MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 52. Deadline 2 Bulan


__ADS_3

Rencana Indah dan Alex yang sudah bersiap akan berangkat mengajak Dika jalan-jalan batal setelah kedatangan Mizyan. Dibujuk dengan cara apapun Dika tetap tak bergeming malah tidak mau turun dari gendongan om buye nya. Di satu sisi Rahma merasa lega dengan batalnya jalan-jalan meski ia juga turut menemani Dika. Sebab hati kecilnya merasa enggan bepergian dengan mantan mertua juga mantan adik iparnya itu. Dan akhirnya mereka menyerah dan pulang dengan raut kecewa nampak di wajah Oma nya Dika.


"Uma, kenapa harus ditawari makan segala?" Rahma melayangkan protesnya sebab Uma menahan Mizyan yang kini tengah sholat Duhur bersama ayahnya di masjid. Bahkan Dika pun ikut serta.


"Tamu itu harus dihormat. Mana tadi bilangnya baru pulang dari Bogor langsung ke sini. Pasti cape dan lapar." Uma fokus mengetes rasa gulai kakap merah bumbu padang yang sudah meletup-letup kuahnya dan menguarkan aroma harum. Tak memperhatikan Rahma yang tengah menata piring dan gelas di meja makan. Sehingga ia tidak tahu jika sang anak kini berwajah resah dan gelisah.


Tak lama terdengar ucap salam kala pintu rumah di dorong dari luar. Yang paling riang dan melengking tentunya suara Dika. Tampak sekali bocah menggemaskan itu penuh suka cita sejak kedatangan Mizyan.


"Rahma, panggil semuanya ke sini. Ajak makan dulu mumpung serba hangat."


Rahma mendesah. Andai bisa membantah inginnya disuruh yang lain saja, bukan perintah untuk bertemu dian. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang lagi kala menuju ruang tamu dimana hanya ada Mizyan yang sedang menggambar dan Dika memperhatikan dengan antusias. Ayah Badru tampak berada di halaman sedang berbincang dengan tetangga.


"Ehm." Ia berdehem. Tapi baik Mizyan maupun Dika sama sekali tak terpengaruh. Tetap asyik menekuri kertas dengan jari Mizyan yang lincah melukiskan gambar.


"Ehm---ehmmm." Deheman panjang yang kedua membuat Mizyan dan Dika kompak mengangkat wajah.


"Nda cini--- liat om buye gambal." Dika melambaikan tangan sambil tersenyum lebar ke arah bundanya yang berdiri di sebrang meja.


Lain halnya Mizyan yang mengulas senyum dan menatap lurus bunda Dika dengan sorot mata yang hangat. "Ada apa, Bun?" ujarnya dengan menaikkan kedua alisnya.


Kumohon itu mata dan ucapan kondisikan.


Rahma menelan ludah. Tetiba gugup melanda hati mendapat tatapan seperti itu. "Kata Uma makan dulu, mumpung masih hangat."


"Ngajak aku atau Dika?!" Mizyan menunjuk dadanya sendiri lalu mengarah ke Dika yang anteng menatap gambar yang sudah jadi."


"Ngajak kamu, kan tamu." Jawab Rahma yang lalu mengalihkan pandangan ke arah ayahnya yang masih di luar. Hanya sebagai alibi, sebab ia tidak kuat beradu tatap lama-lama dengan pemilik bola mata hazel itu.


Mizyan berbinar melihat hidangan yang tersaji di meja makan. Terutama gulai ikan kakap merah yang dari penampilannya saja sungguh menggiurkan. Ditambah posisi duduk yang menurutnya ideal dimana Rahma duduk mengapit dirinya dan Dika. Soalnya di sebrang meja sudah duduk manis Uma dan Ayah Badru. Gambaran keluarga kecil bukan? Ia mengulas senyum tipis kala hayalan itu terlintas begitu saja di benaknya.


"Uma, boleh saya ambil kepalanya?" Mizyan menatap piring berisi gulai kakap merah terutama bagian kepala yang biasa ia pesan jika makan di rumah makan Padang.


Uma mengangguk. "Kenapa kepalanya, bagian badan lebih banyak dagingnya." Ujarnya merasa heran.


"Tulang kepalanya enak diseruput sambil disiram kuah, Uma." Tangan Mizyan terulur untuk meraih piring gulai yang berada di depan Rahma namun Uma mencegahnya. Membuat dirinya mengernyit heran.


"Rahma, ambilkan untuk Mizyan!


Rahma menatap Uma diiringi gelengan kecil yang tidak akan terlihat oleh orang disampingnya.


"Tuangkan langsung ke piringnya!"

__ADS_1


Rahma yang sudah mendekatkan piring gulai ikan ke depan Mizyan, harus menelan saliva mendapat perintah dari ibunya itu.


Uma apa-apaan...kayak ngelayanin suami aja.


Tak urung ia pun menuruti menuangkan kepala kakap ke piring Mizyan. Posisi duduk bersisian saja sudah membuat perasaannya tak karuan. Ditambah dapat tugas dari Uma melayani pria itu yang lalu tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih.


"Nda, atu juja mo sepelti Om buye!" Dika tak mau ketinggalan untuk mendapatkan pelayanan bundanya.


Rahma beralih melayani sang anak yang duduk di sebelah kirinya. Dika tampak lahap meminta terus disuapi sebab melihat om buye nya makan dengan cepat. Lalu ikut-ikutan pula menyeruput kepala kakap dengan tangannya sendiri. Membuat Mizyan dan kakek neneknya terkekeh. Lain halnya Rahma yang boro-boro bisa makan dengan nikmat sebab suasana hati yang canggung dan rasa campur aduk lainnya.


****


"Om, atu mo beyi eskim cama tate. Om jangan puyang ya!" Dika mewanti-wanti Mizyan yang selesai mengajarkannya bermain sepatu roda di teras belakang kala kakeknya datang mengajak ke minimarket.


"Oke, boss Dika." Mizyan mengangkat tangan memberi hormat yang membuat bocah menggemaskan itu terkikik riang.


Tinggallah Mizyan dan Rahma duduk berdua. Suasana teras belakang lebih teduh dan nyaman dengan banyaknya tanaman hijau dan tanaman bunga menghiasi taman kecil.


"Don't go anywhere!" Mizyan meraih jemari Rahma yang beranjak dari duduknya. Matanya berkedip mengisyaratkan permohonan sebab Rahma berusaha menarik tangan yang digenggamnya.


"A-aku mau buatin minuman buat kamu." Rahma tidak memungkiri jika satu sisi batinnya merasakan kenyamanan kala jemari berada dalam genggaman tangan Mizyan yang terasa kokoh. Namun kesadaraannya kembali membumi dan ia berusaha menarik tangannya kembali.


"Nggak usah bikin minuman. Ada hal serius yang ingin aku bicarakan." Mizyan melepaskan genggamannya kala Rahma menurut dan duduk kembali di kursinya.


Yang dipanggil kini menolehkan wajah dengan pandangan langsung bersirobok dan saling mengunci sesaat. Namun kemudian Rahma menundukkan pandangan, menekuri lantai teras berbahan granit warna krem.


"Seingat aku, selama ini kamu belum pernah memanggil namaku sekalipun. Manggilnya cuma hei, kamu, malah tadi manggil dengan berdehem. Kenapa?!" Mizyan bicara dengan mimik wajah serius.


Rahma mengangkat wajah dengan raut terkejut. Ia menatap Mizyan yang kini berubah mimik wajahnya tampak datar.


"Kamu nggak suka aku datang ke sini?!"


Rahma menggeleng dengan wajah pias sebab tak menyangka Mizyan berubah serius tak lagi bersikap penuh canda dan menggoda.


"Kamu keberatan jika aku selalu bervideo call dengan Dika?!"


"Kamu nggak suka kalau aku sayang sama Dika?!"


Kali ini Rahma menggeleng kuat dan bersiap membuka mulut untuk menyanggah.


"Kamu nggak suka kalau aku juga sayang sama kamu?!

__ADS_1


Membuat Rahma mengatupkan mulut dengan mata membelalak. Ia sudah mendengar ucapan Ayah dan Uma mengenai niat baik Mizyan. Namun begitu mendengar dari orangnya langsung, membuatnya tak bisa bernafas sesaat.


"Rahma, I love you and your boy." Mizyan ibarat sniper yang terus meberondongkan tembakan. Ia menatap lekat wanita yang kini menunduk dengan jemari saling bertaut.


"Rahma, maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Menjalani masa depan bersamaku?!" Ia melembutkan suaranya sehingga membuat Rahma mengangkat muka dan kini saling beradu tatap.


"A- aku----"


"Jangan jawab sekarang." Mizyan memotong ucapan Rahma. "Pikirkan saja dulu yang matang. Aku tahu posisi almarhum suamimu masih memenuhi hati dan pikiranmu."


"Aku kasih waktu 2 bulan, nanti aku akan menagih jawabannya."


"Ta- tapi----"


"Aku ada tawaran bekerja di Italy." Lagi-lagi Mizyan memotong ucapan Rahma. "Jika kamu menerimaku, aku akan tolak job itu. Tapi jika kamu menolakku, berarti hanya 2 bulan lagi aku stay di Bandung. And than menetap di Italy selamanya."


****


Mizyan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Rahma usai makan es krim bertiga bersama Dika. Pembicaraan serius yang telah selesai bersama bundanya Dika kembali berubah santai dan penuh tawa di hadapan anak kecil yang riang itu. Dika bahkan menahannya untuk tidak pulang. Namun setelah diberi pengertian dengan mengatakan mau pergi bekerja agar bisa membelikan mainan buat Dika, bocah berambut kriwil itu pun menurut.


"Om buye, alapyu tu!"


Ia mengulas senyum, teringat teriakan Dika sambil melambaikan tangan kala bocah itu mengantar kepergiannya sampai pintu pagar. Mobilnya kini mengarah ke pesantren, masih ada waktu 2 jam sebelum meet up dengan klien. Ia akan memberi kabar pada Abah dan Umi perihal pertemuannya dengan Papi Mark.


Sebetulnya ungkapan perasaannya tadi terhadap Rahma tanpa rencana. Mengalir begitu saja setelah Pak Badru bercerita sepanjang jalan pulang dari masjid, jika beliau sudah memberi tahu tentang niatnya ingin melamar Rahma. Jadilah ia terdorong untuk menembak langsung wanita yang sudah mencuri hatinya itu.


2 bulan.


Bukan hanya waktu yang diberikan kepada Rahma untuk berpikir sebelum memberikan jawaban. Tapi juga waktu yang ditargetkan untuk kesembuhan penyakit yang tengah dideritanya. Ia akan berobat lagi ke dokter lain atau jika mungkin dengan cara alternatif.


Tiga hari berlalu dan Mizyan kini kembali ke Bogor untuk tinggal sementara di villa ayahnya. Ia tengah membutuhkan suasana sepi dan udara sejuk segar untuk memfokuskan lagi konsentrasinya pada beberapa job menggambar yang sudah dekat dengan deadline. Ia sengaja menjaga jarak dengan Rahma meski hati dilanda rindu ingin menggodanya. Sebab sangat suka melihat pipi yang bersemu bahkan sampai memerah seperti tomat.


"Rahma, jika Dika ingin menghubungiku, pakai hape kakeknya aja."


"Aku memberimu ruang untuk berpikir sebelum memberi jawaban krusial."


Yang terlihat sudah di read namun tak memberikan balasan.


****


Akyu mon maaf jika tdk up tiap hari. Seminggu ini lagi banyak urusan pekerjaan dan malemnya langsung cape deh.

__ADS_1


So, harap maklum dan selalu sabar menanti ya 😁


__ADS_2