MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 40. Menjelang Kepergian


__ADS_3

Dua hari tidak ke toko membuat Rahma bersemangat pagi ini. Usai rutinitas pekerjaan pagi dan memandikan Dika, ia melajukan mobil dengan suasana hati ringan, suasana hati baru. Sebelum menuju toko, ia berhenti di toko floris membeli seikat bunga sedap malam yang berisi 10 tangkai untuk mengunjungi pemilik hatinya. Kini ia menemukan cara jitu kala rindu memenuhi kalbu, datang ke pusaranya dan berdoa, hati pun menjadi senang dan tenang kembali.


Surat bertuliskan tangan Malik yang ia baca semalam telah menjadikannya manusia baru. Ia berjanji pada diri sendiri untuk menghapus sudah segala kepiluan dan ratapan. Kalaupun semalam ia menangis lagi bukan karena sedih tapi karena haru yang menyeruak. Ia begitu bangga dan semakin cinta akan almarhum suaminya. Beruntung pernah mendampinginya, bangga telah menjadi istrinya meski serasa sekejap mata.


🎶🎶🎶


Tak ada manusia


Yang terlahir sempurna


Jangan kau sesali


Segala yang telah terjadi


Kita pasti pernah


Dapatkan cobaan yang berat


Seakan hidup ini


Tak ada artinya lagi


Syukuri apa yang ada


Hidup adalah anugrah


Tetap jalani hidup ini


Melakukan yang terbaik


(The Masiv - Jangan Menyerah)


Rahma memilih lagu yang bisa memotivasi diri, menjadi teman selama perjalanan dalam mobil. Bukan lagu melow yang mengantarkan pada kesedihan dan mengorek luka sebab ditinggalkan. Bismillah, Move on diniatkan.


Ia akan melangkah menatap masa depan dengan kepala tegak dengan menuntun anak semata wayangnya. Menjadikan putranya seorang anak soleh sesuai amanah ayahnya Dika.


"Assalamualaikum, Abang----"


"Aku datang karena rindu."


"Aku janji tak akan menangisi lagi. Aku nggak mau Abang merasa berat karena tangisanku. Aku udah ikhlaskan penuh kepergian Abang ke surganya Allah."


"Aku udah siap bang, menjadi ibu sekaligus ayah buat Dika."


Rahma menundukkan wajah dengan kedua tangan menengadah usai berbicara sambil mengusap nisan bernama Johan Al Malik. Doa secara khusyu dipanjatkan, agar almarhum berada dalam rahmat (kasih sayang) dan maghfirah (ampunan atas segala dosa) Allah subhanahu wata'ala.


"InsyaAllah surga tempatmu, bang." ia berkata lirih penuh keyakinan diiringi senyum terkembang. Diusapnya sekali lagi nisan yang telah bersih dan mengkilat sebelum beranjak pergi meninggalkan komplek TPU di pagi yang cerah penuh hangatnya sinar mentari.


Sesampainya di toko, ia menyapa seluruh karyawannya dengan senyum cerah ceria sehingga menular pada seluruh karyawannya itu.


"Mbak Rahma, pulang dari Jakarta ceria sekali....makin cantik deh." Fitri terang-terangan memuji bossnya itu penuh ketulusan.


"Bisa aja kamu, Fit." Tak urung membuat pipi rahma merona. "Ada order nggak selama aku pergi?" Ia beralih memeriksa etalase show case yang berisi cake yang didinginkan agar awet.


"Alhamdulillah, mbak. Kantor BLI Syariah pesan 200 snack, akan diambil nanti jam 10."


"Yang order kesini Pak kepala yang ganteng itu lho mbak. Pak Dimas."


"Hehe...nanyain mbak Rahma lho."

__ADS_1


"Jadi faham aku. Kenapa pesan snack sampe pak kepala turun langsung. Ternyata oh ternyata ada udang di balik bakwan."


Fitri mengakhiri laporannya dengan terkikik.


"Hus ah, jangan suudzon. Mungkin pengen memastikan pesanannya jangan sampai mengecewakan." sahut Rahma tak mau karyawan kepercayaannya itu bergosip.


"Kan nyuruh bawahannya juga bisa kalau niat mah." Fitri keukeuh dengan asumsinya.


Rahma hanya menyentil lengan Fitri sembari berlalu ke lantai 2 menuju meja kerjanya.


Ia pulang ke rumah selepas magrib sebab harus mengaudit semua laporan dari Fitri yang biasa ia lakukan setiap akhir bulan. Berupa laporan penjualan, laporan keuangan, laporan stok gudang, dan lain-lain. Kala mobilnya sampai di depan gerbang rumah, bunyi klakson terdengar dari belakang. Silau lampu mobil membuatnya mengernyit dan tak bisa menebak siapa orang di balik kemudi itu.


"Aih, kirain siapa." Rahma mengerucutkan bibirnya tatkala orang yang diperhatikannya keluar darinmibil dengan senyum terkembang. "Turun dari tadi kek, kan aku ga kesilauan," lanjutnya dengan mencebik sebab pria yang diomelinya malah tertawa.


"Aku ke toko, katanya kamu udah pulang. Nih aku bawain oleh-oleh seafood, abis dari Pangandaran." Pria yang ternyata koko Andreas itu mengangkat box stereofom yang berisi berbagai ikan laut segar.


"Wahhh, yang abis mantai. Sama pacar pasti---" Rahma menerima oleh-oleh itu sambil mengajak koko masuk ke rumahnya.


"Bukan lah. Sama mami dan cici plus 2 anaknya. Nginep 1 malam, baru pulang tadi sore." sahut koko sambil meminta kunci mobil Rahma untuk membantunya memasukkan mobil ke garasi. Sementara mobil koko diparkir tepi jalan dipepetkan ke sisi agar tak menghalangi lalu lintas mobil lain.


"Nda---" Suara riang Dika yang keluar menyambut Rahma yang berdiri di teras menunggu koko selesai memarkirkan mobilnya.


"Hai sayangnya bunda---" Ia menggendong Dika dan menciumi kedua pipi buah hatinya penuh sayang.


"Hai Dika, masih kenal sama om nggak?!" koko sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya dengan Dika yang tengah digendong Rahma dengan kedua tangan disembunyikan ke belakang.


"Om Ande." Jawab Dika yakin.


"Iyes, 100 buat Dika. Om kasih hadiah nih---" Koko memberikan 1 box biskuit anak premium ke tangan Dika.


"Maacih om Ande." Dika memiringkan kepalanya sambil tersenyum lebar, merasa senang mendapatkan hadiah.


Rahma membiarkan Dika menemani koko duduk di ruang tamu. Sementara ia menyeduh teh di dapur dan mengabari Uma jika ada tamu pemilik toko Achong yang merupakan temannya almarhum Malik.


"Alhamdulillah baik." Uma menyambut ramah. "Ayahnya Rahma masih di masjid. Baru pulangnya selepas isya," lanjut uma kala koko menanyakannya.


"Koko pernah beberapa kali main ke sini dulu, bertemu dengan bang Malik." Jelas Rahma pada uma yang baru kenal dengan Andreas. Membuat uma mengangguk-ngangguk hingga obrolan santai pun mengalir.


Hampir setengah jam bertamu, koko pun pamit pulang sebab belum istirahat sepulangnya liburan dari Pangandaran, ujarnya.


"Jika ada waktu, Mami meminta kamu untuk makan siang di rumah." Pungkas koko begitu Rahma mengantar sampai teras.


"Hm, insyaAllah nanti aku kondisikan. Jadwal seminggu ke depan padat. Lusa mau mudik ke Aceh terus ke Medan. Nanti aku kabari deh kalau udah senggang." Yang kemudian mendapat acungan jempol koko.


****


Tak terasa hari dimana waktunya berangkat ke Aceh tiba. Ada kelegaan di hati Rahma sebab selama 3 malam tidak ada lagi video call dari Mizyan dan Dika pun tidak merajuk menanyakan om buye . Mengapa lega? Sebab kemunculan pria itu sedikit demi sedikit menggoyahkan benteng kokoh hatinya. Ia khawatir lama-lama bisa runtuh.


Namun dugaan Rahma salah. Ternyata Dika anteng-anteng saja tak menanyakan om buye nya sebab setiap pagi setelah ia berangkat ke toko, anaknya itu menghubungi Mizyan memakai ponsel kakeknya. Ia baru tahu sekarang ini kala bersiap berangkat menunggu jemputan mobil travel yang akan mengantar ke bandara. Ia melihat Dika tengah duduk di depan phone holder dan tampak riang menghadap layar ponsel.


"Om buye, atu mau pelgi duyu."


"Tiap hari seperti itu, merajuk sama kakeknya minta menghubungi Mizyan. Anteng sampe 1 jam lamanya." Uma menjelaskan tanpa dipinta.


"Kok uma nggak pernah cerita? Ayah juga." Protes Rahma tanpa mengalihkan perhatiannya yang terpusat pada Dika.


"Kamunya juga nggak pernah nanya." Jawab Uma enteng sambil lalu tanpa beban.


Ah kenapa semua orang pro dia sih.

__ADS_1


Rahma menghembuskan nafas kasar. Ditambah kini rasa grogi menyelimuti kala Dika menoleh dan melambaikan tangan padanya.


"Nda, ada om buye sini---." Ia harus pasrah tangannya ditarik Dika menuju depan phone holder.


"Hai, Bunda---"


Sosok yang telah mampu dilupakan selama 3 hari itu kini muncul di layar dan tersenyum manis menatapnya. Iya, manis.


Kenapa dadaku harus berdesir mendengar suaranya.


"Kata Dika mau pergi ke Aceh ya sekarang?"


"Hah?!" Ia masih fokus berjuang mengusir desiran, menata perasaan agar tak grogi kala mendapat pertanyaan tertuju padanya. Membuatnya tak menyimak apa yang ditanyakan Mizyan.


"Bundanya Dika kenapa bengong aja?" Mizyan terkekeh. "Aku ulang lagi. Kata Dika mau pergi ke Aceh ya sekarang?"


"Ah, iya betul." Rahma tersenyum kikuk sebab Mizyan tak berhenti mengulas senyum dan terus menatapnya.


"Pantesan udah dandan cantik."


Jangan terpengaruh.


Satu sudut hatinya berteriak mencegah. Nyatanya kedua pipinya tak mampu menahan semburat rona merah. Salah tingkah deh.


"Atu juja cancik, Om." Dika beralih duduk di pangkuan bundanya untuk memperlihatkan baju yang dikenakannya.


Mizwan tertawa lepas. Rahma menahan senyum di belakang kepala Dika, sebab kepolosan anaknya itu.


"Kalau Dika bukan cantik. Tapi ganteng, lucu, bikin Om gemas. Kalau nanti ketemu pengen gigit deh." sahut Mizyan yang tampak berada di sebuah ruangan. Mungkin kamar.


Dika terkikik melihat om buye mempraktekkan mulut yang terbuka untuk menggigit.


"Maaf kita mau siap-siap. Bentar lagi mobil jemputan datang." Rahma memilih menyudahi interaksi Dika dan Mizyan yang saling becanda.


"Oke."


"Dika, selamat jalan. Telpon Om kalau udah sampe Aceh ya!"


"Okey, om." Dika berlari menuju teras usai mengacungkan jempolnya. Tinggallah Rahma yang terkaget sebab Dika beranjak begitu cepat meninggalkannya sendirian.


"Rahma---- Take care, keep well." Suara dari sebrang sana memelan, tatapannya melembut. Membuat Rahma merasa merinding. Aneh.


Rahma hanya mampu mengangguk sebagai jawaban. Tenggorokannya mendadak tercekat, lidahnya terasa kelu. Kalah oleh rasa haru menyeruak sebab perhatian dari om buye nya Dika.


"Masih betah manatapku ya?!" Mizyan tersenyum usil sambil menopang dagu sebab Rahma tak juga menyudahi sambungan vidcall.


"Apaan sih." Rahma mendelik sebal melihat Mizyan yang tertawa lepas.


"Ya udah aku tutup. Assalamualaikum---" Tanpa menunggu jawaban ia menekan icon video dan mengunci layar menjadi hitam.


Pasti dia masih ketawa deh.


Rahma mendecih dan beranjak menyusul Dika ke teras yang sudah siap-siap bersama Uma. Ayah sudah selesai memeriksa sekeliling rumah, memastikan air mati, regulator gas dicabut dari tabungnya, semua pintu tertib terkunci. Tak lupa pamit kepada Ceu Imas sebagai tetangga terdekat, juga menitipkan rumah kepada security. Mobil travel datang tepat waktu.


Bismillah.


Aceh, kamoe teuka (Aceh, kami datang).


****

__ADS_1


Ada pembaca asal Aceh??


Mohon koreksi jika bahasanya salah ya. Dengan senang hati aku akan revisi.


__ADS_2