MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 131. Burung


__ADS_3

Dika lebih dulu masuk ke dalam, meninggalkan Bunda dan Papa yang sedang berbincang dengan Om Rangga di teras. Melewati ruang tamu ke ruang tengah berteriak-teriak dengan kepala yang celingukkan, bingung memilih jalan ke arah kiri atau ke arah kanan.


"Opaaa....oh Opa." Dika berteriak dengan logat Upin Ipin. Memutuskan berjalan ke arah kiri menuju kamar Opa Mark.


"Opaaa...oh Opa." Tangan mungilnya memukul-mukul pintu kamar Opa. Sudah tidak sabar ingin bertemu. Tujuannya untuk mengajak Opa bermain di playground.


Malah pintu ruangan lain yang terbuka. Membuat Dika menoleh dan berlari ke arah ruang perpustakaan dimana Opa berdiri di ambang pintu sambil tersenyum sumringah.


Di teras, Rangga usai menceritakan permasalahan botol kepada Mizyan dan Rahma. Ketiganya berdiri di dekat pintu masuk yang terbuka.


"Pasti bukan sembarang botol. Ada historynya itu. Coba lo ingat-ingat awalnya botol itu dari mana." Mizyan menanggapi dengan santai. Berbeda dengan Rangga yang nampak gusar sebab potong gaji 5 juta menjadi taruhannya.


Rangga nampak berpikir keras untuk beberapa detik lamanya.


"Terakhir Pak Mark minta sebotol air waktu di rumah tahfiz. Posisi saya nunggu di depan kantor sekretariat, Pak Mark sama Bu Ima ada di rooftop. Saya nganterin botol ke atas." Rangga mulai meraba-raba kejadian perkara, merajut benang merah. "Di mobil saya lihat Pak Mark membawa pulang botol itu. Tumben-tumbenan...biasanya sisa minum ya ditinggalin aja."


Rangga membelalakkan mata. "Masa iya botol itu yang dicari Pak Mark. Kan udah lama...sebelum ultah Mas Mizyan." Menggeleng tak percaya.


"Ck, jones mana nyampe otaknya. Lo pinternya cuma bidang bisnis." Sahut Mizyan daun raut wajah meledek.


"MAS!" Rahma menggeleng tidak setuju sang suami meledek Rangga yang menanggapi dengan nyengir kuda sambil garuk-garuk kepala.


"Nih gue jelasin....pasti itu botol bekas minum Bu Ima. Sengaja Papi bawa pulang karena ingin meminum bekasnya. Hanya orang yang lagi jatuh cinta yang mau melakukan itu. Seorang Papi Mark kalo otaknya lurus, ngapain bawa-bawa botol bekas. Borong satu toko juga mampu. Ini mah fixed....Papi kena virus. Minum bekas Bu Ima akan terasa ada manis-manisnya gitu lho. FAHAM JONES?! ujar Mizyan dengan penekanan diakhir ucapannya dengan nada meledek lagi.


"Karena gue juga pernah ngalamin. Dulu deketin Rahma suka minum dari botol bekasnya. Ya kan, sayang." Mizyan tersenyum imut-imut sambil menatap Rahma yang wajahnya bersemu merah.


"Aku masuk duluan ah." Rahma memukul dulu lengan Mizyan saat melewatinya. Tidak ingin terlihat malu di depan Rangga.


"Jangan pamer, Mas. Mau bikin saya garuk-garuk pintu apa?!" Rangga mendesah berat melihat Mizyan bersikap mesra terhadap Rahma. Dimana Mizyan mencekal tangan Rahma dan mengecupnya sebelum istrinya itu masuk ke dalam villa.


"Makanya buruan...apa di rumah tahfiz gak ada pengajar yang jomblo?" Mizyan menoleh terhadap Rangga yang mengikuti masuk. "Insya Allah gue akan ikut nganter lo lamaran nantinya." sambungnya memberi support.


"Ada, mas. Doain ya saya lagi mulai pedekate." jawab Rangga tenang dengan senyum terkembang. Ia akan merahasiakan dulu kalau wanita yang dikejarnya itu Olla.


"Hadeuh Papi disuruh masuk ke kolam bola." Adu Mark sambil geleng-geleng kepala di depan Mizyan dan Rahma yang datang menghampiri ke ruangan playground dan menyalaminya. Sementara bocah yang sedang dibicarakan sedang riang berguling-guling di kolam bola.


Membuat Mizyan dan Rahma tertawa. Sementara Rangga hanya tersenyum tipis dengan rasa was-was jika boss Mark menagih hasil pencarian botol.


"Pak, maaf botolnya belum ketemu." Rangga memutuskan untuk melapor soalnya sang boss malah asyik berbincang hal lain dengan anak dan mantunya. Ia ingin segera keluar dan beristirahat di kamarnya. Pasrah menerima nasib gaji bulan ini terpotong gara-gara puner kedua boss Mark yang merepotkannya.


"Botol gak hilang kok. Ada di nakas dekat pintu. Sepertinya si Bibi mau bawa keluar, lupa di simpan dulu di nakas. Sorry, lupa ngasih tau kamu." Mark menimpali dengan tenang tanpa rasa bersalah. Ia sigap menangkap lemparan bola dari Dika yang mengajaknya bermain lagi.


Haisss Pak, kenapa gak ngomong.... Saya dah pusing nyari-nyari. Kalo bukan boss gue jitak pala lo. Hargghhh


Rangga hanya bisa membelalakkan mata mendengar jawaban sang boss. Tak mungkin mengekspresikan rasa kesal dan geram di wajahnya. Hanya mampu hati yang bermonolog mencak-mencak. Astagfirullah sabar-sabar ini ujian....lagi-lagi batinnya memghibur diri.

__ADS_1


"Botol apa, Pi?!" Mizyan menautkan kedua alisnya. Pura-pura belum tahu untuk melihat reaksi sang ayah.


"Botol minum Papi. Sudahlah, kalian sana makan dulu." Mark tidak mau berkepanjangan. mengalihkan topik pembicaraan menyuruh Mizyan dan Rahma untuk makan malam.


"Saya juga permisi mau ke kamar." Rangga berpamitan kepada boss Mark. Merasa lega ancaman potong gajinya gagal, disamping merasa kesal dengan tingkah sang boss yang lagi terserang virus cinta Bu Fatimah.


****


Pagi yang cerah dengan udara yang segar serta suara aneka burung yang berkicau riang. Hinggap dari pohon ke pohon, bahkan segerombolan burung pipit sesuka hati menyerang padi yang sedang menguning. Namun sebagiannya mampu terhalau oleh keberadaan orang-orangan sawah yang dipasang petani. Dua orang pria sedang berlari menyusuri jalan kampung dengan pemandangan alam yang hijau minim polusi udara.


"Jadi Papi gak akan ganti nama?!" Mizyan menolehkan wajah. Baru saja mendengar penjelasan sang ayah mengenai silsilah keluarga Jerman. Dimana Mark Cornelius sebagai keturunan ke empat yang jika di Indonesia disebut canggah/piut. Terlahir dari keluarga yang semua generasinya memiliki anak satu. Tiga turunan terdahulu sudah meninggal. Tersisa Mark dengan keturunan satu orang putra pula.


"Biarkan Papi jadi keturunan terakhir yang memakan nama keluarga Cornelius. Untuk kenang-kenangan."


"So sorry, Papi. Aku mengganti nama tanpa ijin Papi." Mizyan menghentikan larinya. Menatap sang ayah dengan sorot menyesal. Bukan menyesal dengan nama barunya tapi menyesal sebab membuat keputusan sendiri.


Mark menepuk bahu Mizyan. Menggelengkan kepalanya. "Nama baru kamu sangat bagus. Papi sangat suka. Meski Papi sampe sekarang masih panggil kamu Miki. Itu karena di mata Papi kamù tetap anak kecil yang nakal dan super jahil."


Mizyan tertawa lepas. Menepuk bahu sang ayah untuk melanjutkan lagi lari pagi.


"Tadinya Papi berharap punya banyak anak, biar generasi Papi jadi rekor dan juga suasana rumah selalu rame. But yeah....reality doesn't match expectation." Mark berucap dengan menggedilkan bahu.


Mizyan berlari mendahului. Lalu membalikkan badan dan berlari mundur demi bisa berhadap-hadapan dengan Papi Mark.


"Dasar nakal kamu!" Mark meraih kerikil. Melemparkannya pada Mizyan yang berlari cepat menjauh dari serangannya. Namun sudut bibirnya tertarik. Secercah asa membayang di pelupuk mata. Secara tidak langsung restu sang anak sudah dikantonginya.


Mizyan melajukan mobil menuju rumah tahfiz bersama Rahma dan Dika. Usai lari pagi, ia sudah berbicara dengan Papi Mark. Bahwa akan mengundang Bu Fatimah beserta staf untuk melaksanakan syukuran di villa sore ini. Dan Papi menyetujuinya.


Papi Mark sudah lebih dulu berangkat kerja ke kantor bersama Rangga. Mizyan harus menunggu jam 10 untuk bertemu Bu Fatimah setelah sebelumnya membuat janji. Waktu luang pagi ia manfaatkan untuk berenang bersama Dika. Sementara Rahma ikut berkutat di dapur memperhatikan kesibukan chef Iwan dan Bi Cicih yang prepare banyak menu untuk jamuan acara syukuran. Bukannya tidak mau membantu, sebab cooking and baking adalah hobinya. Tapi dirinya dilarang cape oleh sang suami. Jadilah penonton saja dan penyumbang resep untuk menu dessert.


"Dika, salim dulu sayang sama Bu Ima." Rahma memanggil Dika yang berdiri di ambang pintu kantor sekretariat. Anteng menatap murid-murid yang sedang berolahraga di lapangan.


"Alhamdulillah...ketemu lagi sama si anak soleh." Bu Ima berjongkok, lalu mencium kedua pipi Dika dengan gemas usai menerima uluran tangan sang bocah yang mencium punggung tangannya.


"Ibu---- atu mau sekolah di sini juja." Dika menatap Bu Ima dengan mata berbinar.


"Oh boleh banget. Dika bilang aja sama Bunda dan Papa." Bu Ima menanggapi dengan wajah sumringah.


"Bun da?!" Dika mendongak menatap bundanya dengan wajah merajuk. Meminta persetujuan.


Rahma dan Mizyan terkekeh.


"Boleh. Tapi Dika harus tinggal di sini sama Ibu. Bunda sama Papa gak bisa temenin Dika. Harus pulang ke Bandung." sahut Rahma. Sengaja ia memanggil Ibu saja. Mengikis jarak dengan owner La Tahzan itu. Supaya lebih akrab dan kekeluargaan. Sebagai salah satu misi juga.


Dika mengerucutkan bibir dan menggelengkan kepala. "Nanti atu nangis nyari Nda...nyari Papa. Hwuaaa mana Nda atu...mana Papa atu." Dika berakting menangis sambil mengucek-ngucek mata.

__ADS_1


"Masya Allah---- Ibu jadi gemes pengen gigit deh ini pipi." Bu Ima mendekap tubuh Dika dengan erat. Menguwel-nguwel kedua pipi bakpau si kriwil dengan gemas.


Rahma dan Mizyan kembali terkekeh. Keduanya saling pandang dengan penuh arti.


"Kami mengundang Ibu dan keluarga juga staf pengajar dalam rangka syukuran karena renovasi sudah selesai. Sekaligus syukuran Papi telah menjadi mualaf." Mizyan mulai berbincang serius setelah beberapa menit lamanya berbincang santai menggoda Dika.


"Malam ini ya?!" tanya Bu Ima yang duduk sambil mengusap-ngusap dan merapihkan rambut kriwil Dika yang duduk di pangkuannya. Dika yang mudah akrab dengan siapapun selama orang itu dirasa baik, duduk anteng mengutak-ngatik robot yang bisa berubah menjadi mobil.


"Iya. Ba'da magrib. Bisa kan, Bu?!" Mizyan menatap penuh harap. "Nanti saya kirimkan mobil untuk menjemput semuanya." Sambungnya lagi.


"Gak usah, Mas Mizyan. Biar kami berangkat sendiri. Insya Allah kami datang." Sahut bu Ima.


"Alhamdulillah. Kami menanti kedatangan Ibu dan rombongan." Mizyan bernafas lega.


****


"Sayang, masih ingat dengan Olla gak?!" Mizyan menoleh sekilas menatap Rahma yang sedang memakan rujak jambu kristal. Mereka kini dalam perjalanan pulang ke villa usai 2 jam lamanya berada di rumah tahfiz sebab Bu Ima menjamu makan siang.


"Hmm, Olla---" Rahma mencoba mengingat dengan pipinya yang kembung oleh jambu kristal yang sedang dikunyah. "Oh yang keponakannya Ustad Ahmad itu, bukan? Pernah hadir diacara lamaran ya?!" sambungnya balik bertanya.


"Iya. Sekarang sudah pindah ke Bogor dan jadi volunteer di La Tahzan. Aku taunya dari Bu Ima pas nunjukkin foto staf pengajar yang terpajang di dinding, ternyata ada Olla. Tadi kamu lagi ke toilet sih."


Mizyan lanjut tertawa sendiri.


"Ishh, kenapa ketawa?!" Rahma memandang aneh.


"Si Rangga mau coba-coba maen rahasia-rahasiaan." Mizyan tersenyum meledek dengan pandangan tetap fokus ke depan. "Semalam dia bilang ada staf guru yang ditaksirnya. Terus tadi pagi gak sengaja aku denger dia lagi menelpon dan menyebut nama Olla."


"Baiklah. Misi nanti malam bertambah jadi dua. Bu Ima dan Olla." Mizyan menoleh lagi sambil tersenyum cerah, meminta dukungan Rahma.


"Wokeh---" Rahma membulatkan dua jarinya.


"Mau jajan apa lagi, Bunda? Mumpung di luar."


"Udah ah, masih kenyang. Ini juga belum abis." Rahma mengangkat box sterofoam rujak jambu kristal yang masih ada setengahnya.


"Kenapa gak ngidam pengen pegang burung aku gitu. Kan ada ya ngidam yang aneh."


"Papa....mana bulung?!" Dika tiba-tiba menyambar dari belakang. "Papa, atu mau bulung juja---" sambungnya sambil berlonjak-lonjak di kursi khususnya itu.


"Ya salam--- Papa kena kumat lagi itu mulut." Rahma mendesah. Matanya melotot sebal dengan ucapan yang tidak difilter itu. "Aku gak mau pegang, tapi ngidam pengen gigit tuh burung mumpung mulut lagi kepedasan nih," sambungnya sambil membuka mulutnya.


"Bun da---- da boleh. Nanti bulungnya mati." Dika menyambar lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Bun da da boleh nackal ya," sambungnya memperingati dengan nada serius.


Membuat Mizyan tertawa lepas tak berhenti. Apalagi melihat Rahma yang memegang kepala dengan bibir memberengut. Ucapannya menjadi senjata makan tuan.

__ADS_1


__ADS_2