
Bandung
Tengah hari Mizyan sudah tiba di pesantren dengan diantar taksi online dari bandara. Ia menyapa sekuriti dengan melongokkan kepala dari jendela kala mobil akan memasuki gerbang. Setelah mengetahui siapa penumpangnya, sang petugas keamanan dengan riang dan ramah mempersilakan mobil masuk dan lalu berhenti di depan paviliun.
Mizyan menoleh ke arah parkiran mobil khusus keluarga untuk melihat si merah kesayanganya. Ia mengulas senyum melihat kuda besinya yang kinclong sebab dirawat oleh Dado. Ada seorang santri mahasiswa yang ia tugaskan memanaskan mobilnya seminggu 2 kali. Jadi bepergian kemanapun ia tak risau dengan rumah dan kendaraannya. Ada yang merawat.
"Alhamdulillah Aa Iyan pulang----" Dado berlari riang usai pulang sholat Duhur berjamaah di masjid. Ia menyalami Mizyan dengan binar bahagia. "Dado kangen sama A Iyan. Itu di dalam udah ada lagi yang ngasih hadiah buat Aa. Tapi eh---kenapa itu pakai perban?" Pungkasnya sambil menunjuk pelipis Mizyan.
"Kena beling. Tapi bentar lagi sembuh kok." Mizyan tak mau Dado memperpanjang pertanyaan. Ia mengajak orang kepercayaannya itu membukakan pintu yang dikunci.
Ia tidak mempedulikan 3 box berpita dengan ukuran berbeda yang tersimpan di meja kerjanya. Ia hanya melirik sekilas kala merebahkan badan di sofa. Usai menanyakan kabar Dado, ia menanyakan kabar ustad Ahmad terkini.
"Abah baru pulang dari rumah sakit tadi jam 9. Sekarang ada di rumah."
"Aku mau lihat Abah dulu, Do." Mizyan beranjak sambil menepuk bahu Dado yang tampak senang mendapat oleh-oleh baju darinya.
Mizyan melihat beberapa orang yang baru keluar dari rumah utama. Sepertinya mereka usai menengok sang ustad. Dengan langkah panjang ia turun dari teras paviliun menuju pintu rumah utama. Di ambang pintu yang terbuka lebar ia berpapasan dengan Olla yang hendak keluar, tampak terkejut melihat kehadirannya.
"MasyaAllah, A Iyan kapan datang?" Olla tak dapat menyembunyikan binar bahagianya melihat sosok tegap yang hampir 2 bulan lamanya tak dilihatnya.
"Baru aja." Mizyan mengulas senyum. "Dapat kabar Abah kecelakaan jadi aku buru-buru pulang."
Olla mengangguk mengerti. "Alhamdulillah, Uwa hanya cedera ringan. Hasil rontgen tidak ada cedera di dalam kepala, jadi boleh pulang tadi pagi. Tapi itu kenapa pakai perban?" pungkasnya beralih mengamati pelipis yang terbalut perban.
Mizyan pun menjawab sama seperti terhadap Dado dan segera masuk sambil berucap salam. Ada sekitar 4 orang pria dan wanita yang duduk di karpet ruang tengah yang tidak ia kenal. Ia melewatinya sambil menangkupkan tangan di dada dan tersenyum ramah. Tujuannya ingin segera ke kamar Abah untuk melihat langsung kondisinya.
Kedatangannya ke kamar disambut luapan gembira Umi dan Abah serta Fahri. Mereka tak menyangka Mizyan akan pulang hari ini. Usai saling bertanya kabar, pertanyaan yang sama seperti Dado dan Olla terlontar dari mulut Umi.
"Kena beling waktu di lapangan, Umi. Tapi udah mau kering kok jahitannya." Mizyan membatasi pembahasan tentangnya. Ia beralih menanyakan kronologis kecelakaan yang menimpa Abah.
"Bagaimana bisa kecelakaan, Bah?" Mizyan mengamati lengan kiri ustad Ahmad yang berbalut perban biocrepe sebab patah tulang di bagian sikut.
"Karena Allah ijinkan." Sang ustad tersenyum simpul. "Abah sudah ikhtiar dengan benar, pakai helm, menyalakan lampi sein saat akan belok, tapi motor dibelakang tiba-tiba nubruk." Pungkasnya yang menceritakan jika ia tertabrak kala pulang dari mengunjungi temannya usai mengisi ceramah di acara pernikahan.
"Gimana sudah ketemu orang tua? Abah beralih menanyakan kabar petualangan Mizyan selama 2 bulan ini.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Saya sudah bertemu mami. Tapi sama Papi belum. Beliau tidak tinggal lagi di Semarang." Tersorat sorot penyesalan dan kecewa di mata Mizyan sebab belum menemukan jejak sang ayah.
"Sabar. InsyaAllah kalau sudah waktunya akan bertemu." sahut Abah yang tak menunjukkan keluhan meski sedang sakit akibat kecelakaan.
Mizyan ikut menjawab salam dan menoleh ke arah pintunyang terbuka kala 2 orang masuk diiringi Olla di belakangnya. Ia baru pertama kali melihatnya, namun Umi dan Abah tampak akrab dengan tamu itu.
"Mizyan, kenalin ini Yunus adik Uma, dan Nur istrinya. Mereka orangtua Olla---" Uma memperkenalkan tamu yang baru datang itu.
"Saya Mizyan." ujarnya memperkenalkan diri dengan mengangguk sopan sambil menyalaminya kedua orang itu.
"Wah ini orangnya ya, yang teh Hani suka ceritain?!" Nur tersenyum lebar sambil menatap penuh kekaguman pada pria blasteran itu.
Berbeda dengan Yunus yang masih menggnggam tangan Mizyan dengan tatapan penuh selidik. "Tunggu-tunggu! Saya merasa tidak asing dengan wajah ini." Ia tampak menautkan kedua alis dengan kening berlipat dengan tangan masih belum melepaskan jabat tangan. "Apa kamu punya keluarga di Bogor? "
Mizyan menggeleng. "Tidak ada, Om."
****
Rahma dan keluarga tiba di rumah jam 2 siang. Ada Ceu Imas dan Kang Iwa suaminya yang duduk di kursi teras ditemani seorang sekuriti. Mereka berkumpul sebab mendapat kabar akan kedatangan keluarga Rahma yang sudah keluar dari bandara Husein Sastranegara, Bandung.
"Pak Badru, coba perilsa cctv nya. Semoga aja wajah malingnya kelihatan." Usul Kang Iwa yang sudah penasaran ingin tahu pelakunya sebab ia hanya mendengar cerita dari istrinya tentang adanya maling yang menyatroni rumah Rahma.
Rahma dan Dika menuju kamar dengan tujuan berbeda. Jika Dika sudah kangen dengan 3 robot sapi nya, Rahma justru ingin melihat brankas pribadinya. Lega. Uang maupun surat berharga tersimpan aman.
Hasil rekaman cctv menunjukkan 2 orang berboncengan motor berhenti di depan rumah mengenakan helm dan salah satunya masuk memanjat pagar besi.
"Gimana, Yah?" Rahma mendekati Ayah Badru yang sudah selesai memeriksa rekaman kamera.
"Wajahnya nggak keliatan, sepertinya sudah tahu ada cctv jadi pakai helm dan masker. Sudahlah, yang penting kita selamat. Tak ada barang yang hilang."
Rahma mengangguk. "Ayah udah manggil tukang belum? Jendelanya harus segera diperbaiki, Yah."
"Sudah. Paling bisa datang sore katanya."
Malam hari selepas magrib, Rahma kedatangan tamu dokter Gunawan. Ia dan Uma dengan tulus mengucapkan terima kasih sebab sudah berhasil menggagalkan pencurian di rumahnya. Sementara Ayah masih di masjid dan akan pulang selepas isya.
__ADS_1
"Dok, silakan diminum." Rahma menghidangkan segelas teh hangat dan sepiring goreng pisang yang dibuat Uma di dapur. Masih panas.
"Rahma, please. Beberapa kali aku bilang jangan formal gitu." Gunawan menggeleng tak suka sebab Rahma masih saja memanggil profesinya. "Panggil Aa Guna lebih santai kedengarannya." ujarnya untuk yang kedua kalinya mengingatkan.
Rahma terkekeh. "Maaf dok eh A Guna, belum terbiasa soalnya."
"By the way, gimana acara mudiknya seru?" Gunawan beralih dari pembahasan pencurian.
Rahma mengangguk diiringi senyum simpul. "Sangat seru dan berkesan." Namun pikirannya malah menampilkan kenangan kemarin malam kala jalan-jalan di MW. Ah, kenapa dadaku berdesir.
"Moza dan Dika kan seumuran. Boleh nggak kalau Moza main ke sini biar akrab." Ujar Gunawan membicarakan anak keduanya yang diasuh oleh suster usai bercerai dengan istrinya.
"Hm, boleh. Dika tiap hari ada di rumah sama Uma, nggak saya ajak ke toko. Pasti akan seneng ada teman main."
"Makasih, Rahma." Gunawan tersenyum lebar. Merasa ada celah untuk mendekati ibu satu anak itu. "Oke deh, aku pulang dulu ya. Kamu pasti butuh istirahat karena baru datang."
Rahma mengangguk setuju. Memang benar badannya terasa penat usai perjalanan jauh ditambah rasa tegang sepanjang jalan sebab memikirkan keadaan rumah.
"Nda, atu mo telpon Om Buye!" Dika datang dengan membawa ponsel miliknya kala ia tengah termenung usai Gunawan pergi.
"Besok lagi ya, sayang. Om buye nya lagi kerja nggak bisa diganggu." Ia mengusap rambut Dika dan memberi alasan dengan lembut. Anaknya itu menjadi ketergantungan untuk menghubungi Mizyan setiap hari. Ia menjadi khawatir kedepannya akan seperti apa.
Tangannya spontan terulur memegang dada, maraba hati. Desiran dan debaran yang selalu timbul kala bertemu Mizyan mengingatkannya akan rasa yang sama kala dulu kepada ayahnya Dika. Bedanya yang sekarang ini selalu diiringi rasa gelisah dan salah tingkah.
Apakah aku sudah jatuh cinta lagi?
Ini nggak boleh terjadi.
Rahma memejamkan mata untuk meminimalisir rasa pusing di kepala yang tiba-tiba hadir.
"Atu mo sekalang, Nda!" Dika memberengut.dan menggoyang-goyangkan lengan bundanya itu yang tampak melamun.
Belum juga menjawab, ponsel yang masih dipegang Dika berbunyi nada dering panggilan. Tanpa tahu siapa yang memanggil, Dika dengan cepat menggeser icon di layar dengan wajah berbinar.
"Hallow--- om buye atu." ujarnya melambaikan tangan menatap layar yang menampilkan sosok yang tengah diharapkannya.
__ADS_1