MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 118. Mood Swing


__ADS_3

"Bundaaa, itu baju papa."


Mizyan menoleh ke arah kanan setelah mendengar suara nyaring Dika. Menoleh lagi ke arah kiri mengikuti arah pandangan Dika dengan ponsel masih melekat di telinga. Ia melongo dengan mulut menganga menatap penampilan Rahma yang berjalan mendekat sambil memegang gelas jus. Menatap dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, memastikan penglihatannya. Seketika ponselnya pun dimatikan tanpa pamit dulu pada Rangga.


"Aku lagi pengen pake baju ini. Boleh ya, Pa--" Rahma mengangkat dua jarinya diiringi kedipan mata. Dengan santai mendudukkan bo kong di sofa. Segelas es jeruk segar mulai diseruput menggunakan sedotan.


"Dika, tolong ambilin kertas di ruang kerja Papa ya!" Mizyan menatap Dika yang sedang meneguk habis susunya dengan kepala mendongak.


Dika menyusut bibir dengan lengannya. Mengangguk mendengar perintah Papa atu. "Lesgow--" Dengan semangat pergi menuju ruang kerja.


"Hmph---" Rahma membelalak kaget. Tidak siap dengan serangan Mizyan yang secepat kilat naik ke sofa dan tahu-tahu meraup bibirnya dengan rakus. Hanya bisa membelalak mata dan memegang erat gelas jus yang hampir jatuh sebab tindakan agresif suaminya itu. Namun kelihaian permainan bibir itu membuatnya larut terbuai.


Mizyan yang lebih dulu tersengat memandang penampilan Rahma yang mengenakan jersey basket miliknya berpadu hot pant hitam dan rambut diikat ekor kuda, inginnya langsung menerkam. Apa dikata ada satpam kecil yang mengawasi.


Suara pintu yang terdengar ditutup menjadi alarm jika Dika sudah selesai dengan tugasnya. Mizyan yang waspada, melepas pa gu tannya sambil mengatur nafas yang memburu.


"Kenapa menggodaku sore-sore gini, hm?" Mizyan mengusap bibir tipis Rahma yang basah karena ulahnya. Gemas melihat penampilan Rahma dengan jersey basket club LA Lakers size L yang di tubuh istrinya itu menjadi pas sebab ukuran dadanya yang besar . Makin menambah kesan seksi dengan bra hitam terpampang dari ketiak yang terbuka. Ditambah baru kali ini sang istri memakai hot pant yang mengekspos paha yang putih mulus.


"Istriku seksi banget sih... kayak penampilan cheerleader basket di Amerika kayak gini seksinya. But you are my cheerleadeer only!" Mizyan menggigit gemas jemari Rahma yang dipegangnya. Inginnya melanjutkan bermesraan tapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan.


"Padahal aku gak ada maksud godain kok. Mas aja yang mesum." Rahma menarik jemarinya yang dipegang. Dipakai memencet hidung bangir Mizyan yang masih lekat menatap dengan sorot gairah.


"Tadi pas lagi mandi tiba-tiba inget waktu Mas main basket dengan baju ini. Jadi kebelet pengen pake. Aneh ya aku kayak---"


"Papa, ini keltas." Dika menghampiri dengan membawa selembar kertas di tangan. Membuat obrolan Rahma dan Mizyan terpotong.


"Makasih, sayang." Mizyan menerimanya dengan senyum. "Eh...lupa, pulpennya belum. Ambilin lagi di meja ya, jagoan Papa." Ujarnya merayu. Yang tanpa disadari bocah kriwil jika papanya itu sedang melakukan modus.


Dika mengangguk. "Belangkaaat!" Serunya riang dengan tangan kanan diangkat ke udara.


"Once more." Tanpa menunggu persetujuan, kembali meraup bibir ranum yang menjadi candunya itu. Kali ini ditambah dengan satu tangan menyusup ke balik jersey, merayap ke atas dan meremas benda favoritnya. Kewaspadaannya tetap terjaga dengan telinga siaga mendengarkan bunyi suara pintu sebagai sinyal kalau Dika akan datang lagi.


Rahma menarik kepalanya. Nafasnya tersengal kehabisan pasokan oksigen sebab permainan lidah Mizyan yang mengunci.


"Tunggu-tunggu! Mas sengaja ya nyuruh-nyuruh Dika?!" Rahma memicingkan mata menatap curiga.


Dijawab Mizyan dengan tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Ya Salam." Rahma geleng-geleng kepala. Mencubit gemas pinggang Mizyan sampai orangnya mengaduh dan mengacungkan dua jari.


"Papa ini--" Dika menghampiri sambil mengacungkan sebuah pulpen.


"Ah, thank you my son. Ayo kita gambar!" Mizyan meraih pulpen dan kertas yang tadi tersimpan di sampingnya. Dika terlonjak senang dengan ajakan papa buye untuk menggambar.


"Nanti lanjut malam." Bisiknya pada Rahma sebelum turun duduk di karpet dan memasang meja lipat yang dikeluarkan Dika dari kolong lemari tv.


****


Gara-gara jersey basket, Rahma bangun pagi dengan lelah dan lemas. Energinya terkuras oleh semangat Mizyan yang semalam mengeksplorasinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Selalu tidak cukup sekali main, di jam 2 malam kembali melakukan penyusupan sehingga Rahma terbangun dan tersulut lagi oleh foreplay yang dilakukan sang expert.


Dengan rambut masih setengah basah karena malas mengeringkan dengan hairdryer, Rahma berkutat di dapur dengan tugas negara menyiapkan sarapan.


"Mas, aku gak ke toko ah. Pengen rebahan aja, cape." Rahma menyeruput teh manis yang sudah 3 hari ini menemani sarapan paginya. Biasanya ia tidak suka teh dengan tambahan gula. Tapi akhir-akhir ini, teh manis seolah bisa memberi energi pada tubuhnya yang masih saja kurang fit.


Mizyan yang sudah rapih dengan outfit semi formalnya, memalingkan wajah ke samping memandang wajah sang istri dengan tatapan sayang.


"Iya, istirahat aja. Wajahmu keliatan pucat. Kalau gak fit, nanti malam cancel aja dulu double date nya ya?!" Mizyan meminta persetujuan untuk membatalkan dinner dengan Satya dan Rade.


Rahma menggeleng tidak setuju. "Tetep jadi, Mas. Aku kangen sama Rade dan Nana. Makanya sekarang mau istirahat dulu. Mas sih...GANAS. Badanku rasanya remuk nih." Rahma mengerucutkan bibir. Sarapan semangkuk sereal habis tak bersisa.


Rahma menutup wajahnya yang memerah malu dengan kedua tangan. Membuat Mizyan terkekeh-kekeh melihatnya.


"Sayang, tubuhmu sekarang makin berisi. Dadamu makin besar sampe gak muat di tangan." Mizyan mengangkat kedua telapak tangan menangkupkan pada dada Rahma yang duduk di kursi sampingnya. "Aku sangat suka. So hot." Pungkasnya sambil mengerling nakal.


Rahma memukul bahu Mizyan sambil mencebik. "Mesum ih---" Tak urung wajah pucatnya pun bersemu merah. Ada rasa bangga di hati mendengar sang suami memuji tentang kemolekan tubuhnya. Serta senang bisa memuaskan kebutuhan biologis suaminya itu.


Manjakan suami pada 3 bagian tubuhnya. Di bagian dalam perut, di atas perut, di bawah perut. Insya Allah, rumah tangga akan selalu harmonis, kuat dari gangguan hama.


Bagian dalam perut, artinya urusan makan. Bukan berarti harus masak setiap hari, kondisional. Poin pentingnya siapkan dan layani saat waktunya makan, jangan telat. Karena perut lapar mudah menyulut amarah.


Bagian atas perut, artinya pakaian. Jika punya ART, dia hanya peran pembantu. Kita sebagai istri yang harus menyiapkan pakaian yang akan dikenakan. Perhatin ini akan membuat suami merasa bahagia karena berharga di mata istri.


Di bawah perut, artinya puaskan kebutuhan s e x sualnya. Jadi istri harus pandai merawat diri luar dan dalam. Gak masalah bergaya seperti pe la cur di hadapan suami. Jika suami sampai terlontar kata pujian dengan pelayanan intim sang istri, Insya Allah akan selalu mesra dan harmonis.


"Malah bengong." Sentilan di hidung membuat Rahma tergeragap dari lamunan. Ia teringat nasehat Uma sehari sebelum pernikahannya dengan Ayahnya Dika. Dan sampai sekarang masih diingat betul nasehat itu.

__ADS_1


"Eh iya, apa?" Rahma mengerjapkan mata untuk memusatkan lagi fokusnya.


"Tuh kan gak tau tadi aku bilang apa. Melamun apa sih, Bunda?"


"Gak ada. Tiba-tiba aja ingat sama Uma. Kangen pengen ketemu udah seminggu." Jujur Rahma yang memang setelah terngiang nasehat itu, tiba-tiba saja ingin ketemu dengan sang ibu.


"Besok kan ketemu di kajian. Sekalian aja ajak Ayah dan Uma refreshing, gimana?"


"Aihh, good idea. Mau banget Papa atu---" Rahma tersenyum sumringah. Mengecup pipi Mizyan sebagai hadiah.


Sepeninggal sang suami yang harus berangkat pagi karena akan meeting dengan 2 klien di dua tempat berbeda, Rahma masuk ke kamar Dika. Menengok sang anak yang menggeliat dan mengernyit karena silau sinar mentari sebab bundanya membuka lebar gordeng jendela.


"Ayo bangun...udah siang ini." Rahma menggelitik pinggang Dika yang malah mengulet di balik selimut.


Dika terkikik geli dan menarik selimut sampai menutupi kepala.


"Mandi dulu ya!" Bujuk Rahma setelah memberikan Dika minuman air hangat campur madu. Keduanya kini duduk di sofa ruang keluarga.


"Mau sama Papa mandinya." Jawab Dika dengan mulut penuh mengunyah roti.


"Papa udah berangkat kerja. Tadi Papa bilang Dika harus nurut sama Bunda." Rahma sengaja mencatut nama Papa. Akan mampu menjadi senjata untuk membuat anaknya luluh.


Dika menoleh menatap bundanya. "Atu mau mandi sama Nda, sama Bun da." ujarnya dua kali mengulang.


Rahma tersenyum lebar. Cara membujuknya berhasil. Terang saja ada perbedaan cara memandikan Dika. Jika ia memandikan sang anak selalu serius dan fokus pada ritual mandi sampai bersih. Lain halnya Mizyan yang mengajak mandi sambil seru-seruan bermain air, bermain gelembung sabun sampai puas. Makanya Dika lebih suka mandi dengan Papa buye.


****


Saturday night.


Saatnya perjalanan menuju restoran tempat janjian double date dengan Satya family. Istirahat seharian di rumah membuat Rahma kini merasa lebih fresh dan bugar. Ditambah Mizyan yang pulang membawa serabi telor pesanannya, membuatnya bersorak girang sampai menghabiskan dua serabi telor dengan cepat. Ia menyadari mood swing yang dialaminya setelah seharian banyak rebahan. Curiganya makin menguat setelah mengecek periode di ponselnya. Telat haid 7 hari.


Memilih bungkam dulu pada sang suami sampai nanti dibuktikan dengan testpack.


"Bunda--- Ada Nana." Mata Dika awas. Lebih dulu mengetahui posisi meja Nana bersama kedua orangtuanya begitu baru masuk ke dalam resto family itu.


"Oh iya, benar." Rahma membalas lambaian tangan Rade yang juga sudah melihat kedatangannya.

__ADS_1


*****


Maafkeun adek akak ngegantung. Lanjut nanti ya, mendadak ada urusan urgent nih.


__ADS_2