MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 76. The New Journey


__ADS_3

Pengajian yang digelar selepas Duhur telah selesai dilaksanakan. Waktu sore menjadi waktu santai dengan berkumpulnya keluarga di rumah Rahma. Masa tenang menuju esok gelaran pernikahan. Dika dengan keriaannya asyik bermain dengan para sepupu. Sementara Rahma di kamarnya baru selesai packing baju miliknya dan milik Dika ke dalam 2 koper.


Suara tawa riang terdengar dari ruang makan dimana ada Suci dan Salma tengah memakan rujak yang dadakan dibuat. "Panganten, sini gabung makan rujak petis. Seger lho--" Salma berteriak sembari melambaikan tangan melihat Rahma yang muncul.


"Lihat Uma gak?" seiris bengkuang dicolekkan Rahma pada bumbu petis yang pedasnya sedang-sedang saja.


"Barusan aku lihat masuk kamar." Suci yang menjawab. Rahma pun beranjak usai memakan seiris nanas madu yang manis dan segar untuk menyusul Uma.


Benar saja Uma ada di kamar baru selesai melipat mukena di tepi ranjang. Rahma merebahkan badan di samping ibunya itu. Matanya kini tertuju pada dua bingkai figura yang menempel di dinding. Yang satu adalah foto close up Malik dengan gaya cool. Satunya lagi adalah foto Malik yang tengah menggendong Dika saat usia 9 bulan, keduanya kompak tersenyum ke arah depan.


Sengaja ia titipkan di kamarnya Uma, tidak menyimpan semua foto di kotak kenangan. Ada yang masih tergantung indah meski tertutup adanya di kamar orangtua. Ini adalah bentuk respect terhadap almarhum bahwasannya dulu pernah mengukir sejarah hidup dengan penuh kenangan manis untuk diceritakan kelak terhadap Dika.


Rahma beralih merebahkan kepala ke pangkuan Uma yang kosong setelah selesai menyimpan mukena ke atas nakas. "Uma, mas Mizyan minta setelah menikah langsung pindah ke apartemennya. Jadi tidak akan pulang ke sini."


Uma membelai rambut putrinya itu dengan sayang. "Turuti apa kata suami selama dijalan yang benar. Mizyan punya hak untuk membawamu pindah dari rumah ini."


"Aku merasa sedih. Rumah ini banyak kenangan."


"Justru itu kamu harus peka. Mizyan tidak ingin kamu dan kenangan masih bersatu. Makanya segera membawamu pindah untuk memulai lembaran baru dengan suasana baru."


Rahma mengatupkan bibir. Apa yang dikatakan Uma benar adanya. Mulai besok waktunya melukis sejarah baru dengan pria bernama Mizyan Abdillah.


"Sudah berkemas belum?" Uma membuyarkan pikiran Rahma yang tengah berkelana.


"Sudah beres, Uma. Aku packing 2 koper, punyaku dan Dika."


Malam hari sebelum tidur Dika merajuk ingin menelpon Papa Buye. Berguling di kasur dan memunggungi kala Rahma bilang jika besok juga akan bertemu. Akhirnya ia mengalah, mengabulkannya dan memposisikan Dika berpindah duduk di sofa dengan ponsel terpasang di holder.


"Papa---" Dika langsung berseru girang menatap layar yang menampilkan wajah bule tengah menyapanya.


"Dika kok belum bobo?"


"Beyum, Papa. Atu tangen Papa. Atu pengen bobo sama Papa. Manda juja bobo sama papanya." Kepalanya miring ke kiri dengan bibir mengerucut. Gaya merajuk yang bikin Mizyan di sebrang sana tertawa lepas. Gemas.


Rahma yang mendengarkan, geleng-geleng kepala. Manda senang sekali ngomporin Dika.


"Mulai besok Dika bisa bobo sama Papa, sama Bunda juga. Kita bobo bertiga."


Duka berjingkrak di atas sofa dengan riang. Rahma yang duduk di depan meja rias wajahnya merona mendengarnya.


"Bunda mana? Papa pengen liat Bunda juga!"


Dika menoleh pada bundanya yang duduk di depan meja rias. Melihat bundanya menggeleng.


"Nda tida mau, Papa---"


Mizyan mengerti maksudnya. Rahma memang sengaja tidak mau bervideo call menunggu besok bertatap muka di depan penghulu.


"Bilang sama Bunda, Papa rindu."


"Nda, Papa lindu." Dika berteriak menatap bundanya. Rahma mengangguk sembari mengulum senyum.

__ADS_1


"Bunda jawab apa?"


"Nda cuma----" Dika menirukan sang bunda menganggukkan kepala. "Telus senyuuummm." Ditirukan pula gaya senyumnya bunda Rahma.


"Ha ha ha--- Papa jadi gemes deh sama Bunda, sama Dika juja."


Dika balas terkikik menatap Papa buye yang menirukan bahasanya.


Sampai satu jam lamanya komunikasi Dika dan Mizyan berlangsung anteng. Sampai Dika terkantuk-kantuk tapi tak mau menyudahi. Dan akhirnya terkulai di sofa.


"Bun, Dika udah bobo."


Rahma mendekat dengan posisi berada di belakang phone holder.


"Iya, Mas. Sudah dulu ya, udah jam 10."


"Liat ke layar dong, Bun. Biar aku gak terlalu berat menanggung beban rindu."


Rahma bersidekap tangan di atas meja. Tetap dalam posisi membelakangi phone holder.


"Aku lagi gak pakai kerudung, Mas. Besok aja kita saling lihatnya." Berdebar rasa di dada kala Rahma berucap demikian sebab malu.


Terdengar helaan nafas berat dari sebrang sana.


"Oke, sayang. Bismillah...tak sabar menunggu esok. See you tomorrow, calon istriku."


"Assalamu alaikum--"


Rahma mematikan layar ponsel. Lalu memindahkan Dika ke ranjang dengan memberikan kecupan sayang di kening. Ia berbaring di samping buah hatinya itu. Ada ketegangan melingkupi tubuh dengan hati berdesir. Membayangkan mulai besok kehidupannya berubah. The New Journey.


Mulai besok Dika bisa bobo sama Papa, sama Bunda juga. Kita bobo bertiga.


Tubuhnya meremang mengingat kembali ucapan Mizyan tadi kala menenangkan Dika.


Bismillah.


Rahma melafalkan doa dalam hati sebelum terlelap menyambut esok hari baru.


****


Jum'at, hari yang dinanti itu tiba. Selepas shalat jum'at tepatnya pukul 2 siang, di ballroom hotel bintang 5 yang telah disulap menjadi istana sehari. Penuh dengan hiasan bunga cantik, serta perpaduan dekorasi white and gold berkesan mewah dan elegan.


Mizyan duduk tegak di hadapan Ayah Badru yang akan menjadi wali nikah Rahma. Duduk di kursi samping kirinya ada ustad Ahmad dan Kemal sebagai saksi dari calon mempelai pria. Duduk di samping kanannya ada Nico dan ketua MUI Bandung sebagai saksi dari calon mempelai wanita. Di belakang meja akad adalah barisan kursi rombongan keluarga Mizyan yang kemarin sore datang dari Semarang dan Surabaya.


Akad nikah akan segera berlangsung begitu khutbah nikah telah selesai. Mizyan tampak gagah bak raja dalam balutan busana adat Aceh, dengan air muka yang sedikit tegang. Padahal tadi pagi sudah berlatih dengan tenang dan santai ditemani Satya dan Kemal. Tak urung begitu tiba waktunya, rasa tegang itu hadir.


Ayah Badru mengulurkan tangan yang kemudian disambut jabat tangan Mizyan dengan sigap.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Saudara Mizyan Abdillah bin Mark Cornelius dengan anak saya yang bernama Cut Mutiara Rahma dengan mas kawinnya berupa 1000 gram logam mulia. TUNAI."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Cut Mutiara Rahma binti Teuku Badru Ali dengan maskawinnya yang tersebut, TUNAI.”

__ADS_1


"Bagaimana para saksi?"


SAH


SAH


SAAAAHHH


Teriakan Arya and the genk menjadi yang terheboh mengucapkan kata SAH.


"Alhamdulillah. Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” Petugas menutup acara akad nikah dengan doa.


(Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan)


Mizyan mengusap muka, mengaminkan doa. Dan kini bisa bernafas lega. Dalam satu tarikan nafas, ijab kabul berhasil dilalui dengan lancar.


Pembawa acara mempersilakan mempelai wanita untuk masuk bergabung di meja akad. Mizyan berdiri tegap untuk menyambut kedatangan Rahma, yang telah sah menjadi istrinya. Lantunan sholawat diiringi gesekan biola mengiringi langkah pengantin wanita yang berjalan diapit 2 bridesmaid, Mira dan Suci. Dibelakangnya ada Dika yang dituntun Salma sebab tidak mau jauh dari bundanya.


Mata Mizyan lekat dan fokus menatap kedatangan Rahma yang kian mendekat. Begitu anggun dan elegan dalam busana pengantin model baju kurung bak putri kerajaan melayu. Wajahnya masih samar sebab tertutup kain kelambu berwarna gold.


"Mas Mizyan, silakan dibuka kain penutupnya. Boleh dikecup keningnya karena Cut Mutiara Rahma telah sah menjadi istri anda."


Mizyan menuruti. Dengan mengucap bismillah, perlahan disingkapnya kain penutup ke atas Patam dhoe berwarna emas. Dua pasang mata saling beradu tatap dengan senyum yang tersungging menghiasi wajah bahagia keduanya. Mizyan masih terpana menatap istri yang berdiri di hadapannya itu. Amat sangat cantik.


Dikecupnya kening Rahma lama, dengan segenap rasa yang tersalur lewat bibir yang menempel di kening. Sensasi hangat dan menggetarkan hati dirasakan Rahma saat ini. Ia pun mengambil tangan Mizyan, mengecup punggung tangan imam barunya dengan takzim.


"Papa---" Dika mendongak.


Sepertinya bocah itu tidak mau ketinggalan ingin mendapat perlakuan yang sama seperti bundanya. Mizyan tersenyum. Dengan setengah membungkuk, dikecupnya puncak kepala dan kening Dika penuh sayang.


Menjadi tugas crew dokumentasi untuk mengabadikan setiap momen. Tak ada yang terlewat sampai acara terakhir berupa sungkem kepada kedua orangtua yang diwarnai isak tangis penuh haru.


"The new journey has begun. Congrats, my broh." Arya memeluk Mizyan. Lalu William dan Rendi mengangkat dan menggendong Mizyan dengan euforia yang luar biasa. Tawa riang pun menggema.


Satu persatu keluarga dan teman dekat memberi ucapan selamat kepada sepasang pengantin.


Umi meraih tangan Mizyan dan Rahma lalu disatukannya dalam genggaman. "Berumah tanggalah dengan agama, ilmu, dan sifat saling percaya sebagai pilarnya. Jauhilah kecemburuan dan saling curiga karena akan menjadi rayap bagi bangunan yang kukuh sekalipun." Pungkasnya memberi nasihat kepada sang pengantin.


Mizyan dan Rahma mengangguk takzim terhadap istrinya ustad Ahmad itu.


Giliran Kemal yang memeluk erat Mizyan. Keduanya larut dalam haru. "Sakinah, mawaddah, warrahmah, Le." Ditepuk-tepuknya punggung Mizyan sebelum melepaskannya.


"Aamin, Bang. Thank you for everything."


"Bisa test drive dulu nih. Ada waktu 2 jam. Yakin gas poll." Bisiknya sebelum turun dari pelaminan. Membuat Mizyan tertawa sumbang mendengar bisikan Kemal seperti itu.


Sesi akad berakhir pukul 4 sore. Saatnya break sejenak untuk persiapan resepsi nanti jam 7 malam. Mizyan menggenggam erat tangan Rahma. Enggan untuk dilepas. Saling menoleh dengan tatapan hangat dan melempar senyum manis. Keduanya berjalan meninggalkan ballroom menuju kamar pengantin. Meninggalkan orang-orang yang turut berbahagia dan tengah bersantai menikmati keindahan dekorasi pesta. Sebagian ada yang memilih istirahat di kamar.


****


Patam dhoe merupakan mahkota untuk mempelai perempuan Aceh yang memiliki ukiran berupa daun sulur pada bagian tengah mahkota.

__ADS_1


__ADS_2