.


"Kamu orang kepercayaan Rahma bukan? Berarti sayang kan sama Rahma?" Mizyan menatapnya dengan sorot tajam.


"Tentu saja. Mbak Rahma sangat baik sama saya dan keluarga saya banyak ditolong olehnya.


"So, do it! Untuk keselamatan Rahma."


"Baiklah." Fitri mengangguk setuju.


Dua kantong besar berisi aneka kue ditentengnya untuk buah tangan kepada Rade dan juga untuk Umi di pesantren.


"Pa kabar pejuang cinta?" Mizyan tertawa sumbang mendengar kata sambutan begitu sampai di rumah Satya.


"Tiap ditelepon nggak pernah langsung dijawab. Apalagi diajak ketemuan bilangnya lagi di luar kota."


Mizyan membiarkan Satya terus merepet. Ia menikmati saja dengan tertawa-tawa lepas. Membuat Rade dan Nana muncul dari dalam kamar mungkin merasa terganggu dengan suaranya.


"Nana bilang seperti suara ketawanya Om Iyan. Eh ternyata beneran." Rade duduk di samping Satya dan membiarkan Nana yang ditarik Mizyan untuk duduk dipangkuannya.


"Jadi gimana kak perkembangannya? Udah bisa dapetin hatinya belum nih." Rade menatap Mizyan dengan berbinar seolah berharap mendapat kabar baik.


"Slowly but surely. Dia makin membuka hati. Doakan aja---" Mizyan tersenyum namun di hatinya mendadak terselip keresahan teringat akan hasil konsultasinya dengan dokter andrologi.


"Pastinya kita dukung, kak. Udah gak sabar pengen nganter lamaran." Rade terkikik merasa gemas sendiri.


****


Semalaman Rahma sulit tidur setelah Mizyan dengan entengnya memajukan tenggang waktu menjadi 1 bulan untuk memberi jawaban. Itu artinya 2 minggu lagi deadline dari sekarang. Ia yang akan protes malah mendapat lambaian tangan Mizyan dan ucap salam kala taksi online datang menjemput. Serasa dikejar setoran jadinya.


Ditambah ganjalan di hatinya yang belum lepas. Sehingga Rahma berharap pagi segera datang sebab ingin bertemu Nico, menjelaskan semuanya.


Waktu yang dinanti pun tiba. Ia pergi ke rumah Suci sebelum lanjut ke toko, setelah dikonfirmasi jika Nico akan berangkat ke luar kota siang ini. Jadi ada waktu santai pagi ini untuk berbincang.

__ADS_1


"Mas Nico, soal Mizyan---" Rahma menelan saliva sebelum melanjutkan ucapannya. "Dia beberapa bulan yang lalu datang kepada Ayah dan Uma mengutarakan niatnya untuk melamar aku. Aku bahkan baru dikasih tahu Ayah belum lama ini."


Rahma menghembuskan nafas kasar. Kegalauan tengah menguasai perasaannya. "Abang baru setahun pergi dan aku sebenarnya berniat untuk jadi single mom. Tapi melihat Dika yang sangat bahagia jika bervideo call dengan Mizyan apalagi kalau ketemu langsung. Seperti yang kalian lihat kemarin---" Pungkasnya sambil menatap Suci dan Nico bergantian.


Tak ada candaan menggoda yang dilontarkan Suci demi melihat Rahma yang datang dengan wajah lesu kurang tidur dan kurang senyum.


"Iya aku lihat Dika seneng banget. Keliatan manja banget ya sama Mizyan." Suci mulai menanggapi setelah Rahma terdiam.


"Aku sudah empat kali berada pada situasi bahaya atau sulit. Dan Mizyan selalu datang di waktu yang tepat, menolongku."


"Mas Nico, apa aku dianggap mengkhianati Bang Malik kalau aku jatuh cinta lagi?!"


"Apa aku dianggap murahan jika aku menerima lamaran dia, disaat aku baru setahun jadi janda?"


Rahma tercekat diakhir kalimatnya dengan air mata yang mendesak dan jatuh membasahi pipi.


Suci beranjak bangkit dan beralih duduk di sisi sepupunya itu sambil mengusap-ngusap bahunya. "Rahma, kenapa kamu ngomongnya gitu. Aku nggak suka ah." Ia menggeleng tak sstuju dan matanya beralih menatap Nico. Memberi kode agar berbicara menanggapi.


"Rahma, jangan berpikiran kalau aku tak setuju dengan langkahmu sekarang. Salah besar." Nico mulai bersuara setelah dari tadi diam mencerna semua ucapan Rahma.


"Tak ada istilah mengkhianati ataupun dikhianati."


"Malik sahabat aku, dan dia sudah tenang di sisi-Nya. Bahkan dulu dia pernah bilang padaku sebelum kondisinya makin memburuk. Dia bilang; Nico, nanti carikan laki-laki yang soleh untuk mendampingi Rahma dan Dika. Waktuku sepertinya tak lama lagi."


Ruang keluarga mendadak diselimuti keharuan kala Nico mengenang tentang almarhum.


"Waktu itu aku marah sama Malik karena udah bersikap pesimis." Nico mendesah panjang. "Rahma, jika Mizyan menurutmu baik dan tulus sayang sama kamu dan Dika. Apalagi yang kamu ragukan?!"


"Aku dan Suci akan mendukungmu. Iya kan, sayang?" Nico menatap Suci meminta dukungan.


"Tentu saja. Aku nggak mau adikku ini tertatih sendirian sementara ada tangan yang mau membimbingnya berjalan meniti masa depan." Suci mengeratkan rengkuhan tangannya di bahu Rahma. Memberikan support.


"Makasih---" Rahma memeluk Suci dengan senyum dan kelegaan yang tampak di wajahnya.


Hari terus bergulir. Rahma tak melewatkan malam dengan beristikharah dan bermunajat memohon ketetapan hati sebelum membuat keputusan penting untuk hidupnya. Ini adalah mingu ke 3, seminggu lagi menuju tenggang waktu. Dan ia sengaja memutus komunikasi dengan Mizyan. Memblokir nomernya sementara setelah sebelumnya meminta ijin dulu. Ia pun tidak ikut kajian Ahad demi menghindari bertemu Mizyan. Malah Dika yang semangat bangun subuh sebab tak mau ditinggalkan kakek dan neneknya.


"Nda---"


"Nda---


Teriakan Dika yang baru pulang dari kajian mengusik kekhusuannya berdzikir usai sholat Duha. Bocah periang itu membuka pintu kamar dengan gerakan kasar saking semangatnya.


"Nda, ini dali om buye." Dika mengeluarkan kertas yang terlipat dari saku baju kokonya.

__ADS_1


Dengan kedua alis bertaut penuh keheranan, Rahma menerima kertas putih seukuran memo yang diulurkan Dika diringi senyum cerah ceria.


__ADS_2