MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 150. Lupa


__ADS_3

Mizyan masuk ke kamar. Menghampiri Rahma yang sedang mengeloni Dika. Bocah kriwil itu merajuk ingin bermain perosotan setelah tidak berhasil bertemu Opa dan Oma. Karena sudah malam, Rahma harus membujuk dengan sabar sampai akhirnya Dika terlelap.


"Bibi bilang, Papi dan Ibu abis makan langsung ke kamar gak keluar lagi." Mizyan mengambil posisi duduk di samping Dika yang tidur miring memeluk Bunda Rahma.


"Ciehh....pengantin baru ngamar mulu bawaannya." Mizyan lanjut terkekeh dan tiduran telentang berbantalkan kedua lengan


"Hmm, kayak yang gak pernah ngalamin aja." Rahma mencebik.


"Iya gitu?! Kok aku lupa." Sahut Mizyan sambil tersenyum miring.


"Sebel ah---" Rahma memukulkan guling ke perut Mizyan yang bertingkah pura-pura lupa.


Subuh menjelang.


Mizyan sudah siap dengan setelan baju koko dan celana panjang hitam. Pamit pada Rahma yang baru keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk. Mandi subuh membuat badan menjadi segar dan bersemangat memulai hari.


"Miki, Papi ikut!" Mark memanggil sang anak yang sedang membuka kunci pintu utama.


"Pi----" Mizyan mencium tangan sang ayah lalu saling berpelukan.


"Jam berapa datang? Papi tidur awal jadi gak tahu." Mark pura-pura belum mengetahui kedatangan keluarga kecil anaknya itu.


"Jam 9, Pi. Tumben tidur awal...Papi sakit?" Mizyan melirik papinya yang mengikuti ke garasi untuk mengambil motor. Bersamaan dengan Rangga yang juga menuju garasi. Sama-sama akan ke masjid.


"Awalnya nemenin Ibu yang kurang fit. Eh jadi ikut ketiduran." Mark terlanjur mengarang bebas, ya sudah dilanjut saja bohongnya.


"Papi udah bawa Ibu ke dokter?!" Mizyan nampak khawatir.


Lain halnya Mark yang menjadi gemas sebab anaknya itu malah terus-terusan bertanya.


"Cuma pusing biasa. Kecapean abis banyak kegiatan. Ayo jalan keburu iqomah!"


Di dalam musholla. Rahma meminta Bu Ima menjadi imam sholat. Ada Bi Cicih yang juga bergabung menjadi makmum. Selesai sholat, sang asisten rumah tangga lebih dulu undur sebab harus mengerjakan tugas. Sementara Rahma dan Bu Ima mengaji bersama.


"Ibu sakit?!" Rahma yang usai menutupkan Al Qur'an, menatap wajah Bu Ima yang nampak pucat.


"Kepala agak pusing, Rahma. Tapi anehnya kalau siang biasa lagi. Mungkin anemia kali ya?!" Bu Ima memijat-mijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing.


"Udah berapa hari pusingnya, Bu? Ada mual gak?" Rahma mulai menyelidik.


Bu Ima nampak berpikir. "Udah empat hari sama hari ini. Ada sedikit mual tapi gak sampai muntah."


"Apa ibu udah telat haid?" Rahma memicingkan mata dengan mata berbinar.


Bu Ima tercenung. Lalu nampak terhenyak dan menutup mulutnya.


"Ah iya. Harusnya minggu kemarin jadwal haid."


"Gak mungkin---" Bu Ima menggeleng tak percaya dengan raut kaget. Menatap Rahma yang senyum-senyum dan berwajah sumringah.


"Gak ada yang gak mungkin, Ibu---" Rahma menggenggam tangan Bu Ima yang mendadak gemetaran. "Aku kayaknya nyimpen tespek di laci meja rias. Sebentar ya aku ambil dulu." Sambungnya segera bangkit meninggalkan Bu Ima yang masih melongo.


"Ibu jadi takut, Rahma." Bu Ima yang sudah berada di kamarnya ditemani Rahma, nampak gundah. Tangannya sudah memegang 2 tespek beda merk pemberian Rahma.


"Bismillah, Bu. Ini buat mastiin aja. Apa pusing ibu beneran karena kurang darah atau kerena efek positif hamil." Rahma memberi motivasi.

__ADS_1


Dengan menghela nafas panjang dan berucap bismillah. Bu Ima masuk ke dalam kamar mandi.


Tiga orang pria pulang dari masjid saat langit mulai terang. Mereka tertahan di masjid sebab ketua RT dan warga lain menahan dulu untuk mencicipi singkong dan ubi rebus yang masih hangat. Ditambah pula disediakan minuman teh panas dan kopi sachet.


Hanya Mizyan dan Papi Mark yang masuk ke dalam villa dan mengarah menuju kamar masing-masing. Langkah keduanya terhenti di ruang tengah melihat Bi Cicih tergopoh-gopoh membawa segelas air dalam nampan.


"Bi, ada apa kayak panik gitu?" Papi Mark menahan langkah Bi Cicih.


"Itu Tuan....Ibu Ima menangis gak berhenti-berhenti." Bi Cicih melapor dengan suara yang tegang.


Papi Mark dan Mizyan setengah berlari menuju ruang keluarga begitu mendengar samar suara tangisan.


"Bunny, ada apa?!" Papi Mark mendekati istrinya dengan wajah cemas. Nampak sedang dipeluk dan diusap-usap punggungnya oleh Rahma yang malah senyum-senyum bukannya turut sedih.


"Sayang, ada apa?!" Giliran Mizyan yang menatap heran istrinya setelah Bu Ima berpindah memeluk Papi Mark dan menangis makin tersedu.


"Ibu--- mau Ibu atau aku yang ngasih kabar?" Rahma mengabaikan pertanyaan Mizyan. Beralih bertanya pada ibu mertua barunya itu.


"Rahma bilang aja! Jangan bikin Papi khawatir." Papi Mark menimpali. Ia masih mencoba menenangkan sang istri yang kini beralih terisak. Memberinya minum yang dibawakan oleh Bi Cicih agar menjadi tenang.


****


Di ruang tunggu sebuah klinik. Mizyan dan Rahma duduk rapat di ruang tunggu dengan tangan saling menggenggam. Semburat bahagia tidak bisa disembunyikan dari raut wajah keduanya. Menunggu Papi dan Ibu yang baru saja masuk ke ruang pemeriksaan.


"Ibu insya Allah hamil."


Mizyan masih mengingat momen Rahma menyampaikan berita yang mengejutkan tadi pagi. Sambil menunjukkan tespek dengan satu garis pekat dan satu garis samar. Sama halnya Papi Mark yang terkaget dan lalu berucap hamdalah sambil mempererat memeluk Ibu Ima.


Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Papi Mark dan Bu Ima keluar dengan wajah sumringah mendekati anak dan menantunya.


"Gimana, Bu?!" Rahma langsung menodong Sudah tak sabar mendengar kepastian kabar.


"Dokter bilang kemungkinannya kembar. Hasil USG terlihat ada dua kantung janin. Ibu harus istirahat total selama trimester pertama. Bukan karena lemah tapi untuk menjaga-jaga agar dua kantung itu kuat." Papi Mark menyambung sambil mengusap-ngusap bahu sang istri.


"Termasuk libur menengok juga ya, Pi." Mizyan merusak suasana haru dengan menggoda Papinya.


"Mas, ihh---" Rahma mencubit lengan Mizyan dengan gemas. Sebal sebab becanda tidak tahu tempat.


Bu Ima hanya mesem. Papi Mark melotot dengan roman ingin menerkam anaknya yang nampak berwajah tak berdosa.


Berita bahagia ini sampai pula ke rumah tahfiz. Tentu saja disambut ucap syukur dan sukacita keluarga besar La Tahzan.


"Tidak ada do'a yang tidak dikabulkan. Allah kabulkan do'a hambaNya di waktu yang tepat. Atau bisa pula menggantinya dengan yang lain sebab Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hambaNya." Faisal yang datang selepas isya bersama anak istri dan 2 staf pengajar, memberi nasehat pada sang kakak.


"Insya Allah ini adalah buah dari husnudzon, buah dari kesabaran dan keikhlasan teteh selama ini." Pungkas Faisal yang didengar semua orang yang berkumpul di ruang keluarga.


"Tadi sebelum kegiatan Magrib Mengaji, kami do'a bersama dulu sama anak-anak. Mendo'akan agar kehamilan Bu Ima dilancarkan, disehatkan, dan diselamatkan ibu dan bayinya sampai waktunya melahirkan." Ujar Olla yang nampak sumringah bisa menengok sang kepala sekolah sekaligus bisa bertemu Rangga.


"Aamiin---" Papi Mark turut juga mengaminkan do'a seperti yang lainnya. Ia selalu nempel di sisi Bu Ima. Mulai bersikap posesif dengan menambah satu asisten rumah tangga. Yang khusus ditugaskan melayani sang istri. Dan Bi Ida yang pernah menjadi pengasuh Dika sementara, mendapat mandat itu.


****


Mizyan duduk di kursi teras bersama Rangga. Wedang jahe menjadi penghangat tubuh di cucaca malam yang cerah namun dingin itu. Para tamu sudah pulang. Termasuk Rangga yang secara khusus baru saja sampai, setelah mengantarkan Olla pulang.


"Jadi kapan lo mau melamar Olla?!" Mizyan membuka percakapan setelah Rangga datang dari dapur membawa sepiring roti bakar.

__ADS_1


"Olla gak mau ada acara lamaran. Pengen langsung nikah aja. Aku sih seneng yang ada." Sahut Rangga.


"Wah bagus itu. Jadi mau kapan?!" Mizyan nampak antusias.


Rangga menyeruput perlahan wedang jahe yang lebih enak diminum saat panas.


"Minggu kemarin aku udah bawa keluarga dari Cilacap untuk silaturahmi. Pak Mark dan Bu Ima juga ikut lho." Rangga mengkonfirmasi dengan wajah riang. "Langsung saja ditentukan tanggal pernikahan. Insya Allah bulan depan tanggal 11 Maret." Sambungnya tersenyum lebar.


"Nah gitu...gercep dong." Mizyan menonjok bahu Rangga. "By the way, angka 11 jadi angka keramat ya," sambungnya sambil tertawa.


Rangga ikut tertawa. "Tau aja kau, Mas. 11 Januari nembak, 11 Maret kawin....eh nikah." Ujarnya diiringi siulan.


"Selamat melepas gelar JONES." Mizyan mengepalkan tangan untuk beradu tos. Yang disambut Rangga dengan gelak tawa lepas.


"Mas, nanti buatin desain rumah ya. Aku punya kavling, Mas. Sekarang waktunya bikin rumah karena udah punya calon bini."


"Kirain mau tinggal di PMI." Sahut Mizyan santai sambil melahap roti bakar.


"PMI...perumahan mana itu?!" Rangga mengerutkan kening.


"Pondok Mertua Indah." Mizyan terkekeh melihat Rangga yang mendecak.


"Ogah, ah. Paling dimertua cuma 2 hari. Olla mau aku ajak tinggal dulu di sini. Paviliun tempatku kan luas. Pak Mark juga minta aku jangan pindah. Tapi kalo udah nikah aku pengen mandiri, Mas. Di sini hanya tinggal selama rumah belum beres."


"Gue juga dukung seperti Papi. Tapi kalo niatmu begitu...ya nanti aku buatin gambarnya. Besok kita survey dulu lokasinya. Soalnya lusa mau balik lagi ke Bandung."


"Oke, Mas. Tapi gratis kan Mas?!" Rangga menaik turunkan alisnya.


Mizyan menepuk kening. "Gini nih kalo bisnis sama keluarga. Selalu minta gratisan."


Membuat Rangga tertawa lepas diiringi acungan jempol.


Mizyan masuk ke kamar setelah 1 jam lamanya berbincang dengan Rangga. Memeluk Rahma dari belakang setelah bersih-bersih diri di kamar mandi.


"Sayang, pura-pura tidur ya...." Mizyan menggelitiki pinggang Rahma yang sedang memejamkan mata.


Membuat Rahma tertawa dan mengkerutkan badan sebab geli. Ia memang buru-buru memejamkan mata ketika mendengar handle pintu bergerak. Padahal awalnya sedang bermain ponsel membalas pesan-pesan yang masuk.


"Ganggu aja ih...lagi enak tidur." Rahma merajuk manja.


"Hmm gak percaya!" Mizyan bangkit dan perlahan menggendong Dika. Mengevakuasi sementara si kriwil tidur di sofa.


Rahma hanya mengulum senyum. Sudah tahu apa yang diinginkan suaminya itu.


"Barusan di luar dingin....jadi pengen diangetin." Ujar Mizyan setelah membuka kaosnya dan kemudian menyusup ke balik selimut.


"MODUS." Rahma menjawil hidung mancung Mizyan. Sudah tahu sifat tengil suaminya itu.


Malam dingin hanya berlaku di luar. Di sebuah ranjang king size kebalikannya. Panas dan bergelora. Saling memberi dan menerima dengan berimbang. Berakhir dengan lenguhan bersama dengan tangan saling mencengkram.


"Aduh Bunda, lupa----" Mizyan berbisik dengan wajah masih terkulai di ceruk leher sang istri.


"Lula apa?!" Sahut Rahma dengan mata terpejam sambil mengatur nafas.


"Lupa pakai balon." Sahut Mizyan tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Rahma mendadak membelalakkan mata.


"Ishh Papa ihhh---" Rahma mencubit punggung Mizyan dengan wajah panik.


__ADS_2