MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 103. Serangan Jantung


__ADS_3

Kedua tangan Rahma menengadah, berdo'a dengan khusyu memohon kepada Allah agar dilancarkan dan diselamatkan dari urusan yang saat ini sedang dihadapi. Memohon kebaikan dan keridhoan atas keputusan yang sudah dibuat.


اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ


Sisipan do'a untuk ayahnya Dika tak luput dipanjatkan dan ditutup dengan do'a sapu jagat. "Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa 'adzaaban naar."


Melipat mukena dan memakai kembali kerudungnya, Rahma menuju dapur. Memanaskan lauk yang ia beli di restoran untuk makan malam bersama keluarganya. Uma datang menyusul, menyiapkan nasi yang sudah matang di kukusan. Uma dan Ayah tidak menyukai nasi magic com. Karena memang rasanya berbeda, lebih pulen dan lebih sehat nasi yang dikukus.


Terdengar ucap salam diiringi masuknya 3 pria. Ayah Badru, Mizyan, dan Nico datang menuju ruang makan. Bersamaan dengan Uma dan Rahma menyajikan menu di meja.


"Lapar nih---" Ayah mengusap-ngusap perut. Aroma wangi nasi dadakan dan lauk menyatu dan membuat konser cacing-cacing di perut.


"Udah siap kok. Bentar aku ambil piringnya." Rahma kembali lagi ke dapur mengambil 5 piring makan.


Selama makan, suasana tampak tenang. Sama sekali tidak membahas soal sidang tadi. Memilih fokus menikmati nikmatnya makan bersama. Barulah setelah selesai, Ayah membuka pembicaraan.


"Nak Mizyan, apa tidak terlalu besar ngasih 750 juta?" Ayah menatap sang menantu yang sedang mengupas pisang raja.


"Gak papa, Yah. Untuk pertama dan terakhir. Biar mereka senang untuk sementara." Mizyan mengulas senyum lebar dengan wajah sumringah.


"Ambigu nih. Maksudmu gimana?" Nico menatap curiga pada Mizyan.


"Gimana kalau kita pindah nonton tv. Ada berita seru yang wajib dilihat. Mumpung tamu belum datang." Mizyan lebih dulu menarik tangan Rahma yang tampak bingung. Disusul yang lainnya yang juga penasaran dengan maksud Mizyan.


Televisi dinyalakan Rahma. Memilih chanel berita sesuai permintaan Mizyan. Yang muncul masih tayangan iklan. Semuanya duduk menunggu dengan raut penasaran.


"Polisi satuan reserse narkoba berhasil meringkus dua orang tersangka transaksi narkoba di wilayah terminal Cicaheum, kota Bandung, sekitar jam 5 sore tadi. Petugas yang mengintai selama 2 jam lamanya itu berhasil mengamankan barang bukti 50 paket shabu masing-masing seberat 3 gram. Tersangka berinisial AX warga Jakarta dan DL warga Surabaya. Dan polisi tengah melakukan pengembangan penyidikan untuk menangkap pelaku lainnya."


Suara news anchor diiringi tayangan penangkapan hasil video amatir dari warga yang menyaksikan peristiwa tersebut. Disusul konferensi pers Kepala Satres Narkoba, Polrestabes Bandung, dengan barang bukti shabu dan uang dijajarkan di meja. Berikut 2 orang tersangka dengan seragam tahanan berdiri di belakang dengan wajah tertunduk dan tangan diborgol.


"Astagfirullah! Itu alex?!" Rahma membekap mulut dengan raut kaget. Beralih menatap Mizyan dengan isyarat mata meminta penjelasan.


"Alex pantas mendapat hukuman karena perbuatannya. Selama ini dia pemakai narkoba. Dan baru kali ini memulai bisnis haram sebagai pengedar. Dan apes." Mizyan menjelaskan. "Aku meminta bantuan Kang Hendra untuk mengintai Alex dan memberi informasi ke polisi." sambungnya.


Nico mengacungkan dua jempol sebagai apresiasi. "Gue suka gaya lo."


Mizyan terkekeh dengan komentar Nico. "Sekarang kita tunggu Bu Indah dan Pak Theo, kalau mereka bersikap biasa berarti belum mendapat konfirmasi dari pihak kepolisian."


"Semoga masalah yang menimpa kalian, selesai semua hari ini juga." Uma menatap dengan sorot penuh pengharapan pada anak dan mantunya. Ucapannya diaminkan semua orang.


Tepat jam 7 malam Indah dan Theo datang. Beriringan dengan pengacara Devan yang diundang Mizyan. Menyaksikan raut wajah dua tamu yang tenang, sudah dipastikan berita penangkapan Alex belum sampai ke telinga mereka.


"Kita langsung pada inti Pak Devan. Draftnya sudah jadi kan?!" Mizyan menatap sang pengacara yang mengeluarkan berkas dari tas kerjanya. Ia sebelumnya telah mengirimkan draft kesepakatan yang kisi-kisinya dibuat saat di apartemen.

__ADS_1


"Sudah Pak Mizyan. Ini silakan dilihat--" Pengacara Devan memperlihatkan surat perjanjian yang sudah rapih diketik hanya tinggal ditandatangani kedua belah pihak dan saksi-saksi.


Mizyan lebih dulu membaca. Lalu beralih menyerahkan kepada Bu Indah untuk diteliti.


Pihak ke satu adalah Indah Diwani berikut NIK dan alamat lengkap sesuai foto KTP yang dipinta Mizyan saat break magrib.


Pihak kedua adalah Cut Mutiara Rahma berikut NIK dan alamat lengkap sesuai tertera di KTP.


Indah beralih membaca poin-poin yang harus disetujuinya.



Pihak kesatu akan menerima hak uang sebanyak Rp. 750.000.000 (Tujuh ratus lima puluh juta rupiah) dalam bentuk cek tunai serta transfer m banking.


Pihak kesatu tidak akan menuntut lagi dan atau memaksa meminta hak dengan alasan apapun kepada pihak kedua dalam jangka waktu seumur hidup.


Pihak kesatu bersedia untuk tidak menemui ataupun membawa Mahardika Al Malik dari tangan pihak kedua dalam jangka waktu seumur hidup.


Apabila pihak kesatu melakukan pelanggaran kesepakatan, maka pihak kesatu wajib membayar denda ataupun ganti rugi sebesar Rp. 1.000.000.000.000 (satu milyar rupiah).



Indah dan Theo saling pandang sesaat usai membaca poin-poin diatas.


Lebih cepat lebih baik, itu yang ditargetkan Mizyan. Meminta kedua belah pihak langsung menandatangani. Yang menjadi saksi yaitu Nico Melviano dan ia sendiri pun segera membubuhkan tanda tangan.


Done.


Indah dan Theo pamit dengan wajah bahagia dan puas yang berusaha disembunyikan, setelah mendapatkan cek tunai 450 juta serta transferan sebanyak 300 juta.


"Alhamdulillah--" Ucap syukur Rahma juga Mizyan spontan, bersamaan. Mengiringi kepergian pengacara Devan yamg diantarnya sampai teras.


"Makasih, Mas. Udah mau turun tangan bantu aku." Rahma menyandarkan kepala pada bahu Mizyan yang masih berdiri di sampingnya.


"Ucapin makasihnya dengan benar." Mizyan menjawil dagu bulat Rahma dengan gemas.


"Maksudnya?!" Rahma menegakkan kepala, menatap Mizyan dengan raut bingung sehingga tatapan saling bersirobok.


"Servis aku malam ini." Mizyan berbisik, lalu mencuri kecupan di bibir Rahma.


"Ish...main nyosor aja...gimana kalau ceu Imas liat." Rahma mengerucutkan bibir. Kesal dengan kemesuman Mizyan yang tidak kenal tempat.


Malah dijawab Mizyan dengan mengecup lagi bibir yang mengerucut itu. Kemudian berlari masuk ke dalam rumah sembari tertawa meninggalkan Rahma yang berucap istigfar.

__ADS_1


Apa yang dikhawatirkan Rahma kenyataan. Ceu Imas yang suaminya belum pulang kerja karena lembur, kembali mengintip saat melihat tamu asing yang baru dilihatnya, yaitu pengacara Devan. Lututnya gemetar menyaksikan live kemesraan mas bule terhadap Rahma.


"Gustiii...andai itu bibir saya yang dikecup." Sembari mengusap dada yang berdesir.


****


Indah tertawa lepas setelah mobil yang dikemudikan sang suami sudah keluar dari komplek perumahan Alam Sari Residence. Tawa kepuasan atas rupiah yamg sudah didapatnya.


"Lagian siapa juga yang mau nemui mereka. Ogah banget...ga level." Ia masih membahas poin perjanjian tadi. Meski mantan menantunya itu kini memiliki kekayaan melimpah, ia masih menganggap Rahma tidak sederajat dengan status sosialnya.


"Ma, coba hubungi Alex. Dimana anak itu kok belum ngabarin sampe sekarang." Theo beralih membahas anak semata wayangnya. Tetiba hatinya merasa gelisah teringat Alex yang belum ada kabar lagi setelah komunikasi terakhir siang tadi.


Saat Indah akan menyentuh nama Alex di layar log, nada dering panggilan lebih dulu masuk dari nomer tidak dikenal.


"Siapa ya?!" Ia bergumam sendiri sembari membaca nomer telpon dengan kode area 022 yang berarti dari wilayah Bandung.


Theo menoleh sekilas. "Angkat aja, Ma. Siapa tahu penting."


Indah menurut. "Hallo--"


"Selamat malam, benar ini dengan orangtua Alex Theodore?"


"Iya benar. Saya ibunya....ini dengan siapa ya?" Indah mulai merasakan jantungnya berdebar kencang.mendengar suara tegas seorang pria dari sebrang sana.


"Kami dari polrestabes Bandung, mau mengabari jika Alex Theodore kami tangkap bersama temannya atas tindakan penyalanggunaan narkotika dan tersangka pengedaran narkoba di wilayah hukum kota Bandung."


"Ap ap ap appaaaa--?" Indah memegang dada kirinya yang mendadak sulit bernafas. Ponsel yang dipegangnya jatuh ke bawah.


Theo menepikan mobil dengan wajah kaget melihat keadaan sang istri yang meringis kesakitan memegang dada kiri.


"Ma...Ma...Mama bangun....kenapa ada kabar apa?" Theo tampak panik dan mengguncang tubuh Indah yang kejang-kejang.


Terdengar suara hallo-hallo dari ponsel yang terjatuh di bawah kaki Indah. Ia pun meraihnya.


"Hallo, kamu ngasih kabar apa pada istri saya hah?" Dengan marah Theo membentak si penelpon.


Mulutnya ternganga dan badannya menegang mendengar penjelasan ulang petugas kepolisian itu. Ia memukul stir dengan wajah frustasi dan melampiaskan kemarahan usai panggilan berkahir.


"Alexxx----Anakku---"


"Gak mungkiiiiin----"


"Ini pasti ulah keluarga si Rahma.. Argghhh----" Theo berteriak marah-marah sembari memukul-mukul setir sampai klakson berbunyi berkali-kali menarik perhatian pengguna jalan.

__ADS_1


"Indah--" Ia baru tersadar, melirik keadaan sang istri saat seseorang menggedor kaca mobilnya dengan keras.


__ADS_2