MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 86. Bogor, We are Coming


__ADS_3

Rahma perlahan beringsut turun dari ranjang. Menarik selimut sampai pinggang Dika yang sudah tertidur pulas. Baru jam 9 malam dan Mizyan belum pulang. Ia memilih keluar kamar, menarik satu kursi makan untuk duduk sembari meminum segelas air. Pikirannya masih mengingat ucapan Mizyan sore tadi kala berkumpul bersama Ayah dan Uma. Kaget dan tidak menyangka mendengar fakta, jika mama Indah bersikap baik ternyata ada maunya.


"Akex dalam keadaan mabuk bilang kalau ibunya akan mengambil alih warisan bagian Dika."


"Dia kira aku menikahi Rahma karena ingin menguasai peninggalan almarhum suaminya. Demi Allah Ayah, Uma, aku tulus menyayangi Rahma dan Dika. Ada atau tidak ada warisan, aku sangat mampu menafkahi anak istri."


Rahma memutar-mutar gelas kosong bekasnya. Merenungi perjalanan hubungan saling mengenal yang terbilang singkat. Sikap Mizyan yang selalu percaya diri itulah yang membuat benteng hati yang dibangun berangsur runtuh perlahan.


"Inilah salah satu alasan aku ingin menikahi Rahma cepat-cepat, Ayah. Agar bisa leluasa melindungi dari kejahatan mereka. Biarkan tetangga mau bicara apapun juga. Mereka bisanya hanya menilai dari luar."


"Memang sengaja aku baru terbuka sekarang. Karena tidak mau Rahma ataupun Ayah dan Uma merasa cemas, disaat sedang persiapan acara nikah kemarin."


Rahma mengusap wajah, mengulas senyum tipis. Tetiba rindu menyeruak padahal baru ditinggal 2 jam lamanya. Ucapan Mizyan di depan Ayah dan Uma sangatlah manis menurutnya. Sampai mata berkaca-kaca, haru dengan alasan yang diungkapkan suaminya itu. Bahkan sudah tahu jika ada tetangga yang berkata nyinyir tentang keputusannya menikah cepat.


Ia menolehkan wajah begitu mendengar suara dari arah pintu. Dengan semangat segera bangkit sebab yakin jika Mizyan lah yang datang.


"Sayang, kirain udah tidur." Mizyan menarik sudut bibirnya begitu Rahma menghambur memeluknya.


"Miss you." Rahma menyembunyikan wajah di dada Mizyan yang kini terkekeh setelah mendengar ucapannya.


Masih dengan wajah yang mengembangkan senyum, Mizyan membawa Rahma duduk di sofa tanpa mengurai pelukannya. "Nda atu makin pinter gombal." Sembari mencium pipi yang merona dengan gemas. Ia lalu menceritakan hasil pertemuannya dengan Arya.


"Besok aku akan bertemu dengan orang yang bernama Hendra di kantornya Arya. Jadi penasaran, Arya bilang dibalik tampang premannya Hendra itu seorang hafiz."


Bibir Rahma melengkungkan kata wow dengan mata membulat. "Jadi don't judge a book by it's cover."


"That's right." Mizyan melayangkan lagi ciuman. Kali ini mendarat di bibir merah jambu yang menjadi candu. "Sayang, udah ngantuk belum?" ia menyatukan kening dengan suara yang serak . Yang dijawab Rahma dengan gelengan kepala sebab masih mengatur nafas yang memburu.


Berpindah ke ruang kerja, Mizyan membaca dengan teliti dokumen kerjasama milik Rahma dan BKS. Rahma menggeser kursi untuk duduk lebih dekat sembari memperhatikan wajah sang suami yang serius.


"Mana lagi berkasnya?" Mizyan mendongak usai membaca halaman terakhir berisi poin-poin aturan yang harus disepakati kedua belah pihak.

__ADS_1


Rahma menggeleng. "Hanya itu aja, Mas. Kan itu kontrak kerjasamanya."


"Apa dulu ada utusan dari pabrik datang ke Bandung menemuimu?" Mizyan pun mengeluarkan berkas dari laci meja kerjanya.


"Nggak ada, Mas. Hanya sekali itu, meeting di pabrik. Memangnya ada yang kurang?" Rahma menatap heran ke arah Mizyan yang geleng-geleng kepala.


"Masalah yang kita hadapi bertambah jadi 2." Mizyan menggeser berkas kontrak versi pabrik untuk dibaca Rahma. Di mana harga yang dibeli pabrik lebih tinggi daripada harga yang ada di berkas Rahma. "Sayang, apa waktu itu pernah tandatangani kertas kosong?"


Rahma mendongak dengan raut terkejut. Kontrak kerja yang valid adalah yang ditunjukkan Mizyan. Sementara yang ia pegang masih berupa pra kontrak dengan kesepakatan harga lebih murah. "Iya. Sebelum pulang disuruh tandatangan 2 lembar kertas kosong. Katanya untuk laporan ke direktur tapi belum sempat bikin draftnya."


"Fixed. Ada indikasi korupsi yang sistematis selama ini. Papi kecolongan." Mizyan menyimpan semua berkas ke dalam tas untuk dibawa nanti ke Bogor.


"Sayang, tolong ingat satu hal ini." Mizyan menyapukan pandangan ke wajah berkulit halus yang duduk di sampingnya itu. "Jika suatu saat Alex ngasih rekaman percakapan. Jangan percaya. Karena rekaman itu tidak utuh. Percaya padaku saja. Oke?"


Rahma mengangguk, balas menatap hangat. "Aku kan sudah pernah bilang, aku serahkan hati dan masa depanku padamu, Mas. Jadi aku lebih percaya suamiku."


"So sweet wifey." Mizyan me lu mat bibir tipis nan ranum yang menjadi candunya. Mengajak Rahma berdiri, berpindah tempat ke sofa tanpa melepaskan pagutannya. Malam ini, ruang kerja pun menjadi saksi bisu penyatuan dua insan yang tengah mereguk nikmatnya surga dunia.


Pagi ini usai mengantar Dika ke rumah Uma, Mizyan dan Rahma lanjut bertolak ke rumah Nico. Sengaja mengabari Nico agar menunggu, jangan dulu berangkat ke kantor. Nico orang terakhir yang akan diberitahu tentang rencana jahat Alex dan Indah.


"Benar kan dugaanku. Tante Indah baik karena ada maunya." Nico tampak tidak terkejut usai Mizyan mengakhiri ceritanya. "Terus rencana selanjutnya apa?"


"Tahap awal aku akan nyuruh orang untuk mengawasi gerak gerik bu Indah juga Alex. Ingin make sure benar tidaknya punya penyakit yang mengharuskan operasi dengan biaya 100 juta. Yang kemungkinan nantinya akan minta uang ke Rahma."


"Ck, dia memang wanita licik. Tidak pantas disebut ibu kandungnya Malik. Aku yakin itu hanya akal-akalan saja." Nico menahan geram. Beruntung ada Suci di sisinya mendinginkan dengan mengusap-ngusap bahunya. "Mulai sekarang kumpulkan bukti terus penjarain. Tuman!"


Namun Rahma menggeleng. "Aku berharap bisa selesai dengan kekeluargaan, Mas. Bagaimanapun mama Indah neneknya Dika. Moga aja suatu saat tobat beneran."


Satu urusan pagi ini selesai sudah. Mizyan mengantarkan Rahma sampai depan toko. Tak lupa mewanti-wanti memberi kabar jika Alex datang lagi. Selanjutnya melajukan mobilnya menuju kantor Arya untuk bertemu calon intel rekomendasi sahabatnya itu.


"Maaf, aku telat. Kena macet di lampu merah." Mizyan masuk ke ruangan Arya dimana ada pula Ricky dan seorang berambut gondrong dikuncir kuda yang belum dikenalnya tengah duduk santai di sofa.

__ADS_1


"Telat 10 menit masih toleransi. Telat 20 menit kamu baru bisa masuk di jam pelajaran kedua." Sahut Ricky seolah bernostalgia masa SMA jika kesiangan masuk sekolah. Membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa.


"Mizyan, ini kang Hendra. Dia teman sekaligus volunteer di rumah singgah. Tampang preman tapi beriman."


"Kang Hendra ini Mizyan, sahabat aku. Status pengantin baru tapi lagi galau merana."


Baik Mizyan juga Hendra tertawa dengan cara memperkenalkan yang dilakukan Arya. Sembari keduanya bersalaman. Usai berbicang santai, Mizyan mulai serius pada tujuan. Hendra mendengarkan dengan fokus. Lalu melihat foto yang dikirim Mizyan ke ponselnya. Manggut-manggut mengerti akan intruksi yang diberikan Mizyan


"Tugas aku terima. In shaa Allah, aku akan terjunkan anak buah terbaik ke lapangan. Dan ngasih info secepatnya." Hendra menjabat tangan Mizyan sebagai akhir pertemuan.


"Mas, beneran gak usah packing baju?" Dari depan meja rias Rahma menatap Mizyan yang telungkup di kasur dan Dika duduk diatasnya memijat-mijat bahu sembari bermain-main. Malam ini rencananya ia akan menyiapkan pakaian untuk seminggu lamanya di Bogor. Namun sore tadi kala Mizyan menjemput ke toko bilang, jika baju untuk bertiga sudah ada lengkap di sana.


"Nggak usah, Bunda. Sini tiduran aja." Mizyan menepuk-nepuk kasur di sisinya yang kosong. Disusul suara tawa Dika yang terdengar riang sebab berdiri di atas punggung papa buye lalu terjatuh.


"Termasuk pakaian dalam juga?" Ingin memastikan lagi sembari duduk di tepi ranjang. Tangannya menahan tubub Dika yang sengaja lagi menjatuhkan diri dari punggung Papa Buye.


"Iya, sayang. Pokoknya udah lengkap." Mizyan membalikkan badan. Mengurung Dika dalam pelukan dengan gemas sebab bocah itu tidak bisa diam. Yang lalu berteriak minta ampun ingin dilepas sembari meronta dan tertawa geli sebab pinggangnya digelitik.


Butuh satu jam menunggu sampai Dika tertidur pulas. Mizyan berpindah ke sisi kiri, menggelitik pinggang Rahma yang mulai tampak terkantuk-kantuk. "Jangan dulu tidur, sayang. Driver butuh charger biar besok nyetir power full."


"Modus ih. Kemarin kan udah." Rahma memejamkan mata sembari menahan sensasi sebab tangan Mizyan mulai menyusup ke balik baju.


"Itu kan kemarin, sayang. Makan aja tiap hari biar gak lapar. Ini juga sama." Mizyan membuka kaosnya. Menempelkan tubuh bawah dengan ketat.


Mau gak mau Rahma membuka mata yang sudah setengah mengantuk. "Pinter banget analoginya. Dasar mesum ih." Sembari mengajak suami yang lihai membawanya terbang pada kenikmatan tak bertepi, untuk pindah kamar.


Mizyan merengkuh pinggang Rahma dari belakang yang berjalan terlebih dulu. "Biarin mesum juga. Kan sama istriku." Diakhiri menyesap leher yang terpampang bebas sebab rambut Rahma dicepol ke atas.


Pagi menjelang. Mizyan tampak cerah ceria usai semalam bermain sebanyak 2 kali. Bahkan menggoda Rahma yang tengah mengeringkan rambut dengan mengajaknya olahraga pagi. Yang lalu mendapat pelototan dari istrinya itu dengan bibir mengerucut. Membuat Mizyan tertawa lepas. Mengecup pipi Rahma sebelum keluar kamar usai meraih kunci mobil yang tergeletak di meja rias.


Jam 7 pagi usai sarapan, siap untuk berangkat. Tak banyak barang yang dibawa, hanya oleh-oleh aneka kue dari toko untuk Papi Mark dan Mang Ojak. Dika turut heboh dan semangat begitu naik ke dalam mobil. Duduk di todler car seat sembari berceloteh riang selama papa buye memasangkan sabuk pengaman untuknya. Terbayang dikepalanya banyaknya sapi yang akan dilihat sesuai yang di ceritakan sang papa. Sapi yang nyata bukan robot sapi. Dika mengucapkan bismillah dengan nyaring mengikuti doa yang diucapkan orangtuanya.

__ADS_1


Bogor, we are coming!"


__ADS_2