
Rekomendasi butik bridal dari Rade patut diapresiasi sebab Mizyan dan Rahma merasa puas dengan model gaun pengantin muslimah yang tersedia banyak pilihan. Request busana pengantin khas Aceh yang akan dipakai saat akad, disanggupi owner butik bisa selesai 3 hari. Dan untuk resepsi jatuh pada pilihan model klasik nan elegan. Begitu fitting dilakukan keduanya, semua serba pas dan nyaman di badan. Tak perlu ada yang dirubah. Bahkan Mizyan menatap lama penuh kekaguman kala Rahma berdiri di hadapannya memperlihatkan gaun yang dikenakan.
"Perfect."Mizyan membulatkan jarinya sembari mengedipkan sebelah mata. Pastilah bundanya Dika itu tersipu malu.
Perjalanan dilanjutkan menuju hotel tempat Papi Mark dan Kemal menginap. Dimana nanti wedding pun akan digelar di hotel tersebut. Kedatangan Mizyan dan Rahma sudah ditunggu di restoran hotel untuk makan siang bersama sesuai permintaan Papi Mark yang sekarang akan pulang dulu ke Bogor.
"Udah beres fitting?" Papi Mark mulai bertanya usai anak dan calon menantunya itu mencium tangannya dengan takzim. Yang lalu setelahnya menyalami Kemal dan Sita.
"Alhamdulillah, Pi. Beres dan memuaskan. Setelah ini mau lanjut belanja buat seserahan." Jawaban yang membuat Rahma menolehkan wajah dengan sorot mata meminta penjelasan. Sebab Mizyan tidak mengatakan hal itu sebelumnya.
"Mumpung keluar. Sekalian aja kita belanja." Mizyan balas menatap hangat. Ia faham akan bahasa tubuh Rahma itu.
Makan siang penuh kekeluargaan berlangsung hangat. Kala menikmati dessert, calon pengantin menjadi bulan-bulanan Kemal yang menggodanya. Sebab Mizyan tampak santai menyantap pancake buah milik Rahma yang tinggal sepotong. Dengan bekas sendok Rahma tentunya. Lain halnya Rahma yang merona malu dengan kelakuan cuek calon suaminya itu.
Mizyan dan Rahma mengantar Papi Mark sampai lobi hotel dimana ada Rangga sudah menunggu berdiri di samping mobil.
"Kalian jaga kesehatan." Papi Mark menatap silih berganti terhadap anak dan calon mantu. "Papi akan ke sini lagi kamis siang. Semua persiapan wedding sudah dihandle mami kamu. Kalau masih ada kekurangan telpon Papi." Pungkasnya menepuk anak semata wayangnya itu yang membukakan pintu mobil untuknya. Mizyan pun mengangguk.
"Ga, jangan ngebut!" Mizyan memperingatkan asisten papinya yang sudah memakai sabuk pengaman. Acungan jempol dari Rangga menjadi pertanda jawaban. Ia pun mengajak Rahma kembali ke restoran melanjutkan berbincang dengan Kemal dan istrinya.
Hanya ada Sita yang duduk sembari memainkan ponsel. Kemal tengah pergi ke toilet, katanya. Menjadi kebetulan buat Mizyan yang juga ingin ke toilet sekaligus ingin berbicara empat mata dengan Kemal.
"Bang, kapan pulang ke Balikpapan?" Ia berpapasan dengan Kemal di koridor. Dan mengajak duduk di kursi yang kosong dekat jendela.
"Tadinya mau sore. Tapi jetpri sudah datang ngejemput. Jadi mau jalan sekarang ke bandara."
Mizyan mengangguk. "Bang, thank you so much for everything." Tatapan matanya menyiratkan kebahagiaan tak terkira sebab Kemal membayar lunas sewa venue berikut kamar pengantin president suite untuk 2 hari. Kemal tadi pagi telpon bahwa itu sebagai kado pernikahan darinya juga Sita.
"Le, pepatah bilang, siapa menanam dialah yang menuai." Kemal duduk santai bertumpang kaki. "Selama ini kau bukan hanya partner kerja tapi kental rasa saudara. Kau suka ngingetin aku selama ini yang suka jajan. Alhamdulillah sekarang hidupku lebih tenang dan damai setelah tobat."
"Jadi apa yang aku beri adalah buah dari kebaikanmu. Aku bersyukur Le, Allah telah tutup aibku." Kemal tampak menerawang. "Sita tidak tahu keburukannku selama ini. Moga aja Allah terus jaga aibku."
"Abang harus tambah sayang sama mbak Sita!" Ujar Mizyan yang menyaksikan keseriusan di wajah boss batu bara itu.
"Pastinya, Le."
****
Mizyan berinisiatif mengantar Kemal, Sita dan Fahmi ke bandara. Yang awalnya ditolak Kemal yang memilih memesan taksi online sebab khawatir merepotkan calon pengantin yang akan berbelanja itu. Namun Mizyan keukeuh dengan keinginannya.
__ADS_1
"Tadi mbak Sita cerita, katanya Mas sama bang Kemal sangat dekat. Kemana-mana mas selalu ikut. Benarkah?" Rahma menolehkan wajah menatap pria berkacamata hitam yang tengah fokus menyetir usai keluar dari bandara.
Mizyan terkekeh. "Iya benar. Bang Kemal yang suka maksa. Setiap punya proyek harus aku yang gambar dan harus ngikut ke manapun sekalian liburan."
"Tapi itu dulu, setelah menikah tentunya aku akan nolak. Gak mau jauh-jauh dari kamu." Mizyan menoleh sesaat sembari tersenyum simpul.
"Gombal ih--" Tak urung membuat wajah Rahma merona.
Mizyan menghentikan mobil di parkiran butik bertuliskan Triple A. "Sayang, kita beli busana muslim di sini. Sekalian pilihin buat aku ya."
Rahma mengangguk dengan rasa bercampur aduk antara malu, berdebar, berdesir. Mizyan begitu santai mengucapkan kata mesra untuk yang kedua kalinya. Tidak tahukah jika efeknya begitu dahsyat menimbulkan hawa panas di pipi.
"Owner butik ini Andina, istrinya Arya." Jelas Mizyan sembari berjalan bersisian menuju pintu masuk. "Nanti berteman deh sama para istrinya sahabat aku. Mereka orang baik semua."
"Iya, Mas." Rahma menjawab singkat. Petugas toko menyambut kedatanganya dengan sopan dan ramah. Matanya disajikan deretan pakaian muslim yang dìsisplay dalam manekin juga hanger. Mizyan memilih menunggu di sofa sembari menerima telepon masuk. Menyerahkan semua pilihan baju pada calon istrinya itu.
Mall menjadi tujuan berikutnya. Mizyan membawa Rahma ke gerai parfum terlebih dahulu. Membeli 2 merk parfum branded yang dipilih Mizyan sebab Rahma meminta demikian.
Masuk ke outlet pakaian dalam membuat wajah Rahma merah padam. Sebab tanpa canggung dan risih Mizyan menunjukkan model yang harus dibeli dari mulai bra sampai celana da lam yang bentuknya minimalis. Ia hanya kebagian mengambil sesuai ukuran yang dipakai.
"Kulitmu kan putih, pakai warna ini pasti seksi. Beli 5 ya!" Bisik Mizyan yang menunjuk pada lingerie warna merah, hitam, dan navy.
Lagi-lagi Rahma tersenyum meringis dengan wajah merona. "Padahal kamu aja deh mas yang beli sendiri. Aku malu---" ujarnya sembari menggigit bibìr bawahnya.
Acara belanja barang hantaran nikah baru beres selepas magrib. Padahal Rahma menolak membeli banyak barang sebab hantaran lamaran juga belum dipakai. Namun Mizyan tetaplah Mizyan yang tidak mau dibantah keinginannya. Dengan alasan hantaran untuk nikah harus lengkap isinya.
"Huft." Rahma meregangkan kaki yang pegal begitu masuk ke dalam mobil. Jok baris belakang dan bagasi dipenuhi berbagai paper bag yang akan dibawa ke apartemen Mizyan untuk dihias sebagai hantaran nikah. Sudah 2 kali Dika menghubungi menanyakan kapan pulang dengan wajah merajuk. Ia pun mengajak Mizyan untuk buru-buru pulang. Jika masih ada tambahan lain ia serahkan pada sang calon suami untuk menyusul membeli sendiri.
Hari serasa begitu cepat berganti. Setelah kebersamaan sepanjang hari sabtu kemarin, Rahma dan Mizyan tidak lagi bertemu. Mereka menurut apa kata Mami Kanti untuk dipingit sampai hari H. Biar kangennya berasa, begitu kata Mami. Rahma pun dilarang sang calon suami pergi ke toko. Merasa khawatir akan keselamatannya. Bahkan hari ini rumahnya kedatangan tamu petugas SPA yang akan memanjakannya dengan perawatan seluruh tubuh. Siapa lagi kalau bukan idenya Mizyan.
****
Sore ini di apartemennya tengah kedatangan 2 orang petugas dari jasa seserahan yang didatangkan Mami Kanti. Dua hari menjelang pernikahan Mizyan tetap disibukkan dengan pekerjaannya menggambar. Dari kamarnya terdengar suara maminya yang sibuk telepon ke sana ke mari mengecek berbagai kesiapan. Ia berkali-kali mengingatkan maminya agar jangan sampai kecapaian.
"Mami gak cape kok, Miki. Kan ada vendor dan WO yang urus. Mami cuma check and recheck aja." Selalu begitu jawaban yang diberikan Mami Kanti dengan wajah sumringah dan penuh semangat.
Ponsel yang tersimpan di samping laptopnya menggelepar. Mizyan melirik nama pemanggil yang tertera di layar dengan gerak malas. Pastinya itu bukan dari bundanya Dika sebab ringtone untuk calon istrinya itu berbeda. Leonny calling.
"Hallo Leon---"
__ADS_1
****
Mami Kanti mengernyit melihat Mizyan keluar kamar dengan memakai jaket kulit padahal baru saja makan malam bersama. "Miki, mau pergi ke mana?"
"Temen kuliah yang dari Surabaya sudah datang. Dia pengen ketemu aku dulu. Aku pergi sebentar ya, Mam!" Mizyan duduk menjinjing sepatu skets untuk dikenakan di samping maminya.
"Laki-laki atau perempuan?" Mami mengamati dari samping dengan tatapan menyelidik.
"Dua orang. Laki-laki dan perempuan." Mizyan selesai mengenakan sepatunya. Beralih menatap maminya yang tampak sedikit cemas.
"Sehari lagi kamu mau jadi manten lho, Miki. Harusnya jangan pergi ke mana-mana. Kenapa gak suruh mereka aja yang datang ke sini?"
"Sudah, Mam. Tapi dia pengen ngumpul di coffe shop, kangen-kangenan sebelum lepas lajang katanya. Aku janji gak akan pulang malam." Mizyan mengecup pipi Mami Kanti sebelum melesat pergi menuju pintu.
Mami hanya bisa mendesah. Susah sekali menahan anak sulungnya untuk tidak pergi. Sebenarnya hatinya merasa tidak enak makanya melarang pergi. Morgan belum pulang dari mall yang tengah mencari sepatu untuk jumat besok. Kalau ada, pasti akan menyuruh anak keduanya itu untuk menemani Mizyan. Hanya bisa mendoakan semoga sang anak dilindungi Tuhan.
"Leon, mana Jason?!" Mizyan duduk di depan Leon usai saling bertanya kabar masing-masing. Gadis berwajah oriental itu hanya duduk sendiri di meja paling pojok dengan pencahayaan remang-remang.
"Lagi ada urusan dulu. Nanti nyusul." Leon menatap lekat Mizyan. "Lo, berubah." Terkekeh sembari menegak minuman di gelasnya yang berwarna pink strawbery.
"Maksud lo?!" Mizyan menautkan kedua alisnya.
"Berubah makin ganteng, makin bersinar. Apa memang seperti itu setiap calon manten." Leon tertawa sembari geleng-geleng kepala.
"Kirain apa---" Mizyan terkekeh. Ia menolehkan wajah ke arah lain. Menatap sekeliling berharap Jason segera datang dan bergabung duduk bertiga. Ia menghargai permintaan Leon sebab dulu semasa di kampus Leon dan Jason adalah teman yang selalu menolong meminjamkan kala kesulitan finansial.
"Gue udah pesen minuman buat lo. Diminum dulu--" Leon menggeser gelas tinggi dengan hiasan buah strawbery terselip di permukaan gelas. Rupa yang sama seperti gelas miliknya.
"Ini cocktail?!" Mizyan memicingkan mata menatap minuman dingin berwarna pink itu. Pengalaman masa lalu membuatnya awas akan aroma minuman yang tersaji di meja.
Leo mengangguk. "Anggap saja kita lagi buck's night (pesta bujang). Cheers!" Leon mengangkat gelasnya yang sudah berkurang isinya.
****
Dua hari kemarin aku disibukkan deadline kerjaan utama. Bukannya olo-olo spt prasangka segelintir pembaca 😀. Jadi hrp maklum ya gak bisa up. 🤗
Sok lah. Jangan lewatkan LIKE dan berikan kopi ! Biar semangat ngasih double up hari ini. 😉
Ah hampir lupa. MR mengundang netizen smua utk hadir di kondangan onlen. Jangan lupa beri hadiah yg buanyak sbg kadonya. 😄
__ADS_1
Salam sayang utk readers tercintah 😍
Me Nia